BANTUAN TELAH TIBA?
Waktu berlalu, di Kantor Polisi.
Kira dan Riko sudah berada di ruang interogasi, keduanya duduk bersampingan tetapi tak ada siapapun di hadapan keduanya.
Tak lama terdengar dering panggilan masuk dari ponsel Kira, kira pun mengambil ponselnya dari dalam tas dan melihatnya.
"Siapa yang menghubungimu?" tanya Riko.
Kira mengabaikan pertanyaan Riko, dia malas mengatakan apapun. Dia masih kesal pada Riko.
Melihat Kira mengabaikannya, Riko pun berniat mengambil ponsel Kira. Namun, Kira lebih dulu menjauhkan tangannya sehingga ponselnya tetap berada di tangannya.
"Apa yang kamu lakukan?" tanya Kira seraya menatap Riko dengan tajam.
"Kenapa teleponnya tak dijawab?" tanya Riko seraya menatap Kira dengan curiga. Riko heran, apakah Kira sedang menyembunyikan sesuatu darinya?
"Aku sedang malas bicara," ucap Kira dan menolak panggilan itu. Dia kembali menyimpan ponselnya ke dalam tas.
"Memangnya siapa yang menghubungimu, kenapa kamu tak ingin memberitahuku?" tanya Riko.
Apakah ada seseorang yang mengganggu Kira? Misalnya, seorang pria yang mungkin menyukai Kira? Pikir Riko.
Lagi-lagi Kira mengabaikan Riko.
"Ada apa denganmu, apa diam-diam kamu melakukan sesuatu di belakangku?" ucap Riko semakin curiga seraya menarik lengan Kira.
Kira pun bangkit dari kursinya dan menatap Riko dengan geram.
"Aku sedang kesal padamu, kenapa kamu tak mengerti itu, ha? Gara-gara dirimu aku berada di sini sekarang. Aku jadi curiga, apa kamu yang memasukan plastik kecil itu? Aku bahkan tak pernah memiliki benda seperti itu!" geram Kira.
Riko mengepalkan tangannya, jelas dia tak senang mendengar ucapan Kira. Dia pun bangkit dari kursinya dan menatap Kira dengan marah.
"Apa maksudmu, ha? Apa kamu sedang menuduhku?" geram Riko.
Baru saja Kira akan mengatakan sesuatu, tetapi dering panggilan masuk itu lagi-lagi terdengar. Kira yang semakin dibuat kesal pun akhirnya menjawab panggilan itu.
'Di mana kamu, Kira? Apa lucu bagimu melarikan diri dari Hotel? Kamu bahkan sulit sekali dihubungi, benar-benar keterlaluan!' ucap orang itu terdengar sangat marah.
'Aku sudah menduganya, Mami meneleponku hanya untuk memarahiku,' batin Kira.
Ya, Karina lah yang menghubungi Kira. Kira sejak awal merasa malas menjawab telepon itu karena tahu Karina akan memarahinya. Benar saja, baru saja dia menjawab telepon Karina, Karina langsung memarahinya.
'Pulang sekarang, Kira! Kita bicara di rumah!' tegas Karina, kemudian telepon itu berakhir.
Tak lama pintu ruangan itu terbuka dan seorang polisi memasuki ruangan itu.
"Riko Narendra!" panggil Polisi.
"Ya, Saya!" ucap Riko dan bergegas melihat polisi itu.
"Silahkan ikut Saya pindah ke ruangan lain," ucap polisi.
Riko bangkit dari duduknya dan melihat Kira yang masih enggan menatapnya.
"Aku akan pergi dulu. Jika kamu keluar lebih dulu, berhati-hatilah saat kembali ke rumah," ucap Riko.
Kira masih tetap diam, dia masih memikirkan serbuk yang ditemukan di tasnya tadi. Apakah kecurigaannya benar? Apa Riko benar-benar memasukan plastik kecil itu ke tasnya?
Kira sebenarnya tak tahu apa isi di dalam plastik kecil itu, isinya terlihat seperti serbuk putih. Namun, melihat polisi langsung mencurigainya setelah melihat serbuk itu, Kira yakin itu sesuatu yang berbahaya.
***
Waktu berlalu, Kira sedang duduk berhadapan dengan Polisi. Dia telah selesai melakukan tes urine dan hasilnya telah keluar. Dia dinyatakan negatif dari zat terlarang, tetapi dia tetap dimintai keterangan karena ada plastik kecil yang ternyata berisikan zat terlarang di tasnya.
Namun, yang membuat Kira merasa benar-benar dalam masalah besar adalah, dompetnya hilang dan di dalamnya terdapat semua yang dia butuhkan untuk menunjang kehidupannya.
"Saya meminta KTP-mu, kenapa kamu diam saja?" tanya Polisi bingung.
"Ya, tunggu sebentar. Saya sedang mencarinya," ucap Kira.
'Kenapa aku sial sekali? Sudah ditangkap polisi, dan sekarang dompetku juga hilang. Di mana sebenernya dompetku?' batin Kira panik.
Kira kembali mengingat saat dia melarikan diri dari kamar hotelnya, dia yakin telah memasukan dompetnya ke dalam tas yang dia pegang sekarang. Dia bahkan ingat bahwa, di dalam dompet itu tak hanya ada kartu untuk bertransaksi, tetapi juga ada KTP miliknya. Tentu saja dia sudah menyiapkan semua itu karena sejak awal dia sudah membuat rencana untuk melarikan diri dari pertunangan itu.
Kira pun kembali mencari KTP-nya, tetapi di dalam tas yang memiliki ruang kecil itu benar-benar tak ada dompetnya.
'Aku benar-benar bisa gila! Tak mungkin aku kualat pada Mami 'kan?' batin Kira kesal.
Sebenarnya, sekeras apapun Kira mencari dompet itu, dia takan pernah menemukannya di dalam tas. Dia tak sadar bahwa, dompetnya telah terjatuh dari tas ketika dia memukul tangan polisi di depan toilet resto-bar tadi.
"Sepertinya dompet Saya tertinggal," ucap Kira.
"Kalau begitu hubungi keluargamu, dan mintalah untuk datang ke sini. Jangan lupa, minta mereka membawa KTP-mu ke sini. Saya membutuhkan data dirimu," ucap polisi.
Kira terdiam, dia ragu untuk menghubungi maminya. Bagaimana jika maminya tahu di tasnya ditemukan zat terlarang? Bukankah maminya akan semakin marah padanya? Dia bahkan berpikir, maminya benar-benar takan mengampuninya dan pasti akan langsung mengusirnya.
"Kenapa, apa kamu tak memiliki keluarga?" tanya polisi bingung.
Kira menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya dengan perlahan, dia ingin mencoba menenangkan dirinya. Setelah sedikit tenang, akhirnya dia memutuskan menekan panggilan menuju kontak maminya. Namun, dia dibuat panik ketika maminya ternyata tak dapat dihubungi.
'Bukankah belum lama Mami menghubungiku? Lalu, kenapa sekarang Mami tak bisa dihubungi?' batin Kira.
Kira kembali melihat polisi.
"Orangtua Saya tak bisa dihubungi," ucap Kira.
"Kalau begitu hubungi saudaramu, atau siapapun yang bisa membantu membawakan KTP-mu ke sini. Jika tidak, Saya akan menahanmu di sini untuk malam ini!" tegas polisi.
Kira pun semakin panik. Dia tak ingin tidur di kantor polisi. Dia yang saat ini dilanda kecemasan yang luar biasa tak bisa memikirkan siapapun di kepalanya.
Kira merasa tak tahan lagi, dia menundukan kepalanya dan akhirnya menangis. Hal itu membuat polisi menjadi bingung.
"Sebenarnya, Saya dan orangtua Saya sempat bertengkar hebat..." ucap Kira di tengah isak tangisnya.
Polisi mengerutkan dahinya.
"Karena itu, Saya memutuskan untuk kabur dari rumah. Tapi, sekarang dompet dan KTP Saya hilang, jika Saya meminta bantuan orangtua Saya, orangtua Saya pasti tak mau membantu. Orangtua Saya sedang marah sekarang," ucap Kira.
Polisi memijat pangkal hidungnya. Dia tak mengerti, mengapa Kira justru menceritakan masalah keluarganya?
Polisi menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya dengan perlahan. Baru saja dia akan mengatakan sesuatu tetapi tiba-tiba saja pintu ruangan itu terbuka dan munculah seorang polisi lain.
"Maaf, Pak. Ada seseorang yang ingin bertemu dengan Anda," ucap polisi itu seraya melihat polisi yang bertugas menginterogasi Kira.
"Siapa?" tanya polisi yang bertugas menginterogasi Kira.
"Pihak keluarga dari gadis di hadapan Anda," ucap polisi itu, sontak Kira melihat polisi itu.
'Siapa, apa itu Mami?' batin Kira penasaran.