LNCrawler

Kamu Sudah Membunuhnya

Misteri Cinta Yuna — gooddreamer.id · All chapters

Kamu Sudah Membunuhnya

Hujan besar mengguyur di malam kota Hokaido yang dingin disertai guntur yang menunjukkan kekuatannya. Beberapa pria berpakaian serba hitam mengejar seorang pria paruh baya dan seorang wanita muda sambil membawa senjata api.

“Yuna, sepertinya pertemuan kita sampai di sini saja. Kamu harus pergi sekarang!” ucap Liam tegas kepada putrinya.

“Apa?” Yuna melebarkan matanya. “Tidak! Aku tidak mau!”

Sang ayah mengusap pelan dahi Yuna yang berdarah setelah tadi kepalanya membentur batu. Matanya menatap Yuna dengan wajah sendu seolah tidak rela untuk berpisah dengan putrinya.

“Jaga dirimu baik-baik!” ucap Liam.

Lalu dia mendorong punggung wanita itu dengan kasar hingga dia jatuh tergelincir di jalanan yang berlumpur sejauh lima meter.

“Ayah!” teriak Yuna. “Kenapa Ayah mendorongku? Aku tidak akan pergi ke mana-mana jika tidak bersama dengan Ayah!”

Yuna hendak naik ke atas, tapi ayahnya langsung berkata, “Diam di sana! Jangan bergerak!”

Para penjahat itu telah berhasil mendekati mereka. Lalu baku hantam pun terjadi. Salah satu pria yang tubuhnya tinggi memiting leher Liam dari belakang. Dengan kekuatan siku, Liam berhasil menyodok rusuk lawannya.

Liam menendang sang pria, sementara pria lainnya menyerbunya dengan pukulan yang keras di punggungnya. Dia terjerembap ke tanah yang becek. Dia hendak bangkit sambil bertumpu pada lengannya.

Dia berteriak dan kemudian melawan tiga orang sekaligus dengan brutal. Sebenarnya, Liam tidak begitu hebat dalam bertarung. Namun, dia akan melawan semua musuh semampunya. Akhirnya, dia berhasil menjatuhkan mereka satu per satu dengan segenap kekuatan yang dimilikinya.

Liam berlari dan mendekati putrinya yang wajahnya tampak cemas. Dia terengah-engah sambil sesekali mengusap wajahnya yang basah karena guyuran air hujan.

“Dengarkan Ayah!” seru pria itu. “Sampai kapan pun, kamu jangan pernah memperlihatkan kemampuanmu itu! Kamu mengerti?! Carilah ayah kandungmu!” perintah Liam tegas.

Salah satu musuh berhasil bangkit dan kemudian meninju perutnya dari samping dan menendang Liam hingga dia jatuh terjengkang.

“Ayah!” pekik wanita itu.

“Pergilah, Yuna! Jangan hiraukan aku!” teriak Liam.

Liam terus menyuruh wanita itu pergi. Dalam pikirannya, dia hanya ingin sang putri selamat. Yuna adalah wanita yang sudah dia asuh sejak kecil hingga dewasa. Dia sudah menganggapnya seperti putri kandungnya sendiri. Dia pasrah jika malam ini dirinya harus meregang nyawa. Hanya ini yang bisa dilakukannya untuk melindungi Yuna.

Terdengar suara letupan senjata berbarengan dengan suara petir yang menggelegar. Peluru itu pun berhasil menembus kaki Liam.

Asap putih mengepul, berasal dari sebuah pistol yang dipegang seorang pria berpakaian hitam dengan tubuh yang tinggi itu. Dia menyeringai sekilas, lalu kembali menembak kaki Liam yang satunya lagi. Darah merah kental mengalir, terbawa oleh air hujan.

“Ayah!” teriak Yuna.

“Yuna …,” ucap Liam tercekat. Dadanya sesak seolah oksigen disedot keluar dari paru-parunya.

“Jangan lukai ayahku!” pekik Yuna sembari berusaha untuk naik ke atas.

Dia tidak peduli meski jalanan itu licin dan berlumpur sekalipun. Yang ada di dalam benaknya hanya naik ke atas untuk mendekat pada sang ayah.

“Yuna … jangan mendekat ….” Liam hendak mengangkat tubuhnya, tapi pria itu menginjak kepalanya hingga mencium tanah.

Sebuah peluru melesat lagi dan mengenai punggung Liam.

“Ayah!” jerit Yuna.

Namun, percuma saja. Tidak ada yang bisa Yuna lakukan untuk menolong ayahnya. Pria itu menendang tubuh Liam hingga berguling dan nyaris menimpa Yuna.

Dengan sekuat tenaga, Yuna berhasil menahan tubuh ayahnya dan kemudian menarik ayahnya ke tanah yang lebih rata.

Yuna memeluk Liam dengan sekujur tubuh yang gemetar. “Ayah! Bertahanlah! Aku akan membawamu ke rumah sakit secepatnya!”

“Tidak, Yuna … waktuku tidak lama lagi. Kamu harus mendengarkanku,” ucap Liam dengan suara yang lemah. “Ingat … kamu harus … menyembunyikan kemampuanmu … jangan sampai ada yang tahu ….”

“Ayah …,” panggil Yuna. “Aku mohon ….”

“Yuna … kamu harus bertahan ….”

Setelah mengucapkan kata-kata itu, Liam pun mengembuskan napasnya yang terakhir kalinya. Kepalanya terkulai ke samping dan dia sudah tidak bergerak lagi.

“Ayaaaah!” teriak Yuna bersamaan dengan suara guntur yang menggelegar.

“Kamu juga harus mati malam ini,” ucap pria tinggi itu sambil menodongkan senjata ke kepala Yuna. “Bersiaplah untuk bergabung dengan ayahmu.”

Yuna memejamkan kedua matanya, kemarahan di dalam hatinya semakin membesar setelah kematian ayahnya. Dia membuka kedua matanya kembali dan menyerang pria bertubuh tinggi yang sudah mengarahkan senjata api kepadanya.

“Kamu sudah membunuh ayahku maka kamu juga harus mati!” Yuna berkata dengan kemarahan yang ada di dalam dirinya lalu dia kembali menyerang pria bertubuh tinggi itu.

Seorang pria lainnya menyerang Yuna dengan sebuah kayu tetapi berhasil ditepis olehnya Yuna dan merebut kayu itu. Yuna dengan brutal menghajar kedua kaki pria bertubuh tinggi itu karena sudah menembakkan pelurunya kepada sang ayah.

Jeritan kesakitan pria bertubuh tinggi itu membuat empat orang pria lainnya menyerang Yuna, mereka berniat untuk menghabisi wanita itu. Namun, apa yang mereka lakukan sama sekali tidak membuahkan hasil, malah Yuna berhasil melumpuhkan mereka satu per satu hingga akhirnya tiga orang pria tewas karena dihantam oleh kayu yang ada di tangannya.

“Wanita iblis mati saja kamu!” pekik seorang pria sembari menembakkan pelurunya dan mengenai tangan kiri Yuna.

Yuna menyeringai dan dia berlari mendekat kepada pria yang sudah menembaknya, dia bergerak dengan cepat dan menghajar pria itu membabi-buta. Pria itu akhirnya tewas dengan kepala yang sudah hampir hancur karena pukulan kayu yang bertubi-tubi dilayangkan oleh Yuna.

“Sekarang giliranmu!” Yuna berkata dengan nada dingin dan tersenyum samar sembari berjalan dengan menyeret kayu ke atas jalanan.

“Jangan membunuhku ... maafkan aku,” Pria bertubuh tinggi itu memohon kepada Yuna sembari menahan rasa sakit dari kedua kakinya yang sudah dipatahkan oleh Yuna.

“Mati saja kamu!” teriak Yuna dengan menghantamkan kayu yang ada di tangannya.

Terdengar rintihan kesakitan pria bertubuh tinggi itu tetapi tidak membuat Yuna berhenti untuk memukul pria itu hingga mengembuskan napas terakhirnya. Yuna kembali menyeringai setelah membunuh pria bertubuh tinggi itu dan dia hanya menatap mayat yang sudah berlumuran darah.

Yuna melemparkan kayu yang ada di tangannya itu lalu dia membalikkan tubuhnya dan berjalan mendekat pada sang ayah. Dia menghentikan langkahnya saat kedua matanya dibutakan oleh sinar lampu dari sebuah mobil SUV perak yang datang dengan kecepatan tinggi.

Dia tidak menyadari jika masih ada satu orang musuh yang masih hidup dan menghantam keras kepalanya dengan sebuah kayu yang sudah dilemparkan olehnya tadi. Yuna pun terjatuh tidak sadarkan diri.

Mobil SUV itu berhenti, dua orang pria ke luar dari dalam mobil dan melihat apa yang sudah terjadi. Seorang pria dengan kemeja putih melihat Yuna tergeletak di atas tanah dan seorang musuh yang masih memegang sebuah kayu.

“Ethan Jarvis, aku akan membunuhmu juga!” Pria yang sudah memukul Yuna berkata setelah melihat dua orang yang ke luar dari dalam mobil.

Tanpa banyak bicara, Ethan mengulurkan tangannya sambil mengangguk ke arah pria yang ada di sampingnya. Dia paham maksud Ethan dan langsung menyerahkan sebuah senjata padanya.

Ethan menarik pelatuk senjatanya dan peluru pun melesat ke arah musuh yang masih berdiri di dekat Yuna. Dia berlari ke arah Yuna untuk memeriksa keadaannya dan dia bernapas lega karena Yuna masih bernapas.

“Tuan, ayah Anda sudah tiada,” ucap seorang pria yang merupakan asisten dari Ethan.

“Joshua, kamu urus semuanya! Dan aku minta nama orang yang ada di balik penyerangan ini!” Ethan berkata kepada sang asisten.

“Tuan, awas!” teriak Joshua.