Kejutan Untuk Gian
Seperti yang sudah Kiran perkirakan, Gian bergegas lari menyusul Tari begitu mendengar kalau Kiran masih ada di bandara dan belum sampai di hotel. Gian bahkan tidak menahan diri dan mengirim pesan pada Kiran agar tidak terburu-buru ke hotel. Dia meminta Kiran untuk beristirahat sebentar di bandara sebelum mencari taksi.
Aku pasti sangat bodoh sampai selalu menuruti apa yang dia ucapkan, batin Kiran.
Dulu, apa pun yang Gian katakan, maka Kiran akan sepenuh hati melakukannya. Terlepas apakah perintah itu masuk akal atau tidak. Seperti saat Gian memintanya untuk bicara pada ayah Kiran agar bersedia pensiun dini dan memberikan pengaturan pabrik roti sepenuhnya pada Gian.
Sekarang Kiran baru sadar, kemungkinan besar Gian pasti sudah menyalahgunakan keuangan pabrik dan melarikan sebagian keuntungan ke rekening Tari.
Kiran tidak bisa menahan emosi dan mengepalkan tinjunya. Seandainya hal itu benar, maka dia memiliki utang permintaan maaf pada orang tua dan saudara-saudaranya.
“Semoga kamu enggak sebiadab yang aku pikirkan, Mas,” ucap Kiran, memanjatkan doa.
Dia tidak bisa berlama-lama di Bali. Secepatnya dia harus segera pulang dan memeriksa keuangan pabrik roti selama di bawah kepemimpinan Gian. Membayangkan Gian yang diam-diam memberikan berbagai fasilitas untuk Tari, membuat Kiran tidak bisa menahan diri dari rasa murka.
Pantas saja gaya hidup Tari sangat berbeda beberapa tahun belakangan ini.
Kiran tersenyum masam. Dia pikir teman karibnya itu sudah menemukan kehidupan yang baik, ternyata dia menemukan lengan yang baik untuk menumpang hidup. Benar-benar benalu yang sesungguhnya.
Kiran melihat jam tangan dan memperkirakan kalau Gian pasti sudah tiba di tempat Tari. Dia tersenyum getir dan kembali menghubungi sang suami.
Saat ponselnya berdering, Gian baru saja tiba di hotel tempat Tari menginap. Mereka bahkan baru bertukar beberapa kata saat ponsel Gian berbunyi karena panggilan dari Kiran.
“Kiran, kenapa lagi dia?” keluh Gian. Dia memberikan tatapan permohonan maaf pada Tari karena kembali terganggu oleh Kiran.
“Sebentar. Aku akan menerima panggilan Kiran sebentar saja,” ucap Gian yang dijawab dengan dengkusan kesal dari Tari.
Gian: "Halo, Say—"
Belum sempat Gian menyelesaikan kata-katanya, dia lebih dulu terkejut dengan teriakan memekakan telinga dari ponselnya.
Kiran: "KEJUTAN!"
Kiran berteriak penuh semangat saat bicara melalui sambungan ponsel. Gian bahkan sampai menjauhkan ponselnya karena suara berisik Kiran.
Kiran: "Sayang, aku sudah ada di hotel tempat kamu menginap. Aku ada di depan pintu kamar kamu. Cepat keluar!"
Seketika mata Gian melotot kaget. Kiran bilang masih ada di bandara, tapi sekarang hanya dalam tempo beberapa menit saja sudah sampai di hotel. Dia pasti bercanda, kan? Bagaimana mungkin dia bisa menempuh jarak jauh hanya dalam hitungan menit?
Gian: "Sayang, kamu pasti bercanda, kan? Tadi kamu bilang masih di bandara."
Kiran: "Hehe …, aku hanya bercanda karena ingin memberi Mas Gian kejutan. Sebelum datang ke Bali, aku sudah tahu alamat hotel dan kamar Mas Gian menginap. Jadi mana mungkin aku akan terkatung-katung di bandara hanya untuk menunggu Mas Gian menjemputku? Aku juga ingin memberikan kejutan pada Mas Gian. Buruan buka pintunya. Aku lelah ingin buru-buru selonjoran."
Gian tersenyum kaku. Dia baru saja berlari dan tiba di sini tidak lebih dari lima menit, dan sekarang dia harus kembali ke kamar hotelnya lagi? Baru membayangkannya saja sudah membuat Gian kehabisan napas karena lelah.
Kiran: "Mas …. Mas Gian buruan buka pintunya!"
Gian: "Sayang, aku ... sedang di luar membeli minuman. Kau ... tunggu sebentar."
Kiran: "Mas .... Mas Gian ...."
Gian: "Aku datang. Tunggu sebentar."
Gian kembali mematikan ponsel’. Kali ini dia hampir kehilangan senyum sepenuhnya setelah mendengar panggilan mesra sang istri. Dia mendesah lelah karena harus kembali berlari kembali ke hotel.
“Sayang, aku pergi dulu. Nanti aku pasti akan ke sini lagi,” ucap Gian pada Tari dan sebelum Tari sempat menjawab, Gian lebih dulu melesat kembali ke hotel tempatnya menginap.
“Mas! Mas Gian!” panggil Tari, menahan kesal.
Gian seperti sedang meledeknya saja. Datang hanya beberapa detik, kemudian segera kembali hanya karena panggilan dari Kiran.
“Jangan-jangan Kiran sengaja? Tapi enggak mungkin, ah. Dia mana tahu Mas Gian sebenarnya sedang berlibur di sini denganku,” gumam Tari.
Gian mengabaikan panggilan Tari. Prioritas utamanya sekarang adalah segera kembali ke hotel dan menemui istrinya. Dia tidak mau kalau Kiran sampai curiga karena menunggu terlalu lama.
Sementara Tari menyimpan kekesalan, di sisi lain Gian sedang berusaha berlari dengan susah payah untuk kembali ke kamar hotel. Jarak antara hotel yang ia tempati dengan hotel yang kini ditempati Tari berjarak tidak terlalu jauh. Cukup berjalan kaki dengan santai selama kurang lebih lima belas menit sudah sampai. Namun dengan lari berkecepatan tinggi, jaraknya bisa dipangkas jadi kurang dari sepuluh menit.
Keringat bercucuran di kening Gian. Sudah lama dia tidak berolahraga dan kini kakinya terasa hampir kram karena tiba-tiba lari dengan kecepatan tinggi. Baru sampai di depan lobi saja, Gian sudah tidak tahan. Dia langsung berjongkok yang membuat kakinya sakit. Seharusnya setelah berlari tidak boleh langsung jongkok
Sebagai hasilnya, dia semakin terlambat kembali ke kamar. Dia bahkan sampai dibantu oleh karyawan hotel untuk kembali ke kamarnya.
“Mas Gian? Ya Allah, Mas …. Kamu kenapa bisa sampai begini?” tanya Kiran, pura-pura panik saat melihat Gian dibantu seorang karyawan hotel untuk berjalan
Meski dalam hati Kiran ingin mengamuk melihat sang suami tersenyum, di permukaan Kiran tetap menampilkan wajah ramah dan cemas seorang istri.
“Enggak apa-apa, sayang. Hanya sedikit insiden karena aku ingin cepat-cepat kembali ke kamar. Aku takut kamu menunggu terlalu lama.”
“Ya ampun. Enggak harus segitunya, Mas. Lagian Mas Gian habis dari mana, sih? Kok bisa-bisanya lari-larian sampai kakinya kram begini?”
“Aku .... hanya dari lobi. Aku ingin menunggu kedatangan kamu. Tidak tahunya kamu sudah sampai,” ucap Gian berbohong dengan mudahnya. Dia yakin kalau sang istri akan percaya pada apa yang dia katakan. Untuk mengubah topik pembicaraan, dia lantas berterima kasih pada karyawan hotel yang sudah membantunya kembali ke kamar.
Kini Kiran yang membantu memapah Gian masuk ke kamar. Ada keengganan yang besar di hati Kiran memapah sang suami kembali ke kamar, tapi dia hanya bisa menanggung rasa kesal di hatinya.
Seperti ini jauh lebih baik. Setidaknya kamu tidak akan berlari mengunjungi wanita tidak tahu malu itu, Mas, batin Kiran.
“Kamu istirahat saja dulu, Mas. Aku akan minta air panas untuk merendam kaki Mas Gian.”
“Enggak usah, Kiran. Nanti juga sembuh sendiri. Kayaknya aku kurang olahraga. Lari sebentar saja kakiku kram. Aku terlalu senang saat mendengar kamu datang, makanya aku segera berlari ke lobi buat nungguin kamu.”
Kebohongan yang penuh lubang, tidak masuk akal. Bukankah saat menghubungi pertama kali, Kiran bilang masih berada di bandara? Lalu jika memang Gian menunggu di lobi, bukankah seharusnya dia melihat kedatangan Kiran?
Kiran tersenyum getir dengan kebohongan sang suami. Jika ini di masa lalu, maka Kiran akan menelan kebohongan ini dengan wajah ceria dan bangga. Namun, tidak untuk kali ini.
Baik, Mas. Kita lihat sampai di mana kamu bisa berbohong.