LNCrawler

DIRAZIA POLISI

Menikah Dengan Om Mantan — gooddreamer.id · All chapters

DIRAZIA POLISI

Waktu berlalu, dan menjelang tengah malam.

Suasana di dalam resto-bar semakin tampak ramai, dan beberapa pengunjung di sana juga tampak turun ke lantai dugem. Malam itu, ada sebuah acara dan bintang tamunya adalah seorang DJ ternama.

Namun, justru ada seorang pengunjung yang sangat mencuri perhatian para pengunjung lain di tempat itu. Yaitu seorang gadis berwajah blasteran dengan rambut pendek sebahu, dan berwarna kecoklatan. Gadis yang memakai rok mini berbahan kulit dan jaket hitam kulit itu tampak dengan gila menggoyangkan tubuhnya. Gadis itu tampak begitu bersemangat menikmati hentakan musik di sana.

Dialah Kira Farzana Ruslan, seorang gadis berdarah Indonesia-Rusia yang saat ini usianya 22 tahun, dan sedang menempuh pendidikan manajemen bisnis di salah satu universitas swasta ternama di Jakarta.

Dia adalah putri Karina yang seharusnya melangsungkan pertunangan malam ini. Namun, gadis yang biasa disapa Kira itu justru melarikan diri dari pertunangan itu dan memilih pergi ke resto-bar tersebut.

Di samping Kira ada seorang pria tampan dengan perawakan bak atlet yang sejak tadi seakan enggan melepaskan Kira. Tangan pria itu berada di pinggang ramping Kira seraya terus menyesuaikan gerakan tubuh Kira.

Pria itu adalah Riko Narendra, berusia 23 tahun dan anak dari seorang pengusaha Indonesia. Dia adalah kekasih Kira yang juga menempuh pendidikan di universitas yang sama dengan Kira. Hubungan Kira dan pria itu sudah terjalin sejak 2 tahun lalu.

"Hei, Baby. Are you okay, kenapa kamu antusias sekali malam ini?" ucap Riko.

Riko ingat, Kira akan seperti itu ketika Kira sedang menghadapi masalah cukup sulit. Namun, Riko tak tahu, masalah apa yang kali ini Kira hadapi?

"Benarkah, apa aku terlihat gila?" tanya Kira, kemudian tertawa.

Riko pun mendekatkan bibirnya ke telinga Kira.

"Apa ada seseorang yang mengganggumu? Jika iya, aku akan menghajarnya," ucap Riko, sontak Kira kembali tertawa dan mendorong wajah Riko.

"Aku haus, aku akan minum dulu," ucap Kira.

Riko menarik tangannya dari pinggang Kira, setelah itu Kira pergi menuju meja bar.

Kira memesan segelas minuman pada seorang bartender dan menikmati minuman itu di sana. Sesekali dia menggerakkan tubuhnya dengan pelan, seakan segelas minuman di tangannya dan hentakan musik itu adalah perpaduan yang sempurna. Dia pikir, malam ini dia akan bersenang-senang di tempat itu dan akan melupakan masalahnya.

Namun, tak lama dia melihat beberapa pengunjung di sana mulai aneh, mereka juga tampak melihat ke arah pintu masuk dan itu juga membuat Kira ikut mengarahkan pandangannya ke pintu masuk.

Sedetik kemudian Kira terperangah, dia melihat beberapa orang bertubuh besar dan berjaket kulit hitam tampak memasuki resto-bar tersebut.

'Matilah aku!' batin Kira. Kira menyadari ada sesuatu yang tak beres.

Kira bergegas meletakan gelas di atas meja bar dan menarik tasnya. Dia pun menghampiri Riko yang anehnya seperti tak menyadari keadaan di sana yang mulai mengkhawatirkan.

Kira menarik tangan Riko, tetapi Riko yang dibuat terkejut justru langsung menyingkirkan tangan Kira.

"Apa yang kamu lakukan?" tanya Riko sedikit berteriak. Suara musik di sana semakin keras sehingga Riko harus bicara dengan berteriak.

"Ayok pergi! Kenapa kamu masih saja di sini seperti orang bodoh?" teriak Kira.

Namun, Riko lagi-lagi menyingkirkan tangan Kira.

"Kenapa kamu ingin pergi? Lihatlah ini masih jam berapa, bukankah kita akan bersenang-senang di sini?" ucap Riko.

Riko akan melihat jam yang melingkari pergelangan tangannya. Namun, belum sempat Riko melihat jam tangannya, Kira justru memegang wajah Riko dan menatap Riko dengan geram.

"Come on, Baby. Ada polisi!" teriak Kira.

Ya, Kira yakin orang-orang itu adalah polisi.

"What?" Riko shock dan bergegas menarik Kira menuju area toilet.

Riko ingat, di sana ada pintu darurat yang bisa membawanya dan Kira keluar dari resto-bar itu tanpa melalui pintu depan. Namun, begitu sampai di sana, pintu yang seharusnya membawa mereka terbebas dari para polisi itu ternyata tak bisa dibuka. Sekeras apapun Riko berusaha membukanya, pintu itu tetap tertutup rapat.

"Aku benar-benar tak bisa membuka pintunya. Itu artinya, kita tak bisa pergi dari sini!" ucap Riko seraya mengusap wajahnya frustrasi.

Mendengar itu, Kira pun menjadi panik dan tak tahu harus berbuat apa. Meski dia tak pernah melanggar aturan hukum, misalnya seperti memakai obat-obatan terlarang, tetapi dia tetap takut jika sudah melihat polisi, apalagi di tempat seperti itu.

"Ini semua gara-gara dirimu!" kesal Kira seraya menunjuk wajah Riko.

"Apa maksudmu, kenapa kamu menyalahkanku?" tanya Riko seraya menatap Kira shock. Dia tak mengerti, mengapa Kira justru menyalahkannya?

"Jika saja kamu tak mengajakku ke sini, aku takan berada di sini sekarang. Aku pasti takan menghadapi situasi seperti ini!" geram Kira seraya menatap Riko dengan nyalang.

"Oh ayolah, sejak awal kamu setuju untuk datang ke sini, jadi tak perlu menyalahkanku. Aku bahkan tak tahu polisi akan datang ke sini. Sebaiknya kita pergi dari sini!" kesal Riko dan meraih tangan Kira.

Riko berniat membawa Kira pergi dari sana. Namun, Kira dan Riko langsung terdiam. Mereka terkejut karena tiba-tiba muncul dua orang polisi di hadapan mereka.

"Mau ke mana kalian, ha? Kenapa di sini?" ucap salah satu polisi yang langsung meraih tangan Riko.

"Pak tenanglah, Saya bukan penjahat," ucap Riko panik seraya mencoba melepaskan tangannya.

"Lalu kenapa kamu bersembunyi di sini?" ucap polisi.

"Tentu saja Saya takut pada Bapak," ucap Riko membuat Kira ingin sekali memukul kepala Riko dengan tasnya.

Mengapa Riko sangat bodoh? Bisa-bisanya mengatakan seperti itu pada polisi. Bagaimana jika polisi berpikir yang tidak-tidak? Pikir Kira.

"Tak perlu takut jika kamu tak melakukan kesalahan, kenapa juga harus melarikan diri dari polisi, ha?" ucap Polisi.

"Siapa yang takut? Jelas-jelas kami di sini untuk bersenang-senang," ucap Kira seraya menarik tangan Riko.

Kira tak ingin berurusan dengan polisi. Dia pikir, orangtuanya akan menemukannya jika dia sampai berurusan dengan polisi.

Sedetik kemudian Kira terkejut karena polisi lain tiba-tiba memegang tangannya.

"Jangan menyentuhku!" kesal Kira seraya memukul tangan polisi itu dengan tasnya. Sesuatu lantas terjatuh dari tasnya, tetapi tak ada yang menyadari hal itu.

"Berikan tasmu!" tegas polisi dan merebut tas Kira.

Polisi lantas memeriksa tas Kira, dan menemukan sebuah plastik kecil yang berisikan serbuk putih di dalamnya.

"Apa ini?" tanya polisi seraya menunjukan plastik kecil itu di depan wajah Kira, sontak Kira tercengang.

"A-apa itu?" tanya Kira gugup.

"Ini ada di dalam tasmu, bagaimana bisa kamu tak tahu ini apa, ha?" ucap polisi.

Kira menelan air liurnya. Dia akan mengambil plastik itu, tetapi polisi langsung memasukan plastik itu ke dalam saku celananya.

"Ikutlah dengan kami, kamu bisa menjelaskannya di kantor polisi!" tegas Polisi seraya menatap Kira dengan tajam.

Detak jantung Kira menjadi lebih cepat, dia tak mau dibawa ke kantor polisi. Dia juga tak mengerti, apa sebenarnya yang ada di plastik kecil itu? Kenapa itu ada di dalam tasnya?

Kira melihat Riko yang tampak enggan menatapnya.

'Kenapa aku sial sekali malam ini? Seharusnya aku tak pergi ke sini dengannya!' batin Kira kesal.