LNCrawler

Petunjuk Untuk Ragil & Icha

Roh Ani — gooddreamer.id · All chapters

Petunjuk Untuk Ragil & Icha

Dalam kegelapan malam, hanya ada penerangan kilat yang sesekali menyambar. Tampak sosok seseorang di tengah hujan yang masih cukup lebat. Dengan suara agak parau, melantunkan lagu dalam bahasa jawa. Seperti yang disampaikan Icha. Saat di ruang tamu rumahnya.

“Udan ... udan ... udan iku Hudan. Sliramu bakal oleh Hudan, lan dadi Hudan!”

Ragil sangat kaget, sementara Icha semakin ketakutan memeluk erat tubuh Ragil.

“Lepasin Cha, aku mau lihat siapa dia, berani gangguin orang!” seru Ragil.

Namun, Icha justru makin erat memeluk Ragil, dan melarang Ragil mendekati sosok tersebut.

“Jangan Mas Agil, Icha takut terjadi apa-apa padamu, Mas!” seru Icha.

Ragil berusaha melepas paksa pelukan Icha. Namun, saat dia menengok ke arah luar lagi sosok tersebut sudah tak tampak lagi.

“Hah... kemana orang tadi, Cha? Kenapa hilang begitu saja?” seru Ragil.

“Tuh kan, Mas! Icha bilang juga apa, rumah ini angker.” sahut Icha.

“Gak mungkin, Cha. Jelas itu tadi orang, pasti dia belum jauh. Aku akan coba kejar, siapa tahu dia punya niat jahat pada kita!” ucap Ragil.

“Jangan, Mas! Jangan Nekad, Mas tega membiarkan Icha mati ketakutan!” protes Icha.

Ragil terpaksa mengurungkan niatnya untuk mengejar sosok itu. Dia melihat Icha yang benar-benar ketakutan jadi tak tega. Meskipun dalam hatinya tetap menganggap yang dia lihat adalah sosok manusia biasa.

“Yasudah kita kembali ke depan saja, sekarang, Cha! Keburu kopinya dingin,” ajak Ragil.

Setelah Ragil kembali menutup pintu belakang, dia menggandeng Icha kembali ke ruang depan. Sambil menikmati kopi, Ragil mencoba menenangkan Icha. Dengan mengatakan jika yang dilihat tadi adalah manusia biasa. Bukan hantu atau makhluk gaib jenis apapun.

“Kayaknya kita bakal diteror masalah terus deh, Mas! Kalau cara berpikir kita selalu bertolak belakang begini,” keluh Icha.

“Tidak ada yang perlu kita takutkan, Cha! Mungkin kita memang butuh refreshing, atau butuh teman bergaul di kampung ini. Besok kita undang tetangga dekat sekalian adakan kenduri dan perkenalan!” ucap Ragil.

“Dari tadi juga Icha sudah ingatkan hal itu kan, Mas! Selain perkenalan juga untuk mohon doa juga!” seru Icha.

Ragil hanya diam, fokus kepada layar laptopnya. Secara mendadak dia mendapat ide untuk judul buku yang dia tulis tersebut.

“Cha, menurutmu yang ada dibelakang rumah tadi manusia atau apa?”

Ragil secara spontan bertanya pada Icha istrinya. Dia bermaksud mengikuti pola pikir istrinya yang dianggap suka menghalu.

“Malas ah, Mas! Paling juga kalau Icha jawab hanya akan jadi perdebatan saja,” jawab Icha ketus.

“Gak kok, aku serius bertanya pendapatmu. Bebas kamu mau menjawab apa?” ucap Ragil.

“Bukan sedang ngajak debat?” tanya Icha.

“Sungguh, aku murni minta pendapat kamu. Mau memberi judul untuk Novel yang aku tulis sekarang!” jawab Ragil.

“Icha juga gak tau pasti sih! Apa mungkin yang disebut arwah gentayangan barangkali, Mas!” jawab Icha.

“Arwah gentayangan? Ada nama lain tidak yang lebih simpel, Cha? Aku gak suka judul panjang, kalau yang satu kata apa menurut kamu, Cha?” tanya Ragil.

“Kalau arwah itu memang kata jamak, kata tunggalnya Ruh. Kalau orang jawa menyebutnya Roh, mungkin!” jawab Icha.

“Nah, itu yang pas. Ak mau kasih Judul ‘Roh’ saja, simpel!” seru Ragil.

Saat Ragil selesai bicara, tiba-tiba listrik padam. Mendadak jadi gelap, bersamaan suara petir yang sangat keras. Seandainya Ragil tidak sedang menyalakan Laptop pasti Icha akan menjerit. Karena takut dengan gelap.

“Aduh, malah mati lampu!” seru Ragil spontan.

“Yang bikin ngeri suara petir itu, Mas! Kayak menyambar sesuatu yang dekat rumah ini,” sahut Icha.

Hanya beberapa saat listrik lampu kembali menyala, barengan dengan redanya hujan. Akan tetapi kembali ada kejadian yang membuat bulu roma Icha kembali merinding. Aroma kembang Melati begitu kuat tercium oleh Icha. Bahkan Ragil pun mencium aroma tersebut, tetapi dia pura-pura tidak terjadi apa-apa.

“Mas kamu mencium bau kembang?” tanya Icha semakin mendekati Ragil suaminya.

“Gak tuh, gak mencium bau apapun,” jawab Ragil dusta.

“Coba deh, cium!” ucap Icha.

Namun, Ragil justru mencium pipi Icha istrinya. Sengaja menggoda Icha, agar tidak tegang.

“Ih kok malah cium pipi Icha sih, maksudnya cium aroma kembang, Mas Agil!” kata Icha jengkel bercampur malu.

“Ngapin cium aroma kembang, Cha? Enakan juga cium kamu kan!” goda Ragil.

“Icha serius, Mas. Jangan bercanda begitu ah,” protes Icha.

“Paling juga ada yang tanam kembang, kan angin masih bertiup semilir sehabis hujan, Cha!” sahut Ragil.

Icha hanya diam, tidak mau melanjutkan perdebatan. Setiap kali membicarakan hal mistis suaminya selalu berkata hal yang sama. ‘Semua itu hanya dongeng saja, tak akan pernah ada di dunia nyata.’

Tok ... tok ... tok

Suara ketukan pintu rumah diikuti sapaan salam seseorang.

“Assalaamu ‘alaikum, apakah ada orang di dalam?” Suara seseorang.

“Wa’alaikummus salam, siapa ya?” sahut Icha.

“Saya Mahmud, RT di sini, apakah boleh saya bicara sebentar?” tanya orang tersebut.

“Boleh Pak, maaf saya belum sempat melapor,” jawab Ragil kemudian bangkit membukakan pintu.

“Silahkan Masuk Pak RT,” ucap Ragil mempersilahkan masuk Pak RT.

“Terima kasih Pak—“

“Agil, Pak. Nama panggilan saya Agil. Itu istri saya Aisyah. Panggilannya Icha, Pak. Silahkan duduk, mau minum apa, Pak RT?” Ragil menawarkan minuman kepada Pak RT.

“Sudah tidak usah, Pak Agil. Saya kebetulan lewat saja, kok lampunya menyala jadi sekalian saya mampir,” jawab Pak RT.

“Owh jadi, biasa keliling sambang warga ya, Pak RT?” tanya Ragil.

“Tidak juga, Pak Agil. Hanya tadi kebetulan ada warga yang butuh bantuan. Jadi pas lewat tadi lihat lampu rumah ini menyala. Makanya sepulang dari rumah warga saya sempatkan mampir,” jawab Pak RT Mahmud.

“Aduh maaf Pak RT, bukan saya bermaksud mengabaikan kewajiban sebagai warga baru. Akan tetapi, sampai di sini sudah sore terus hujan. Jadi belum sempat laporan Pak RT,” kata Ragil.

“Tidak masalah, Pak. Bisa dimaklumi kok, tapi maaf mumpung saya hadir. Boleh saya meminjam KTP bapak dan Ibu juga buku Nikahnya? Sebagai pendataan warga saja,” ucap Pak RT Mahmud.

“Bisa, Pak. Sebentar saya ambilkan,” jawab Ragil masuk ke kamarnya mengambil surat surat yang dibutuhkan.

“Maaf Pak RT, sembari menunggu dan mendata nanti saya buatkan minuman apa?” ucap Icha.

“Terima kasih, Bu. Apa saja boleh, tidak ada pantangan bagi saya,” jawab Pak RT.

“Biar sama dengan suami saya, saya buatkan kopi saja ya, Pak RT?” tanya Icha.

“Boleh, kebetulan saya juga suka kopi,” jawab Pak RT Mahmud.

Icha pun ke dapur membuatkan kopi untuk Pak RT. Sementara Ragil masih di kamar mencari berkas surat nikah yang masih tersimpan di dalam koper besar. Setelah berpindah rumah tadi, dia belum sempat menata semua berkas-berkas penting.

Pak RT Mahmud duduk sendiri di ruang tamu rumah Ragil. Memandang berkeliling ruangan tersebut. Seperti melihat sesuatu yang dirasa Ganjil dengan rumah tersebut. Beberapa saat kemudian Ragil datang membawa ‘Buku Nikah’ dan KTP nya. Tinggal KTP Icha yang belum diserahkan kepada Pak RT untuk dicatat sebagai warga baru di wilayah tersebut. Sedang Buku Nikah sebagai bukti jika mereka pasangan suami istri syah, bukan pasangan kumpul kebo.

“Ini Pak kopinya, kalau kurang manis tambah gula sendiri,” ucap Icha.

“Iya makasih, Bu Icha. Kebetulan saya juga tidak terlalu suka manis,” jawab Pak RT Mahmud.

“Perlu KTP saya juga, Pak RT?” tanya Icha.

“Iya dong Bu, maaf ini untuk keperluan administratif saja. Bukan kita suudzon ya!” ucap Pak RT Mahmud.

“Iya, Pak RT kami paham,” jawab Icha.

Pak RT Mahmud mencatat data diri Ragil dan Icha sebagai keperluan administrasi. Setelah selesai mencatat, termasuk data diri Icha, Pak RT meminum kopi yang dihidangkan Icha.

“Kurang manis tidak, Pak RT kopinya?” tanya Icha.

“Tidak, saya memang suka yang tidak terlalu manis,” ucap Pak RT.

“Maaf Pak RT, tadi Pak RT bilang menyambangi warga yang membutuhkan bantuan. Apa ada warga yang sakit?” tanya Icha.

Pak RT Mahmud diam sejenak, memandang wajah Ragil dan Icha bergantian.

“Tidak, tapi akhir-akhir ini sering sekali terjadi orang kerasukan. Kebetulan selain menjabat RT saya juga dipercaya mendoakan orang. Dengan kata lain saya dipercaya sebagai Rois di dusun ini,” jawab Pak RT Mahmud.

“Kebetulan Pak RT, saya juga mau mengadakan Kenduri tasyakuran. Apa saya besok harus sowan Pak RT ke rumah?” tanya Icha.

“Sebenarnya tidak harus, di sini juga tidak masalah. Kalau mau ke rumah saya untuk silaturahmi itu lebih bagus,” ucap Pak RT Mahmud.

“Biar sopan, biar besok saya sowan ke rumah Pak RT saja, Pak!” sahut Ragil.

“Loh Pak Agil ini dari jawa juga? Kok pakai kata sowan?” tanya Pak RT.

“Iya Pak, saya asli dari Jawa. Eeh kalau boleh tahu, apa benar, Pak? Ada warga yang kerasukan?” tanya Ragil.

“Betul Pak, entah apa penyebabnya. Beberapa waktu terakhir ini sering sekali terjadi begitu!” jawab Pak RT Mahmud.

Icha yang duduk di samping Ragil, mencubit pelan suaminya seraya berbisik.

“Apa kata Icha, Mas!”

Ragil hanya diam, dia mulai sedikit mengakui adanya makhluk astral yang kadang meminta diakui eksistensinya.

“Mohon maaf, Apakah Bu Icha tadi mengalami gangguan makhluk astral juga?” tanya Pak RT Mahmud.

“Bapak bisa tahu?” tanya Icha kaget. Bahkan Ragil sampai mengerutkan dahinya kemudian memandang wajah Pak RT.

“Bukan saya bermaksud menakuti, tapi sejauh ini tak ada yang bisa betah lama di rumah ini. Pesan saya, banyaklah berdoa, agar tidak terjadi apapun!” ucap Pak RT Mahmud.

Icha semakin penasaran, kemudian menceritakan apa yang dia alami. Saat mendengar suara orang menyanyi dengan bait-bait kalimat berbahasa Jawa. Serta menyebutkan Kalimat yang Icha ingat, dan mendapat kata-kata baru. Sliramu dan Hudan, kemudian menanyakan hal itu kepada Pak RT Mahmud. Pak RT Mahmud sangat kaget mendengar cerita Icha.

‘Apakah mereka ini yang akan menguak peristiwa beberapa tahun silam?’ batin Pak RT Mahmud.

Icha melihat perubahan ekspresi pada wajah Pak RT Mahmud menjadi heran. Kemudian memberanikan diri untuk bertanya.

“Ada apa Pak RT? Kok sepertinya kaget begitu?” tanya Icha.

“Oh maaf, saya ini juga asli orang jawa, Bu Icha. Kalau Hudan itu berbeda dengan udan, kalau Hudan itu dari bahasa Arab, artinya petunjuk,” jawab Pak RT Mahmud.

“Maksudnya bagaimana Pak RT?” Ragil ikut penasaran.

“Saya tidak berani memastikan, hanya saja menurut pendapat saya kalian akan menjadi petunjuk sebuah Misteri di dusun ini. Peristiwa yang sangat aneh dan misterius beberapa tahun yang lalu!” jawab Pak RT Mahmud.

“Peristiwa Misterius?” ucap Ragil Spontan, sementara Icha semakin gelisah. Seakan sudah tak tahan lagi berada di dusun itu, dan ingin segera meninggalkan dusun tersebut.