KENAKALAN ZAHRA
"Apa, mau melawan? Dasar anak nakal …!"
"Ibu tega! Udah gak sayang lagi dengan Zahra. Zahra, benci Ibu …!"
"Zahra sudah keterlaluan, itu konsekuensinya. Kamu itu harus disadarkan, mana yang baik dan mana yang buruk. Apa yang boleh dilakukan dan apa yang dilarang!"
Saat keduanya adu argumen, terdengar ketukan pintu.
Tok! Tok! Tok!
"Tante, Zahra, tamunya pamit akan pulang," terdengar suara Gaby di luar kamar.
Ibu Aisyah lalu bergegas ke luar dari kamar dan menemui mereka.
"Maaf lo, Mas Hendry, Mbakyu Sisi dan Nak Yusuf, tadi saya ada urusan sedikit dengan anak saya. Untuk rencana perjodohan ini, saya kembalikan kepada kalian, bila suka dengan Zahra, boleh dilanjutkan, bila tidak suka, ya tidak apa-apa. Kita tetap jadi saudara."
"Aku mengerti, Aisyah. Lain kali kita lanjutkan perbincangan ini. Kami pamit ya, sudah malam. Assalamualaikum."
"Waalaikum salam, hati-hati. Semoga selamat sampai tujuan. Aamiinn.
"Aamiinn."
Kedua wanita itu saling melempar senyum dan melambaikan tangan. Setelah mobil yang dikendarai Yusuf menjauh dan tidak terlihat lagi, Ibu Aisyah masuk ke dalam rumah.
***
Pagi hari di kediaman Yusuf
"Yusuf, Ayuk sarapan, Nak."
"Iya, Ibu." Yusuf segera ke luar dari kamar. Ibu dan anak itu sama-sama menuju ruang makan, sedangkan sang ayah Hendry telah duduk terlebih dahulu sambil menikmati secangkir kopi hangat.
"Pagi, Ayah," ucap Yusuf mendekati ayahnya, lalu mencium tangan. "Maafkan Yusuf, Ayah. Tiba-tiba tadi malam sakit perut, akhirnya rencana perjodohan dengan anaknya Ibu Aisyah, belum deal."
"Tidak apa-apa Yusuf, namanya juga musibah. Mana ada orang yang mau sakit, betul tidak, Ma?"
"Hemmm, iya betul sekali. Ayu fokus sarapan dulu, nanti kita lanjutkan ngobrolnya, mengerti?"
"Siap, mengerti, Bos!" ujar Yusuf kepada Ibunya yang tercinta. Senyum manis terpancar dari wajah mereka.
Selesai sarapan, Ayah Hendry mengajak Yusuf untuk duduk di dekat kolam renang. Sambil menikmati matahari pagi yang cerah. Sinarnya mampu menghangatkan tubuh-tubuh yang letih.
"Yusuf, Ayah merasa, kalau Zahra itu ada niat tidak baik kepadamu. Buktinya Yusuf tiba-tiba sakit perut. Feeling Ayah dia yang mengerjai kamu. Urusan perjodohan ini, bila Yusuf tidak berkenan. Jangan dilanjutkan lagi juga tidak apa-apa."
"Yusuf yang tidak tega dengan Ibu Aisyah, Ayah. Sepertinya beliau belum sangat berharap sekali, kalau Yusuf menjadi menantunya. Bisa membimbing si Zahra yang sedikit nakal itu, Ayah."
"Kamu, yakin Yusuf. Zahra bisa sejalan dalam mengarungi kehidupan rumah tangga bersama?"
"Yusuf sangat yakin, Ayah. Sebenarnya penasaran banget dengan karakternya yang sebenarnya, tadi malam itu hanya permainan kecilnya, yang dibuat-buat, malah Yusuf makin suka Zahra, anaknya unik."
"Kalau begitu, ajak dia jalan-jalan. Komunikasi lebih sering, agar lebih mengenal. Dengan begitu, kalian bisa memutuskan untuk untuk melanjutkan segera menikah atau butuh waktu untuk menyesuaikan diri."
"Baiklah, Ayah. Pamit Yusuf ya, Ayah. Assalamualaikum."
***
Di rumah Zahra.
"Zahra sayang, nanti Yusuf datang jemput kamu. Dia mau ajak jalan-jalan, Zahra siap-siap sekarang, ya."
"Zahra capek, Ibu. Lain kali saja."
"Tidak, tidak bisa sayang. Pokoknya Zahra siap-siap sekarang, Ibu sudah mengizinkan Yusuf membawamu jalan-jalan sebentar, ayolah. Hanya untuk perkenalan dan kalian bisa lebih akrab."
"Tidak! Ibu. Lama-lama, Ibu jengkelin banget, tiap hari memaksa terus. Zahra tidak mau pokoknya!"
"Astaghfirullah, sadar Zahra, yang jengkelin itu, sebenarnya kamu, selalu saja Zahra membantah ucapan Ibu."
"Ibu selalu memerintah, memaksa juga menindas Zahra!"
"Melawan kamu Zahra kepada Ibu, hah! Atau Zahra ingin Ibu pergi, menyusul ayahmu, biar Zahra hidup bebas tanpa aturan?"
"Ibu ini, kok ngomong begitu, ya sudahlah, Zahra pergi keluar bersama Yusuf. Puas Ibu sekarang!" ucap Zahra lalu pergi menuju kamar untuk bersiap-siap.
Ibu Aisyah mengelus dada sambil memejamkan matanya. Air matanya pun lolos jatuh berderai, tanpa ada isak tangis.
"Rasanya sakit banget, ya Allah. Sakit dibentak oleh anak sendiri, lebih sakit dari pada sakit saat akan melahirkan dulu. Meski nyawa menjadi taruhannya." Ibu Aisyah berkata dalam hatinya.
***
Pagi hari di taman.
"Jadi jalan-jalannya cuma di taman gini ya? Kayak gak ada tempat lain yang lebih asyik saja."
"Dik, Zahra tidak suka ya? Bilang saja di mana tempat favorit kamu, Dik Zahra." jawab Yusuf santai sambil memainkan gawainya.
"Pantai. Zahra suka menikmati indah gelombangnya. Yuk kita ke sana!" perintah Zahra.
"Nanti, Mas Yusuf antar ya. Terlanjur sudah sampai di sini, mari kita minum jus, dulu ya."
Keduanya memesan jus. Yusuf minum jus mangga, sedangkan Zahra minum jus buah naga. Yusuf yang santai dan tenang, sesekali curi pandang terhadap Zahra yang selalu cuek. Dibalik kecuekan Zahra, ternyata tersusun siasat nakalnya.
Byuurrr!
Jus buah naga milik Zahra sengaja disiram ke baju Yusuf. Kebetulan Yusuf memakai kemeja putih, habis kotor semua. Yusuf pun menahan emosinya, mencoba sabar menghadapi tingkah Zahra yang mengesalkan.
"Dik Zahra sengaja ya, buat baju Mas Yusuf kotor?" ucap Yusuf kepada Zahra sambil mendekat. "Tanggung jawab ya, karena Dik Zahra yang menyiram jus ini, maka tugas Dik Zahra untuk membersihkannya."
"Mana ada Zahra yang menyiramnya, tadi tidak sengaja! Jatuh sendiri gelas Zahra. Maaf ya, bukan level Zahra untuk berlaku nakal kepada orang lain!"
"Ok, lupakan. Mas Yusuf ada stok ganti baju di mobil, kok. Masalah ini kita lupakan. Tapi ingat, jangan coba-coba untuk ngerjai Mas Yusuf ya, atau Mas akan membalasnya."
"Heem, baiklah. No problem. Cepat sana ganti baju, bikin malu saja!"
Yusuf berjalan menjauh menuju parkiran mobil dan berganti baju di dalam mobil. Menghidupkan mobil serta melambaikan tangan. Memberikan isyarat untuk pergi ke pantai.
Zahra membayar dua gelas jus, kemudian masuk ke dalam mobil. Yusuf mengendarai mobil dengan santai tapi pasti, keduanya saling berdiam diri, sesekali bertatap muka tanpa bersuara. Hanya berkata-kata dalam hati masing-masing.
Sesampainya di pantai, Zahra berlari menyusuri pantai, Yusuf pun mengikuti dari belakang. Keduanya berhenti, memandang keindahan alam ciptaan Tuhan yang luar biasa.
Saat Yusuf lengah, Zahra mendorong tubuhnya hingga jatuh dan badan basah semua.
"Maaf Yusuf, Zahra tidak sengaja!" Zahra mengacungkan kedua jarinya ke atas sambil digoyang, kemudian berlari menjauh. Zahra memesan makanan, minuman dan air mineral. Duduk santai sambil memainkan gawainya.
"Keterlaluan kamu Zahra! Basah semua Mas Yusuf sekarang," Yusuf berdiri dan berjalan menuju tempat duduk Zahra.
"Sini Yusuf, kita makan siang di pantai, enak lo makanan di sini, rasanya khas."
Zahra tersenyum memandang tubuh Yusuf yang basah kuyup.
"Sebentar lagi juga keluar menu yang Zahra pesan."
Benar saja, pelayanan datang membawa menu pesanan Zahra dua porsi. Zahra dengan lahap memakannya. Yusuf hanya diam, masih kesal dengan kelakuan Zahra.
"Makanlah, nanti lapar!"
"Gak lapar! Makan saja. Cepat habiskan, kita pulang sekarang, Mas Yusuf kedinginan."
"Baiklah, tunggu sebentar."
Setelah selesai Zahra makan, keduanya menuju mobil. Saat Yusuf akan menaiki mobilnya, matanya melotot, sebab ban mobilnya kempes semua.
"Ulah siapa, ini! Jangan-jangan, ini pekerjaan orang suruhan kamu, Zahra!"
"Idih, nuduh mulu kamu Yusuf, Zahra dari tadi juga sama kamu, nelpon orang lain juga tidak ada!"
"Ini bukan kebetulan Zahra. Biasanya aman-aman saja. Sejak ketemu kamu, Zahra, Mas Yusuf sial melulu!"
"Nah, sadar. Kalau memang Zahra membawa sial dalam hidupmu Yusuf, tolak saja perjodohan kita, gampang bukan?"
"Tidak semudah itu, Zahra. Jangan egois hanya mementingkan keinginan diri sendiri, kita harus juga menjaga perasaan orang tua kita!"
"Alah, alasan saja. Berhubung ban mobilmu kempes, Zahra pulang duluan ya"
"Tidak bisa!"
"Kok, maksa kamu Yusuf, Zahra pulang duluan naik greap!"
"Tidak! Mas Yusuf yang jemput, Mas Yusuf pula yang antar pulang. Takutnya Ibumu, menganggap Mas Yusuf tidak tanggung jawab."
"Zahra bisa jelaskan kepada Ibu. Aman masalah itu."
Zahra berjalan menjauh. Yusuf seketika menarik tangan Zahra.
"Lepas! Zahra mau pulang sekarang!"
"Tidak!"
Keduanya tarik-tarikan. Akhirnya jatuh ke tanah. Yusuf jatuh menindih badan Zahra.
"Aaahhh!"