LNCrawler

Semua Ini Karena Kamu

Misteri Cinta Yuna — gooddreamer.id · All chapters

Semua Ini Karena Kamu

Ethan menyalakan mesin mobilnya dan dia meninggalkan kafe, dia meninggalkan Joshua untuk mengurus Eliana yang sudah membuatnya kesal. Yuna hanya diam selama di dalam perjalanan karena dia merasa kesal dengan Ethan yang menariknya begitu saja dan menghempaskannya ke dalam mobil. Sehingga lengan kirinya kembali terasa nyeri, dia mengambil ponselnya yang ada di dalam tas dan dia melihat nama sang ibu.

“Halo, Bu,” ucap Yuna setelah dia mengangkat teleponnya karena yang menghubunginya adalah sang ibu.

Yuna mendengarkan apa yang dikatakan oleh sang ibu yang ada di seberang telepon, dia sedikit merasa aneh dengan nada bicara sang ibu. Namun, dia tidak bisa membantah apa yang dikatakan oleh sang ibu yang menyuruhnya untuk segera kembali ke rumah.

“Baik, Bu aku dan Ethan akan kembali ke rumah sekarang,” Yuna berkata kepada sang ibu lalu dia memutuskan sambungan teleponnya.

“Apa yang ibuku katakan?” tanya Ethan kepada Yuna.

“Iya, dia hanya ibumu dan sekarang ibumu menyuruh kita untuk segera kembali ke rumah,” jawab Yuna dengan ketus.

Ethan menambahkan kecepatan mobilnya dan dia merasa jika akan terjadi sesuatu yang tidak diharapkan olehnya. Dia bertanya di dalam hatinya apakah sang ibu sudah tahu apa yang dilakukan oleh Yuna yang bertemu dengan Eliana? Atau ada hal lainnya.

“Jika terjadi sesuatu yang di luar prediksiku maka semua ini salahmu dan kamu adalah biang kesialan,” Ethan kembali berkata dengan nada kesal karena begitu banyak pertanyaan di dalam hatinya.

“Mengapa kamu menyalahkan aku?” Yuna menimpali Ethan dengan pertanyaan lagi karena dia merasa tidak suka dengan apa yang dibutuhkan oleh pria yang ada di sampingnya itu.

Ethan tidak banyak bicara lagi karena dia sudah benar-benar geram dengan apa yang dilakukan oleh Yuna. Dia juga masih belum bisa menghapus rasa kesalnya karena kecerobohan Yuna yang sudah membuat sang ayah dibunuh oleh musuh dan hingga saat ini dia belum bisa menemukan orangnya.

Beberapa saat kemudian Ethan menghentikan mobilnya tepat di depan pintu masuk rumahnya. Dia ke luar dari dalam mobil lalu bertanya kepada pelayan yang ada di depannya tentang keberadaan sang ibu.

“Nyonya, sedang ada di ruang baca,” jawab sang pelayan atas pertanyaan sang tuan kepadanya.

Yuna berjalan meninggalkan Ethan dan dia memutuskan untuk ke kamarnya terlebih dahulu untuk menutupi pipinya yang memerah karena tamparan Eliana. Dia sudah ada di dalam kamarnya dan melihat wajahnya di depan cermin dan mulai menutupinya dengan alat rias yang ada di meja riasnya.

“Sudah tidak terlalu terlihat,” ucap Yuna sembari melihat pipinya.

Dia pun ke luar dari kamar dan langsung menuju ke ruang baca di mana sang ibu sedang menunggunya. Hatinya mulai merasa tidak nyaman dan yakin akan terjadi hal yang lebih parah dari saat dirinya bertemu dengan Eliana. Dia menghentikan langkahnya saat sudah berada di depan pintu ruang baca dan mengetuknya.

“Masuk.”

Yuna mendengar suara sang ibu yang menyuruhnya masuk setelah dia mengetuk pintu ruang baca, dia menarik napasnya lalu membuangnya dan setelah itu membuka pintu ruang baca. Dia berjalan masuk dan melihat sang ibu yang tengah duduk di atas kursi kerja yang biasa ditempati oleh sang ayah. Dia juga melihat Ethan yang sudah ada di dalam ruangan dan duduk dengan santainya di atas sofa.

“Bersiaplah karena malam ini kalian akan menikah,” ucap sang ibu setelah dia duduk di atas sofa dekat dengan Ethan dan Yuna.

“Apa?” pekik Yuna yang tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh sang ibu.

Sang ibu kembali mengatakan jika malam ini adalah acara pernikahan antara Yuna dan Ethan, dia sudah menyiapkan semuanya dengan cepat. Dia sudah tidak ingin membuang-buang waktu lagi untuk menikahkan mereka berdua.

“Bu, apakah ini tidak terlalu cepat?” Yuna kembali bertanya kepada sang ibu setelah dia sedikit tenang dari rasa keterkejutannya.

“Ibu, sudah memikirkannya dan kalian berdua sudah tidak bisa membantah lagi. Ibu, berharap jika kamu tidak membuat masalah karena sudah pasti Ibu akan bertindak tegas,” jawab sang ibu dengan sedikit nada menekan sembari menatap ke arah Yuna.

Ethan hanya diam dan dia tidak membantah apa yang sudah dikatakan oleh sang ibu, dia pun beranjak dan berjalan menuju ke kamarnya. Sedangkan Yuna masih berada di ruang baca dan berusaha untuk mengulur waktu atau membatalkan rencana pernikahan mereka.

Semua yang dikatakan olehnya ditolak mentah-mentah oleh sang ibu, itu membuat Yuna tidak bisa lagi berkutik. Sang ibu kembali diam dan menatap wanita muda yang ada di depannya, wanita muda yang dulu selalu menjadi kebanggaan sang suami karena kepintarannya.

“Ibu, harap kamu tidak akan menolak apa yang diinginkan suamiku sebelum meninggal. Ingatlah satu hal apa yang sudah dilakukan olehnya untukmu,” Sang ibu berkata lalu dia beranjak dan berjalan meninggalkan ruang baca untuk bersiap.

Yuna terdiam saat mendengar apa yang dikatakan oleh sang ibu tadi, dia paham betul dengan maksudnya. Dia pun berdiri dan berjalan ke luar dari ruang baca, dia teringat dengan Ethan dan dia pun berjalan menuju kamar Ethan untuk membicarakan semua ini.

Dia menaiki anak tangga dan langsung menuju kamar Ethan yang tepat ada di samping kamarnya, dia langsung membuka pintu kamar Ethan tanpa mengetuknya terlebih dahulu dan masuk ke dalam kamar.

“Ethan, mengapa kamu hanya diam saja dengan apa yang ibu katakan?” tanya Yuna.

Yuna melihat Ethan yang bertelanjang dada dan secara refleks dia membalikkan tubuhnya. Entah mengapa dia membalikkan tubuhnya karena dulu dia sering melihat Ethan seperti itu.

“Ketuk pintu sebelum kamu masuk. Apakah kamu sudah kehilangan sopan santunmu itu,” Ethan berkata dengan nada tinggi kepada Yuna.

“Pakai bajumu karena aku ingin bicara,” timpal Yuna.

“Bicara saja dan balikkan tubuhmu,” sambung Ethan.

Yuna membalikkan tubuhnya dan dia sekarang dia melihat Ethan sudah mengenakan kemeja putih tetapi kancing kemejanya belum terpasang. Sehingga dadanya yang bidang masih terlihat sangat jelas oleh kedua matanya.

“Mengapa kamu tidak menolak apa yang dikatakan oleh ibu? Mungkin saja jika kamu menolak ibu bisa membatalkan pernikahan ini,” Yuna bertanya kepada Ethan.

“Semua ini karena kamu,” jawab Ethan.

“Apa yang sudah aku lakukan?” Yuna kembali bertanya kepada Ethan.

“Pikirkan sendiri apa yang sudah kamu lakukan sehingga membuat ibu mempercepat pernikahan ini. Sebaiknya kamu pergi dari kamarku sekarang juga,” jawab Ethan.

“Ethan Jarvis, mengapa kamu menjadi pria yang sangat menyebalkan seperti ini,” Yuna berkata dengan nada tinggi karena kesal dengan setiap perkataan yang ke luar dari mulut pria yang ada di depannya itu.

“Pergi! Atau aku bisa bersikap kasar padamu dan kamu akan menyesalinya!” tukas Ethan yang tidak suka jika Yuna berkata dengan nada tinggi kepadanya.