Kalian Jual, Aku Beli
Gian berusaha tetap tenang. Selama ini istri sahnya begitu mudah dibujuk dan dibohongi. Dia kemudian mematikan sambungan telepon dan nanti dia akan bilang kalau baterai ponselnya habis. Dia lantas membawa Gibran, menggendong bocah itu terburu-buru dan mencari Tari.
“Ke mana Tari saat dibutuhkan?”
Gian mencari di setiap sudut kamar hotel yang mereka sewa, tapi tidak menemukan Tari di mana pun. Dia ingin menghubungi Tari lewat telepon, tapi dia sudah terlanjur mematikan daya ponselnya. Dan jika dia menyalakan ponsel, maka Kiran pasti akan meneleponnya.
“Papah …, ayo bobok. Iban ngantuk,” ucap Gibran. Dia memeluk leher sang ayah dan bersikap manja seperti biasa. Jarang-jarang anak itu bisa berlama-lama bersama dengan sang ayah, jadi wajar Gibran jadi sangat lengket dengannya.
“Gibran Sayang, Papah harus pergi dulu. Gibran sama Mamah dulu, ya.”
Anak kecil berusia empat tahun itu mencebikkan bibirnya tidak suka. Ayahnya sudah berjanji akan menghabiskan waktu bersama selama liburan kali ini, tapi hasilnya sang ayah tetap saja pergi lebih cepat dan kembali meninggalkannya. Gibran mengeratkan pelukan pada leher sang ayah, sangat enggan harus berpisah lagi dengan ayahnya.
Tak lama kemudian, Tari masuk membawa dua tentengan di tangannya. Dia baru saja mengambil keperluan milik Gibran yang tertinggal di dalam mobil. Saat masuk, dia masih tersenyum melihat Gibran yang lengket dengan Gian, tapi detik berikutnya dia tercekat saat Gian memintanya untuk segera pindah ke hotel yang lain.
“Ini liburan kita, Mas. Kenapa kamu membiarkan Kiran datang ke sini? Kamu enggak kasihan sama Gibran?” Tari menusuk titik lemah Gian dengan mengatasnamakan anaknya. Tari hanya bisa menggunakan Gibran sebagai senjata untuk menjerat Gian.
“Sayang, maafkan aku. Aku juga tidak tahu kalau Kiran akan datang ke sini. Dia bahkan bilang sudah sampai ke hotel. Kamu bawa Gibran pergi, cari hotel lain dan aku akan menyusul setelah membujuk Kiran untuk pulang.”
Tari tertawa sarkas. Kiran sudah terlanjur sampai di Bali, tidak mungkin Kiran akan pulang begitu saja. Meski masih sama-sama di Indonesia, tapi jarak dari Jakarta ke Bali tidak dekat. Bahkan meski menggunakan pesawat, tidak mungkin bagi Kiran untuk langsung pulang begitu dia sampai di sini.
“Mas, apa menurutmu kamu bisa membujuk Kiran untuk pulang setelah dia sampai di sini?”
“Kiran sangat penurut. Dia selalu patuh padaku. Kamu tenang saja, aku pasti akan mengirim Kiran pulang sesegera mungkin.”
Tari ragu Gian bisa melakukannya, tapi dia tidak memiliki pilihan lain selain menurut untuk segera meninggalkan hotel ini. Urusannya akan panjang kalau sampai Kiran melihatnya di sini, apalagi dia membawa Gibran saat ini. Meski enggan, Tari menyeret kakinya untuk pergi membawa Gibran.
“Mas, pokoknya kamu harus mengirim Kiran pulang secepatnya! Aku tidak mau liburan kita kacau karena Kiran. Kamu lihat Gibran! Anak kita juga butuh kamu, Mas.”
“Iya, Tari. Iya. Aku janji akan segera menyusul, oke?”
Tari hanya bisa menggigit bibirnya kesal, tapi tetap pergi meninggalkan hotel. Setelah Tari dan anaknya pergi, Gian buru-buru menyalakan ponselnya lagi kemudian menghubungi Kiran. Panggilannya langsung tersambung di dering pertama dan telinganya langsung disambut dengan gerutuan dari Kiran.
Kiran: "Mas Gian …, kenapa ponselnya tiba-tiba mati? Apa yang terjadi? Mas Gian baik-baik saja, kan? Aku khawatir. Aku takut terjadi sesuatu dengan Mas Gian."
Gian mengambil napas panjang sebelum menjawab pertanyaan sang istri. Dia sudah terbiasa berbohong pada Kiran, dia menyesuaikan nada bicaranya agar terdengar menyesal di telinga Kiran.
Gian: "Maaf, Sayang. Tadi ponselku tiba-tiba saja mati. Semalam aku lupa mengisi daya. Ah, aku semakin tua’. Mengisi daya ponsel saja sampai lupa."
Kiran: "Jangan bilang Mas Gian sudah tua! Mas Gian bahkan belum memiliki anak dariku. Aku jadi merasa bersalah karena sampai detik ini belum bisa memberikan ke--"
Gian: "Sst …, jangan bilang begitu lagi. Aku sayang kamu, titik. Jangan bilang begitu lagi, ya, Sayang! Anak adalah karunia dari Tuhan, bukan kita yang tentukan. Nanti, kalau sudah saatnya tiba, kita pasti juga akan memiliki anak. Kamu sudah sampai mana? Biar aku jemput."
Kiran terdiam sesaat. Hatinya ingin meledak dengan kemarahan mendengar penuturan Gian yang seperti madu, tapi dalamnya penuh dengan racun. Ucapannya begitu manis menenangkan, tapi menyembunyikan kenyataan yang dapat memukul hati Kiran sampai pingsan.
Bagaimana bisa mulut Gian berbohong dengan begitu mulus tanpa sedikit pun terpeleset?
Jika hanya kebohongan ringan, Kiran bisa menutup mata. Namun ini, kebohongan yang sangat besar dan sudah mengakar sampai ke perut bumi. Gian bahkan bisa berbohong dengan mata terbuka tanpa berkedip sekali pun.
Kiran: "Maaf, Mas. Tadi aku balik lagi ke bandara karena enggak tahu harus ke mana dan ponsel Mas Gian tidak bisa aku hubungi."
Gian: "Jadi, kamu belum sampai di hotel seperti yang kamu bilang sebelumnya?"
Kiran: "Belum, Mas. Mas Gian kasih tahu nama hotelnya, ya. Biar aku berangkat sekarang."
Gian menggertakkan gigi, menahan kesal pada sang istri. Tadi dia begitu panik sampai langsung mengusir Tari dan memintanya buru-buru mencari hotel lain karena mengira Kiran benar-benar sudah sampai di lobi hotel. Tidak tahunya sang istri masih berada di bandara.
Ingin sekali Gian meminta istrinya langsung terbang kembali ke Jakarta, tapi rasanya terlalu tidak manusiawi. Kiran mungkin akan curiga dan akan terus bertanya kenapa. Katakan Kiran adalah istri yang penurut, tapi dia bukan istri yang bodoh. Dia mungkin mudah dibohongi, tapi jika kebohongannya keterlaluan, Kiran pasti juga akan curiga.
Kiran: "Mas Gian ...."
Gian: "Ya, Sayang. Aku masih di sini. Kalau begitu, kamu tetap di bandara. Aku akan jemput kamu."
Kiran: "Jangan, Mas. Mas Gian sudah sangat lelah. Tadi Mas Gian bilang mau istirahat, kan? Biar aku saja yang datang."
Setelah berbasa-basi sebentar, Kiran menutup sambungan telepon. Dia bukannya tidak tahu kalau Tari dan anaknya sudah pindah ke hotel lain. Dia bahkan melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana Tari dan anaknya berjalan dengan terburu-buru keluar dari hotel ini.
Kiran tersenyum miris, tidak menyangka hidupnya yang ia pikir sangat bahagia dengan suami yang sangat mencintai dan memanjakan, pada kenyataannya berbeda seratus delapan puluh derajat. Keluarga kecil yang harmonis hanya ilusi yang diciptakan oleh Gian. Suami yang ia anggap sebagai suami terbaik di dunia ternyata tidak lebih baik dari sampah. Betapa menyedihkan!
Kiran masih mengawasi di sekitar hotel tempat Gian menginap, dan seperti yang ia perkirakan, Gian bergegas menyusul ke tempat di mana Tari dan anaknya berada. Kiran tertawa miris. Lihat saja apa yang akan dia lakukan untuk membuat Gian kembali berlari ke sini. Namun sebelumnya, dia ingin membuat Tari dan Gian merasa gamang karena harus bisa berpisah setelah hanya beberapa detik saja bertemu.
Jangan salahkan aku jika aku menjadi jahat pada kalian. Kalian jual, aku beli. Kalian yang mengajarkan ini padaku.