Pria Sombong
Ceklek!
Pintu ruangan mendadak terbuka, menampilkan sesosok pria yang ditemui wanita itu saat masih berada di depan ruang tunggu IGD.
“Apakah kamu nyaman dengan kamar ini? Jika tidak,saya akan meminta perawat menggantinya dengan yang lebih baik,” ucap pria itu menatap sang gadis dengan perasaan gugup.
“Oh, eh, i-iya. Terima kasih.” Sang gadis pun menjawab dengan tak kalah gugupnya.
“Ini, jika membutuhkan sesuatu, jangan sungkan untuk menghubungi. Maaf, saya gak bisa menemani terlalu lama. Saya akan segera kembali setelah urusan pekerjaan selesai,” ucap pria itu sambil memberikan secarik kertas kecil yang diterima gadis itu dengan canggung.
Lalu terlihat kembali pria itu memberikan sebuah amplop berwarna coklat yang cukup tebal pada sang gadis, membuat sepasang mata jeli itu membola seketika.
“Tolong! Terima ini, takutnya selama saya tidak ada, Anda harus membeli obat lainnya.” Pria itu berkata seolah memaksa gadis itu menerima pemberiannya.
Sang gadis tak sempat menolak karena pria itu meletakan amplop itu langsung ke telapak tangannya, kemudian bergegas meninggalkan ruangan tersebut tanpa sempat mengucapkan terima kasih.
****
Arya langsung melajukan kendaraannya ke tempat tujuannya semula, beruntung sesaat setelah kejadian itu ia sempat meminta tolong sekretarisnya untuk menunda beberapa saat pertemuan itu. Sehingga pertemuan itu tidak harus di jadwalkan ulang, tapi tetap saja akan berdampak pada citra perusahaannya.
Setibanya di tempat pertemuan, acara tersebut langsung dimulai dengan Arya yang menyampaikan presentasi di hadapan beberapa tamu penting. Selama hampir dua jam pertemuan itu berlangsung, dengan hasil yang sangat memuaskan. Tentu saja Arya merasa lega dan bersyukur, tapi tak lupa dengan niatnya semula untuk segera kembali ke rumah sakit. Segera saja pria itu memacu kendaraannya menuju rumah sakit, tapi sebelumnya menyempatkan diri singgah di sebuah toko yang menjual aneka buah.
Setelah mendapatkan apa yang diinginkannya sebagai buah tangan, pria itu kembali melanjutkan perjalanannya. Namun pada saat berhenti di sebuah lampu merah, tak sengaja ekor matanya menangkap sesosok wanita yang sangat familiar. Sayangnya sosok itu segera menghilang saat dirinya hendak membuka kaca mobil, sekedar untuk meyakinkan penglihatannya. Tak dihiraukannya kejadian itu, tak lama kemudian mobil yang dikendarai Arya telah memasuki pelataran rumah sakit. Bergegas pria itu keluar dari kendaraannya, tak lupa ia membawa oleh-oleh yang sempat dibelinya.
Tok! Tok! Tok!
Arya memberanikan diri untuk mengetuk pintu kamar perawatan yang ditempati pria yang ditabraknya pagi tadi. Hening tak ada jawaban, Arya pun memutuskan untuk langsung masuk ke kamar tersebut.
Ceklek!
Tak ada siapa-siapa disana, selain pria tua yang terlihat masih terlelap tidur. Gadis itu tak nampak batang hidungnya, namun terdengar suara gemericik air dari dalam kamar mandi. Arya pun meletakan bawaannya di atas nakas, kemudian duduk di sofa yang terdapat di dalam kamar tersebut.
“Lho, kamu? Sejak kapan ada disini?” Suara sorang gadis menyentak Arya yang tengah memperhatikan keadaan pria yang sedang terbaring dari tempatnya duduk.
“Oh, eh, belum lama, kok. Tadi sudah mengetuk pintu, tapi gak ada jawaban. Ya sudah, Aku masuk saja,” kata Arya menjelaskan.
“Ooh, habis beli obat di Apotek depan. Jadi gerah, makanya ku cuci muka dulu,” sahut sang gadis.
“Cukup uangnya? Kalau kurang, Aku tambah lagi.” Arya cemas jika pemberiannya kurang.
“Gak perlu! Uang darimu masih cukup banyak, bahkan sangat berlebihan. Nanti kukembalikan jika Ayah sudah bisa pulang dari sini,” sergah gadis itu.
“Jangan terburu-buru, biarkan Ayahmu mendapatkan pengobatan yang seharusnya. Gak usah pikirkan soal apapun, yang penting Ayahmu bisa kembali sehat,” tukas Arya.
“Oya, Dokter sudah memeriksa kembali keadaan Ayahmu?” Lanjut Arya, saat mendapati gadis itu hanya terdiam tak menanggapi ucapannya barusan.
“Sudah, dari hasil pemeriksaan rontgen semuanya baik-baik saja. Karena sampai sekarang Ayah belum sadar juga, Dokter menyarankan untuk melakukan Scan di kepalanya. Mungkin sebentar lagi mereka datang,” terang gadis itu menjelaskan seperti yang dikatakan dokter padanya.
“Turuti saja apa yang dikatakan Dokter, gak usah khawatirkan apapun. Ya?” kata Arya kemudian.
Gadis itu tak menjawab, hanya berlalu dari hadapan Arya kemudian duduk disamping ayahnya. Arya pun kemudian meletakan barang bawaannya di atas meja, kemudian menghempaskan tubuhnya di sofa. Matanya terlihat mengawasi setiap sudut kamar tersebut, seolah tengah memastikan jika kamar tersebut memang nyaman untuk ditempati.
“Kamu tidak pulang? Sekedar untuk memberitahukan keluarga di rumah?” tanya Arya memancing pembicaraan.
“Keluargaku kini hanya tinggal Ayah.” Gadis itu menjawab singkat.
“Oh, maaf! Saya tidak tahu, maafkan saya!” sesal Arya setelah tahu jika orang yang telah dibuatnya celaka itu adalah satu-satunya keluarga gadis tersebut.
Sang gadis hanya terdiam, terlihat salah satu lengannya terulur ke sebuah laci nakas di sampingnya. Mengambil sebuah tas, seolah hendak mengambil sesuatu dari dalamnya.
“Ini. Saya kembalikan sisa uang yang Anda berikan, terlalu berlebihan rasanya jika saya menyimpan uang sebanyak itu. Terima kasih.” Gadis itu berkata dengan nada serius, seraya memberikan amplop coklat yang diberikan Arya sebelumnya.
“Tidak! Itu semua sudah menjadi milikmu, Aku tak memberikannya sebagai barang titipan apalagi pinjaman. Simpan saja!” Terlihat Arya seperti tersinggung dengan sikap sang gadis.
Arya pun bangkit dari duduknya.
“Besok pagi-pagi saya kembali, permisi!” katanya sambil berlalu meninggalkan ruangan tersebut tanpa menoleh sedikitpun ke arah sang gadis.
‘Sombong sekali!’ rutuk gadis itu dalam hatinya, saat melihat reaksi Arya yang pergi begitu saja.
Sementara Arya pun entah mengapa dirinya seolah tersinggung melihat gadis itu hendak mengembalikan uang pemberiannya. Sebab baru kali ini laki-laki itu menemukan wanita yang berani mengembalikan sesuatu yang sudah diberikannya tanpa ragu seolah dirinya mengatakan jika dirinya tak membutuhkan semua itu. Namun entah mengapa dengan sikap yang ditunjukan gadis itu, membuat Arya semakin diliputi rasa penasaran yang dalam.
Segera Arya memacu kendaraannya menuju sebuah rumah yang selama ini menjadi tempatnya menumpahkan segala penat dan juga melabuhkan semua asa juga beribu mimpi yang dirajutnya selama ini. Tak ada satu hari pun yang terlewati tanpa satu moment yang berarti di rumah tersebut bersama seseorang yang menjadi cinta dalam hidupnya.
“Ibuu!” Pria itu memanggil seseorang, setibanya di tempat tujuan.
Seorang wanita paruh baya tergopoh-gopoh menghampiri pria yang memanggilnya dengan teriakan khas miliknya.
“Kamu sudah pulang, Nak?” sambut wanita itu dengan senyum hangatnya.
“Bu … Aku rindu!” Arya langsung memeluk dan mendekap erat tubuh wanita itu dengan erat seperti sudah tak bertemu sekian lama. Wanita yang dipeluk Arya pun membalas pelukan itu tak kalah eratnya, seolah sedang mengatakan jika dirinya selalu ada. Nalurinya sebagai seorang ibu, langsung merasakan ada sesuatu yang terjadi dengan putranya.
“Masuklah, bersihkan tubuhmu! Habis itu kita makan bersama, Ibu sudah masakan makanan kesukaanmu, setelah itu kita bicara.” Tanpa menjawab sepatah kata pun, Arya kemudian melepaskan pelukannya dan masuk ke dalam rumah seperti yang diucapkan ibunya.