LNCrawler

Senyum Tersembunyi

Menyulam Luka — gooddreamer.id · All chapters

Senyum Tersembunyi

Tidak bisa!

Kiran tidak akan pernah membiarkan pernikahan yang sudah lima tahun ia jalankan kandas begitu saja. Mungkin ada kesalahpahaman di sini. Gian dan Tari bisa saja berjalan bersama, tapi belum tentu mereka memiliki hubungan seperti yang ia bayangkan.

Kiran menundukkan wajahnya semakin dalam untuk menghindari ditemukan oleh Gian. Jantungnya berdetak keras saat Gian melangkah di sampingnya.

Tidak! Jangan melihat ke sini! Kiran merapalkan doa dalam hati. Dia tidak sanggup untuk bicara dengan Gia.

Emosinya terlalu meluap dan jika dia bicara dengan Gian saat ini, Kiran khawatir tidak bisa mengendalikan mulutnya. Bisa saja dia akan mengatakan hal-hal yang akan disesali nantinya.

Kiran menghela napas lega begitu sang suami berjalan melewatinya. Segera setelah itu Kiran bangun dan melangkah keluar dari kafe. Dia harus menjernihkan pikiran dan menenangkan diri. Dirinya akan berhati-hati memikirkan langkah apa yang akan diambil selanjutnya.

Rasa sakit di dada Kiran masih sama menyesakkannya seperti saat pertama kali dia melihat Gian dan Tari keluar dari penginapan. Dia menelan rasa sakit itu seorang diri dan terburu-buru berlari menuju ke tempat di mana dia tidak akan melihat sang suami dan selingkuhannya.

Karena Kiran berjalan dengan terburu-buru, dia tidak menggunakan matanya untuk melihat ke depan. Pada akhirnya, Kiran hanya berhenti setelah menabrak seseorang di depannya.

“Maaf, aku tidak sengaja,” ucap Kiran setelah menabrakkan diri pada orang lain.

“Tidak apa-apa, aku baik-baik saja. Bagaimana denganmu?”

“Aku tidak apa-apa,” jawab Kiran dengan suara gemetar. Dari sudut matanya masih menyisakan bulir bening yang bisa jatuh kapan saja.

Kiran sudah akan meninggalkan tempat itu setelah meminta maaf, tapi langkahnya kemudian terhenti saat mendengar suara yang cukup akrab menyapa telinganya.

“Kak Kiran?”

Kiran mengangkat wajahnya dan bertemu dengan tatapan bingung pihak lain. “Danis?” panggil Kiran dengan nada bertanya. Antara lega dan heran bisa bertemu dengan Danis di tempat ini.

“Kak Kiran, kenapa ada di sini?” Danis ragu-ragu bertanya. Dia memperhatikan wajah sembab Kiran dan menyipitkan matanya. Danis ingin tahu tapi rasanya kurang sopan bertanya langsung pada Kiran.

Bersama seseorang yang dia kenal, Kiran tidak menahan diri dan kembali menjatuhkan air mata yang ditahan sebelumnya.

“Kak ....”

Danis membawa Kiran menjauh dari tempat itu dan mencari tempat nyaman untuk bicara. Dia tidak mau menjadi tontonan banyak orang karena dikira menyakiti seorang wanita.

Saat ini mereka berdua duduk kursi kafe pinggir jalan yang berbeda dengan tempat Gian dan Tari berada. Tangis Kiran juga sudah reda dan dia sudah bisa bicara dengan ceria seperti biasa. Sebisa mungkin Kiran menyembunyikan masalah ini dari siapapun.

“Kak Kiran di sini sama siapa?” tanya Danis, mencairkan suasana.

“Aku sendiri. Danis, jangan kasih tahu Kai kalau kamu ketemu aku di sini, ya.”

Kai adalah adik kandung Kiran yang merupakan teman Danis. Mereka berdua cukup akrab dan Danis sendiri memang kerap datang ke rumah untuk menemui Kai.

“Oke, tidak masalah. Tapi, Kak Gian tahu kan kalau Kak Kiran lagi di Bali?”

“Sebentar lagi juga tahu. Aku sengaja mau kasih kejutan buat Mas Gian.”

“Oh, oke.”

Sejuta tanya melayang di pikiran Danis. Jika memang Kiran ingin memberikan kejutan pada suaminya, bukankah seharusnya dia terlihat bahagia, bukan wajah sedih dan sembab seperti saat ini?

Danis tersenyum dan mencoba percaya pada ucapan Kiran, menelan semua rasa curiga di hatinya. Dia kenal Kiran sudah lama, sama lamanya seperti dia mengenal Kai. Kiran wanita ceria yang hampir tidak pernah memperlihatkan rasa sedihnya. Bisa dibilang, ini adalah kali kedua Danis melihat Kiran menangis.

Hari pertama Danis melihat Kiran menangis adalah saat dia menikah, meski Danis hanya melihat melalui video. Dia menangis dalam kebahagiaan, tapi kali ini Danis bisa yakin kalau Kiran menangis karena sedih. Dan ... tebakan Danis tertuju pada suami Kiran sebagai biang keladi dari kesedihan wanita it.

“Danis, jangan katakan pada siapa pun kalau kau melihatku di sini, oke?” pinta Kiran. Dia bicara dengan menundukkan pandangan dan tidak berani melihat ke arah Danis, jauh berbeda dengan cara yang biasa Kiran lakukan saat bicara.

Kakak dari sahabatnya itu biasanya akan bicara menatap langsung pada mata lawan bicaranya. Namun kali ini Kiran selalu melihat ke arah lain. Dia sama sekali tidak mau menatap Danis, seakan-akan Kiran takut kalau matanya akan mengutarakan kebenaran dari apa yang terjadi.

“Apa pun yang kau inginkan. Sepertinya ini akan jadi kejutan besar untuk Kak Gian.”

“Jangan pernah bahas masalah ini sama Mas Gian! Jangan sampai keceplosan dan jangan sampai mengungkit kau pernah melihatku di sini.”

“Oke, seperti yang kau mau.”

“Terima kasih,” ucap Kiran. Dia mengembuskan napas lega.

Danis menyipitkan mata dan melihat ada sesuatu yang tidak benar dengan Kiran. Dia tidak bermaksud untuk ikut campur, Danis hanya merasa sedikit khawatir dengan kakak dari sahabatnya itu.

Kiran terlihat seperti bunga yang baru saja terkena hujan badai. Kiran sendiri adalah bunga yang terbiasa hidup di balik rumah kaca. Hujan badai yang mengenai langsung tubuhnya pasti akan berdampak besar pada kehidupan Kiran selanjutnya.

“Jangan sungkan! Hubungi aku kapan saja kalau Kak Kiran butuh bantuanku.”

“Baik, terima kasih sekali lagi untuk keramahanmu. Kalau begitu, aku pergi dulu, ya. Ada hal lain yang harus aku lakukan.”

Kiran mengambil tas jinjing di meja kemudian bangun dan bersiap pergi dari hadapan Danis. Namun baru saja dia berjalan beberapa langkah, tubuhnya terlihat limbung dan hampir saja jatuh. Beruntung Danis tanggap dan segera bangun untuk membantu mendukung Kiran.

“Hati-hati, Kak Kiran. Kak Kiran mau pergi ke mana? Biar aku antarkan,” ucap Danis.

Kiran melambaikan tangan dan mengisyaratkan kalau dia tidak apa-apa. “Aku akan pergi sendiri. Tidak apa-apa. Mungkin karena aku terlalu bersemangat tadi.”

Danis tidak berhasil meyakinkan Kiran. Wanita yang terlihat rapuh itu tetap memilih pergi seorang diri. Meski khawatir, tidak ada yang bisa dilakukan Danis karena Kiran tetap menolak bantuannya. Sorot mata Danis menjadi gelap, tapi sudut bibirnya sedikit terangkat ke atas saat menyaksikan kepergian Kiran.

***

Kiran masih terlalu terkejut dengan apa yang ia hadapi hari ini. Hati dan pikirannya tidak mampu berpikir secara jernih dan membuat gerakan tubuhnya tidak sinkron dengan apa yang otaknya pikirkan. Jadilah tubuhnya limbung. Kakinya bahkan harus bekerja lebih keras agar mampu melangkah dengan benar.

Saat ini yang terpenting adalah mencari tempat untuk sendiri, di mana Kiran bisa menjernihkan pikiran. Dia harus berpikir dengan sungguh-sungguh mengenai apa yang harus dia lakukan berikutnya. Apakah dia akan meminta Gian memutuskan Tari, atau dia sendiri yang bergerak untuk memisahkan Gian dengan Tari?