Hanya Ingin Memberi Kejutan
Dua bantal yang ada di dalam kamar hotel yang Kiran sewa sudah menjadi pelampiasan kemarahan Kiran. Wanita berusia dua puluh tujuh tahun itu terus menggunakan sisa kekuatannya untuk memukul dan meninju bantal tanpa ampun.
Berpikir ribuan kali pun tidak membuat Kiran menemukan jawaban dari pertanyaannya.
Aku benar-benar diduakan?
Kenapa Mas Gian mengkhianati aku? Kenapa Tari tega padaku? Kenapa mereka bisa melakukan ini padaku? Apa salahku sampai Mas Gian bermain api di belakangku?
Kesalahan?
Kiran menunduk dan menatap perutnya yang rata. Mungkinkah karena dia sampai detik ini belum bisa memberikan keturunan pada Gian? Namun, bukankah ini bukan kesalahan Kiran? Anak adalah takdir, bukan sesuatu yang bisa dipaksakan keberadaannya.
Sudah banyak cara yang Kiran tempuh agar dia bisa mengandung. Dia juga memeriksakan diri ke dokter dan hasilnya kandungan Kiran baik-baik saja. Tidak ada masalah dengan organ reproduksinya. Hanya masalah waktu saja sampai dia bisa diberi kepercayaan untuk mengandung buah cintanya dengan Gian.
Andai, seandainya Kiran tidak bisa hamil pun, bukan berarti Gian bisa mengkhianatinya. Poligami memang halal, tapi bukan berarti dia bisa seenak hati menikah lagi tanpa memberitahu istri sahnya yang pertama. Lagipula, syarat poligami adalah bisa berbuat adil. Jika seperti ini caranya, apakah Gian akan bisa bersikap adil?
“Kamu jahat, Mas!” teriak Kiran untuk yang sekian kalinya.
“Astagfirullahaladzim ... laa haula wala quwwata illa billah.” Kiran terus mengulang membaca istigfar.
Gian selalu bilang akan mencintainya tanpa syarat. Dia tidak pernah keberatan jika mereka belum dikaruniai momongan. Orang tua Gian juga tidak mendesak Kiran untuk segera memberikan cucu. Namun, apa yang terjadi sekarang?
Kepribadian Kiran yang ramah dan ceria kini seperti pasir tersapu angin, lenyap seketika. Hanya menyisakan rasa dendam, sakit dan kepedihan di hatinya.
“Kalian ingin bermain-main? Kalau begitu ayo kita bermain-main!”
Kiran mengambil satu keputusan. Dia tidak akan melepaskan Gian dengan mudah. Dia tidak akan membiarkan Tari mendapatkan Gian. Namun, bukan berarti dia akan menjadi budak cinta Gian yang akan terima saja perlakuan curang Gian di belakangnya.
“Aku tidak mau hancur sendirian, Mas. Kalau aku merasakan perih, kalian juga harus merasakan sakit yang sama denganku,” tekad Kiran.
Setelah membersihkan diri dan menenangkan kemarahannya, Kiran mengambil ponsel dan menghubungi Gian. Dia menekan kuat-kuat rasa sesaknya untuk bisa bicara dengan nada ceria yang biasa dengan sang suami.
Panggilan tersambung dalam dering ketiga. Terdengar sapaan lembut sang suami memenuhi indra pendengaran Kiran. Jika biasanya suara sang suami terasa hangat, menyenangkan dan magnetis di telinganya, kali ini suara Gian tak ubahnya seperti dengungan yang memekakkan telinga, membuat Kiran panas dan sesak napas.
Gian: "Halo, Sayang."
Kiran: "Halo juga, Mas. Mas Gian lagi apa sekarang?"
Di seberang telepon, Gian melihat jam tangan yang menunjukkan pukul satu siang. Dia baru saja makan dan sebentar lagi akan istirahat siang.
Gian: "Aku mau istirahat sebentar. Hari ini sangat melelahkan. Aku baru saja melihat-lihat lokasi strategis yang bisa kita jadikan gudang kita di Bali."
Kiran: "Mas Gian bekerja sangat keras."
Gian: "Oh, harus itu. Demi kamu dan keluarga kecil kita."
Jika ini dikatakan sebelum Kiran melihat kecurangan sang suami, dia pasti akan merona dan berdebar dengan ucapan Gian. Namun, kini semua berbeda. Ucapan Gian hanya menambahkan garam di luka Kiran yang masih sangat basah.
Kiran mencengkeram erat ponsel dan dadanya. Ingin sekali dia merobek dada sang suami untuk melihat apakah dia masih memiliki hati hingga bisa bicara kebohongan dengan begitu halus.
Kiran: "Mas Gian jangan terlalu lelah. Ingat untuk selalu jaga kesehatan."
Gian: "Tentu saja, Sayang. Di sini sangat sepi tanpa kamu. Aku benar-benar sangat merindukan kamu. Aku ingin cepat-cepat pulang."
Kiran membeku mendengar kata demi kata Gian yang berisi kebohongan. Sepi dan rindu yang terucap hanya kebohongan dan kepalsuan. Menyakitkan bagi Kiran mendengar kebohongan Gian yang tanpa malu. Kiran ingin menertawakan dirinya sendiri yang dulu selalu tersipu setiap kali mendengar kata rindu dari sang suami.
Saat Gian mengatakan rindu, suaminya mungkin tengah memeluk kecantikan lain di tempat tidur. Mereka berdua mungkin akan menertawakan kebodohan Kiran yang puas dengan sedikit kata-kata manis dari Gian.
Apa aku terlihat begitu bodoh bagi kalian? batin Kiran.
Tanpa suara cerewet Kiran, sambungan telepon terasa sangat sepi. Dari jarak yang tidak begitu jauh, sayup-sayup terdengar panggilan seorang anak kecil
“Papah ....”
Jantung Kiran berdebar keras saat dia mendengar suara anak kecil. Tangannya semakin erat memegangi ponsel hingga pembuluh darahnya terlihat. Bibirnya mengencang membentuk satu garis tipis
Kiran: "Mas Gian sedang ada di mana? Aku ... mendengar suara anak kecil."
Kiran tidak tahu kalau sekarang Gian sangat panik karena anak kecil yang baru saja memanggilnya ‘papah’ kini bergelayut manja di pelukannya.
Kiran bisa mendengar kalau anak kecil itu merengek mengajak sang ayah untuk menemaninya tidur. Panggilan ‘papah’ terus terdengar seperti pisau kecil yang menyayat hati Kiran.
Gian: "Ini sebenarnya ada anak kecil yang merengek. Aku tidak kenal. Aku sedang ada di lobi hotel."
Kiran: "Bukannya tadi Mas Gian bilang akan istirahat? Kenapa sekarang ada di lobi hotel?"
Gian: "Aku bilang akan beristirahat, bukan sedang beristirahat. Tidak nyaman bicara di lobi. Aku akan kembali ke kamar dulu, setelah itu aku akan meneleponmu lagi."
Kiran: "Tunggu! Mas Gian, aku di Bali. Ini ... sedikit kejutan untuk Mas Gian. Jangan kembali ke kamar dulu, tunggu saja di lobi. Sebentar lagi aku sampai."
Gian: "Apa?"
Kiran: "Aku ada di Bali. Aku akan menemani Mas Gian agar tidak terlalu kesepian. Agar Mas Gian tidak perlu menahan rindu lagi."
Gian tercekat dengan ucapan Kiran. Jika istrinya benar-benar berada di Bali, maka dia tidak bisa lagi bersama dengan Tari dan anaknya. Lalu, apa gunanya dia menyiapkan acara liburan ini jauh-jauh hari?
Kilat ketidaksukaan di hati Gian terbakar dan ketidaksabaran tercipta dari nada suaranya yang tergesa-gesa.
Gian: "Kapan kamu datang ke sini? Kenapa kamu tidak bertanya dulu padaku? Kiran, aku di sini untuk bekerja, bukan untuk bersenang-senang atau bermain-main. Kenapa kamu tidak tanya dulu padaku saat akan datang ke sini?"
Kiran: "Aku ... hanya ingin memberimu kejutan."
Suara Kiran bergetar, bukan karena takut setelah mendengar nada tinggi sang suami. Dia hanya terlalu benci hingga tanpa sadar membuat suaranya bergetar dan disalahpahami oleh Gian sebagai rasa takut. Terlebih lagi saat ia masih mendengar suara anak kecil yang sayup-sayup terdengar memanggil Gian dengan sebutan ‘papah’.
Gian: "Maaf, Sayang. Aku tidak bermaksud untuk membentakmu. Aku benar-benar terkejut."
Tidak ada jawaban lagi dari Kiran, hanya ada kesenyapan di sambungan telepon yang membuat Gian menjadi semakin merasa bersalah. Dia panik karena anaknya terus merengek padanya. Bagaimana jika Kiran tiba saat ini dan melihat anaknya?
Kiran: "Mas Gian …, aku sudah tiba di depan hotel tempat Mas Gian menginap."
Gian: "Apa?"
Kiran: "Mas Gian masih di lobi, kan? Oh, aku lihat Mas Gian."
Mendadak pikiran Gian buntu. Tamat sudah riwayatnya. Dia tidak mau kalau sampai Kiran melihat Gibran--anaknya dan Tari--ada di sini. Gian dengan panik melihat ke sekeliling dan berharap agar Tari bisa segera datang dan membawa Gibran pergi dari sini secepatnya.
Kiran: "Mas?"