LNCrawler

Mulai Percaya pada Hal Ghaib

Pesan Pasien Tak Kasat Mata — gooddreamer.id · All chapters

Mulai Percaya pada Hal Ghaib

Aku  melihat seorang wanita yang sepertinya kukenal. Mata ini mulai bisa terbuka lebar.

"Dokter Bian, bangun Dok! Ada pasien baru masuk IGD." Suara itu begitu familiar.

Dengan napas tersengal, aku bangkit setengah duduk. Alhamdulillah, badan bisa digerakkan. Mata ini menatap suster Anna yang membangunkanku. Rasa syukur hinggap karena dia benar-benar Suster Anna.

"Dokter kenapa, sakit? Mukanya pucat begitu." Dia menatapku dengan tatapan penuh tanda tanya. Lampu ruangan ini begitu terang, membuat mataku silau. Tapi, lama kelamaan mataku sudah terbiasa dengan cahaya ruangan ini.

"Suster Anna. Saya pikir tadi mengalami sleep paralysis, ternyata dugaan saya salah."

"Apa yang Dokter maksud? Salahnya di mana, Dok?" Keningnya mengernyit.

Aku menyeka keringat dingin yang mulai menetes dari pelipis.

"Tadi, saya melihat ada seorang wanita berambut panjang duduk di betis. Dia duduk membelakangi saya, jadi, saya tidak tahu wajahnya seperti apa. Saya ketindihan beneran, Sus. Semua anggota tubuh termasuk mata, begitu sulit digerakkan."

Suster Anna yang mendengar penjelasanku begitu ketakutan. Aku pun yang melihatnya secara langsung juga mendadak merinding.

Kami berdua saling berpandangan sekilas, menyadari ancaman yang bisa saja terjadi ketika berada di tempat ini. Mendadak lampu yang tadi menyala terang, langsung padam begitu saja. Kami sontak berlari kencang, pergi sejauh mungkin dari ruangan istirahat tadi.

Kami kembali ke tempat pendaftaran yang ada di lobi rumah sakit, mencoba menenangkan diri. Suster Firda yang melihat kami berdua dengan raut wajah pucat pasi dengan napas memburu, mengernyit heran.

"Dokter sama Suster kenapa? Pasiennya sudah kami antar ke IGD, bukan di sini."

"Dokter Bian ketindihan wanita berambut panjang." Anna menjawab dengan suara yang bergetar. Semuanya terjadi padaku, benar-benar terjadi. Bukan mimpi atau pun rekayasa lainnya. Aku tidak salah lihat.

"Duh, saya tidak mau lagi beristirahat di ruang sana. Takut kalau sendirian menghadapi makhluk itu, ngeri." Firda bergidik. Apa yang dia katakan tentang pocong tadi, mungkin ada benarnya.

Aku berusaha menormalkan kembali detak jantung yang rasanya mau lepas dari tempatnya.

"Suster Anna, Suster Firda ... saya ke IGD sekarang." Setelah berhasil menenangkan diri, kaki melangkah menuju ruangan IGD. Ada pasien yang butuh bantuan. Aku harus menepis ketakutan tadi, mementingkan kepentingan pasien karena ini menyangkut  nyawa manusia.

Sebuah pengalaman horror pertama dalam hidupku, yang akhirnya membuatku semakin dekat dengan hal yang tak kasat mata, tanpa disadari.

***

Sejak kecil, aku—Bian Alvaro, tidak pernah tahu wangi masakan Ibu, wangi parfum yang beliau pakai dan wangi tubuh beliau yang selalu menemani. Diri ini memang memiliki kelainan, Anosmia yang kupunya sedari lahir membuatku tersudut seorang diri. Dianggap aneh dengan teman-teman sebaya karena tidak bisa membedakan mana bau sampah dengan harumnya bunga.

Seiring bertambahnya usia, menjadikanku semakin bijak dalam menghadapi anosmia yang kupunya. Usiaku sudah memasuki dua puluh tujuh tahun. Sangat  tidak menyangka,  ujian profesi untuk menjadi dokter forensik yang kuikuti, ternyata lulus dan mengantarkan aku menjadi seorang dokter forensik. Bau mayat ataupun bau anyir darah di ruang autopsi sama sekali tidak mengganggu karena kelainan anosmia yang dimiliki sejak lahir. Pada awalnya, aku merasa memiliki kutukan karena anosmia itu. Kini, entah kenapa aku bisa menyebutnya sebagai berkah.

Sudah sebulanan ini aku menjalani profesi sebagai dokter forensik. Malam ini, ada mayat yang diantar pada kami ke ruang autopsi. Aku, Reno dan seorang dokter forensik senior menangani korban kecelakaan yang tewas di tempat. Reno baru bergabung dengan tim kami beberapa hari terakhir.

Kami melakukan ritual sebelum memulai visum maupun pembedahan mayat. Hal ini kami lakukan sebagai bentuk penghormatan pada mayat yang kami tangani.

"Reno, pimpin ritualnya!" Reno yang penakut malah tersentak mendengar perintah dari senior.

"Duh, Pak. Jangan saya, Pak Bian saja!" Dia malah menudingku.

"Kamu ini ... kenapa jadi dokter forensik kalau meminta izin pada mayat saja takut. Ada yang aneh sedikit saja takut, mayat bergerak, takut. Alat medis jatuh juga terlonjak kaget dan ketakutan." Seniorku yang bernama Jaya merasa jengkel dengan penolakan Reno.

"Biar saya saja yang meminta izin agar tidak membuang waktu, Pak." Pak Jaya mengangguk mantap. Urusan dengan Reno nanti saja dibicarakan. Mayat ini lebih penting.

"Bismillah, kami bertiga minta izinnya, Bu. Kami bantu sebisa kami, semoga kebenaran bisa terungkap. Mudahkan kami mencari petunjuk." Kami pun memulai visum sesuai prosedur.

Ritual khusus seperti ini, memang selalu kami lakukan untuk meminta izin kepada mayat yang akan kami tangani. Kami menganggap bahwa mayat-mayat ini sama seperti pasien hidup lainnya.

Sudah hampir dua jam kami berkutat dengan mayat korban kecelakaan ini. Kami sudah menetapkan kondisi mayat yang kami tangani. Memberikan catatan pada yang bersangkutan.

Akhirnya, aku beristirahat sejenak di ruangan yang tersedia untuk kami.

"Mas Bian, ada yang aneh dengan wajah Ibu tadi." Aku mengernyitkan kening mendengar ucapan Reno.

"Memangnya aneh kenapa? Wajar saja kalau korban kecelakaan. Luka pasti ada di mana-mana." Dengan entengnya aku menjawab.

Selama sebulan bekerja di ruang autopsi, aku belum pernah mengalami kejadian aneh.

"Tadi tangannya bergerak, Mas." Reno bergidik, tubuhnya semakin merapat.

"Woi, gak usah gitu juga dong!" Aku menjauh darinya. Kami terbiasa mengobrol dengan gaya bahasa santai ketika berada di luar ruangan autopsi.

"Perasaan Elu nih sensitif. Padahal gak ada yang aneh."

"Tapi, Mas." Dia tidak melanjutkan ucapannya karena aku sibuk memandangi layar hape.

"Ibu, kenapa dia menelpon?" gumamku.

Aku bergegas menjawab panggilan Ibu.

"Assalamualaikum ,  ada apa, Bu?"

"Waalaikumsalam, Ibu minta tolong padamu, boleh tidak?"

"Katakan saja, Bu!"

"Ibu ingin makan mie pangsit yang ada di jalan Thamrin. Boleh belikan untuk Ibu?"

Aku pikir Ibu ingin makan apa, sampai-sampai meminta tolong segala. Beginilah Ibu, masih saja sungkan padaku—yang jelas-jelas anak kandungnya sendiri.

"Siap komandan. Tapi, aku pulangnya agak malam, Bu. Jam sepuluh lebih sampai rumah."

Ibu mengiyakan saja, pembicaraan kami di telepon terputus. Aku kembali menatap Reno. Kemudian meninggalkannya pergi ke musholla. Reno memanggil, tapi, aku tidak menggubrisnya.

Setelah menjalankan kewajiban, aku kembali memberikan catatan penting mengenai kondisi mayat yang ditangani tadi. Setelah dirasa cukup, aku bergegas pulang, menyetir mobil sendiri.

Kini, aku sudah berada di sebuah tenda penjual mie pangsit yang ibu pesan. Berhubung antriannya panjang, kuputuskan untuk menunggu di mobil saja. Tak sampai dua puluh menit, ada seseorang mendekat membawa bungkusan.

Kami bertransaksi, kuberikan saja kembaliannya pada si pengantar makanan.

"Ambil saja kembaliannya, Bang!"

"Wah, terima kasih banyak, Mas."

"Makasih ya, Bu!" ucapnya begitu sumringah sambil sedikit menundukkan kepala di kursi belakang, kemudian dia berlalu pergi.

"Ibu? Ibu siapa yang dia maksud? Aku kan sendirian di dalam mobil," lirihku hampir tak terdengar. Mendadak aku merasakan hawa dingin yang menusuk tulang. Bulu kudukku meremang seketika.