Kedatangan Ragil Di Dusun Angker
“Mas sudah pikirkan dengan matang? Mau pindah kos ke dusun tersebut?” Icha
memastikan niat suaminya untuk pindah kos ke sebuah dusun yang jauh dari kota.
“Iya, aku sudah lihat tempat itu. Cocok untuk membuat cerita, tempatnya tenang dan
damai!” jawab Ragil suami Icha.
Ragil Putra Azam seorang penulis cerita horor. Namun, dalam kehidupan sehari-harinya
justru tidak percaya hal-hal mistis. Baginya, cerita cerita mistis hanyalah komoditi yang bisa
dijual dalam bentuk cerita. Dia suka mendengarkan orang bercerita mistis, sekedar mencari
bahan cerita untuk menulis saja.
Meski harus berpura pura percaya, untuk memberi semangat kepada yang bercerita.
Dengan begitu, Ragil memiliki referensi cerita yang luas. Berbekal cerita orang ditambah
imajinasi dia sendiri yang diramu dengan cerita orang.
Kali ini Ragil sengaja memilih tempat Kos di sebuah dusun yang terpencil. Bahkan
sedang dalam keadaan gempar karena muncul isu teror Roh seorang wanita. Warga dusun
sampai tidak ada yang berani keluar malam sendirian. Karena selalu melihat penampakan
wanita yang berbaju putih dengan leher terikat dan menggantung di sebuah pohon.
“Kita berangkat sekarang, Cha!” seru Ragil.
“Kenapa Icha jadi merinding ya, Mas?” tanya Icha.
“Ah kamu hanya terbawa perasaan saja. Tak akan terjadi apapun, Percayalah!” jawab
Ragil.
Icha mengikuti Ragil suaminya, meski berat meninggalkan tempat kos lamanya. Icha
termasuk seorang yang kurang pandai bergaul. Tentu sulit beradaptasi dengan lingkungan baru
nanti. Berbeda dengan Ragil yang memang mudah bergaul dan dapat dengan cepat akrab
kepada siapapun.
Mereka menempuh perjalanan yang cukup jauh. Sehingga menjelang maghrib mereka
baru sampai ke rumah kos yang baru saja disewa Ragil.
“Sudah hampir maghrib, Mas?” ucap Icha.
“Kenapa memangnya kalau mau magrib. Siang dan malam itu hanya masalah gelap dan
terang. Tidak usah termakan cerita isapan jempol, Cha!” ucap Ragil yang selalu meminta Icha
agar jangan percaya cerita hantu.
Ragil lupa jika Icha dulu adalah penggemar Novel dan cerpennya yang isinya adalah
cerita horor. Mereka kenal karena Ragil sering meminta Icha membuatkan cover bukunya. Icha
sendiri tidak menduga, jika Ragil suaminya justru tidak percaya dengan hal itu. Tulisan yang
dibuat semata hanya sebagai lahan mencari pundi-pundi uang. Dengan memanfaatkan
kepercayaan masyarakat tentang hantu.
“Rasanya kampung ini seram sekali, Mas!” ucap Icha.
“Bukan seram, Cha! Inilah kampung yang tenang dan damai, tidak berisik. Aku akan
lebih mudah menuangkan cerita di tempat sepi begini!” sahut Ragil.
“Terserah kamu lah, Mas. Namun, Icha gak mau ditinggal sendirian kalau malam!” seru
Icha.
“Jangan begitu Cha, belajarlah berpikir logis. Kita itu hidup di dunia nyata, bukan di dunia
halu!” jawab Ragil.
“Mas, biasanya kalau menempati rumah baru itu mengadakan acara kenduri. Agar bebas
dari gangguan yang tidak diinginkan!” kata Icha setelah memasuki rumah barunya.
“Itu soal gampang, besok saja, sekarang masih capek. Habis menempuh perjalanan
jauh,” jawab Ragil sambil rebahan.
“Beneran ya, Mas?” pinta Icha.
“Kamu kenapa ketakutan begitu sih, Cha?” tanya Ragil.
“Bukan takut saja, Mas. Kita juga harus mengikuti tradisi masyarakat yang ada, jangan
sampai dianggap pelit nanti!” seru Icha.
“Iya, tapi besok saja, nanti aku juga akan laporan Pak RT. Kalau kita tinggal di kampung
ini, itu yang lebih penting, Cha!” sahut Ragil
Icha hanya menggerutu saja mendengar jawaban Ragil yang selalu menyudutkan.
“Jangan tidur saat maghrib, Mas!” seru Icha saat melihat suaminya mulai menguap.
“Memang gak boleh tidur, kalau mengantuk?” sahut Ragil.
“Kan tanggung maghrib, Mas. Sholat dulu kek, Icha lihat Mas Agil sering melalaikan
sholat!” seru Icha, yang memanggil suaminya dengan sebutan Agil. Sesuai nama pena yang
digunakan dalam novel-novelnya.
“Sibuk Cha, nanti juga kalau bangun aku sholat!” sahut Ragil.
“Sholat dulu, Mas sebelum tidur. Kita berdoa biar dikasih keturunan, sudah tiga tahun
lebih kita belum dikasih keturunan!” ucap Icha. Namun Ragil justru mendengkur, tidur karena
kecapean. Saat kumandang adzan maghrib berkumandang, Icha membangunkan Ragil untuk
sholat. Namun, Ragil sama sekali tidak mau bangun. Sehingga Icha terpaksa melaksanakan
sholat sendirian.
Sampai Icha selesai sholat, Ragil masih tetap tidur di sofa ruang tamu. Tampak pulas
sekali tidurnya, Icha sampai tidak tega untuk membangunkan Ragil. Karena malam sebelumnya
Ragil lembur sampai pagi, menyelesaikan Naskah.
‘Ya Allah, mudah-mudahan suamiku cepat sadar!’ ucap Icha dalam hati, berharap
suaminya tidak melalaikan kewajiban beragamanya sebagai Muslim.
Icha pergi ke dapur membuat minuman sekaligus beradaptasi dengan rumah barunya.
Saat Icha membuka pintu belakang, dia sangat ketakutan. Karena sepanjang dia memandang
tidak ada satu rumah pun. Bahkan perkampungan juga cukup jauh jarak dari rumah yang
ditempati.
“Kenapa juga, Mas Agil memilih rumah yang seperti ini, sih!” keluh Icha pada diri sendiri.
Tiba-tiba ada angin yang semilir menerpa Icha. Icha jadi semakin merinding, terlebih
setelah melihat pintu yang ternyata tetap tertutup.
“Angin apa tadi, jelas sekali terasa di tubuhku. Kenapa pintu sama sekali tidak terbuka?”
Icha bicara sendiri, sengaja dibuat keras berharap suaminya terbangun. Namun Ragil tetap saja
masih tertidur pulas.
Icha jadi sedih, dia tidak bisa membayangkan jika malam hari suaminya keluar rumah,
dengan alasan cari inspirasi. Bagaimana tinggal di rumah sendiri, dan jarak dengan tetangga
juga cukup jauh. Belum lagi hilang kagetnya karena angin. Icha dibuat lebih ketakutan dengan
munculnya aroma dupa. Sehingga Icha terpaksa berlari membangunkan Ragil.
“Mas, bangun Icha takut, Mas. Ada angin dan bau kemenyan di dapur!” seru Icha.
Icha terus membangunkan Ragil sampai akhirnya Ragil terpaksa bangun. Karena
tubuhnya terus diguncangkan Icha.
“Ada apa sih, Icha. Mas kan masih capek banget, Cha!” ucap Ragil sambil membuka
matanya.
“Icha takut, Mas. Baru saja ada kejadian aneh di dapur. Saat Icha baru masak air,” jawab
Icha.
“Kejadian aneh apa?” tanya Ragil berusaha bangkit dengan malas.
“Ada angin datang tapi pintu tertutup, terus setelah itu ada bau kemenyan atau dupa.
Icha gak begitu ngerti,” sahut Icha.
“Yasudah ayo ke dapur, bikinin aku kopi sekalian. Mau ke rumah Pak RT juga nanti!”
jawab Ragil.
“Icha ikut ya, Mas!” pinta Icha ketakutan jika ditinggal sendiri di rumah. Icha memohon
kepada Ragil dengan wajah memelas. Sehingga Ragil terpaksa mengiyakan permintaan Icha.
“Iya deh iya, ayo buatkan aku kopi, aku temani ke dapur!” seru Ragil.
Keduanya segera pergi ke dapur, Icha membuat minuman dan Ragil melihat keadaan.
Dia membuka pintu yang sebelumnya dibuka oleh Icha.
“Wah luar biasa, pemandangan disini sangat bagus, begitu asri. Lampu-lampu rumah
penduduk begitu terang. Menambah suasana asri!” seru Ragil.
Mendengar ucapan Ragil Icha pun heran, karena saat dia membuka pintu hanya tampak
sekilas kerlipan lampu yang remang-remang. Icha sempat membatin apa tadi memang belum
dinyalakan. Sehingga Icha pun menjadi penasaran, dan ikut melihat keluar.
“Lampu rumah penduduk terang apa, Mas? Sudah jelas itu gelap dan hanya seberkas
cahaya temaram yang tampak. kok!” seru Icha.
“Ah kamu masih juga berhalusinasi, Cha! Coba lihat kampung yang sebelah kanan,
bukan yang lurus kita. Itu. lampunya begitu terang!” seru Ragil.
Namun Icha justru jadi semakin ketakutan, karena yang ditunjukkan Ragil justru tempat
yang sangat gelap di pandangan Icha. Meskipun jaraknya memang lebih dekat, tapi di mata
Icha hanya ada satu titik lampu saja. Itupun tidak terang, hanya temaram sebuah lampu satu-
satunya.
“Jangan bercanda ah, Mas! Jelas itu jauh lebih gelap kok, dan tampaknya bukan
perkampungan. Hanya ada satu lampu, tempat apa itu ya?” ucap Icha.
“Kamu yang ngehalu, Cha. Jelas banyak lampu dan rumah yang cukup megah begitu
kamu bilang gelap. Sampai kau anggap itu bukan perkampungan!” protes Ragil.
Icha bingung menghadapi Ragil, karena jelas di matanya itu bukan perkampungan. Icha
kembali memandang tempat yang ditunjukkan Ragil. Suasana mendung memunculkan
halilintar, sehingga ada sambaran cahaya yang menerangi tempat yang ditunjuk Ragil.
Saat kilatan cahaya menerangi tempat tersebut, Icha jadi semakin merinding ketakutan.
Karena sekilas yang tampak di matanya itu bukan perkampungan penduduk, melainkan
kuburan umum. Terlihat dari beberapa pohon kamboja yang berada di komplek makam
tersebut.
“Mas. Istighfar sholat dulu sana.Itu jelas bukan perkampungan penduduk, tapi kuburan!”
ucap Icha.
Entah kenapa Ragil kaget mendengar ucapan Icha, bahkan sesaat kemudian Ragil
kembali memandang tempat yang dia lihat sebagai perkampungan penduduk. Di matanya
tempat itu lebih mirip perumahan yang cukup megah. Dia mengucek matanya berkali-kali
seakan tidak percaya, dengan apa yang dilihat.