PERMULAAN
Sabtu malam di sebuah hotel berbintang di Jakarta Pusat.
Beberapa menit lagi atau tepatnya pukul 8 nanti, akan diadakan acara pertunangan anak dari seorang pengusaha perhiasan berusia 45 tahun bernama Karina Hasan, dengan anak dari seorang pejabat tinggi di Indonesia bernama Widi Hartanto.
Hampir semua tamu undangan di acara tersebut telah memasuki ballroom hotel. Tak hanya tamu dari kalangan bisnis, tetapi juga ada beberapa pejabat tinggi di Indonesia yang hadir di acara tersebut. Namun, ada seseorang yang sangat mencuri perhatian para tamu undangan di sana, yaitu seorang pria bertubuh tinggi nan tegap.
Pria itu terlihat tampan nan gagah dengan setelan tuxedo-nya. Apalagi saat pria itu menyapa beberapa tamu undangan seraya tersenyum, lesung pipi di kedua pipi pria itu terlihat dan membuat pria itu tampak begitu manis.
Pria itu adalah Elvano Nareswara Hartanto, seorang sutradara sekaligus produser film. Tak hanya itu, pria yang biasa di sapa Vano itu juga pemilik Nareswara Production House. Sebuah rumah produksi yang sudah berjalan selama 7 tahun dan telah melahirkan cukup banyak karya, mulai dari FTV hingga film layar lebar. Namanya cukup dikenal di Indonesia.
Bahkan, di usianya yang akan menginjak 33 tahun, dia sudah mencapai beberapa penghargaan yang menjadi bukti kesuksesannya. Salah satunya adalah, dia pernah mendapatkan penghargaan sebagai sutradara sekaligus produser film termuda dan terbaik di Indonesia.
Di menit-menit menjelang masuknya calon mempelai wanita, seorang pria mendekati Karina dan berbisik di telinga Karina. Bisikan orang itu membuat Karina tercengang dan detak jantungnya menjadi lebih cepat.
"Apa kamu yakin, apa sudah dicari ke semua tempat di hotel ini?" tanya Karina seraya melihat orang yang baru saja berbisik padanya. Orang itu adalah orang kepercayaan Karina yang sudah beberapa tahun ini bekerja pada Karina.
"Sudah, Bu. Tapi Saya benar-benar tidak menemukannya," ucap orang itu.
Karina bergegas menghampiri Widi, dia membawa Widi untuk sedikit menjauh dari tamu undangan di sana.
Melihat ekspresi Karina tampak gelisah, Widi menjadi bertanya-tanya, apa sebenarnya yang terjadi?
"Anakku menghilang, dia tak ada di kamar hotelnya," ucap Karina cemas.
"Apa?" Widi terkejut. Bahkan saking terkejutnya, Widi tak sadar telah mengalihkan perhatian Vano. Vano kini melihat padanya, tetapi Widi tidak menyadari itu.
"Bagaimana bisa dia menghilang? Bukankah ada orangmu yang menunggu di depan pintu kamar hotelnya. Jadi, tak mungkin dia menghilang," ucap Widi.
Widi menjadi cemas, bagaimanapun dia tak ingin terjadi masalah di acara pertunangan Vano.
"Aku benar-benar khawatir," ucap Karina.
"Apa kamu yakin di kamarnya benar-benar tak ada, apa orangmu benar-benar sudah mencari ke semua kamar yang ada di hotel ini, Mungkin saja dia ada di kamar lain 'kan?" ucap Widi.
"Orangku sudah mencarinya di semua tempat di hotel ini, tapi tak menemukannya. Aku akan coba menghubunginya sekarang," ucap Karina dan bergegas mengambil ponselnya. Dia menghubungi kontak anaknya, tetapi ternyata anaknya tak dapat dihubungi. Dia pun mencoba sekali lagi. Namun, lagi-lagi dia tetap tak bisa menghubungi anaknya.
"Aku benar-benar tak bisa menghubunginya!" kesal Karina.
"Baiklah, tenangkan dirimu dulu," ucap Widi.
Widi berbalik dan melihat ke tempat di mana dia sempat melihat Vano saat Vano sedang menyapa tamu undangan tadi. Namun, Widi dibuat bingung ketika melihat Vano sudah tak ada lagi di tempat itu. Dia lantas melihat ke para tamu undangan, tetapi dia tetap tak melihat Vano.
'Ya ampun... Ke mana anak itu, bukankah tadi dia masih di ruangan ini?' batin Widi.
"Aku harus bagaimana? Aku khawatir sekarang, aku tak tahu dia di mana sekarang," ucap Karina semakin cemas.
Widi terdiam, dia memijat kepalanya. Entah mengapa, dia merasa anak Karina sengaja melarikan diri dari pertunangan itu.
Widi tahu, sejak awal anak Karina menolak pertunangan itu. Namun, berbeda dengan Vano. anaknya itu telah setuju untuk bertunangan dengan gadis pilihannya.
Widi sedikit menjauh dari Karina dan mengambil ponselnya. Dia mencoba menghubungi kontak Vano, tetapi dia terkejut karena Vano juga tak dapat dihubungi.
'Habislah aku, sepertinya dia juga melarikan diri,' batin Widi seraya mengusap wajahnya.
Widi menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya dengan berat. Dia akhirnya menghubungi orang kepercayaannya, lalu meminta orang itu untuk mencari Vano dan calon menantunya. Selesai menghubungi orang itu, dia pun kembali menghampiri Karina.
"Karina, Vano sepertinya pergi dari sini. Aku juga tak bisa menghubunginya, ponselnya mati," ucap Widi.
"Apa maksudmu, apa Vano melarikan diri dari pertunangan ini?" tanya Karina tampak shock.
"Entahlah. Tapi, aku rasa anak-anak memang melarikan diri dari pertunangan ini," ucap Widi.
Karina terdiam, dia benar-benar shock mendengar ucapan Widi. Apa yang akan dia katakan di depan para tamu undangan jika anaknya itu benar-benar melarikan diri dari pertunangan? Alasan apa yang harus dia sampaikan, sedangkan sejak awal para tamu undangan itu tahu bahwa, dia mengundang mereka semua untuk menghadiri acara pertunangan anaknya?
"Widi, pertunangan ini tak boleh batal! Aku sudah merencanakan ini sejak lama, dan kamu tahu itu. Aku ingin anak-anak tetap bertunangan malam ini!" tegas Karina.
Widi menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya dengan sedikit berat.
"Tentu saja aku juga ingin pertunangan ini tetap berlangsung. Jelas-jelas aku tak ingin dalam masalah, bagaimanapun reputasiku dipertaruhkan sekarang," ucap Widi.
Karina memijat kepalanya yang terasa sedikit berat.
'Anak itu benar-benar keterlaluan! Aku benar-benar tak tahu lagi bagaimana harus menghadapinya!' batin Karina kesal.
Widi mengusap bahu Karina, dia berharap Karina dapat sedikit tenang.
"Tenanglah dulu, aku yakin anak-anak akan kembali ke sini. Sekarang, orangku sedang mencari mereka," ucap Widi.
Sementara itu di sisi lain, Vano melajukan mobilnya menuju sebuah tempat yang berada tak jauh dari hotel tempat pertunangannya akan berlangsung. Beberapa menit yang lalu, dia mendapatkan sebuah pesan dari orang kepercayaannya.
Orang kepercayaannya mengatakan telah melihat calon tunangannya keluar dari hotel dan saat ini sedang mengikuti calon tunangannya. Karena itu, dia akan menyusul orang kepercayaannya untuk memastikan, apakah yang dilihat orang kepercayaannya adalah calon tunangannya atau bukan? Pasalnya, waktunya begitu tepat dengan apa yang dibicarakan oleh papanya dan calon mertuanya. Dia sempat mendengar bahwa, calon tunangannya telah menghilang.
Sesampainya di depan sebuah gedung yang memiliki hampir 50 lantai, Vano keluar dari mobilnya dan menghampiri orang kepercayaannya yang sudah menunggunya di depan pintu masuk gedung tersebut.
"Di mana dia sekarang?" tanya Vano.
"Dia ada di dalam, Pak. Saya sempat mengikutinya, dan dia masuk ke resto-bar. Saya juga sempat melihat saat dia mendekati seorang pria, tapi Saya hanya bisa melihat punggung pria itu," ucap orang itu.
Dahi Vano berkerut. Apa katanya? Calon tunangannya menemui seorang pria? Siapa pria itu? Pikirnya penasaran.
"Ambil ini, Saya akan masuk ke dalam," ucap Vano seraya menyodorkan kunci mobil ke hadapan orang kepercayaannya.
"Apa Anda ingin Saya temani?" tanya orang itu seraya mengambil kunci mobil dari tangan Vano.
"Saya akan ke dalam sendiri. Jangan beritahu siapapun, termasuk Papa!" tegas Vano.
Belum sempat orang itu bicara, Vano sudah lebih dulu meninggalkan orang itu.
'Aku penasaran, apa dia benar-benar akan melarikan diri dari pertunangan?' batin Vano di tengah langkahnya menuju lift.
Vano tahu di mana letak resto-bar yang dimaksud orang kepercayaannya, dan dia akan pergi ke sana untuk memastikan semua yang dikatakan oleh orang kepercayaannya.