LNCrawler

TERDAMPAR DI KAMPUNG JANDA

Misteri Kampung Janda — gooddreamer.id · All chapters

TERDAMPAR DI KAMPUNG JANDA

"Apa maksudmu Gaby? Jangan-jangan apa? Ngomong yang jelas!"

"Johan masuk ke sungai dan dimakan oleh buaya!"

"Achh, tidak ada buaya di sini. Buktinya, dari siang tadi, kita juga belum ketemu dengan buaya sungai, usah takut." jawab Zahra yang terlihat santai, tetapi sebenarnya di hatinya sangat takut terhadap buaya.

Bersamaan dengan itu, kaki Gaby tiba-tiba dingin, dipegang oleh satu tangan dari bawah air.

"Auuuhhh! Hantu!" teriak Gaby refleks akan melepaskan pegangan itu. Namun, tangan itu cukup kuat. "Ambilkan kayu itu, Zahra. Tolong pukulkan, cepat!"

Plakkk!

"Tolong, jangan pukul aku! Ini aku, Johan. Tega kalian ya, ninggalin aku. Untung aku bisa mengejar berenang tadi!"

"Serius! Kok, tiba-tiba bisa bereng kamu, Johan? Biasanya kelelep kalau masuk ke dalam air gini?"

"Aku juga gak faham. Mengapa aku bisa berenang sekarang, mungkin aku dapat ilmu tiba-tiba, dari nenek moyang kita di sini, hahaha!"

Zahra berbisik kepada Gaby. "Lihat, Gaby perhatikan, cara bicara Johan yang dulu dan sekarang berbeda. Dulu ada gemulai seperti cewek. Napa sekarang gagah, ya?"

"Apa kalian tidak percaya kalau aku ini Johan? Teman baik kalian?"

"Gaby, tetap waspada, jangan sampai lengah. Karakter Johan berbeda, aku yakin ini bukan teman kita, tetapi orang lain, yang menumpang raganya!" jelas Zahra. Baru saja Zahra selesai berkata, Johan dengan sigap, mendorong tubuh Gaby ke dalam sungai.

Byuuurr!

Gaby terjebur ke sungai, untung saja arus sungai sudah mulai surut. Gaby berenang mendekati rakit, berpegang bambu yang ada di ujung. Memberi isyarat kepada Zahra, agar segera memukul Johan.

Buuukkk! Buuukkk! Buuukkk!

Tiga pukulan keras Zahra, ternyata mampu merobohkan Johan. Kedua gadis itu dapat bernapas lega. Segara Zahra mengulurkan tangannya untuk menolong Gaby.

Keduanya mengigil kedinginan. Di tengah malam sunyi, hanya ada suara riakan air, suara binatang-binatang hutan, juga dengkuran Johan yang memekakkan telinga.

Gaby dan Zahra kelelahan, keduanya tertidur pulas sambil menautkan tangan, takut terpisah. Sudah pasrah akan keadaan yang menimpa, berhati ikhlas pada Yang Maha Kuasa.

Pagi hari di Kampung Janda.

Matahari cerah pancarkan sinarnya yang cerah. Menerpa ketiganya yang masih terlelap di atas rakit. Ternyata, rakit itu sudah menepi di pinggir dan tersangkut di sebuah pohon kecil.

"Horeee! Kita selamat!" teriak Gaby lalu bangkit dari tidurnya. Bajunya yang basah diperasnya perlahan, berjalan menaiki daratan.

Johan dan Zahra pun terbangun juga. Keduanya mengerjapkan matanya, memandang ke kiri dan ke kanan. Berpikir, berada di mana sekarang.

"Di mana kita sekarang?" tanya Johan santai, menatap Zahra dan Gaby secara bergantian.

"Yang jelas di daratanlah Johan. Lekas kalian berdua naik ke daratan, cepat sini!" perintah Gaby pagi itu. Tak banyak tanya, keduanya pun berdiri dan naik ke daratan.

"Tolong, Johan. Jalanya licin!" seru Zahra.

"Idih, manja sekali kau, Zahra. Ogah, belajar naik sendiri!" balas Johan sambil senyum kemayu.

"Kau dengar sayku Gaby, Johon kita yang asli memang ini, yang tadi malam, sepertinya bukan Johan. Tapi hantu, hihihi."

"Idih! Kalian ini ngomong apaan ya? Aku kok gak paham. Maaf ya we, Aku tadi malam ketiduran terus. Tapi, badanku pegal-pegal, kayak kena pukul."

"Hmmm, memang Johan tadi malam mimpi apa? Atau mimpi berkelahi, jadi pas bangun badan sakit semua!"

"Hahaha!"

Ketiganya tertawa bersama, melupakan malapetaka yang sedang menimpa. Menuju tempat yang terang dan terkena sinar matahari.

"Berjemur sebentar ya, setelah ini kita pergi cari rumah warga, kemudian membeli makanan, lapar banget, ini!"

"Sama, Aku juga lapar. Sudah melilit abis. Bisa langsung langsung Aku kalau kelaparan!" ucap Johan sambil memandang sekeliling lokasi mereka berada. "Sepertinya, di wilayah ini ada penduduknya."

"Oya, tapi tidak terlihat tanda-tanda kehidupan manusia ya." jawab Gaby. "Tapi tunggu, lihat ini!" Gaby menunjuk tanah basah. "Ini tapak kaki manusia, ya! Seukuran kaki kita. Berarti, sekitar daerah sini, ada rumah penduduk."

Zahra mengamati telapak kaki itu. "Benar sekali, ini adalah jejak kaki manusia. Hayu kita masuk ke sana. Barangkali ada rumah warga."

Ketiga jalan beriringan. Johan yang penakut berada di tengah, diapit dua gadis cantik itu.

"Dasar ban**, harusnya kau Johan yang melindungi kami, bukan sebaliknya begini!" ketus Gaby yang menjitak kepala Johan.

"Pria wanita itu sama saja ihhh, masalah berani itu adalah bakat sejak berojol dari kandungan Ibu, udah ada takaran dan forsi masing-masing. Idih kalian berdua jangan gitu achh, Aku kan jadi malu."

Dasar, Johan, mau menang sendiri

"Coba Diam Kelian, Aku mencium aroma masakan yang lezat. Seperti aroma panggangan daging sapi."

Johan menggerakkan hidungnya maju mundur, ke atas ke bawah. "Nah, benar dugaan Aku. Aromanya bersal dari sana, ayo!"

Zahra langsung maju. "Ayo, biar Zahra yang memimpin perjalanan."

"Alah, urusan makan, maju paling depan," ledek Gaby sambil tertawa.

“Kalian merasa tidak sih, ada yang aneh di tempat ini. Bulu kuduk Zahra, merinding dari tadi. Sepertinya, kita diawasi oleh penduduk setempat. Gaby, Johan, tetap waspada, apa pun yang terjadi, kita jangan sampai berpencar, oke!"

"Siap, Bos Zahra!" teriak Gaby dan Johan secara bersamaan.

"Stop! Jangan melangkah lagi, atau kalian tidak akan pernah kembali dengan selamat!"

"Siapa kamu! Apakah penduduk setempat! Bisakah kami mencari warung untuk membeli nasi? Lapar sekali kali, lihat kami lemas dan kelaparan," ucap Zahra sambil metap wanita tengah baya. Namun, paras masih cantik dan terlihat terawat.

"Aku penduduk kampung janda ini!

"What! Kampung janda? Asyik dong, banyak jandanya. Hahaha!" jawab cepat Johan.

"Husstt, yang sopan kamu, Johan. Ini orang tua di sini. Maafkan kelakuan teman saya ya? Dia memang sedikit usil dan banyak bercanda," Zahra menjelaskan dan berjalan mendekat.

"Salam perkenalan, mohon bimbingannya, agar kami bisa selamat selama berada di sini. Mohon, jadilah pelindung kami," minta Zahra sambil menundukkan wajah dan mengatupkan kedua tangannya di dada.

"Kampung ini tidak cocok untuk kalian. Sebaiknya kalian cepat pergi sekarang. Aku ada urusan."

"Tapi, kami butuh pertolongan untuk makan dan petunjuk arah mana untuk bisa keluar dari tempat ini. Tolonglah kami."

"Tidak! Banyak resikonya bila kalian melangkahkan kaki di kampung ini, nyawa kalian taruhannya, atau kalian tidak akan pernah kembali ke rumah kalian semula."

"Waduh, bahaya bestie. Pulang yuk! Takut! Memang di sini banyak penjahatnya ya?" celoteh Johan.

"Kalian nekat, mau tinggal di kampung ini? Pergilah sekarang, sayangi nyawa kalian!"

"Kami sangat ingin pergi. Tapi tidak tahu arah. Kami terdampar di kampung ini. Tidak tahu jalan pulang. Tolonglah kami, beri petunjuk arah pulang,"

Zahra memohon dengan tulus. "Anggap kami adalah anak-anakmu. Biarkan kami tinggal di sini, sampai menemukan jalan untuk pulang," Zahra meyakinkan kembali wanita itu.

"Baiklah. Kalau memang kalian ingin di sini sementara waktu, tetapi kalian harus menuruti semua aturan di sini. Jangan coba-coba untuk melanggarnya, atau akan ada malapetaka yang menimpa."

"Maksudnya, ada syaratnya?"

"Iya, benar. Ada syarat yang harus dilakukan."

"Apa syaratnya?"