Sepenggal Dusta Bernama Cinta
Kata orang, cinta adalah perasaan kasih sayang yang kuat dan konstan yang dirasakan oleh seseorang. Karena sepenggal rasa bernama cinta itulah akhirnya dua orang yang awalnya tidak terhubung satu sama lain menjadi satu dalam ikatan pernikahan. Kirania Atalya Putri dan Giandra Arshaka adalah salah satu dari banyaknya pasangan kekasih yang mengikat hubungan mereka dalam janji suci pernikahan.
Lima tahun berlalu sejak mereka menikah dan tidak sedikit pun mengurangi keromantisan mereka berdua. Gian begitu memanjakan Kiran dan Kiran juga sangat menghormati suaminya. Tidak hanya hubungan suami istri yang berjalan dengan baik, hubungan Kiran dengan mertuanya juga sangat harmonis. Ayah dan ibu Gian sangat sayang pada Kiran, sungguh hubungan yang sangat indah.
Sayangnya, semua hanya tampilan semu belaka. Kasih sayang Gian dan kebaikan hati sang mertua hanya ada di permukaan, karena pada kenyataannya semua berbeda. Cinta Gian yang selalu Kiran banggakan, tidak lebih dari sekadar omong kosong belaka.
“Mas Gian ....” Bibir mungil Kiran berbisik memanggil nama sang suami yang ia lihat secara tidak sengaja di Pantai Kelan, Kuta, Bali.
Mata Kiran memanas kala melihat sang suami begitu bahagia bersama seorang wanita dan satu anak kecil. Mereka bertiga terlihat seperti keluarga yang harmonis. Mengenakan baju senada warna putih, ketiganya seakan ingin memperlihatkan pada dunia kalau mereka adalah keluarga kecil paling bahagia di dunia.
“Mas Gian ...,” isak Kiran. Dia sengaja datang ke Bali untuk memberikan kejutan pada sang suami, tapi ternyata dia sendiri yang terkejut. Dia terus mengikuti Gian sejak keluarga kecil itu keluar dari salah satu hotel di Bali.
Kiran menutupi mulut yang ingin berteriak menggunakan telapak tangannya, menahan jeritan pilu untuk hati yang tercabik-cabik. Ingin rasanya dia maju ke depan dan meraih sang suami kemudian bertanya dengan lantang mengenai apa yang sebenarnya terjadi.
Sayangnya, Kiran tidak bisa melakukan itu. Kakinya seperti agar-agar yang tidak mampu menopang beban tubuh karena terlalu kaget dan tertekan dengan kenyataan yang terlalu menakutkan itu.
Meskipun darah Kiran mendidih dan seluruh saraf di tubuhnya ingin mencakar wanita yang bersama Gian, tapi sebisa mungkin Kiran menahan diri. Jika dia melakukan itu, bukan tidak mungkin pernikahannya dengan Giandra akan berakhir. Rumah tangga yang sudah terjalin selama lima tahun mungkin hanya akan menjadi serpihan masa lalu.
Kiran mencintai Giandra dengan segenap jiwanya dan tidak ingin pernikahan mereka yang bahagia kandas oleh perempuan lain. Meski sakit, Kiran akan menanggungnya dan untuk sementara dia tetap bersembunyi dalam bayang-bayang agar Gian tidak melihatnya mengawasi.
Dengan tangan gemetar, Kiran mengambil ponsel dari dalam tas dan menembak beberapa gambar sang suami saat bersama wanita dan anak kecil itu. Netra Kiran melebar kala memperhatikan dengan seksama wanita yang berada di samping Gian. Hatinya seakan mendapat serangan ganda saat merasa yakin siapa sosok wanita dalam foto itu.
“Tari?” gumam Kiran, menyebut nama wanita di samping Gian yang ternyata adalah teman dekat mereka saat kuliah dulu.
“Tidak mungkin! Mereka tidak mungkin bersama! Ini pasti lelucon!” Kembali Kiran bergumam dan menyangkal apa yang dia lihat.
Tari bahkan lebih dari sekadar teman dekat. Ayahnya bekerja di pabrik roti milik ayah Kiran selama bertahun-tahun dan ayah Kiran menjadi donatur yang membiayai kuliah Tari hingga ia lulus menjadi sarjana. Tari juga kerap menginap di rumah Kiran saat mereka masih kuliah. Hanya saja, hubungan keduanya sedikit renggang setelah kelulusan, dan mereka semakin jauh semenjak Kiran menikah.
“Kalian ... tega sekali,” ucap Kiran lirih. Ponselnya hampir jatuh karena getaran di tangan yang sulit Kiran kendalikan.
Ini terlalu menyakitkan. Apalagi saat melihat anak kecil di antara mereka yang mungkin berusia sekitar empat tahun. Bukankah itu artinya mereka bersama tidak lama setelah Kiran dan Gian menikah?
Kiran merasa dia akan gila dengan informasi yang begitu tiba-tiba.
Tidak, Kiran harus menguatkan diri dan terus mengikuti mereka untuk mendapatkan hasil tangkapan kamera yang lebih jelas. Dengan topi lebar yang hampir menyembunyikan separuh wajah bagian atas dan rambut yang tergerai, Kiran duduk tidak jauh dari tempat Gian dan Tari berada dalam sebuah kafe di pinggir pantai.
Tidak salah lagi, wanita di samping Gian memang Tari. Penuh amarah, Kiran meremas daftar menu yang ia pegang. Jika bukan karena rasa cintanya yang besar pada Gian, Kiran pasti sudah menjambak rambut wanita itu hingga terlepas dari akarnya. Gigi geligi Kiran sampai beradu saking kuatnya karena dia menahan diri agar tidak meledak saat itu.
Air mata yang sempat berhenti, kembali mengalir dengan deras kala sayup-sayup dia mendengar anak kecil yang bersama mereka memanggil mama dan papa pada Gian dan Tari. Kiran menyentuh perutnya sendiri yang rata. Perut yang sampai lima tahun terakhir masih belum juga bisa memberikan buah cinta pada Gian.
Apa karena aku belum bisa memberikanmu keturunan hingga kamu sampai tega mengkhianati aku, Mas?
Bukankah kamu sendiri yang bilang akan tetap mencintaiku dengan ada atau tanpa adanya anak?
Lalu apa yang terjadi sekarang?
Jika aku tidak datang ke sini, apakah kamu akan terus merahasiakan ini dariku?
Apa kau akan meninggalkan aku setelah semua rahasiamu terbongkar?
Banyaknya pertanyaan di kepala Kiran membuat dia linglung sejenak hingga tidak mendengar saat ada pelayan yang menghampiri dan terus bertanya padanya.
“Nona, apa Anda baik-baik saja?” tanya sang pelayan saat melihat wajah Kiran yang sangat kacau.
“Nona …, apa Anda sakit?”
Tak kunjung mendapatkan respon, pelayan itu menyentuh tangan Kiran dan sukses membuat Kiran terkejut. Kesadaran Kiran kembali saat itu juga dan beralih melihat pelayan yang masih menatapnya dengan ekspresi bingung.
“Nona, Anda baik-baik saja? Apa Anda membutuhkan sedikit bantuan?” ucap sang pelayan, mengulang pertanyaannya.
“Oh, maaf. Saya tidak mendengarmu barusan. Bisa bawakan minuman apa saja yang dingin dan manis?”
“Bagaimana kalau es kelapa?”
“Ya, ya …, itu saja. Terima kasih.”
“Baiklah, mohon tunggu sebentar. Pesanan Anda akan segera saya bawakan.”
“Terima kasih.”
Kiran mengangkat wajahnya untuk melihat kembali ke arah keluarga kecil tadi. Namun, siapa sangka kalau tatapannya bertemu dengan netra sang suami yang juga sedang melihat ke arahnya.
Kiran buru-buru menunduk dan menurunkan lagi topi bundarnya untuk menutupi sebagian wajah bagian atasnya. Dia juga merapikan rambut agar menutupi bagian samping wajahnya.
Kiran tidak boleh ketahuan saat ini. Dia belum siap menghadapi Gian dan Tari. Bisa dibilang Kiran belum siap dengan kemungkinan terburuk yang akan terjadi padanya jika Gian sampai tahu Kiran menyaksikan perselingkuhan sang suami.
Debaran jantung Kiran berdetak dua kali lebih cepat saat Gian berdiri dan melangkah ke arahnya. Agar tidak ketahuan, Kiran mengambil daftar menu dan meletakkannya di depan wajah untuk menutupi diri dari pandangan sang suami. Kiran merasa sedikit konyol karena takut ketahuan oleh sang suami berada di sini. Bukankah seharusnya Gian yang merasa ketakutan saat ini?
Kiran menggertakkan gigi dan bersiap jika Gian memang tahu keberadaannya di tempat yang sama. Namun dia kembali berpikir, bagaimana jika pernikahannya hancur karena ini? Bukankah nantinya Tari yang akan diuntungkan sementara dia sendiri akan dirugikan luar dalam?