Tugas Jaga Terakhir di IGD
Malam ini, terakhir kalinya aku bertugas jaga di salah satu rumah sakit Setia Mitra—tempat di mana aku bekerja sebagai dokter umum selama tiga tahun terakhir. Dua hari lagi, aku harus beralih ke pusat laboratorium salah satu rumah sakit di kota besar ini, menjadi seorang dokter forensik dalam sebuah tim yang ada di sana.
"Dokter!" Seorang suster setengah berlari menuju tempatku duduk. Napasnya begitu memburu. Aku yang tengah duduk sambil memeriksa ulang catatan riwayat pasien beralih menatapnya.
"Ada apa, Suster Anna?" Aku berusaha menenangkannya. Sontak badan ini berdiri karena melihat wajahnya yang begitu pucat pasi.
"Suster Firda, beliau epilepsi mendadak. Ada di ruang istirahat, Dok." Sejenak Suster Anna menelan ludahnya dengan berat.
Tanpa berpikir panjang, aku segera berlari melewati lorong-lorong di rumah sakit ini. Memasuki ruang istirahat. Aku melihat Suster Firda yang tengah berjuang dengan epilepsinya.
"Sejak kapan Suster Firda punya penyakit ini?" tanyaku pada dua orang petugas yang telah datang mendahuluiku.
"Beliau tidak pernah punya penyakit epilepsi, Dok," sahut salah satu dari mereka.
Aku mengerutkan kening, mencoba untuk menjauhkan kedua orang tersebut dari ranjang suster Firda. Kuamati lagi kejang yang dialami suster itu. Bola matanya terbelalak ke atas. Posisi tangan dan kakinya seperti mencengkeram seprei, bukan kejang-kejang seperti penderita epilepsi pada umumnya. Diri ini tak bisa berbuat banyak, hanya mampu membuka pintu ruangan agar pergantian udara optimal.
Mendadak, beliau terhenti. Ada suara tapak kaki mendekat. Ternyata, Suster Anna menghampiri kami.
"Bagaimana kondisi beliau, Dok?" Raut wajahnya begitu lega melihat suster Firda yang sudah berhenti dari kejangnya.
"Dokter!" tunjuk salah satu petugas tadi. Kami semua fokus pada bola mata suster Firda yang sekarang ini terbelalak lebar. Padahal, dia tadi sudah tenang. Kenapa bola matanya begini?
"Suster! Bangun, Sus!" Aku mendekati ranjang, mencoba untuk menepuk lengan atasnya. Agak lama dia terbelalak dengan posisi itu.
Tiba-tiba saja terdengar suara petir yang menggelegar, membuat kami tersentak dari tempat berdiri. Aku menjauh dari ranjang, menoleh pada mereka satu persatu. Anehnya, mereka bertiga terpaku pada satu titik. Siapa lagi kalau bukan Suster Firda.
Kami mendengar isak tangis tertahan yang ke luar dari mulutnya. Dia sudah berganti posisi, duduk di pinggiran ranjang, tidak berbaring seperti tadi. Kepalanya menunduk dalam. Aku dan suster Anna saling berpandangan.
"Suster Firda, Anda kenapa? Kalau sedang sakit, sebaiknya beristirahat saja di rumah, Sus!" Aku harus mengambil tindakan.
"Bawa saya ke luar dari tempat ini, Dok!" Suaranya bergetar hebat.
"Bawa saya pergi jauh dari tempat ini!" Kepalanya masih menunduk, kelopak matanya terpejam. Aku tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Bibirnya kembali mengatup rapat. Tubuhnya meringkuk memeluk lutut.
"Papah Suster Firda ke tempat pendaftaran! Biarkan beliau memenangkan diri di sana!" titahku pada dua petugas tadi.
Setelah berhasil membawa suster Firda ke luar dari tempat ini, aku menutup jendela yang terbuka. Biasanya, jendela ini selalu ditutup ketika senja tiba. Ini, sudah malam jam sembilan pun masih dibiarkan terbuka. Aku sampai geleng-geleng kepala melihat petugas yang beristirahat di ruangan ini sejak tadi.
Kaki ini melangkah pergi meninggalkan ruangan. Melewati kembali koridor rumah sakit. Aku harus memastikan keadaan suster Firda dahulu sebelum melanjutkan pekerjaan. Beruntung sekali, malam ini pasien yang masuk hanya satu dua saja.
Sesampainya di sana, kulihat suster Anna memberikan gelas berisi air putih pada rekannya—suster Firda.
"Sus, kenapa tadi? Sejak kapan Suster punya riwayat penyakit epilepsi?" Tanpa basa-basi, Anna langsung bertanya.
Tak ada jawaban, hanya gelengan kepala yang digunakan sebagai responnya. Aku menghampiri mereka. Duduk di sebelah Firda yang berusaha menenangkan diri.
"Ada apa sebenarnya, Sus? Kalau bukan epilepsi, kenapa tadi Suster kejang-kejang? Lama lho durasinya." Aku mulai penasaran dengan kejadian tadi. Apa mungkin suster Firda menyembunyikan penyakitnya pada kami semua? Segala kemungkinan bisa saja terjadi.
"Saya tidak pernah memiliki penyakit epilepsi." Firda mencoba menghela napas sejenak.
"Saya melihat ada pocong setinggi dua meter meloncat dari jendela ke arah saya di ranjang. Sejak melihat itu, saya tidak tahu apa yang terjadi selanjutnya. Saya tidak ingat apa-apa lagi." Firda berkata pelan, seolah berbisik pada kami.
"Ppp-poo-pocong?" Anna tergagap, dia meremas tangannya. Bahunya bergidik.
Firda mengangguk. Tapi menurutku, bisa saja itu hanya alasan suster Firda untuk menutupi penyakit epilepsi yang dia derita. Aku seorang dokter, tidak mungkin percaya pada hal seperti itu. Semuanya bisa dijelaskan dengan logika.
"Pocongnya seram ya, Sus?" Sengaja aku memancing reaksi Firda.
"Dokter Bian, kenapa diungkit lagi? Jangan bahas hal begituan di sini, Pak! Duh, saya merinding nih. Mana tadi nyium wangi pandan walau pun sekilas." Anna duduk menggeser posisi kursinya agar lebih dekat dengan kami.
Suster Firda diam tak menanggapi, kepalanya menunduk dalam. Sepertinya, dia tidak mau menatap wajah kami.
"Itu cuma perasaan Suster Anna saja. Kita ini petugas medis, jangan terlalu percaya dengan hal ghaib! Semua bisa dijelaskan oleh logika." Dengan entengnya aku berucap demikian. Ya, selama ini aku tidak ambil pusing oleh pengalaman beberapa petugas medis di rumah sakit ini. Mereka mengaku sering mendengar bisikan dan bau-bauan aneh yang menyengat. Dalam kondisiku yang memiliki kelainan anosmia, tentu saja aku tidak tahu bau aneh seperti apa yang mereka maksud.
Mata ini mulai memanas. Sebaiknya, aku memejamkan mata walau barang sejenak. Lumayan untuk meredakan mata panas dan perih, karena terlalu lama mengecek riwayat pasien yang sedang menjalani rawat inap.
"Oh iya, saya mau beristirahat sebentar. Kalau ada pasien datang, bangunkan saja!" Aku beranjak dari tempat duduk. Meninggalkan keduanya yang sejak tadi terdiam dengan pikiran masing-masing.
Kaki ini melangkah dengan santai, melewati koridor hingga akhirnya sampai di ruang istirahat tadi. Kulepaskan sepatu, naik ke pembaringan. Merentangkan kedua tangan sebentar untuk melemaskan otot-otot yang kaku. Tubuh ini berbaring telentang, menutup kedua kelopak mata.
Entah berapa lama aku tertidur, ada yang aneh pada tubuh ini. Aku ingin bangkit dari pembaringan, tapi, badan terasa berat. Ketika ingin membuka kelopak mata pun, begitu sulit. Kelopak mata seperti dilem dengan perekat yang sangat kuat.
"Gimana ini? Gangguan sleep paralysis mendera. Baru kali ini aku mengalami otak dan tubuh tidak sinkron," batinku mulai panik.
Aku berusaha menggerakkan kaki dan tangan, tapi hasilnya nihil. Beberapa saat kemudian, mata ini akhirnya dapat terbuka walaupun sedikit memicing.
Aku merekam kejadian yang kulihat barusan. Begitu nyata di depan mata. Napas menjadi sesak, panik semakin bertambah. Mulut ini sedikit menganga. Tiba-tiba ada tangan menepuk lengan atas. Sontak aku terkejut bukan main.