LNCrawler

DIBANTU ORANG MISTERIUS?

Menikah Dengan Om Mantan — gooddreamer.id · All chapters

DIBANTU ORANG MISTERIUS?

ISI BAB : Kira merasa bingung, siapa sebenarnya yang datang ke kantor polisi dan mengaku sebagai keluarganya? Apakah maminya? Namun, dari mana maminya tahu bahwa dia berada di kantor polisi? Pikir Kira.

"Saya akan ke sana, dan tolong gantikan Saya di sini selama Saya menemui keluarga gadis ini," ucap polisi yang bertugas menginterogasi Kira dan mulai beranjak dari kursinya.

Polisi yang baru datang itupun akhirnya menemani Kira di ruangan itu.

***

Selang beberapa menit setelah polisi yang menginterogasi Kira pergi dari ruangan itu, ponsel Kira pun berdering. Kira bergegas mengambil ponselnya, dia berpikir bahwa panggilan itu dari maminya. Namun, dia mengerutkan dahinya ketika melihat panggilan itu ternyata dari kontak asing.

'Siapa yang kurang kerjaan menghubungiku di jam seperti ini?' batin Kira.

Ya, waktu sudah dini hari. Lalu, siapa yang akan menghubunginya di waktu seperti itu? Bukankah sudah dapat dipastikan itu hanya orang iseng?

Kira menolak panggilan itu, tetapi lagi-lagi kontak asing itu menghubunginya. Kira pun akhirnya menjawab panggilan itu.

'Berterima kasihlah setelah ini, dan ingatlah semua ini tak gratis!' tegas seseorang, kemudian telepon itu berakhir.

Kira pun terdiam bingung.

'Apa maksudnya, siapa orang yang barusan meneleponku?' batin Kira.

Meski hanya sebentar mendengar suara orang itu, tetapi entah mengapa suara itu seperti tak asing di telinganya. Namun, kapan dia mendengar suara itu?

Tak lama polisi yang menginterogasi Kira akhirnya kembali ke ruangan itu, dia lantas kembali duduk di hadapan Kira.

"Kamu sudah bisa pergi dari sini," ucap polisi.

Kira tercengang, dia terkejut mendengar ucapan Polisi itu. Bagaimana bisa dia sudah boleh meninggalkan kantor polisi? Apakah maminya benar-benar datang membantunya?

Kira melihat sebuah berkas yang sekarang ada di tangan polisi.

"Apa Saya boleh lihat apa yang Anda pegang sekarang, apa itu memiliki kaitan dengan Saya?" tanya Kira.

Polisi memberikan berkas itu dan Kira mengambilnya. Rupanya itu adalah berkas jaminan agar malam ini juga Kira bisa pergi dari kantor polisi. Namun, yang membuat Kira heran adalah, dia melihat sebuah nama beserta tandatangan seseorang yang telah membantu dirinya bebas dari kantor polisi. Nama itu bukan nama maminya, bukan juga nama orang-orang yang dekat dengannya, tetapi sama seperti suara yang sebelumnya terdengar tak asing di telinganya, nama itu juga seperti tak asing baginya. Namun, lagi-lagi dia bertanya-tanya, di mana dia pernah melihat nama itu?

"Apa kamu tak ingin pergi dari sini?" tanya polisi,  sontak membuyarkan lamunan Kira.

"Kenapa tak sejak tadi saja membiarkan Saya pergi? Saya sudah jelaskan sejak awal, Saya bukan penjahat!" kesal Kira.

"Itu karena kamu mencoba melarikan diri. Apalagi, setelah ditemukan zat terlarang di tasmu. Tentu kami tak bisa melepaskanmu begitu saja," ucap polisi.

"Bukankah Anda sudah melihatnya? Hasil tes urine Saya negatif. Itu artinya, serbuk itu bukan milik Saya!" tegas Kira.

"Apa kamu tak tahu? Ada beberapa pengedar yang bahkan tak mengonsumsinya. Mungkin saja kamu bagian dari mereka 'kan?" ucap polisi.

Kira memutar bola matanya. Tak seperti sebelumnya ketika dia merasa panik, sekarang dia tampak berani.

"Ya sudah, apa teman Saya juga sudah selesai diinterogasi, dia pasti sama dengan Saya 'kan? Dia tak pernah menyentuh zat-zat seperti itu," ucap Kira.

"Siapa bilang?" ucap polisi.

Kira menghela napas, tetapi kemudian dia tersentak. Dia baru sadar, ada yang aneh dengan kata-kata polisi itu.

"Apa maksud Anda, apakah teman Saya ...?" Jantung Kira berdebar kencang. Entah mengapa dia langsung terpikirkan hal buruk tentang Riko.

"Ya, temanmu positif. Karena itu, kami masih akan menahannya di sini," ucap polisi.

Kira pun semakin terkejut.

'Benar-benar sudah gila. Apa sebenarnya yang Riko lakukan, apa serbuk itu juga miliknya? Apa dia sengaja memasukannya ke tasku?' batin Kira.

Melihat Kira yang tampak terkejut, polisi pun menghela napas.

"Sebelumnya, polisi mendapatkan informasi bahwa, seorang pengedar narkoba yang sudah lama menjadi target polisi akan datang ke resto-bar itu. Itulah mengapa beberapa polisi mendatangi tempat itu. Dan karena hasil tes urine-mu telah menyatakan dirimu negatif dari zat terlarang, lalu keluargamu juga telah menjamin kebebasanmu, maka kami melepaskanmu. Tapi Saya harap, kamu bisa memenuhi panggilan polisi sebagai saksi, jika nanti polisi memanggilmu untuk meminta keterangan lebih lanjut atas ditemukannya zat terlarang di tasmu. Dan untuk sementara, bukti itu akan kami tahan di sini," ucap polisi.

"Saya warga negara yang baik, tentu saja Saya tak takut untuk datang," ucap Kira dan bergegas bangkit dari duduknya. Kira pun menjabat tangan polisi itu dan berbalik.

'Aku benar-benar tak percaya, bagaimana bisa Riko melakukan semua itu?' batin Kira seraya memikirkan apa yang polisi katakan sebelumnya. Dia tak ingin percaya, tetapi apakah mungkin polisi itu berbohong? Entah mengapa, Kira justru lebih tak yakin lagi jika polisi itu membohonginya. Apa untungnya polisi itu membohonginya? Pikirnya.

Kira pun keluar dari ruangan itu.

Baru saja Kira menutup pintu ruangan itu, ponselnya lagi-lagi berdering. Dia pun

mengambil ponselnya dan ternyata panggilan itu dari kontak asing yang sebelumnya menghubunginya.

'Cepatlah keluar dari sana!' ucap orang itu tepat setelah Kira menjawab panggilan itu.

Baru saja Kira akan mengatakan sesuatu, telepon itu justru lebih dulu berakhir.

'Ya ampun... Siapa yang kurang kerjaan bermain teka-teki di tengah malam seperti ini? Aku benar-benar tak mengerti, siapa sebenarnya orang itu?' batin Kira kesal.

Kira menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya dengan kasar.

'Terserah saja, aku benar-benar bisa gila karena malam ini. Terlalu banyak hal mengejutkan yang aku dapatkan. Bukannya bersenang-senang, aku justru ditimpa kesialan!' batin Kira kesal. Kira pun berjalan menuju pintu keluar.

Begitu sampai di luar kantor polisi, ponsel Kira lagi-lagi berdering. Kira menahan napasnya sejenak dan mengembuskannya dengan kasar.

'Pasti orang itu lagi!' gumam Kira.

Kira melihat ponselnya dan benar saja, orang asing itulah yang lagi-lagi menghubunginya. Hal itu membuat Kira benar-benar geram. Kira pun menjawab panggilan orang asing itu lagi dan bersiap memaki orang itu.

'Lihat ke samping kananmu,' ucap orang itu, sontak Kira menoleh ke kanannya.

Ada sebuah mobil sedan hitam melaju pelan ke arah Kira, mobil itu pun semakin mendekati Kira dan berhenti tepat di depan Kira. Tak lama kaca pintu depan terbuka dan Kira bisa melihat siapa orang yang mengemudikan mobil dengan merek elit tersebut.

Dahi Kira berkerut, ternyata yang mengemudikan mobil itu adalah seorang pria dengan penampilan yang terlihat bukan seperti orang biasa. Pria itu memakai kemeja putih yang lengannya digulung hingga sebatas siku, tubuhnya terlihat gagah meski dalam keadaan duduk. Pria itu juga terlihat dewasa secara fisik.

Setelah memperhatikan beberapa detik, tubuh Kira tersentak dan secara refleks dia menutup mulutnya.

'Kenapa dia di sini, apa dia yang membantuku keluar dari kantor polisi?' batin Kira.

Sedetik kemudian Kira teringat nama yang tertera di surat jaminan bebasnya tadi, jantungnya pun berdegup dengan cepat.