Teror Hantu Wanita
Suara deritan pintu membuatku tersadar. Sosok itu menghilang begitu cepat. Akhirnya, badan ini dapat digerakkan kembali. Aku melihat wanita paru baya yang melahirkanku berdiri di ambang pintu. Napas yang tersengal mulai kembali normal.
Beruntung sekali aku lupa mengunci pintunya.
"Ayo ke masjid! Adzan shubuh sudah selesai berkumandang." Perkataan Ibu membuatku terkejut.
"Sudah shubuh? Kenapa telinga ini tidak mendengar adzan shubuh? Masjid begitu dekat dengan rumahku, ada di depan kompleks. Selalunya suara adzan pasti terdengar," batinku merasakan ada kejanggalan.
Dengan menepis semua dugaan, aku harus mandi dan bersiap untuk melaksanakan kewajiban. Kami berdua berjalan kaki menuju masjid yang ada di depan kompleks. Rutinitas pagi, kami lakukan bersama-sama, kecuali memasak tentunya.
Sekitar jam sembilan pagi, barulah aku kembali bekerja. Setibanya di sana, Reno menunggu kedatanganku.
"Dokter Bian ... ada keluarga korban yang ingin bertemu." Aku menautkan kedua alis.
"Keluarga korban?" Reno mengangguk cepat.
"Korban kecelakaan kemarin," tambahnya.
"Ibu-ibu muda itu?" Rekan satu timku itu mengangguk.
"Banyak nanya nih, Dok. Ayo ikut!" Dengan langkah ragu, aku mengikuti langkah Reno.
Kami tiba di ruangan senior, ada satu orang remaja dan bisa jadi orang di sampingnya itu ayah dari remaja itu. Keduanya menatap kedatangan kami.
"Itu dia, wajah Om itu yang datang ke dalam mimpiku." Aku terperangah mendengar perkataannya.
"Mimpi? Mimpi apa maksudnya?" tanyaku kebingungan.
"Duduk saja dulu di sini, Dokter Bian!" seru Pak Jaya.
"Kami berdua akan ke luar, silakan berbincang langsung dengan orangnya." Senior dan Reno ke luar dari ruangan ini. Hanya ada aku dan dua keluarga korban. Aku masih bingung dengan apa yang terjadi.
"Om, Om nyimpen kunci milik Ibu, ya?" Mulut ini terbuka separuh, terperangah mendengar pertanyaan yang dilontarkan remaja perempuan ini. Raut wajah remaja itu begitu sayu, kantung mata begitu hitam dan bengkak. Aku yakin sekali kalau dia bersedih atas kematian Ibunya.
"Aaa-app-apa maksudnya?" gagapku, masih tak mengerti.
"Begini Pak, eum saya bingung harus memanggil apa." Tatapan pria itu begitu lekat.
"Panggil saja, Bian," sahutku.
"Jadi begini, Dokter Bian, kami dihubungi pihak rumah sakit untuk mengambil jenazah almarhumah istri saya. Memang benar almarhumah istri saya murni mengalami kecelakaan karena musibah. Saya juga sudah melihat rekaman cctv jalan raya. Masalahnya, semalam itu, anak saya bermimpi ibunya. Dia bilang ada satu barang yang tertinggal. Barang itu adalah kunci milik istri saya."
"Beneran Om, saya itu gak bohong. Ibu sendiri yang bilang dan saya melihat wajah Om di mimpi. Ayah awalnya gak percaya, saya bingung harus bagaimana." Remaja berusia sekitar tiga belas tahun itu berkata, entah jujur atau malah sebaliknya.
Aku menghela napas panjang, apa yang harus aku lakukan? Sementara aku tidak tahu apa-apa tentang kunci yang dimaksud.
"Begini ya, Pak, Dek, saya tidak tahu tentang kunci yang kalian bicarakan. Saya juga bingung harus memberikan kunci apa. Kalian sudah melihat barang-barang yang dibawa almarhumah?" Keduanya mengangguk.
"Ibu gak bawa apa-apa kecuali pakaian yang dia kenakan. Ibu mengejar saya, makanya Ibu tertabrak, huaaa." Gadis cantik di depanku menangis kencang. Sang ayah merangkulnya seakan memberikan kekuatan. Kenapa bocah ini diperlihatkan rekaman cctv itu? Semoga saja setelah ini kesehatan mentalnya aman.
"Tidak! Bukan karena kamu, ini semua sudah takdir, jangan pernah menyalahkan diri sendiri. Masalahnya, sekarang apa yang harus saya lakukan? Kunci yang kalian maksud juga saya tidak tahu ada di mana." Aku masih kebingungan.
Kami bertiga terlonjak dan melihat pada satu titik. Pintu tertutup dengan sendirinya, suara yang ditimbulkan begitu kencang.
"Aneh," gumamku.
"Jadi, apa yang harus kami lakukan?" Pria itu menatapku.
"Tentu saja makamkan jenazahnya, Pak! Ikuti proses seperti biasa, tapi, Anda dan anggota keluarga lainnya harus menyiapkan diri ketika melihat bekas luka pada jenazah." Lebih baik kujelaskan saja kondisi terakhir dari jenazah tersebut.
"Tapi, Ibu, Ibu."gadis itu terisak-isak sambil sesenggukan.
"Maaf kalau saya tidak bisa membantu. Saya tidak tahu tentang kunci yang kalian maksud." Bukannya mengusir, aku harus kembali bekerja karena ada pesan baru dari Reno.
"Ayah." Gadis remaja itu merengek pada ayahnya.
"Kita pulang untuk urus jenazah Ibu dulu, Nak! Setelah itu kita kemari lagi." Mendengar ucapan ayahnya, gadis itu langsung terdiam.
Keduanya pergi setelah berpamitan. Aku harap proses pemakamannya berjalan lancar. Pak Jaya dan Reno ternyata menunggu di luar ruangan, mata kami saling beradu pandang.
"Kunci apa yang mereka bicarakan?" Aku mengendikkan bahu.
"Kebiasaan kamu ya, pasti nguping." Pak Jaya menginjak sepatu Reno.
"Aduh, sakit Pak," ringisnya.
"Sudahlah, ayo kita pergi ke ruang autopsi. Ada yang bunuh diri, jasadnya baru saja dikeluarkan dari ambulans." Pak Jaya memberikan informasi.
"Bunuh diri? Serem juga ya." Reno semakin merapatkan tubuhnya padaku.
"Kebiasaan." Aku mendorong tubuhnya agar menjauh.
"Maaf, Dokter Bian. Spontanitas tadi."
Kami bertiga melewati koridor rumah sakit. Kupikir mayat yang mereka bawa belum sampai ke ruang autopsi, tapi ternyata mayat itu sudah ada di meja autopsi. Ada dua orang petugas yang menyapa kami, menyerahkan secarik kertas pada Reno.
"Apa ini?" Reno membuka secarik kertas yang sudah kusut.
"Itu pesan sebelum dia bunuh diri, Dok."
Kenapa malah memberikannya pada kami? Seharusnya bagian penyidik yang menangani pesan itu. Kulihat Pak Jaya mengangguk, keduanya segera berlalu dari hadapan kami.
"Huueeek, hueeek." Reno yang masih lemah terhadap bau mayat masih berusaha mengendalikan diri.
"Ck, ck, ck. Aku gak tahu lagi harus bilang apa pada dokter satu ini." Pak Jaya menggelengkan kepalanya.
"Baunya busuk sekali, Dok. Perut saya gak tahan, langsung mual."
Aku, tentu saja tidak mencium bau apapun. Anosmia yang kupunya membuat tidak bisa mencium bau apapun.
"Wajar saja kalau sudah busuk, lihatlah kondisi mayatnya! Sudah kaku dan agak hijau begitu. Langsung periksa sesuai prosedur!" titah senior kami.
Reno mengambil alat bantu yang akan kami gunakan. Seperti biasa, ritual meminta izin tidak pernah kami lupakan.
Kami melakukan visum luar dahulu, ketika tidak ditemukan adanya kejanggalan, kami tidak melanjutkan prosedur selanjutnya.
"Dokter Reno, catat semua keterangan jenazah! Berikan pada penyidik secepatnya!"
"Baik Dok." Reno menelan ludahnya dengan berat. Kali ini dia yang harus mengurus semuanya.
Tak terasa, waktu begitu cepat berlalu. Hari berganti gelap, aku mengecek kembali keterangan yang Reno berikan sebelum memberikannya pada petugas penyidik.
"Anakku, anakku." Suara itu, suara yang pernah kudengar sebelumnya.
Aku berada seorang diri di ruangan ini, gorden jendela bergoyang seakan dipermainkan angin kencang.
"Bu, tolong jangan ganggu saya!" Walaupun aku mampu berucap, tapi, tetap saja tidak mengurangi rasa takut karena kedatangan sosok itu. Lagi-lagi aku diikuti olehnya.
Sosok itu kembali muncul di depan mata. Kali ini, wajahnya tidak terlalu seram, darah yang mengalir sudah menghilang. Tapi, tetap saja rasa takut masih menyelimuti diri. Apa yang sosok itu inginkan dariku? Kenapa makhluk ini menerorku?