TITI GANTUNG TUA
"Kok teriak, emang gak pernah jatuh ya? Jatuh sedikit saja sudah histeris."
"Kan kotor ini! Dasar sial!
"Mas Yusuf yang sial terus dekat-dekat sama kamu, Zahra!
"Sekarang Zahra yang sial dekat kamu, Yusuf! Kalau mau antar pulang Zahra, sekarang saja, mobil tinggal di bengkel, kita naik greap, ok! Bila tidak mau, Zahra pulang sendiri. Tidak ada penawaran atau penolakan, Titik!"
"Baik! Dasar keras kepala. Tunggu sebentar, Mas Yusuf antar mobil ini ke bengkel sebelah.”
***
Sore hari di kediaman Geby
Zahra berjalan menuju ke kolam renang milik Gaby. Terlihat Gaby yang asyik berenang. Membiarkan Zahra menunggunya.
"Hy sayku Zahra, ada angin apa yang membuatmu datang ke mari?"
"Hmmm, bete Zahra. Ke mari kangen kamulah Geby cantikku!"
"Hehehe. Seperti kangen sama pacar saja ya, hahaha!"
"Idih, Gaby kegeeran. Mana mungkin jeruk makan jeruk, masam tahu! Udah renangnya ya, Zahra mau ngomong ini."
"Ini juga udah ngomong, terus saja, di sini juga aman, tidak ada siapa-siapa."
"Tidak mau, Zahra maunya kita cerita di tanah lapang, sambil makan es krim. Hayulah Gaby, bete ini."
"Tunggu sebentar," Gaby naik dari kolam renang. Memakai handuk dan masuk ke dalam rumah diikuti oleh Zahra.
"Sayku Zahra, kamu tunggu di sini sebentar."
"Tidak pakai lama ya!" teriak Zahra kepada Gaby yang sudah hilang dari balik pintu.
***
Di tanah lapang.
Gaby dan Zahra sedang makan es krim, menikmati indahnya sore. Banyak anak-anak yang main bola di sana. Sebagian yang lain berlari kejar-kejaran.
"Bahagia ya mereka, Gaby. Ceria dan tiada beban. Tidak seperti Zahra yang terkekang, tidak bisa menentukan jalan hidup sendiri."
"Apa kabar kencan tadi pagi bersama Yusuf."
"Menyebalkan! Usah Bahas masalah itu, tidak penting.!"
"Begitukah menurut Zahra?"
"Oya, tentu. Memang gak penting sama sekali! Gaby, Zahra mau ajak kamu dan Johan jalan-jalan. Kita berwisata alam yuk. Otak Zahra butuh penyegaran."
"Ke daerah mana yang Zahra maksud?"
"Bukit misteri. Lokasi indah banget. Ada air terjunnya, pemandangan masih asri. Wisata alam yang masih perawan. Zahra butuh refreshing, menyegarkan otak penat, gara-gara ketemu Yusuf, hahaha."
"Males, achh! Jauh banget. empat jam perjalanan, Zahra. Lagian, tempat seperti itu serem achh. Males ke sana."
"Ayolah, sekali ini saja. Kalau Gaby takut, kita ajak Johan, ya? Dia bisa kita andalkan bawa bekal saat jalan-jalan dan mau menemani kita, bagaimana?"
"Oke juga idemu. Tugas Gaby ajak Johan ya, urusan keberangkatan, nanti malam kita bahas di WA saja."
"Sip, dech. Mari kita pulang, sudah sore."
***
Saat subuh di kediaman Zahra.
Zahra berjalan mengendap-endap, menutup pintu kamar perlahan menuju pintu depan. Tiba-tiba muncul Ibu Aisyah di depannya.
"Mau pergi ke mana subuh-subuh begini, Zahra? Kok, tumben mengendap-ngendap seperti maling?"
"Zahra, Zahra cuma mau pergi sama Gaby dan Johan, Ibu. Nanti malam juga pulang."
"Tidak boleh, Ibu khawatir!"
"Ada teman Zahra, kok Ibu. Lagian, Zahra butuh represing! Percayalah, Ibu!"
"Ke mana kalian pergi? Biar Yusuf ikut antar kalian, ya?"
"Oh tidak, tidak bisa. Aku sudah ada rencana sendiri, Ibu. Bye, Ibuku sayang, Zahra berangkat!"
"Zahra!"
"Ibu baik-baik di rumah, Zahra berangkat sekarang, Gaby dan Johan sudah menunggu di jalan depan!"
"Firasat Ibu tidak baik, Nak. Jangan pergi, ya. Ibu tidak ingin kehilanganmu, Zahra!"
"Ibu ini pun, Zahra nanti malam juga kembali. Ibu tenang saja."
Zahra berlari keluar rumah menuju mobil Gaby yang ada di jalan depan, terlihat Johan yang masih mengantuk di kursi belakang.
"Bagaimana, Zahra? Ibumu berikan izin tidak?" tanya Geby saat Zahra memasuki mobilnya.
"Cepat berangkat. Tenang saja, walau Ibuku tidak memberikan izin, kita tetap berangkat. Dasar, Ibu selalu khawatir. Masak kita disuruh ajak si Yusuf. Bisa gagal kita untuk happy di sana."
Mobil melaju dengan cepat di jalanan yang masih lumayan sunyi. Setelah beberapa jam perjalanan, mereka sampai di lokasi.
***
Di lokasi wisata alam.
Ketiganya berjalan gembira sambil merentangkan tangan. Menikmati indahnya pemandangan, pohon-pohon hijau sejukkan tiap mata memandang. Tanah berbukit-bukit seperti lukisan yang diatur sedemikian rupa untuk dinikmati semua manusia.
Udara yang amat bersih. Menghilangkan segala rasa penat di kepala, juga segala gundah di hati. Gaby, Zahra dan Johan berlari-lari kecil menikmati suasana.
"Aduhay, molek benar di sini alamnya ya, woy!" puji Johan kepada temannya.
"Iya, dong. Semolek kita bertiga, hahaha!"
"Idih! Semolek kalian berdua. Akukan pedang, bukan bunga. Aku ini ganteng, woy!" jawab Johan dengan nada kesal.
"Ia dech! Johan ganteng, tapi aduhay!" ledek Gaby dan Zahra.
"Ahh, nakal kalian ini. Hayu kita ke sana, di ujung sana lebih sunyi. Kan asyik kita main di tempat sunyi-sunyi!" tunjuk Johan ke arah ujung dari tempat mereka berdiri.
"Hayu, siapa takut. Emang lo, pergi ke toilet sendiri aja minta ditemani, wewww." ledek Geby kepada Johan.
"Hmmm, udah achhh. Jangan meledek melulu. Takut kalian dapat sial. Di sini hati-hati kalau ngomong. Nggak boleh sembarang, Johan ulang sekali lagi, ti … dak boleh ngo … mong, sem … ba … ra … ngan!"
"Hemm, iya dech. Dasar kumat!"
Ketika ketiganya sampai di ujung, terlihat sebuah titi gantung tua. Sunyi dan tidak ada satu orang pun yang melintasi.
"Nyebrang, yuk. Sepertinya seru kita nyebrang melalui titi gantung ini. Gaby, Johan, yuk achh kita nyebrang,"
Tanpa pikir panjang, Zahra langsung berjalan menuju titi gantung tua. Gaby dan Johan menurut saja. Keduanya mengikuti dari belakang. Angin berhembus sangat kencang. Titi gantung tua pun bergoyang-goyang.
"Aduhay, Titi gantung tua pun lihay bergoyang ya? Apa lagi titi gantung muda, hahaha. Tapi, lama-lama, kok aku takut ya. Balik, yuk Gaby, Zahra. Kalian, kok santai saja jalannya."
"Berisik!" bentak Zahra.
"Alamak, kalian memang wanita tangguh, tunggu akuuu!" teriak Johan. Terus berjalan lebih cepat mengejar ketertinggalannya.
"Achhh, jangan dekat-dekat ngapa, sih. Titinya gak kuat nahan beban kita. Lo keberatan dosa, hahaha!" ujar Gaby kepada Johan.
"Enak aja. Bukan aku yang kebanyakan dosa, itu si Zahra yang keberatan dosa. Soalnya sering melawan ibunya. Betulkan, Zahra. Hehehe. Hore aku menang!"
"Apaan ih, dasar gak asyik kalian. Menyebrang gini, butuh mental dan keberanian tingkat dewa. Jangan hanya karena goyangan titi yang tertiup angin, nyali jadi ciut!"
Crek! Crek! Crek!
"Suara apa ya? Sepertinya ada yang tidak beres! Zahra, Johan, pegangan yang kuat, seperti Titi gantung tua ini akan roboh!"
"Bagaimana ini! ya … Tuhan … selamatkan kami!" doa Johan dalam kepanikan.
"Zahra! Kita maju atau mundur ini!"
"Maju saja! Sudah dekat lagi kita di seberang, siap-siap, ok!"
Baru saja selesai berkata, saat akan melangkahkan kaki, titi gantung tua itu benar-benar roboh ke sungai. Titi di atas bukit itu bagaikan peluru yang jatuh menghunjam bumi. Ketiga menjerit histeris.
"Achhhh! Tolong!”
Byuuurr!