LNCrawler

Ragil Mengalami Kejadian Mistis

Roh Ani — gooddreamer.id · All chapters

Ragil Mengalami Kejadian Mistis

“Jelas tadi di sana itu semacam perumahan, kenapa sekarang jadi berubah?” ucap Ragil Spontan.

“Jangan nakutin Icha lah, Mas!” rengek Icha ketakutan.

“Gak kok, mungkin aku yang masih ngantuk, Cha. Jadi pandanganku agak kurang jelas tadi,” jawab Ragil dusta.

“Jangan-jangan benar kampung ini Angker, Mas?” seru Icha.

Saat Ragil mau menjawab, tiba-tiba kilat menyambar kencang disertai hujan lebat yang turun. Membuat Icha semakin ketakutan, dia segera merapat kepada Ragil suaminya. Minuman yang dibuatnya hampir saja tumpah tersenggol Icha.

“Mas Sholat dulu gih, Icha makin takut!” ucap Icha.

“Yaudah lepasin aku mau ke kamar mandi dulu!” jawab Ragil.

Icha segera kembali ke ruang tamu menunggu Ragil selesai dari kamar mandi dan sholat. Sambil menunggu Ragil datang, Icha menyeruput teh buatannya. Untuk mendapat kehangatan dan menenangkan diri. Ditengah guyuran hujan yang cukup lebat, Icha lamat-lamat mendengar suara ketukan pintu.

“Jangan-jangan Pak RT, karena Mas Agil belum lapor?” ucap Icha lirih.

Namun, dia merasa heran. Kenapa tidak menunggu hujan reda, jika sekedar mau menegur warga baru yang belum lapor. ‘Lagian datangnya juga sudah menjelang maghrib tadi,’ pikir Icha. Seketika dia ingat kejadian saat di dapur, spontan bulu roma Icha jadi berdiri.

“S—siapa di luar hujan-hujan begini? Ada perlu apa ya?” teriak Icha.

Tidak ada jawaban dari luar pintu, hanya semerbak aroma kembang melati yang kemudian tercium oleh Icha. Menambah dia semakin bergidik ketakutan, pikiran Icha semakin larut dalam ketakutan.

“Mas! Mas Agil udah selesai belum sholatnya?” teriak Icha ketakutan.

Namun Ragil pun tidak menyahut, memaksa Icha harus melihat ke kamar dimana Ragil sholat. Begitu Icha masuk ke kamar dia semakin panik. Melihat Ragil yang tergeletak masih beralaskan sajadah yang dia gunakan.

“Mas! Bangun... jangan bikin Icha semakin takut!” jerit Icha.

Icha terus menggoyang goyangkan tubuh Ragil yang bagai orang pingsan tersebut. Mendapat guncangan keras dari Icha, akhirnya Ragil bangun. Namun, yang membuat Icha heran Ragil memandang Icha dengan tatapan aneh. Sehingga Icha terpaksa menepuk-nepuk pipi Ragil agar sadar.

“Mas ... Mas ... kamu kenapa pandangi aku begitu?” ucap Icha.

“Aku di mana?” kalimat yang keluar dari Ragil membuat Icha semakin panik saja. Karena Ragil seperti tidak sadar sedang menempati rumah barunya.

“Kita kan baru saja pindah rumah, Mas! Masa Mas Agil lupa?” jawab Icha.

Ragil tengak-tengok sekeliling, seakan merasa asing dengan tempat tersebut. ‘dimana orang tua yang menyeretku tadi? Ragil bertanya dalam hati. Dia masih diambang sadar, belum sepenuhnya sadar. Baru saja Ragil mengalami perjalanan mistis pertama kali mengalami.

“O iya, maaf mungkin aku terlalu capek, jadi lupa kita sudah pindah rumah,” ucap Ragil dusta.

“Kita ke ruang tamu saja dulu, Mas. Kopinya Icha taruh di sana,” ucap Icha.

Masih dengan bayangan atau lamunannya, Ragil mengikuti Icha ke ruang tamu. Kopi yang disediakan Icha pun dihabiskan sekali tenggak. Sampai Icha heran, tidak biasanya Ragil menenggak minuman sekali habis.

“Kamu gapapa, Mas?” tanya Icha.

“Gapapa Cuma capek saja malam ini, Cha!” jawab Ragil.

“Kok aneh, gak biasanya minum kopi sekali tenggak begitu meski sudah dingin sekalipun?” tanya Icha.

“Iya aku kehausan, Cha!” jawab Ragil.

Icha tidak begitu saja percaya ucapan Ragil, dia terus mengejar Ragil dengan pertanyaan.

“Kehausan memang habis ngapain, bukankah baru bangun terus ke kamar mandi tadi?” tanya Icha.

“Aku habis mimpi aneh, mimpi dikejar-kejar orang rasanya jadi capek banget,”jawab Ragil.

“Jangan jangan rumah ini memang angker, Mas? Tadi juga ada yang ketuk-ketuk pintu, tapi gak ada orangnya, Mas!” seru Icha.

“Gak ada, gak ada rumah angker, Cha! Semua ini halusinasi saja, halusinasi itu bisa terbawa sampai ke mimpi, Cha!” seru Ragil.

“Mas ah, selalu saja bilangnya begitu, sudah merasakan sendiri juga!” gerutu Icha Kesal.

“Sudah gak usah dibahas lagi, aku capek bahas itu terus. Aku sudah bilang semua itu hanya dongeng, tidak akan pernah ada di dunia nyata!” Ragil mulai emosi.

Icha hanya diam saja jika suaminya sudah membentak begitu, daripada malah menjadi masalah yang lebih besar.

“Mau dibuatkan kopi lagi gak, Mas?” tanya Icha mengalihkan pembicaraan.

“Boleh lah, kamu gak marah kan, Cha?” tanya Ragil.

“Gak lah, kan udah biasa kalau bicara hal itu kita gak pernah ada titik temu, Mas!” jawab Icha.

“Kalau begitu, kita gak usah bahas itu lagi, Cha!” seru Ragil.

Icha hanya mengangguk, kemudian melangkah ke dapur kembali membuatkan kopi untuk Ragil suaminya. Meski dalam hatinya masih tidak terima, tapi Icha masih menahan diri. Icha masih tidak terima dengan keadaan rumah barunya tersebut. Sementara Ragil dengan santai mengatakan tidak usah membahas hal yang dianggap sekedar dongeng saja. Sementara bagi Icha, dia merasa dihantui sesuatu sejak menginjakkan rumah tersebut.

Saat sedang berada di dapur Icha kembali merasakan adanya angin yang bertiup menerpa wajahnya. Rasa takut kembali hadir dalam benak Icha. Bulu romanya menjadi tegak berdiri, saat kembali tercium aroma kembang Melati.

Namun, demi menjaga keharmonisan rumah tangga Icha terpaksa menahan rasa takutnya tersebut. Daripada harus kembali berdebat dengan Ragil suaminya. Akan tetapi sekuat apapun Icha menahan rasa takut, tetap saja dia tidak bisa menyembunyikan. Ketika lamat-lamat dia mendengar seperti orang menyanyi di tengah lebatnya hujan yang belum reda.

“Udan ... udan ... udan iku Hudan. Sliramu bakal oleh Hudan, lan dadi Hudan!”

Meski lamat-lamat, tetapi Icha mendengar bait-baitnya terutama pada kalimat tersebut. Meski Icha tidak tahu arti tembang dalam bahasa Jawa tersebut.

“Suara siapa itu?” kata Icha pada diri sendiri.

Dengan gemetar Icha segera membawa kopi untuk suaminya ke ruang depan. Suara berdetak beradunya cangkir dengan alasnya terdengar jelas, akibat tangan Icha gemetar.

“Ada apa lagi, Cha? Kok gemetar begitu?” tanya Ragil.

“Icha takut kalau cerita, terus Mas Agil gak percaya, nanti kita bertengkar lagi?” jawab Icha.

“Cerita saja, soal percaya atau tidak itu urusan nanti, Cha!” perintah Ragil.

“Icha dengar suara orang nyanyi di luar dapur, Mas!” kata Icha.

“Biarin saja lah, cuman orang nyanyi saja, kok!” balas Ragil.

“Kok, Mas Agil bilangnya begitu sih? Gak menghargai perasaan istri banget!” gerutu Icha.

Ragil tidak langsung menanggapi ucapan Icha istrinya. Dia lebih dulu menyeruput kopi yang masih panas tersebut.

“Aaah nikmat sekali kopi buatan kamu, Cha!” ucap Ragil. Seakan tidak peduli ucapan Icha istrinya.

“Mas?”

“Ada apa lagi Cha? Apa aku salah bicara, menyanjung kopi buatan istri?” jawab Ragil.

“Dalam agama kita kan juga disebutkan adanya makhluk gaib?” ucap Icha.

“Iya, tapi tidak disebutkan ada pocong, kuntilanak, Genderuwo dan sebagainya. Semua itu hanya dongeng saja, Cha. Untuk menakut anak-anak kecil,” jawab Ragil.

“Icha serius, Mas!” protes Icha.

“Aku juga serius, Cha. Sejauh ini aku tidak percaya ada Hantu. Bukan tidak percaya adanya makhluk gaib. Karena gaib itu tidak kelihatan, kalau kelihatan berarti bukan Gaib lagi!” bantah Ragil.

“Icha beneran dengar lagu aneh, Mas! Masa hujan-hujan ada orang di luar rumah kita?” ucap Icha.

“Itu halu, Cha. Hanya perasaan kamu saja!” ucap Ragil, sambil menyalakan laptop membuka file cerita yang belum diberi judul.

“Mas orang Jawa, kan?” tanya Icha.

“Iya, kan sudah tahu. Kenapa masih tanya begitu?” tanya Ragil.

“Udan itu artinya hujan?” tanya Icha.

“Iya, itu sudah semua orang tahu, Cha. Gak hanya orang jawa bahkan!” jawab Ragil sambil memainkan jari-jarinya di keyboard menyusun kata-kata membuat Plot cerita.

“Kalau Sliramu artinya apa, Mas?” tanya Icha.

“Sliramu itu artinya kamu, tapi dalam tingkatan menengah. Kalau halusnya panjenengan, kasarnya kowe. Minat belajar bahasa jawa, Cha?” tanya balik Ragil.

“Bukan begitu, tapi kata-kata itu yang aku dengar di dapur tadi. Saat ada orang yang bernyanyi di luar dapur rumah kita ini?” jawab Icha.

Ragil berhenti mengetik sejenak, dia tahu Icha tidak bisa sama sekali bahasa jawa. Tidak tahu juga kata Sliramu. Dia jadi heran Icha mengucapkan kata tersebut.

“Kamu jangan bercanda, Cha!” seru Ragil.

“Sungguh Icha gak bercanda, Mas! Icha dengar sendiri tadi, terus ada kata iku, terus juga kata Hudan, apa artinya hudan apa bedanya dengan udan, Mas!”

“Kamu serius, atau bisa jadi memang ada orang di luar rumah kita, Cha?” ucap Ragil.

“Memang apa artinya? Kok Mas Agil jadi panik begitu?” tanya Icha.

“Ah gak mungkin, Cha! Ayo kita lihat kesana sekarang. Kita buktikan apakah benar ada orang diluar atau hanya halusinasi kamu saja!” ucap Ragil.

“Icha takut, Mas. Sampai Icha kemari masih saja dia menyanyi!” ucap Icha.

“Makanya sekarang kita buktikan, Cha. Gak usah takut aku akan melindungimu, Cha!”

Ragil menggandeng tangan Icha menuju ke dapur. Benar apa yang diucapkan Icha, suara itu masih terdengar lamat-lamat. Ragil jadi penasaran, kemudian dia membuka pintu belakang pelan-pelan.

Namun, begitu pintu belakang tersebut terbuka, Ragil dan Icha justru kaget. Menyaksikan sebuah pemandangan yang baru pertama kali dilihatnya.