Ulah Sang Kakak
Pagi menjelang, sinar matahari yang hangat menyapa lembut setiap makhluk yang ada di bumi. Kicau burung yang saling bersahutan, seolah menyambut pergantian hari dengan riang gembira. Seperti nyanyian kidung yang indah, sangat melenakan indera pendengaran.
Namun lain halnya dengan Arya Hendrawan, pria muda berparas tampan dan berbadan tinggi tegap. Mata cokelatnya yang selalu menyorotkan ketegasan itu terlihat sayu, badannya masih terbungkus dengan selimut tebalnya. Meski dilihatnya jarum jam sudah menunjukan angka tepat jam enam, tapi dirinya masih terlihat enggan beranjak dari tempat tidurnya.
Sejak kemarin setelah dirinya meninggalkan rumah sakit, hatinya diliputi rasa gundah. Kembali aroma yang sangat dirindukannya itu, dapat dirasakan olehnya. Namun dirinya enggan untuk menanyakan langsung, apakah gadis itu yang menggunakannya? Apalagi saat itu hatinya merasa tercubit, kala sang gadis hendak mengembalikan pemberiannya.
Tok! Tok! Tok!
“Masuk saja, Bu. Pintunya gak dikunci, kok,” sahut Arya dari balik selimutnya.
Ceklek!
“Loh, kok belum siap-siap? Kamu sakit?” cecar sang ibu kala melihat putra terkasihnya masih bergelung di atas pembaringannya.
“Enggak, sebentar juga Aku bersiap.” Tiba-tiba saja Arya merasa mendapatkan sebuah ide, dengan wajah bersinar pria itu langsung saja mengemukakan maksudnya.
“Bu, boleh tidak, Aku minta tolong?” Tentu saja Ratih terkejut, wanita yang telah melahirkan Arya ke dunia itu menatap wajah putranya bingung.
“Ada apa, Nak? Sejak semalam, Ibu merasa kamu sedang ada masalah. Ceritalah,” tanya Ratih lembut, kemudian duduk di samping putranya.
“Ibu, bisa ikut denganku sebentar ke rumah sakit?” Arya menatap ibunya dengan penuh harap.
“Hah? Kamu sakit apa, Nak?” Ratih yang mendengar itu langsung panik.
“Bukan Aku, Bu. Tapi …” kemudian mengalirlah cerita tentang kejadian kecelakaan itu, hingga dirinya mengenali aroma parfume yang selalu muncul jika berpapasan dengan gadis itu.
“Jadi … kamu mengira kalau gadis itu adalah Siska Ayuningtyas, putri dari Wisnu Soebroto?” tanya Ratih menatap Arya dengan pandangan tak percaya.
“Ya, Bu. Karena saat kita pindah rumah dulu, Aku sempat memberikan sebotol kecil parfume yang kusuka wanginya. Sekarang, setiap Aku bertemu gadis itu, selalu mengingatkanku dengan Siska, karena aroma itu masih membekas dalam ingatanku.” Arya merasa yakin, sampai-sampai pria itu merubah posisi tubuhnya.
“Ya, Ibu pun masih ingat dengan gadis kecil itu. Dia sangat cantik dan menggemaskan, lesung pipinya itu semakin terlihat mempesona jika dia sedang tersenyum. Ibu memang sudah jatuh cinta sejak pertama kali mengenalnya, tapi … apa Siska, masih mengenali Ibu, ya?” tanya Ratih meragu.
“Kita coba saja, Bu. Setelah sarapan, kita berdua menemuinya di rumah sakit. Oke?” Arya meminta persetujuan dari Ratih sebagai ibunya.
Melihat ibunya memberikan sebuah anggukan, Arya pun melonjak bahagia. Tanpa banyak menunda waktu, bergegas dirinya bangun dan melangkahkan kedua kakinya menuju kamar mandi. Melihat itu Ratih pun hanya menggelengkan kepalanya seraya tersenyum, tak urung dalam hatinya terbesit sebuah harapan jika gadis yang akan ditemuinya tak lama lagi adalah memang benar Ambar.
****
Di sebuah rumah yang sangat sederhana, terlihat seorang gadis cantik berparas lembut dengan kedua lesung pipi menghias indah di wajahnya. Gadis itu tampak buru-buru melangkahkan kakinya memasuki rumah yang bisa dikatagorikan rumah kumuh, dengan dindingnya yang terbuat dari anyaman bambu dan beratap genting yang terlihat sudah lapuk.
Setelah berhasil membuka kunci pintu rumah, gadis itu segera masuk ke dalamnya. Diletakkannya tas selempang yang dibawanya di atas meja, tak lupa segera mengunci pintunya kembali dari dalam. Bergegas masuk ke kamar untuk mengambil handuk dan juga baju ganti, tapi sebelum dirinya beranjak membersihkan diri, terlebih dahulu menyiapkan segala sesuatu yang akan dibawanya kembali. Setelah semuanya siap, segera saja gadis itu membasuh tubuhnya yang terasa penat.
Siraman air dingin yang mengguyur tubuh wanita muda itu, terasa menyegarkan. Membuat rasa letih dan lelah yang baru dirasakannya lenyap begitu saja, berganti dengan semangat dan juga rasa yang menuntutnya untuk segera meninggalkan rumah tersebut. Pikirannya selalu tertuju pada sebuah tempat, di mana sang ayah menunggu kedatangannya segera.
Namun baru saja gadis itu hendak memasukan barang yang hendak dibawanya ke dalam sebuah tas kecil, terdengar sebuah gedoran pintu yang cukup membuatnya terhenyak seketika.
Dor! Dor! Dor!
“Buka pintu, cepat!” Suara seorang pria berteriak dari balik pintu rumahnya.
Bukannya membukakan pintu, wanita itu terlihat seperti ketakutan. Badanya gemetar, keringatnya mulai bergulir membasahi keningnya. Udara mendadak terasa panas dan pengap.
“Siska! Buka puntunya! Aku tahu kalau kamu ada di dalam sana. Buka atau ku dobrak pintu ini sekarang juga!” Kembali teriakan itu terdengar sangat memekakan telinga.
“Ya Tuhan! Tolong Aku ….” Siska berkata lirih, beberapa tetes air matanya terlihat sudah mulai berjatuhan.
Dengan langkah kaki yang gemetar, Siska memaksakan kedua kakinya melangkah menuju pintu dan membukanya. Terlihat sesosok pria muda beberapa tahun di atasnya memasang wajah sangar, dengan kasar pria itu mendorong tubuh Siska ke samping untuk memberi jalan padanya agar bisa masuk ke dalam rumah tersebut.
“Mana Bapak? Kenapa pagi-pagi masih belum bangun? Dasar pria tua pemalas! Gimana mau jadi orang kaya lagi, jam segini masih ngorok.” Pria itu mencercanya seraya kepalanya sibuk mencari keberadaan sosok Ramlan Adireja yang merupakan ayah dari pemuda tersebut.
“Ayah … di rumah sakit, Bang. Beliau kecelakaan kemarin,” jawab Siska, pelan nyaris tak terdengar karena saking gemetar ketakutan.
“Apaa?” pekik terkejut pemuda itu menambah rasa takut dalam hati gadis itu.
“Si*l! Kalau seperti ini, dari mana gue dapet duit buat minum hari ini?” gerundel pria itu, suaranya masih bisa terdengar oleh Siska.
Gadis itu pun meski dalam keadaan kalut, tapi dipaksanya bersikap seolah tak ada apa-apa. Perlahan Siska beranjak untuk merapikan barang yang sudah dikemasnya, beruntung dirinya sudah sempat merapikan diri sebelum pria yang dipanggilnya dengan sebutan Abang itu datang.
“Heh! Mau kemana, Lo?” tanya pemuda itu nyalang, saat dilihat Siska seolah hendak menghindarinya.
“Aku mau ke rumah sakit, Bang. Kasihan Ayah gak ada yang nemani di sana,” kata Siska berusaha menjawab setenang mungkin.
“Bagi gue duit, cepet!” ucapnya.
“Aku gak punya uang, Bang. Biaya rumah sakit pun, Aku belum ada gambaran dapat uangnya dari mana?” jawab Siska.
“Alasan aja, Lo. Gue gak percaya! Kalau pun benar, itu urusan lo, dong. Jangan cuma bisanya ngabisin duit bokap gue doang, buat ngasih makan lo!” hardik pria itu dengan sikapnya yang angkuh.
Mendengar hinaan yang ditujukan padanya, Siska hanya bisa menghela napas. Sudah terlalu sering dirinya mendengar cacian seperti itu. Tak urung jauh di dalam dirinya, terdapat sebongkah daging yang kembali berdarah. Ingin rasanya Siska memberontak dan melawan setiap kata ejekan yang ditujukan padanya, tapi mengingat kebaikan sang ayah membuat semuanya itu ditelannya begitu saja.
“Oke, kalau lo emang gak punya duit, berarti ….”