LNCrawler

Diikuti Makhluk Tak Kasat Mata

Pesan Pasien Tak Kasat Mata — gooddreamer.id · All chapters

Diikuti Makhluk Tak Kasat Mata

Aku berusaha menenangkan diri, mencoba untuk mengatur napas. Kendaraan ini mulai melaju menuju rumah. Hawa dingin tadi tak kunjung pergi.

Tiba-tiba saja tengkuk seperti diusap dengan cepat. Aku berusaha fokus pada jalanan. Sedikit demi sedikit, kuberanikan diri mengintip melalui kaca spion yang ada di atas dasbor. Mata ini terbelalak melihat keberadaan seorang wanita dengan wajah dan tubuhnya, penuh luka-luka yang dialiri darah segar di kursi belakang. Aku merapal doa-doa dalam hati.

Wajah yang pernah kulihat itu diam tak bergerak. Hanya duduk dengan pandangan kosong. Wajah itu milik mayat yang tadi aku autopsi. Kenapa dia mengikuti? Apakah aku melakukan kesalahan pada tubuhnya yang terbujur kaku?

"Maaf ya, Bu. Apapun masalah Anda, saya tidak bisa membantu. Urusan kita sudah selesai, seiring dengan catatan akhir yang keluar setelah proses visum tadi. Mohon maaf sekali." Aku memberanikan diri. Hawa dingin masih saja menusuk, tubuhku mulai bergetar. Rasa takut yang sejak tadi menyelusup, tidak bisa hilang begitu saja.

Wanita itu masih duduk terdiam di kursi belakang, pandangan matanya kosong. Hawa aneh kembali menyiksa diri. Kupercepat laju kendaraan, bersamanya membuat tenagaku semakin lemas. Hanya duduk berdiam diri saja sudah membuat jantung ini berdebar kencang.

Setelah masuk ke kompleks perumahan, aku melirik cermin spion, bagaikan sebuah panah melesat cepat, sosok itu pergi meninggalkan kendaraan. Sosoknya bagaikan terisap oleh udara, berubah menjadi asap kemudian lenyap begitu saja. Sungguh pertama kali aku menyaksikan langsung makhluk tak kasat mata yang menghilangkan diri begitu saja. Sepersekian detik lenyap tak ada jejak.

Aku menghentikan kendaraan ini tepat di depan rumah. Refleks segera ke luar dengan tergopoh.

"Bu! Bu!" Aku mengetuk pintu beberapa kali dengan tak sabar.

Pintu terbuka sedikit, kepala Ibu menyembul.

"Kamu ini, bukannya memberikan salam, malah gedar gedor pintu." Ibu kesal.

"Maaf, Bu. Bian buru-buru mau ke toilet." Aku terpaksa berbohong. Dengan cepat berjalan menuju kamar mandi yang bersebelahan dengan dapur.

Aku hanya mencuci wajah saja agar Ibu tidak curiga kalau aku berbohong. Setelah ke luar dari kamar mandi, aku menghampiri beliau yang duduk di sofa, menonton televisi.

"Mana pesanan Ibu?" tanyanya.

"Astaga, maaf, Bian lupa. Ada di mobil, tapi." Aku menelan ludah dengan berat. Tak mampu berbicara.

"Tapi apa? Biar Ibu saja yang ambil. Mana kuncinya?" Aku teringat bahwa tidak mencabut kunci mobil dari tempatnya.

"Gak dikunci, Bu. Tepatnya sih, belum dikunci." Ibuku menggeleng beberapa kali.

"Bian, Bian, teledor kamu, Nak." Beliau pergi meninggalkanku seorang diri.

Aku hidup di rumah ini hanya berdua saja dengan Ibu. Bapak sudah meninggal sebelum menjadi seorang dokter umum. Saudara tertua laki-lakiku sudah pindah ke luar pulau bersama istrinya. Setahun dua kali barulah Bang Rendi dan istrinya datang menjumpai Ibu. Keputusan mendadak Bang Rendi membuat kami terkejut. Kehidupannya di kota besar sangatlah nyaman. Pekerjaannya juga tidak main-main, tapi, entah kenapa dia malah memilih hidup bersama keluarga istrinya di pulau Sumatera.

Suara langkah Ibu menyadarkan aku dari lamunan. Kutatap wajah beliau yang sudah keriput. Pasti beliau merasa kesepian karena hidup sendiri di rumah ini.

"Temenin Ibu makan ya?!" Aku mengangguk, tak sanggup menolak.

Kami berdua pindah ke ruang makan yang tepat berada di dapur. Kulihat beliau menyuapi makanan dengan lahap. Tanpa sadar aku tersenyum tipis. Rasa takut tadi sudah menghilang sepenuhnya.

"Ibu tidak bisa menghabiskannya, kamu yang habiskan ya!" Beliau menyodorkan piring padaku. Aku mengikuti kemauan wanita paru baya itu.

Kami mengobrol banyak hal sebelum akhirnya masuk ke dalam kamar masing-masing. Aku memang kurang bersosialisasi dengan orang luar. Tapi, ketika di rumah dan menghadapi Ibu,  tidak bisa kalau tidak mengobrol dengan beliau.

Lampu tidur kunyalakan, merebahkan badan ini di ranjang, baru saja menutup mata, tiba-tiba hawa dingin terasa menusuk. Padahal, sengaja kamar ini kumatikan pendinginnya. Hanya mengandalkan kipas angin saja. Mata ini terbuka kembali.

"Astaghfirullah." Sontak aku berdiri dari pembaringan. Berjalan mundur menghampiri pintu. Bulu kuduk seketika meremang.

Sosok itu mengikutiku, pandangannya masih kosong. Luka-luka dan darahnya yang mengalir masih ada.

"Tolong, jangan ikuti saya! Dunia kita berbeda. Kembalilah ke asal, Bu!" Dengan suara bergetar, aku mencoba untuk mengusirnya.

Kakinya tak menapak, rambutnya begitu kusut dengan pakaian yang sudah berlubang di mana-mana. Tangannya menunjuk sesuatu, aku berusaha mengalihkan perhatian pada apa yang dia tunjukkan.

"Lemari? Ada apa dengan lemari?" Aku berhasil memutar kenop pintu, langsung berlari ke luar kamar.

Lampu ruangan tengah aku nyalakan. Ada sosok lain yang membuatku terkejut. Sosok itu berdiri hendak duduk di sofa.

"Bian, kamu ini kenapa? Kamu sakit ya? Wajahmu pucat begitu." Ternyata Ibu, beliau memegang gelas berisi air.

Aku bingung harus berkata apa. Sejak kejadian di ruang IGD sebulanan yang lalu, aku tidak pernah melihat lagi makhluk tak kasat mata. Kini, aku bisa melihatnya lagi. Malah, sosok itu sepertinya sengaja menampakkan diri. Apakah aku harus memberitahu pada Ibu?

"Bian," suara beliau terdengar.

"Eum, tidak apa-apa, Bu. Tadi rencananya mau ambil air minum. Tapi, udah gak haus lagi nih. Bian kembali ke kamar dulu, Bu." Aku berusaha memberanikan diri.

"Ini kamarku, kenapa harus aku yang pergi?" Aku menepis rasa takut dalam diri. Apalagi sosok itu sudah tidak ada lagi di sini. Lega rasanya, aku kembali beristirahat. Mata ini mulai terpejam, berdoa dalam hati.

Aku mendengar suara orang bernapas, suaranya begitu berat dan dekat. Entah sudah berapa lama aku tertidur. Kucoba membuka mata, ada hal mengejutkan yang ada di langit-langit kamar.

Aku seperti melihat putaran film di atas sana. Adegan demi adegan kulihat dengan jelas, sampai aku benar-benar memperhatikan seseorang yang sepertinya, aku pernah melihat wajahnya. Orang itu bertengkar dengan anak remajanya, sampai akhirnya dia mengejar sang anak dan tertabrak sebuah truk barang angkut, tubuhnya terpental jauh dari jalan raya. Kecelakaan tragis itu tidak bisa terelakkan lagi.

"Tidaaaakkk!" pekikku spontan.

Napasku tersengal, keringat bercucuran membasahi pelipis kanan kiri. Ternyata, itu semua hanyalah mimpi. Aku duduk setengah berbaring. Kulihat bantal dan guling berceceran di lantai.

Aku berusaha menenangkan diri, ada sosok itu yang lagi-lagi muncul tiba-tiba. Dia kembali menunjuk lemari, raut wajahnya kali ini tidak datar. Ada cairan merah yang mengalir dari sudut matanya.

"Anakku, anakku." Suara itu begitu pilu,  menyayat hati, menggema memenuhi ruangan.

Aku bingung harus berbuat apa, badanku begitu sulit digerakkan. Mulut ini seperti terkunci rapat, tak mampu berbicara. Tangan sosok itu masih menunjuk lemari. Apa yang harus aku lakukan? Kenapa dia menerorku lagi dan lagi?