Pesan Korban Kecelakaan
Mendadak lampu ruangan ini padam dan menyala bergantian, lemari yang berisi berkas- berkas penting terbuka. Sosok itu semakin mendekat padaku. Seperti gerakan lambat, tubuh ini berusaha untuk bangkit, beranjak pergi dari ruangan ini.
Suara benda terjatuh membuatku tersentak, aku melihat laci yang terjatuh dari lemari yang terbuka. Kakiku tidak bisa digerakkan, mata ini hanya terpaku pada satu titik. Ada kunci tergeletak di lantai bersama beberapa barang kecil lainnya.
"Kunci, kunci itu punya Ibu?" Aku memberanikan diri menatap sosok itu.
Dia mengangguk pelan kemudian tiba-tiba menghilang seperti asap. Hawa dingin yang sejak tadi mengintai, kini, sudah normal kembali. Aku berusaha untuk menormalkan detak jantung ini. Badan masih bergetar, aku menatap kunci itu dan terduduk di lantai, badan lemas seperti tak bertulang.
"Astaghfirullah, aku lupa kalau kunci ini aku temukan di luar ruangan autopsi," gumamku seorang diri. Aku baru teringat akan kunci tersebut.
Kenop pintu berputar, aku spontan mendekati kolong meja. Siapa tahu tidak bisa melihat makhluk tak kasat mata kalau bersembunyi di tempat ini. Aku mendadak merinding kembali mengingat keteledoran yang dilakukan.
"Dokter Bian!" suara itu, aku lega mendengarnya.
"Ada apa, Dokter Reno?" Aku segera ke luar dari tempat persembunyian.
"Ngapain di bawah sana, Dok? Itu laci dan isinya kenapa bisa ada di lantai?" Haruskah aku mengatakan kejadian sebenarnya pada Reno? Bisa-bisa dia tidak percaya, atau mungkin saja takut yang berlebihan. Sebaiknya aku diam saja, memberikan jawaban masuk akal.
"Aku lagi nyari berkas yang terselip, tapi ternyata tidak ada di sini. Tolong bantu aku rapikan lagi ya, Dok!?"
Reno menghampiriku, dengan cepat aku meraih kunci yang masih tergeletak. Memasukkan ke dalam kantong kemeja. Kami berdua sibuk dengan kertas dan beberapa barang yang tergeletak tak beraturan di lantai.
Tak lama, aku mengucapkan terima kasih pada Reno. Dia mengajakku makan malam di luar.
"Aku harus pulang, Ibu menunggu." Kutolak ajakannya.
"Padahal mau ngenalin Dokter pada seseorang." Aku mengerutkan kening.
"Mau ngenalin siapa?" tanyaku.
"Kalau gak bisa malam ini ya sudah, Dok. Lain kali saja deh." Reno berlalu pergi dari ruangan ini. Aku mengendikkan bahu, mengambil tas kerja dan berlalu pergi dari ruangan ini. Tak lupa aku membawa sebuah berkas berisi catatan tambahan.
Aku menanyakan kontak keluarga korban kecelakaan kemarin pada staf yang bertugas, sekaligus menyerahkan data dan catatan tambahan. Besok pagi, aku harus memberikan kunci ini pada mereka.
Aku pulang dengan perasaan lega, satu kejanggalan sudah terlewati.
***
Mentari sudah menampakkan wujudnya, aku menghubungi nomor ponsel yang petugas berikan semalam.
"Halo, siapa ya?" Kudengar suara yang agak ragu di seberang sana.
"Pak, saya dokter Bian. Dokter yang menangani jenazah istri Bapak."
"Oh iya, ada apa, Pak Dokter?"
"Saya minta alamat lengkap Bapak, boleh?"
"Boleh, alamat kami di sini, Pak Dokter." Beliau menyebutkan sebuah alamat.
"Saya akan ke sana, Pak."
"Memangnya ada apa, Pak Dokter? Sepertinya terburu-buru begitu."
Aku tidak menjelaskan maksud kedatangan. Hanya mengungkapkan bela sungkawa saja. Lebih baik ke sana tanpa menunda lagi. Setelah berpamitan pada Ibu, kukendarai mobilr ini ke alamat tujuan. Jarak tempuh dari rumah ke alamat tersebut memang cukup jauh. Ya, kira-kira menghabiskan waktu setengah jam di perjalanan.
"Sepertinya di sekitar sini," batinku sambil mencari-cari alamat rumah.
"Nah, itu dia, nomor rumah delapan belas." Refleks bibir ini tersenyum.
Aku ke luar dari kendaraan, mendekati pagar rumah yang terbuat dari kayu. Kuucapkan salam, yang membuka pagar ternyata gadis remaja anak korban kecelakaan.
"Om Dokter?" Alisnya bertaut.
"Hai gadis kecil." Mendadak raut wajahnya cemberut.
"Nia bukan anak kecil, Om". Pintu pagar terbuka lebar. Aku masuk sambil terkekeh melihat ekspresi wajahnya.
"Siapa yang bilang anak kecil? Om bilang gadis kecil."
"Terserah deh, mari masuk, Om!" Dia berjalan di depanku. Sepertinya sikapnya berubah jutek karena mendengar panggilan yang aku berikan padanya.
"Om Dokter udah datang, Yah." Dia memekik memanggil sang ayah.
Ayah gadis kecil itu mempersilakan masuk ke dalam rumahnya. Rumah ini begitu sederhana, berbeda dari rumah kanan kirinya.
"Kenapa sepi sekali, Pak?" Aku memperhatikan rumah ini sejak masuk tadi.
"Tetangga datang setelah adzan Maghrib, Dok. Sekarang memang sepi."
"Ada perlu apa, Pak Dokter? Sampai ke sini segala." Wajah teduh beliau membuatku merasa bersalah.
"Eum, begini Pak, masalah kunci kemarin." Agak ragu kuucapkan.
"Kunci, Om?" Gadis kecil itu mendadak muncul. Kepalanya melongo dari pintu kamar.
"Iya, kunci, maafkan saya tentang kunci itu. Ini dia kuncinya, saya lupa kalau pernah memungut kunci ini di lantai luar ruangan autopsi." Kukeluarkan kunci dari kantong celana.
"Kunci Ibu." Gadis kecil yang bernama Nia itu menyambar kunci yang ada di tanganku.
"Tapi, kunci apa ini?" lanjutnya lagi.
"Entahlah, Ayah juga gak tahu, Nak." Kening ini mengernyit heran.
"Terus, bagaimana agar kunci itu berfungsi? Kenapa tidak dicoba saja membuka pintu yang terkunci dengan anak kunci itu!" usulku.
Gadis kecil bernama Nia itu tengah berpikir.
"Nia ingat sekarang, Om dokter dan Ayah ikut Nia ke kamar yuk!" Dia beranjak dari tempat duduknya. Berjalan menghampiri pintu kamar yang terbuka.
"Ini dia, kotak musik yang terkunci. Kotak musik ini kesukaan Aku dan Ibu," bola mata gadis ini berkaca-kaca. Kepedihan yang mendalam, begitu terasa sekali.
Nia membukanya di hadapan kami, sang Ayah menatapku dan anaknya bergantian. Ada sepasang perhiasan di sana, ada sepucuk surat yang terlipat begitu kecil. Ya Allah, sepertinya Ibu ini sudah merasakan bahwa ajalnya sudah dekat. Nia memakai cincin yang kebesaran itu di ibu jarinya. Sang Ayah memakaikan kalung itu pada leher anaknya. Aku lega karena melihat mereka berdua yang saling menguatkan selepas ditinggal pergi oleh orang tersayang untuk selamanya.
Aku pamit karena harus melanjutkan perjalanan ke tempat kerja. Semoga teror dari Ibu itu tidak berlanjut karena kunci itu akhirnya ketemu dan kuberikan pada orang yang tepat.
Aku melajukan kendaraan ini ke rumah sakit—di mana aku bekerja.
"Reno?" Kening ini mengerut karena ada sebuah nama yang tertera di layar hape.
"Ada apa, Ren?"
"Dok, ada kecelakaan di jalan Mualim Teko. Kami sedang menuju ke sana."
"Baiklah, aku juga masih di jalan dekat sana. Segera meluncur ke lokasi." Panggilan telepon terputus.
Aku melajukan kendaraan ini lebih cepat dari biasanya. Tiba-tiba saja hawa dingin terasa menusuk.
"Ada yang gak beres lagi nih, padahal ini siang bolong," batinku kembali ketakutan.
Kuberanikan diri untuk melihat cermin, ternyata ada sosok Ibu yang jenazahnya aku tangani, duduk di kursi belakang. Sekilas aku melihatnya tersenyum tipis dan menghilang begitu saja.
"Alhamdulillah aku sudah tidak diteror lagi." Kuhela napas panjang.
Tak harus berkendara lama, aku sampai di tempat kejadian perkara. Ada beberapa petugas kepolisian yang memindahkan mayat tersebut ke dalam kantong jenazah.
Aku sempat melihat wajahnya yang sudah tidak terlihat lagi karena tertutup cairan kental berwarna merah.
Ada yang menepuk pundak ini, sontak aku menoleh ke belakang. Tak ada siapa pun, ketika aku menghadap ke depan, ada sebuah wajah yang tepat berada di depan mata.
"Allahu Akbar," pekikku spontan. Kaki ini berjalan mundur.