LNCrawler

Permintaan Terakhir

Misteri Cinta Yuna — gooddreamer.id · All chapters

Permintaan Terakhir

Dua hari pun berlalu dan selama itu juga dia menunggu kedatangan sang ibu yang tidak kunjung jua sedari Ethan memberitahukannya. Saat ini yang bisa dilakukan olehnya hanya menunggu karena selama beberapa hari ini dia tidak bisa menghubungi sang ibu.

Yuna melihat ke arah pintu dan melihat sang ibu masuk bersama seorang pria yang merupakan pengacara sang ayah, dia juga melihat Ethan yang memasang wajah dinginnya. Dia menarik nafasnya dan sudah siap untuk menerima hukuman dari sang ibu.

“Bagaimana keadaanmu?” tanya sang ibu sembari berdiri di samping ranjang.

“Aku sudah membaik,” jawab Yuna dengan melihat ke arah wajah sang ibu.

Yuna sungguh merasa bersalah dengan apa yang sudah terjadi, sehingga dia menundukkan kepalanya dan menunggu apa yang akan dikatakan oleh mereka bertiga. Dia mengangkat kepalanya setelah mendengar suara sang pengacara yang akan membacakan surat terakhir yang ditulis oleh Liam Jarvis.

“Lakukan dengan cepat karena aku harus pergi!” Ethan berkata kepada sang pengacara.

Sang pengacara pun mulai membacakan surat wasiat yang dituliskan oleh Liam Jarvis satu minggu sebelum penyerangan yang menewaskannya. Yuna mendengarkan semua yang diwasiatkan oleh sang ayah dan tidak mempermasalahkannya karena dia sama sekali tidak menginginkan harta milik keluarga Jarvis.

“Saya akan menunjukkan sebuah video,” Sang pengacara berkata sembari mengeluarkan sebuah tablet dan menekan sebuah video.

Yuna mendengar dan melihat sang ayah yang tengah duduk di meja kerjanya, dia sungguh merindukannya serta merasa bersalah karena sudah mencelakainya. Dia terus saja mendengarkan apa yang dikatakan sang ayah di dalam video itu.

“Yuna, menikahlah dengan Ethan ... ini adalah permintaan terakhirku.”

Ethan terkejut dengan apa yang diinginkan sang ayah, dia sama sekali tidak mengira jika ayahnya sendiri memintanya untuk menikah dengan Yuna. Padahal selama ini ayahnya hanya memintanya untuk melindungi serta menjaga Yuna.

“Tidak mungkin. Bagaimana aku bisa menikah dengannya? Dia sudah aku anggap seperti adikku sendiri,” Yuna berkata setelah dia terkejut dengan apa yang diinginkan sang ayah kepadanya.

“Kamu harus menikah dengan Ethan untuk menebus kesalahanmu! Begitu juga denganmu, Ethan!” Emmely berkata dengan tegas kepada Yuna dan Ethan.

“Bu ....”

“Ibu tidak mau mendengar alasan kalian berdua! Kalian harus menikah dan kita kembali ke Jakarta sekarang juga karena ayah kalian ingin menikahkan kalian di Jakarta!” sela sang ibu sebelum Ethan melanjutkan kalimatnya.

Sang ibu pun pergi meninggalkan ruang perawatan diikuti oleh sang pengacara, Yuna masih tidak percaya dengan apa yang terjadi. Yuna menatap ke arah Ethan lalu dia berpikir untuk bekerja sama dengannya untuk membatalkan rencana pernikahannya.

“Ethan, apakah kamu bisa mencari cara agar ibu bisa membatalkan rencana pernikahan kita?” tanya Yuna kepada Ethan.

“Aku akan mencari jalan keluarnya dan aku harap kamu tidak bertindak bodoh lagi sehingga mempercepat rencana pernikahan kita!” Ethan menjawab dengan nada menekan lalu dia berjalan ke luar dari ruangan.

Tidak begitu lama kemudian Aruna tiba dan dia melihat Yuna yang sedang melamun hingga tidak menyadari kedatangannya. Dia mendekat dan duduk di samping sang sahabat lalu menatapnya sejenak.

“Apa yang sudah terjadi? Tadi aku melihat Nyonya Emmely ke luar dari rumah sakit,” tanya Aruna kepada Yuna sembari memegang tangannya.

“Aku harus menikah dengan Ethan sesuai dengan wasiat ayah,” jawab Yuna.

“Apa? Bagaimana dengan Ethan apakah dia setuju? Karena yang aku tahu ada seorang wanita yang tengah dekat dengannya,” Aruna bertanya dengan keterkejutannya.

“Wanita? Apa kamu serius? Kamu tahu di mana wanita itu sekarang?” tanya Yuna yang merasa sudah menemukan jalan keluar bagi masalah yang dihadapinya.

Aruna mengangguk dan dia mengatakan jika wanita itu berada di Jakarta, dia tidak terlalu mengenal wanita itu tetapi dia hanya tahu saja. Namun, dia mengingatkan kepada Yuna untuk berhati-hati berhadapan dengan wanita itu.

“Bisakah kamu mengatur pertemuanku dengan wanita itu?” Yuna kembali bertanya dan mengabaikan apa yang dikatakan oleh Aruna.

“Kamu sudah tidak waras! Apakah kamu yakin wanita itu bisa menyelesaikan masalahmu?” Aruna berkata kepada Yuna lalu diakhiri dengan sebuah pertanyaan.

“Aku yakin dan ibu sudah memutuskan untuk kembali ke Jakarta,” jawab Yuna dan dia yakin jika rencananya akan berhasil.

***

Setelah pertemuan dengan sang pengacara tiga hari berikutnya sang ibu sudah menyiapkan sebuah jet pribadi dan membawa Yuna kembali ke Jakarta. Saat ini Yuna sudah berada di rumah dan dia sedang menunggu kabar dari Aruna tentang rencana mempertemukannya dengan wanita yang tengah dekat dengan Ethan.

Ponselnya berdering, Yuna mengambil ponselnya yang ada di atas nakas dan dia melihat nama Aruna di layar ponselnya. Dia pun mengangkatnya lalu bertanya, “Apa wanita itu setuju bertemu denganku?”

Aruna mengatakan jika wanita itu setuju untuk bertemu dengan Yuna dan wanita itu memberikan jadwal pertemuannya siang ini. Dia kembali bertanya kepada Yuna apakah serius ingin menemui wanita itu karena dia sedikit ragu jika wanita itu bisa membantu Yuna terlepas dari rencana pernikahan yang sudah ditetapkan.

“Aku sudah yakin dan kamu jemput aku sekarang juga!” jawab Yuna kepada Aruna yang ada di seberang telepon lalu dia memutuskan sambungan teleponnya.

Yuna langsung bersiap untuk pergi menemui wanita itu, dia menggerakkan tangan kirinya masih terasa sedikit nyeri karena luka tembak malam itu. Setiap dia merasakan nyeri di lengan kirinya kama dia akan kembali teringat dengan kematian ayah angkatnya itu.

Dia sudah siap dan sekarang tinggal menunggu Aruna menjemputnya sehingga dia bisa ke luar dari rumah, dia mengambil ponselnya dan memasukkannya ke dalam tas. Dia melihat ke arah pintu kamar karena ada seseorang yang masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.

“Di mana sopan santunmu? Mengapa kamu masuk begitu saja tanpa izin dariku?” tanya Yuna kepada Ethan yang sudah ada di depannya.

“Kamu mau ke mana?” tanya Ethan yang tidak memedulikan apa yang ditanyakan oleh Yuna kepadanya.

“Aku ada urusan pekerjaan,” jawab Yuna dengan santainya.

“Aku peringatkan kamu! Jangan melakukan hal-hal yang bisa membuat kita akhirnya harus menikah dalam waktu dekat ini!” Ethan memperingatkan Yuna karena dia sedang berusaha untuk mengubah rencana sang ibu setelah kembali ke Jakarta.

“Apa maksudmu? Aku sama sekali tidak melakukan apa-apa,” sergah Yuna yang tidak terima dengan apa yang dikatakan oleh pria yang ada di depannya.

Yuna mulai merasa kesal dengan sikap Ethan yang seperti ini, dia kembali teringat kenangan sewaktu mereka masih kecil, dia ingat dengan jelas jika Ethan selalu mengikutinya dan selalu bersikap baik kepadanya. Namun, sekarang sikap Ethan berubah seratus delapan puluh derajat dan itu terjadi setelah Ethan memutuskan untuk pergi ke Jepang untuk melanjutkan pendidikannya.

“Sebenarnya apa yang sudah membuatmu berubah menjadi seperti ini?” tanya Yuna kepada Ethan yang menatapnya tajam.