MENGINGINKAN IMBALAN
Detak jantung Kira menjadi lebih cepat. Kini dia menyadari bahwa, tak hanya pernah melihat nama itu, tetapi sebelumnya dia juga pernah bertemu pemilik nama itu.
'Aku benar-benar tak mengerti, kenapa dia datang ke sini? Bukankah dia yang seharusnya bertunangan denganku malam ini?' batin Kira bingung.
Ya, pria itu adalah Vano. Kira benar-benar terkejut mengetahui bahwa calon tunangannya sendiri lah yang membantu memberikan jaminan agar dirinya bisa pergi dari kantor polisi.
"Mengapa masih berdiri di sana, apa kamu tak ingin pergi dari sini?" ucap Vano.
"Kenapa kamu di sini, apa kamu yang membantuku keluar dari sini?" tanya Kira penasaran. Kira merasa tak percaya, kenapa Vano mau membantunya? Mereka bahkan tak pernah dekat.
Bukannya menjawab pertanyaan Kira, Vano justru meminta Kira untuk segera masuk ke mobil.
Kira pun akhirnya memasuki mobil Vano. Namun, dia hanya diam. Bahkan hingga mobil itu meninggalkan area kantor polisi, dia masih tak mengatakan apapun pada Vano.
Sesampainya di depan sebuah pintu pagar rumah berlantai dua yang di dominasi dengan cat berwarna putih, Kira mengambil tasnya dan bersiap keluar dari mobil. Akhirnya dia sampai di depan rumahnya.
"Saya tak menyangka, ternyata kamu senang mendatangi tempat seperti itu. Bahkan yang mengejutkan adalah, kamu terlihat sudah terbiasa mendatangi tempat seperti itu," ucap Vano.
Kira terdiam sejenak, setelah itu dia menoleh dan melihat Vano.
"Bagaimana kamu bisa berpikir begitu? Memangnya kamu mengenalku? Kita bahkan baru dua kali bertemu," ucap Kira heran.
Ya, Kira memang baru bertemu 2 kali dengan Vano. Pertemuan pertama terjadi dua minggu lalu saat dia turut hadir dalam pertemuan dua keluarga, yaitu keluarganya dan keluarga Vano. Sayangnya, pertemuan itu begitu mengejutkan Kira. Di dalam pertemuan itu, papa Vano justru melamar Kira untuk Vano, dan tanpa izin Kira, mami Kira menyetujui lamaran itu.
Vano tersenyum kecil, kemudian menoleh pada Kira. Dia menatap Kira.
"Seorang gadis yang baru pertama kali datang ke tempat seperti itu, tidak akan berani pulang di jam seperti ini," ucap Vano.
Kira menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya dengan sedikit kasar.
"Kira, menurutmu bagaimana dengan kejadian malam ini, apa itu sangat menyenangkan?" tanya Vano.
Kira memutar bola matanya dan kembali melihat Vano.
"Hanya orang bodoh yang akan merasa senang saat mendapatkan masalah. Jelas-jelas aku tak bersalah, tapi polisi tetap membawaku. Bagaimana mungkin aku akan senang?" kesal Kira dan mulai membuka pintu mobil.
"Benarkah? Saya pikir kamu menyukai sesuatu yang menantang," ucap Vano.
Kira terdiam, dia pun kembali menatap menatap Vano seraya menaikan satu alisnya.
"Benarkan?" ucap Vano dan kembali tersenyum.
Kira memutar bola matanya.
"Bicara apa, sih?" ucap Kira tak mengerti.
Vano menahan napasnya sejenak, setelah itu dia mengembuskannya dengan sedikit kasar.
"Ngomong-ngomong, aku sangat penasaran. Bagaimana bisa kamu tahu aku ada di kantor polisi? Apa diam-diam kamu mengikutiku?" ucap Kira seraya menatap Vano curiga.
"Mengikutimu, kenapa Saya harus mengikutimu?" ucap Vano seraya menaikan satu alisnya.
"Jelas-jelas kamu tahu aku dibawa ke kantor polisi, bukankah itu artinya kamu mengikutiku?" ucap Kira.
Bukannya menjawab pertanyaan Kira, Vano justru menatap Kira tanpa mengatakan apapun.
"Apa kamu tuli? Apa aku perlu mengulangi pertanyaanku, kenapa kamu diam saja?" ucap Kira.
Vano melepas seatbelt-nya dan sedikit mendekat pada Kira. Hal itu tentu membuat Kira merasa tak nyaman. Kira pun menjadi sedikit canggung.
"Apa kamu begitu ingin tahu?" tanya Vano seraya menatap Kira serius.
"Tidak!" jawab Kira dengan cepat.
Vano menghela napas dan sedikit memundurkan tubuhnya.
"Sudahlah, itu tak penting bagiku. Yang terpenting aku bisa pulang ke rumah," ucap Kira dan lagi-lagi bersiap membuka pintu mobil.
"Bukankah kamu melupakan sesuatu?" tanya Vano, sontak Kira terdiam.
Kira mencoba mengingat, apa sebenarnya yang telah dia lupakan? Tak lama Kira kembali melihat Vano.
"Aku ingat, bukankah kamu ingin aku berterima kasih padamu?" tanya Kira.
Vano tersenyum.
"Sayang sekali, aku takan berterima kasih padamu. Kamu tahu kenapa?" ucap Kira. Vano mengerutkan dahinya mendengar ucapan Kira.
"Aku tak peduli bagaimana kamu bisa tahu aku berada di kantor polisi. Satu hal yang pasti, aku tak pernah memintamu untuk datang membantuku. Karena itu, aku takan pernah berterima kasih padamu," ucap Kira, kemudian menyeringai.
Lagi-lagi Vano tersenyum, membuat Kira menaikan satu alisnya. Dia merasa bingung melihat reaksi Vano.
"Ya, tentu saja. Saya juga sebenarnya tak membutuhkan ucapan terima kasih darimu. Tapi ..."
Vano kembali mendekat pada Kira. Kira pun menggeser posisinya agar tak terlalu dekat dengan Vano.
"Seharusnya kamu tahu apa konsekuensinya, jika malam ini Saya tak membantumu keluar dari kantor polisi," ucap Vano.
"Apa sebenarnya maksudmu? Katakan dengan jelas!" kesal Kira.
Vano lagi-lagi tersenyum.
"Menurutmu, apa yang akan terjadi jika mamimu tahu bahwa, di dalam tasmu ada zat terlarang? Apakah mamimu hanya akan memarahimu, atau justru akan langsung menghapus namamu dari kartu keluarga?" ucapan Vano.
Kira tercengang mendengar ucapan Vano.
"Apa kamu sedang mengancamku?" tanya Kira.
"Kenapa Saya harus mengancammu? Saya hanya berpikir, apapun yang Saya lakukan sangat berharga. Karena itu, Saya juga berhak mendapatkan keuntungan dari apa yang Saya lakukan untukmu," ucap Vano, kemudian lagi-lagi tersenyum.
Kira menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya dengan kasar.
"Sebaiknya singkirkan pikiranmu itu!" kesal Kira.
Vano menaikan satu alisnya. Apakah Kira mengerti keuntungan apa yang dia maksud?
"Jangan kamu pikir, karena kamu telah membantuku dan aku akan tetap bertunangan denganmu! Dengan tegas aku katakan padamu, aku takan mau bertunangan denganmu!" tegas Kira.
Vano terdiam, raut wajahnya tampak shock. Namun, setelah itu Vano terkekeh membuat Kira merasa bingung. Apa sebenarnya yang lucu menurut Vano? Pikir Kira.
"Saya tak menyangka, ternyata kamu adalah gadis yang sangat tak tahu malu. Kenapa kamu begitu percaya diri? Apa kamu pikir Saya benar-benar tertarik pada anak-anak seperti dirimu?" ucap Vano, sontak Kira menatap Vano dengan tajam. Beraninya Vano mengatakan dirinya anak-anak, pikir Kira.
Kira mengangkat tasnya, dan akan memukul Vano. Namun, belum sempat memukul Vano, Vano lebih dulu menahan tangannya.
"Saya menginginkan yang lain darimu," ucap Vano seraya menatap Kira dengan serius dan tangannya sedikit meremas tangan Kira.
Kira pun mengempaskan tangan Vano.
"Apa? Apa kamu mau uang, berapa yang kamu mau agar aku bisa menutup mulutmu?" ucap Kira.
Vano mengepalkan tangannya. Beraninya Kira menawarkan uang padanya.
"Apa kamu pikir Saya terlihat membutuhkan uang, ha? Saya bahkan bisa membeli apapun tanpa meminta uang pada orang lain, apalagi padamu!" tegas Vano.
Baru saja Kira akan mengatakan sesuatu, tetapi Vano justru mengusir Kira. Kira pun dibuat kesal, dia menatap Vano dengan tajam dan bersiap memaki Vano.
"Saya bilang keluar dari sini!" tegas Vano tanpa melihat Kira.
Kira menggeram dalam hati, dia pun bergegas membuka pintu mobil.
"Aku memang akan keluar. Aku rasa aku juga akan menjadi gila jika terus berurusan denganmu!" kesal Kira dan keluar dari mobil.
Vano pun tak lagi menahan Kira. Dia memperhatikan Kira yang tampak mendekati pintu pagar.
Vano kemudian menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya dengan kasar. Dia mengusap wajahnya.
'Aku benar-benar terkejut ada gadis seperti dia, benar-benar kasar! Jangan sampai aku ke akhirat sebelum waktunya!' gumam Vano. Dia benar-benar kesal pada Kira, Kira benar-benar tak tahu berterima kasih, pikirnya.
Vano pun menyalakan mesin mobilnya dan terdiam sejenak. Dia lalu melihat ke pintu pagar rumah Kira.
'Tapi, sekarang aku tak memiliki pilihan lain. Bagaimanapun caranya, aku harus bisa mendapatkannya,' batin Vano, kemudian meremas kemudinya.