LNCrawler

Kenangan Yang Belum Hilang Dari Ingatan

Parfum Pengikat Cinta — gooddreamer.id · All chapters

Kenangan Yang Belum Hilang Dari Ingatan

Hari berganti bulan, bulan pun berganti tahun. Tak terasa waktu berjalan begitu cepatnya, setahun kini berlalu dari kejadian malam itu. Kini Arya telah menyandang status baru sebagai seorang duda di usianya ke tiga puluh delapan. Kondisi sang ibu pun kini sudah sangat sehat.

Sejak mendapatkan statusnya yang baru, Arya memutuskan untuk memulai kehidupannya di tempat lain. Semua yang berhubungan dengan masa lalunya bersama Kinanti, ditutupnya tanpa membuka akses sedikitpun untuk mantan istrinya itu.

Kini setiap hari ia habiskan dengan menekuni aktivitasnya sebagai owner dari beberapa bisang usaha yang digelutinya. Tak jarang sang ibu berusaha mencarikan sosok pengganti Kinanti, tapi selalu ditolaknya dengan halus. Pikirannya masih diliputi trauma yang berkepanjangan mengenai sebuah pernikahan, sehingga perlu waktu yang cukup lama untuk seorang Arya Hendrawan untuk bisa kembali membuka hatinya bersama wanita lain. Baginya kini hanya fokus meniti karir dan membahagiakan ibunya, sudah cukup bagi Arya merasa bahagia tiada tara.

Berkat usaha kerja kerasnya, kini Arya benar-benar telah menjadi seorang pengusaha yang sangat disegani karena sikap tegasnya menghadapi relasi bisnis yang curang. Tak sedikit pengusaha mencoba bermain kotor, tapi selalu berujung dengan jeratan hukum yang tak main-main.

Di puncak kesuksesan yang ia miliki saat ini, terselip kenangan akan sosok seorang gadis dengan parfum vanilla yang disukainya. Seorang gadis remaja bermata jeli, yang menjadi adik kelas sekaligus tetangga rumahnya. Sejak awal berjumpa dipelataran sekolah, telah membuatnya terlena oleh tatapan mata indahnya.

Setiap hari gadis itu selalu menjadi pusat perhatiannya, tak ada hari yang dilewatinya tanpa memperhatikannya. Semakin hari rasa itu semakin tumbuh subur dalam hatinya, semua itu Arya simpan rapi tak ada siapapun yang tahu. Bahkan Hanung sendiri pun tak menyadari jika saat itu sahabatnya tengah mengalami jatuh cinta untuk pertama kalinya.

Hingga akhirnya Arya harus pergi meninggalkan bangku sekolah, karena pendidikannya telah usai. Namun dalam hatinya telah tertancap sebuah janji, bahwa dirinya akan kembali dan mengungkapkan rasa yang dipendamnya selama ini. Siska Ayuningtyas, nama yang terukir indah dalam sanubari Arya. Serta wangi parfume di tubuhnya yang tak pernah ia lupakan, bahkan sampai kini Arya masih mengingat dengan jelas aroma tersebut.

****

Pagi hari itu di sebuah perusahaan property terbesar di kota, terlihat Arya tengah bersiap untuk menghadiri rapat penting di sebuah tempat. Karena tergesa-gesa di kejar waktu, mobil yang Arya kendarai tak sengaja menabrak seorang pria tua.

Arya bergegas keluar dari mobilnya, menghampiri pria itu dalam keadaan tergeletak. Banyak orang yang mulai berkerumun, tapi dengan sigap Arya membopong tubuh pria itu dan membawa masuk ke dalam mobilnya. Sekilas terlihat aliran darah keluar dari kepala bagian belakang pria itu, membuat Arya semakin panik dan melajukan kendaraannya dengan kecepatan penuh.

Beberapa menit kemudian pria itu telah masuk di ruang IGD rumah sakit terdekat. Arya menungguinya dengan perasaan yang tak menentu, sementara dari arah pintu masuk terlihat seorang gadis yang berlari ke arah recepsionis. Tak lama kemudian gadis itu terlihat melangkahkan kakinya ke ruang IGD, lalu duduk tak jauh dari tempat Arya berada.

Ceklek!

Suara pintu terbuka, seorang wanita memakai jas putih dan terdapat stateskop tergantung di pundaknya tampak keluar dari ruangan tersebut. Sontak Arya dan gadis itu berdiri, lalu menghampiri dokter itu.

“Bagaimana keadaan Ayah saya, Dok?” tanya gadis itu menatap sang dokter dengan pandangan cemas.

Deg!

Dada Arya berdetak cepat mendengar wanita itu adalah putri dari pria yang ditabraknya. Perasaan gugup mendadak menyelinap dalam dadanya, tapi ia tak bisa berpaling begitu saja.

“Anda putri dari bapak yang mengalami kecelakaan tadi?” Dokter itu bertanya menatap sang gadis dengan intens.

“Ya, Dok! Bagaimana kondisi Ayah saya, Dok?” Gadis itu menjawab dan mengulangi pertanyaannya.

“Jika dilihat dari cedera di kepalanya, tak ada yang serius. Tapi tergantung hasil rontgen, kita lihat beberapa saat lagi. Jika kondisinya bagus, bisa dibawa pulang. Saat ini masih dalam kondisi lemah, ada baiknya jika beliau tetap berada dalam pengawasan kami selama beberapa hari.” Dokter itu menjelaskan.

“Lakukan yang terbaik untuknya, Dok!” Tiba-tiba Arya berkata, setelah melihat ekspresi kebingungan di wajah sang gadis.

“Baiklah, silahkan mengurus administrasinya terlebih dahulu. Permisi!” Dokter itu pun berlalu meningggalkan kedua orang yang sedang dilanda kebingungan. Sang gadis merasa bingung, karena dirinya tak mengenal pria yang baru saja menyela percakapannya dengan dokter. Sementara Arya bingung karena harus segera tiba di tempat pertemuan, tapi tak mungkin meninggalkan tanggung jawabnya begitu saja.

“Maaf, Anda, siapa?” Akhirnya sang gadis memberanikan diri bertanya.

“Oh, ehm, saya … saya orang yang menabrak Ayah, Anda, secara tidak sengaja.” Arya menjelaskan dengan sikapnya yang salah tingkah.

Karuan saja gadis itu terkejut bukan main, pantas saja pria itu meminta perawatan yang terbaik. Gemuruh dalam dadanya seolah terdengar hingga ke telinga Arya, membuat pria itu benar-benar diliputi rasa bersalah.

“Maaf, karena terburu-buru saya jadi kurang berhati-hati. Sebagai bentuk tanggung jawab, saya akan menanggung semua biaya pengobatan Ayah Anda, selama beliau dirawat.” Pria itu berusaha untuk meminta maaf pada gadis itu, meski dalam hatinya meragu.

“Memang sudah seharusnya Anda melakukannya, bukan?” tukas sang gadis ketus.

Arya terdiam, dirinya tak menyangka akan mendapatkan jawaban seperti itu.

“Oh, eh, iya. Kalau begitu, saya mengurus administrasi terlabih dahulu.” Arya pun berlalu dari tempat itu, sementara sang gadis kembali duduk di tempatnya semula. Terlihat beberapa tetes air mata bergulir membasahi kedua pipinya, yang diseka secara kasar dengan punggung tangannya.

Lama gadis itu menunggu di depan ruang tindakan, tak lama kemudian pintu terbuka, beberapa perawat terlihat mendorong sebuah brankar dengan seorang pria yang terbaring lemah di atasnya. Kepalanya nyaris tertutup kain kasa putih dengan bercak noda darah yang terlihat masih segar di beberapa tempat. Membuat hati sang gadis terasa disayat-sayat, setelah mengetahui jika pria yang tergeletak disana adalah Ayahnya.

Bergegas gadis itu mengikuti kemana perawat membawa ayahnya, langkahnya berhenti seketika saat disadarinya mereka memasuki sebuah kamar perawatan yang ekslusif. Gadis itu hanya bisa berdiri mematung saat melihat tubuh ayahnya dipindah ke ranjang rumah sakit yang terlihat nyaman.

“Maaf, Sus. Apa tidak salah membawa Ayah saya ke kamar ini?” tanya sang gadis merasa heran.

“Tidak, Mbak. Sesuai dengan informasi yang kami terima dari bagian administrasi,” jawab salah seorang perawat sembari tetap melanjutkan tugasnya. Setelah selesai memeriksa semua seperti yang seharusnya, perawat itu pun kemudian meninggalkan gadis yang masih kebingungan.

Wanita itu memperhatikan sekeliling ruangan, tampak sebuah lemari es kecil di sudut ruangan. Televisi berukuran cukup besar bertengger di dinding, serta kamar mandi di dalam ruangan. Pendingin ruangan yang menyala, membuat nyaman siapapun yang berada dalam kamar tersebut. Sofa panjang nan empuk dan lembut disediakan khusus bagi yang menemani pasien, terlihat sangat menggoda selaras dengan tubuhnya yang terasa lelah.

‘Bagaimana Aku harus membayar biaya perawatan, Ayah?’