LNCrawler

Dia Ayahmu Bukan Ayahku

Misteri Cinta Yuna — gooddreamer.id · All chapters

Dia Ayahmu Bukan Ayahku

Joshua langsung mengambil senjatanya dan peluru pun melesat menembus kepala seorang musuh yang baru saja keluar dari tempat persembunyiannya. Tidak begitu lama tiba dua buah mobil, empat orang pria dengan jas berwarna serba hitam mendekat ke arah Joshua.

Ethan melihat semua itu dan dia tidak peduli karena yang terpenting adalah menyelamatkan Yuna, dia mendudukkan wanita itu di kursi belakang dan dia duduk di sampingnya. Dia menutup pintu mobil lalu berkata pada sang sopir, “Cepat bawa aku ke rumah sakit!”

Sang sopir mengangguk dan dia menginjak pedal gas sehingga mobil melesat meninggalkan lokasi dan langsung menuju ke rumah sakit. Tidak begitu lama sang sopir menghentikan mobilnya tepat di depan pintu masuk rumah sakit.

“Cepat selamatkan dia jika tidak aku akan menghabisi kalian semua!” perintah Ethan kepada petugas rumah sakit sembari menggendong Yuna.

Ethan membaringkan Yuna di atas ranjang dorong rumah sakit lalu beberapa perawat mendorongnya dan masuk ke dalam ruang penanganan. Sedangkan Ethan menunggu di luar ruangan dan terlihat Joshua yang sudah berada di rumah sakit, dia mendekat ke arah sang tuan.

“Tuan, jenazah Tuan Liam sudah ada di rumah sakit,” lapor Joshua kepada Ethan.

“Kamu urus semuanya dengan cepat!” sambung Ethan lalu dia kembali melihat ke arah ruang penanganan.

Seorang wanita paruh baya berlari sembari mencari sang putra yang sudah ada di rumah sakit, dia berhenti berlari saat sudah berada di dekat Ethan. Dia tidak lain adalah Emmely Latif yang merupakan istri dari Liam Jarvis.

“Bagaimana dengan ayahmu dan Yuna?” tanya wanita paruh baya itu dengan raut wajah penuh dengan rasa khawatir.

Emmely menatap Ethan yang hanya diam lalu dia kembali berkata, “Ethan Jarvis, ibumu bertanya!”

“Yuna, ada di dalam sana,” jawab Ethan sembari menunjuk ke arah ruang penanganan.

“Ayahmu?” Emmely kembali bertanya.

“Aku terlambat dan ayah sudah tidak tertolong lagi,” Ethan kembali menjawab dengan rasa bersalah di dalam hatinya.

Emmely terdiam dan kedua kakinya terasa lemas lalu dia terduduk di atas lantai dingin rumah sakit. Dia tidak mengira jika dirinya akan kehilangan sang suami, perlahan air matanya menyeruak.

“Mengapa kamu terlambat? Bukankah aku sudah katakan untuk bergerak cepat!” Sang ibu berkata sembari menangis dan memukul-mukul dadanya.

Ethan langsung menghentikan apa yang dilakukan ibunya yang menyakiti dirinya sendiri. Dia memeluk sang ibu untuk menenangkannya, dia menahan rasa sakit karena sang ibu memukul dadanya sembari menyalahkannya karena terlambat menyelamatkan sang ayah.

“Maafkan aku, Ibu,” Ethan meminta maaf dan terus memeluk sang ibu.

Sang ibu terus menangis dan menyalahkan Ethan hingga akhirnya terjatuh tidak sadarkan diri. Ethan seorang perawat melihat hal itu dan dia pun langsung membantu dan menyiapkan sebuah ruangan untuk Emmely.

“Joshua, kamu jaga ibuku dulu dan pastikan ibuku baik-baik saja!” perintah Ethan pada Joshua.

Ethan masih belum bisa meninggalkan tempatnya karena belum mengetahui kabar Yuna, dia sudah berjanji kepada sang ayah untuk menjaganya. Namun, dia juga merasa kesal dengan Yuna karena selalu gegabah di melakukan apa yang dikerjakan.

Beberapa saat kemudian ke luar seorang dokter dari ruang penanganan dan dokter itu langsung mendekat ke arah Ethan. Dia mengatakan semua hal yang sudah dilakukan olehnya untuk menyelamatkan Yuna.

“Lantas bagaimana keadaannya?” Ethan bertanya kepada sang dokter.

“Dia akan baik-baik saja jika melewati masa kritis malam ini,” jawab sang dokter.

“Apa aku bisa melihatnya?” Ethan kembali bertanya kepada sang dokter.

Sang dokter mengangguk dan dia memerintahkan seorang perawat untuk mengantar ke ruang perawatan Yuna. Perawat itu mengangguk lalu berkata, “Tuan, ikuti saya.”

***

Keesokan harinya Yuna masih belum sadarkan diri tetapi dia sudah melewati masa kritisnya. Di sisinya saat ini ada seorang wanita muda yang begitu sedih melihat keadaannya.

“Yuna, bangunlah ... apakah kamu tidak ingin mencari siapa yang sudah melakukan semua ini padamu?” tanya wanita muda itu kepada Yuna sembari memegang tangannya.

Perlahan tangan Yuna bergerak dan dia membuka kedua matanya, wanita itu merasa senang karena Yuna sudah siuman. Dia menekan sebuah tombol di dekat ranjang dan tidak begitu lama seorang dokter dan perawat tiba. Sang dokter langsung memeriksa Yuna dengan saksama dan dokter tersenyum karena semuanya baik-baik saja.

“Nona, apakah Anda mengingat nama Anda?” tanya sang dokter kepada Yuna.

“Yuna Hashimoto,” jawab Yuna dengan nada lemah.

“Kamu ingat tidak denganku?” sambung wanita yang ada di sisi Yuna dengan sebuah pertanyaan lagi.

“Aruna,” jawab Yuna singkat sembari menatap wanita yang ada di sampingnya yang tidak lain adalah sahabatnya.

Aruna merasa senang karena Yuna masih mengingat dirinya, kedua matanya tertuju pada seseorang yang baru saja masuk. Yuna mengingat kembali apa yang sudah terjadi malam itu lalu dia menatap ke arah Aruna.

“Aruna apakah aku bisa melihat ayah untuk terakhir kalinya sebelum dimakamkan?” tanya Yuna kepada sang sahabat agar mau menemaninya melihat sang ayah.

“Tuan Liam, sudah dimakamkan,” jawab Aruna lalu matanya tertuju ke arah pintu ruangan yang terbuka dan dia melihat Ethan yang masuk ke dalam ruangan.

Sang dokter sudah selesai memeriksa Yuna dan dia pun berjalan mendekat ke arah Ethan. Dia menjelaskan keadaan Yuna yang membaik sehingga tidak perlu khawatir.

“Terima kasih atas kerja kerasnya,” Ethan berkata kepada sang dokter.

“Itu sudah menjadi tugas saya dan jika Tuan memerlukan saya ada di ruang kerja,” jawab sang dokter lalu dia berjalan meninggalkan ruangan.

Ethan berjalan mendekat ke arah Yuna dan menatapnya lalu bertanya, “Mengapa kamu begitu bodoh? Bukankah aku sudah memperingatkan kamu untuk tidak bertindak gegabah?”

“Mengapa kamu memakamkan ayah tanpa diriku?” Yuna balik bertanya tanpa menjawab pertanyaan yang dilayangkan oleh Ethan padanya.

“Dia adalah ayahku dan aku berhak mengambil keputusan!” jawab Ethan dengan nada menekan karena dia kesal dengan apa yang sudah dilakukan oleh Yuna.

“Aku tahu dia ayahmu dan bukan ayahku!” timpal Yuna dengan nada kesal lalu dia terengah-engah.

Yuna merasa sedih saat mendengar apa yang dikatakan oleh Ethan kepadanya, dia sadar jika dirinya hanya seorang anak angkat. Dia juga tidak menyalahkan Ethan jika kesal kepadanya karena sudah bertindak bodoh sehingga ayahnya tewas. Namun, apakah dia tidak pantas untuk melihat dan mengantarkan sang ayah ke pembaringan terakhirnya.

“Jika kamu menganggapnya ayahmu maka kamu tidak akan melakukan hal bodoh sehingga ayah tewas,” Ethan kembali berkata lalu dia berjalan keluar dari ruang perawatan.

Ethan menghentikan langkahnya lalu dia berkata, “Bersiaplah sore ini ibu akan datang dengan seorang pengacara.”

Setelah mengatakan itu Ethan melanjutkan langkahnya keluar dari ruangan. Yuna hanya terdiam mendengar apa yang dikatakan oleh Ethan barusan.

“Apa ibu ingin menuntutku?” gumam Yuna.