LNCrawler

RENCANA PERJODOHAN

Misteri Kampung Janda — gooddreamer.id · All chapters

RENCANA PERJODOHAN

"Tidak ibu. Zahra tidak mau dijodohkan dengan Yusuf pilihan Ibu itu. Sekali tidak ya tetap tidak! Ibu tidak bisa memaksa kehendak kepada Zahra!" ucap Zahra tegas kepada ibunya di ruang makan.

"Dengarkan sekali ini saja, ini demi masa depanmu, Zahra. Untuk keselamatan dunia dan akhirat. Ibu bisa tenang meninggalkan dunia ini, bila Zahra mendapatkan suami yang baik." bujuk Ibu Aisyah kepada anak gadisnya. Mendekati dan mengusap punggung.

Zahra melepaskan usapan ibu. Berjalan menjauh menuju taman belakang rumah. Ibu mengikuti dari belakang sambil membawa cemilan. Keduanya masih sama-sama diam, menatap langit biru nun jauh di sana.

"Zahra, kamu anak ibu satu-satunya. Apa pun yang Zahra pinta dari kecil, apa ada ibu menolaknya? Tidak bukan. Nak, kali ini tunjukkan baktimu pada Ibumu ini, Nak," rayu Ibu Aisyah kepada putrinya.

"Tapi, Ibu. Permintaan Ibu ini merenggut kebahagiaan Zahra. Sungguh di luar kemampuan Zahra. Pokoknya tidak mau Zahra menikah dengan Yusuf, Ibu," rengek Zahra. Memberikan tatapan mohon pengabulan. Namun, Ibu Aisyah kukuh dengan prinsipnya.

"Zahra pasti mampu, bisa sekali, Nak. Cuma menikah saja, kok. Asalkan Zahra ikhlas, semua akan terasa ringan dan tiada beban. Ayolah Zahra, berdamai dengan hatimu."

"Pokoknya tidak! Zahra berdiri, tidak sengaja menyenggol gelas keca yang berada di meja taman.

Praaakk!

Gelas jatuh ke lantai dan berhamburan butiran kecil pecahan kaca. Mengenai kaki Zahra dan mengeluarkan darah.

"Auwww, sakit!"

"Makanya, jangan membantah perkataan orang tua. Jangan jadi anak durhaka kamu ya Zahra! Tunduk dan patuhlah kepada Ibumu ini, sayang!" bentak Ibu Aisyah yang mulai emosi.

"Seandainya ayah masih ada, Zahra tidak akan pernah dibentak seperti ini, ayah … Zahra kangen."

Zahra menangis sambil memegang kakinya. Berjalan ke kamar meninggalkan ibunya yang sedang membersihkan pecahan kaca gelas.

"Tunggu, Zahra. Ibu belum selesai berbicara. Tetaplah di situ, nanti Ibu beri obat kakimu," perintah ibu Aisyah.

"Zahra capek, mau istirahat. Kalau Ibu ada yang perlu dibicarakan, ke kamar saja." Zahra melangkah ke kamar sambil menyengir kesakitan. Terlihat di lantai bercak darah yang menetes dari telapak kaki Zahra.

"Ibu Aisyah masuk kamar setengah mengetuk pintu. Malam ini, keluarga Yusuf akan datang untuk silaturahmi, sekaligus melihatmu. Bersikaplah yang baik, tunjukkan sopan santunmu kepada calon suamimu, juga kepada calon mertua Zahra."

Zahra hanya diam saja saat Ibunya berkata. Tatapan malasnya mengisyaratkan ketidaksukaannya pada Yusuf kini menjadi berlipat ganda. Saat Ibunya keluar dari kamarnya. Zahra menelpon Gaby sahabatnya.

"Gaby, plis datang dong ke rumah Zahra, pokoknya sekarang. Bete, Zahra ini, butuh kamu Gaby.Hik! Hik!"

"Emang ada apaan Say, mewek banget sih. Cup! Cup! Cup! Nanti hilang cantiknya. Aku meluncur ke sana Say."

"Tunggu! Belikan Zahra obat pelancar ya? Pencuci perut nomor satu. Penting pokoknya gak pake lupa. Belikan obat yang paling manjur, di apotek Pak Haji!" perintah Zahra kepada Gaby sahabat tersayangnya.

"Siap, tuan Putri, hehehe. Ada lagi yang bisa saya bantu lagi?" ledek Feby sebelum menutup saluran panggilan dari Zahra.

"Itu saja. Cukup say. Hati-hati di jalan. Jangan sampai lupa pokonya, kalau lupa, Zahra suruh balik lagi. Tahu!"

"Ho'oh. Tahu! Bukan tempe!." Gaby mengakhiri percakapan. Dia berkemas memakai baju dres warna coklat muda. Simpel dan terlihat anggun memesona. Mengendarai kendaraan pribadinya dengan santai, singgah ke apotek, untuk membeli pesanan sahabat tersayangnya.

***

Malam hari dikediaman Ibu Aisyah.

Rombongan keluarga Yusuf datang setelah Magrib. Ibu Aisyah mengundang mereka untuk makan malam bersama, sekaligus silaturahmi dengan calon menantu.

Yusuf terlibat sangat ganteng dan manis, memakai kemeja warna hitam, dimasukkan dan terlihat sangat rapi. Setelah berbincang-bincang sebentar, Ibu Aisyah mengajak mereka untuk makan malam.

"Hayu kita makan malam sekarang, Mas Hendry, Mbakyu Sisi, dan kamu, Nak,”

Semuanya berjalan beriringan menuju ruang makan. Begitu juga dengan Yusuf sang calon menantu.

"Zahra, Gaby, hayu kita makan malam bersama."

"Tidak! Ibu saja. Nanti, setelah makan, saat bincang-bincang, kami turun, kok.

"Tidak sopan, Zahra. Masak ada tamu, kamu sembunyi di kamar."

"Ibu saja yang temani!" Balas Zahra

"Hemmm, dasar anak susah diatur. Pokoknya setelah makan, Zahra turun.”

"Sip, Bos!’ Zahra mengacungkan jempolnya di depan Ibunya sambil tersenyum. Begitu Ibu Aisyah keluar kamar, Geby memoleskan make up menor, seperti ondel-ondel. Kedua gadis cantik sedkit nakal itu tertawa bahagia. Seperti ada rencana usil untuk calon suami.

****

Di meja makan, semuanya makan dengan lahap. Rasa masakan begitu enak dan sesuai dengan selera lidah keluarga Yusuf.

"Tambah lagi, Mas Hendry, Mbakyu dan kamu Yusuf, jangan segan-segan. Anggap di rumah sendiri ya, calon mantu."

"Baik, Ibu," jawab Yusuf sembari tersenyum menambah makanya, untuk menghargai calon mertua yang ramah. Yusuf sangat bersemangat saat melihat Ibu Aisyah.

"Ibunya saja, cantik, ramah, hangat kepada tamu, apalagi anaknya," guman Yusuf dalam hati, sembari menghabiskan sisa makanan yang ada di piring.

Setelah selesai, semuanya pindah ke ruangan keluarga. Ternyata ada Zahra dan Gaby yang sudah menunggu di sana

"Astaghfirullah! Kamu berdandan sangat menor, Zahra!" ucap Ibu Aisyah yang terkejut melihat dandanan anaknya. Bukannya takut dengan pelototan Ibunya, Zahra malah maju ke depan, menyalami satu-satu dan memperkenalkan diri.

"A … aku, Zah … Zahra!" Zahra mengenalkan dirinya kepada calon mertuanya dengan bahasa tergagap-gagap.

Yusuf melotot menatap Zahra, rasanya tidak percaya, bahwa ia harus memiliki calon istri yang modelnya seperti itu. Soalnya, di tempat kerja, Yusuf merupakan pemuda impian, diidolakan para cewek-cewek cantik.

"Yusuf." ucap Yusuf saat memperkenalkan diri, sambil tersenyum getir.

"Wah, ganteng sekali calon suami, Zahra ya. Memangnya kerja apaan, kalau aku boleh tahu."

"Kamu juga sangat cantik, Zahra. Tanpa make up, pasti banyak pria yang tergila-gila, apalagi pakai make up begini, hemm."

Setelah berucap begitu, Yusuf merasakan mules perutnya sangat kuat. Seperti diputar dan diremas-remas.

"Duh, perut saya sakit sekali, Ibu," Ibu Aisyah dan Ibu Sisi menoleh bersamaan.

"Sakit, kamu sakit ya, Yusuf. Biar Ibu ambilkan obat." ucap Ibu Aisyah cepat. Yusuf mengangguk. Pria berbaju putih pun langsung berlari ke toilet, dengan wajah pucatnya.

Gaby dan Zahra, keduanya tertawa riang melihat keadaan Yusuf yang bolak balik masuk toilet.

"Zahra! Ikut Ibu sebentar!"

"Ngomong saja di sini, Ibuku sayang."

Ibu Aisyah jengkel mendengar jawaban anaknya, menarik tangan dan berjalan menuju ke kamar utama.

"Zahra, ngaku kamu. Sengaja Zahra ya, memberikan obat cuci perut kepada Yusuf! Ngaku kamu Zahra. Mengapa Zahra nakal seperti ini sekarang. Hah!"

"Mana ada, Ibu. Kalau Zahra memberikan obat itu, otomatis semua yang makan, akan sakit perut. Buktinya, ibu sehat saja, bukan?"

"Tega kamu ya, Zahra. Yusuf itu calon suamimu!" bentak Ibu Aisyah sambil mengangkat tangannya dengan wajah memerah.

Plaaakkk!

"Ibu …!"