HANYUT
Ketiganya jatuh ke sungai yang airnya sangat deras. Zahra yang pintar berenang, begitu juga Gaby terus berenang mencoba berlindung di reruntuhan titi tua itu.
"Johan! Johan! Kamu di mana?" Gaby dan Zahra berteriak secara bergantian. Terlihat Johan yang megap-megap hampir tenggelam. Gaby dengan sigap berenang untuk menolongnya.
"Dasar payah! Cuma kebesaran badan. Berenang pun tidak bisa. Cepat pegang tanganku!" perintah Gaby pada Johan.
Pria sedikit kemayu itu, pucat pasih. Sudah beberapa tegukan minum air sungai dan hampir mati tenggelam.
Dengan sudah payah, akhirnya Gaby berhasil membawa Johan ke tempat bergantung sementara.
"Pegang yang kuat. Kita harus bisa keluar dari tengah sungai ini secepatnya. Lihat itu, langit hitam. Takutnya ada hujan deras dari arah hulu, bisa-bisa kita terbawa arus banjir!"
"Hussss! Jangan ngomong sembarangan saat pukul 12.00 siang begini, pamali. Takut ada setan lewat!" Geby ucap dengan nada tinggi.
"Udah! Usah bertengkar. Hayu kita keluar dari sungai ini, dingin sekali airnya. Rasa dingin sampai menusuk ke tulang. Aku gak kuat. Aku gak mau mati di sini, hik! Hik!"
"Lihat! Penyelamat kita sudah datang!"
"Siapa!" Zahra menoleh ke kanan dan ke kiri, tidak ada siapa-siapa, kecuali mereka bertiga dan suara gemericik air yang deras.
"Itu! Lihat di sana! Ada rakit yang hanyut ke arah kita. Alhamdulillah, kita bisa selamat sampai ke tepi dengan rakit itu!"
Gaby berlonjak gembira dengan mata tanpa berkedip mengamati arah pergerakan rakit itu.
Benar saja, setelah lima menit menunggu, akhirnya rakit itu bisa di raih oleh Gaby. Meskipun dengan susah payah. Johan dan Zahra pun naik ke atas rakit bambu itu dengan susah payah.
"Akhirnya, kita bisa selamat! Untung ada dirimu rakit, kau dewa penyelamat kami!" ucap Johan sambil menatap rakit misterius itu.
Rakit itu pun bergoyang-goyang, seolah memberi jawaban kepada Johan.
"Oh my God! Rakit ini seperti bisa diajak berbicara!" teriak Johan dengan rasa takut.
Setelah beberapa saat
"Aneh ya! Sepertinya rakit ini tidak bisa kita ajak ke pinggir! Hanya berjalan di tempat. Bagaimana ini Gaby, Johan, ayo berusaha lebih keras dayungnya!" perintah Zahra.
"Bagaimana bisa ke pinggir, kita dayung pakai tangan doang, sedangkan arusnya sangat kuat. Yang ada bisa hanyut kita ke kampung demit! jawab Gaby.
"Ih! Geby ngomongnya ngaco! Aku jadi takut. Aku gak mau ikut hanyut bersama kalian. Ogah hanyut, Aku masih ingin hidup dan menikah!"
"Achhh! Dasar Johan! Tidak berguna. Jadi beban bawa lo ke mari ternyata!" balas Gaby.
"Lihat, permukaan air naik. Apa kubilang. Ada hujan dari arah hulu. Pegangan yang kuat, sepertinya rakit ini akan hanyut mengikuti aliran sungai."
"Auuwww, rakitnya mutar-mutar ini. Aku takut mengguling dan tak bisa berenang!" teriak Johan dengan wajah pusatnya.
"Tenang, jangan panik. Ikuti permainan air ini, kalau tenang, kita berusaha ke pinggir. Tapi entah sampai kapan airnya renang. Terus saja membawa kita hanya entah sampai di mana."
"Zahra salah! Ini semua gara-gara Zahra yang ajak kalian ke sini. Coba Zahra tadi subuh, dengarkan nasihat Ibu. Mungkin ini tidak akan pernah terjadi pada diri kita!"
"Sudahlah! Ini bukan waktunya untuk saling menyalahkan!"
"Ya, betul. Ini semua gara-gara Zahra!" mata Johan melotot menatap Zahra. Mata memerah. Membuat Zahra begidik ketakutan.
"Ada apa dengan kamu, Johan! Jangan saling menyalahkan, berdoa saja. Semoga air banjir sungai ini surut, kita bisa ke tepi!"
Johan berjalan menuju tempat Zahra berdiri. Tanpa berkedip, matanya menatap tajam. Tiba-tiba, tangannya berusaha untuk mencekik Zahra. Dengan sigap Zahra melawan. Tapi, akhirnya Zahra kewalahan. Johan membabi buta dan tidak terkendali.
Gaby yang melihat kelakuan Johan pun panik. Untung saja ada sepotong kayu yang lumayan bisa digunakan untuk memukul Johan. Dengan sekuat tenaga, Gaby mengayunkan tangannya.
Buuukkk!
Pukulan kayu itu memukul punggung Johan, karena kesakitan, Johan melepaskan cekikannya kepada Zahra. Kini berbalik arah mendekat ke arah Gaby, siap-siap akan mencekik. Gaby pasang kuda-kuda akan memukul titik kelemahan Johan.
"Auuhhh!" Johan kesakitan. Pukulan Gaby cukup mematikan. Seketika, Johan pun jatuh, limbung tersungkur di rakit. Hari pun semakin senja.
"Alhamdulillah. Johan terkapar. Hampir saja dia membunuh kita berdua, Zahra. Ingat, ini adalah kawasan yang masih angker, jadi jangan sekali-kali kita punya pikiran kosong, apalagi melamun yang tidak-tidak. Bisa kemasukan setan!" jelas Gaby kepada Zahra.
"Hemmm, iya. Semoga kita dalam lindungan Tuhan, selamat pulang ke rumah. Gaby, Zahra lapar sekali."
"Bertahanlah, semoga kita bisa menepi. Minum saja air sungai ini, tapi minta izin dulu, biar yang punya tidak marah-marah, hehehe." balas Gaby cepat.
"Yang punya bukannya Allah Swt? Memangnya nenekmu, Gaby? Hahaha."
“Begini caranya. Minta airnya ya, Mbah. Cucumu terhanyut dan kehausan ini, Mbah." Gaby mengambil air sungai dengan kedua tangannya, lagi meminumnya hingga berulang kali.
"Hemm, segar. Alhamdulillah, Gaby sudah kenyang. Coba sekarang kamu Zahra. Lumayan, bisa mengganjal perut hingga besok pagi. Mumpung belum magrib, cepat Zahra.”
Zahra pun mengikuti cara yang dilakukan oleh Gaby. Meminum air sungai melalui kedua tangannya. Setelah itu mendekati Gaby dan memeluknya, ada bulir air mata yang jatuh.
"Hapus air matamu, Zahra. Kuatkan hatimu. Kita pasti selamat. Yakinlah!" Gaby menguatkan hati Zahra yang bersedih.
Zahra mengangguk, tetapi tetap saja kedinginan mendera tubuhnya. Bibirnya pun semakin pucat, begitu juga dengan Gaby dan Johan. Belum ada secercah harapan akan ada pertolongan.
Kini, malam pun sudah merayap dengan cepat. Rupanya rakit tersangkut. Ada batang kayu yang tumbang mengarah ke tengah sungai. Melihat ada secercah harapan, Zahra mengajak Gaby untuk meraih ujung pohon, berhasil dan rakit berhenti di sana.
"Berhasil Gaby. Ayo kita tarik perlahan rakit biar di sini saja. Kita memanjat pohon itu, yuk," Gaby mengajak Zahra.
"Si Johan bagaimana nasibnya."
"Biarkan saja dia di sini. Kalau sadar dia bisa naik sendiri. Atau kita bangunkan saja dia, biar naik bersama kita?"
"Jangan dulu. Takut dia masih kesurupan seperti tadi, hih, serem dan amit-amit. Hampir saja mencekik kita."
Keduanya berusaha memanjat batang pohon kayu yang tumbang ke arah sungai. Sesampainya di pertengahan batang, terdengar desisan ular yang cukup keras.
Sesss … sessss … sesss.
"Astaghfirullah! Ada ular besar Zahra! Bagaimana ini nasib kita?"
"Kembali ke rakit, cepat! Sebelum terlambat! Cepat Gaby!"
Keduanya, seperti memperoleh kekuatan super, dengan mudah turun dari batang kayu memasuki rakit kembali.
"Untung saja, rakit ini tidak hanyut. Cepat Gaby! Kita jauhi pohon kayu ini!"
"Itu artinya, kita tetap mengikuti arus air ke hilir?"
"Tidak ada pilihan lain. Gaby? Di mana Johan sekarang? Kok, tidak ada di sini!"
"Jangan-jangan!"