LNCrawler

Memasuki Perjalanan Spiritual Ragil

Roh Ani — gooddreamer.id · All chapters

Memasuki Perjalanan Spiritual Ragil

“Dusun ini angker ya Pak RT?” Icha tampak tegang mendengar cerita Pak RT Mahmud.

“Sebenarnya dusun ini adalah dusun yang aman dan damai. Namun, memang akhir-akhir ini memang ada sedikit masalah!” seru Pak RT Mahmud.

“Sudah berapa lama, Pak RT?” sahut Ragil.

“Dalam kisaran waktu sekitar enam bulan terakhir ini, Pak Agil!” jawab Pak RT Mahmud.

Sebagai penulis cerita horor, otak halu Ragil menjadi tertarik untuk mendengarkan cerita komplit peristiwa atau berita yang beredar di dusun tersebut. Sehingga Ragil tampak antusias, untuk mengikuti cerita di dusun tersebut.

“Apa saja yang pernah melanda warga kampung ini, Pak RT?” tanya Ragil penuh semangat.

“Saya sendiri belum pernah mengalami langsung. Akan tetapi menurut berita yang beredar, banyak kejadian mistis yang meresahkan warga,” jawab Pak RT Mahmud.

“Misalnya seperti apa, Pak RT?” tanya Ragil yang semakin penasaran.

“Selain banyak warga yang kesurupan, sering terdengar suara tangisan dan masih banyak lagi. Kenapa Pak Agil semangat sekali ingin tahu cerita di dusun ini?” tanya balik Pak RT.

Ragil berterus terang jika dirinya adalah seorang penulis cerita genre horor. Sehingga tertarik untuk mengikuti berita mistis yang terjadi. Pak RT Mahmud yang tidak paham dengan dunia literasi hanya mengangguk-angguk tanpa memahami sepenuhnya.

“Jadi Pak Agil ini seorang pengarang cerita, eem ... atau menulis kisah nyata, Pak?” tanya Pak RT Mahmud.

“Bukan kisah nyata, Pak RT. Yang saya tulis hanya cerita dari mulut ke mulut, kemudian saya tambahi imajinasi saya sebagai pemanis cerita!” jawab Ragil.

Pak RT Mahmud, ingat dengan cerita Icha tentang suara orang melantunkan tembang dengan bait-bait bahasa Jawa. ‘Mungkin memang ini sebuah pertanda, kecurigaanku selama ini adalah benar’ batin Pak RT Mahmud.

“Pak Agil punya pengalaman mistis juga? Sampai bisa membuat cerita seperti itu?” tanya Pak RT Mahmud.

“Tidak pernah, Pak RT. Bahkan saya sendiri masih antara percaya dan tidak dengan kejadian-kejadian seperti itu!” jawab Ragil.

“Jadi begitu, saya kira Pak Agil juga punya memiliki pengalaman mistis,” ucap Pak RT Mahmud.

“Tidak Pak RT, sama sekali belum pernah mengalami,” jawab Ragil.

“Pak RT punya saran untuk kami, agar tidak diganggu makhluk gaib?” tanya Icha.

“Pertama banyak berdoa saja, Bu Icha. Lalu yang kedua jangan sampai berurusan dengan makhluk gaib. Cukup kita tahu mereka ada, tidak mengusik mereka. Karena mereka punya kehidupan sendiri,” jawab Pak RT Mahmud.

“Kebetulan Pak RT, tadi bapak kan bilang jika selain menjabat RT, Bapak juga dipercaya menjadi tetua kampung ini. Sering diminta tolong untuk pimpin doa menurut Bapak, apa penyebab kampung ini jadi agak angker?” tanya Icha.

Ragil seperti terwakili dengan pertanyaan istrinya tersebut. Karena dia juga ingin tahu cerita yang berkembang di dusun tersebut sebagai bahan untuk membuat cerita.

“Maaf Bu Icha, saya belum berani mengambil kesimpulan. Karena yang saya rasakan baru sebatas dugaan saja!” jawab Pak RT Mahmud.

“Dugaan seperti apa, Pak RT?” tanya Ragil menyambung pertanyaan Icha istrinya.

“Saat ini saya belum bisa mengatakan, Pak Agil. Sebenarnya—“ Ucapan Pak RT Mahmud tidak dilanjutkan. Meski rasanya ingin mengutarakan kepada Ragil namun masih diliputi keraguan.

“Sebenarnya apa, Pak RT?” desak Ragil.

“Ada sebuah peristiwa beberapa tahun silam. Yang membuat saya gelisah, tapi saya tidak bisa menjelaskan sekarang, Pak Agil. Justru saya berharap Pak Agil bisa membantu saya, memecahkan misteri sekitar lima tahun yang lalu,” jawab Pak RT Mahmud.

“Boleh Pak RT, ini sangat menarik bagi saya,” jawab Ragil.

Kembali terdengar suara Petir dan kilatan cahaya. Pertanda akan kembali turun hujan. Pak RT Mahmud kemudian mohon diri untuk pulang setelah urusan mencatat data Ragil dan Icha. Serta sudah cukup lama ngobrol dengan warga barunya tersebut.

“Sepertinya hujan akan kembali turun, saya permisi pulang dulu, Pak Agil, Bu Icha. Mohon maaf mengganggu waktunya,” ucap Pak RT Mahmud.

“Kami yang mohon maaf, Pak RT. Seharusnya kami yang sowan Pak RT. Sekalian besok sore saya mohon kehadiran Pak RT untuk memimpin doa di rumah ini, Pak!” kata Ragil.

“Eeh gak sopan dong, Mas. Harusnya besok kita yang ke rumah Pak RT,” sahut Icha.

“Gapapa Bu Icha, besok tentukan saja jam berapa. Insya Allah saya akan memenuhi undangan Pak Agil dan Bu Icha,” jawab Pak RT.

“Terima kasih Pak RT, besok siang saya ke rumah Pak RT. Mohon Maaf rumahnya sebelah mana ya Pak RT?” tanya Ragil.

“Di sebelah utara Masjid persis, Pak Agil. Datang saja sewaktu-waktu,” jawab Pak RT Mahmud.

Pak RT Mahmud buru-buru meninggalkan rumah Ragil takut keburu Hujan semakin deras.

...

Icha dan Ragil kembali melanjutkan obrolan mereka yang tertunda. Icha menemani Ragil menulis cerita, karena masih takut masuk ke kamar sendirian. Hari pertama menempati rumah barunya, sudah memberi kesan yang seram bagi Icha.

“Kalau ngantuk tidur duluan saja, Cha. Aku masih nanggung nih, mumpung lagi mood nulis!” ucap Ragil.

“Mas, nulisnya di kamar saja. Icha takut sendirian di kamar!” ucap Icha.

“Takut, atau lagi pengen, nih?” goda Ragil.

“Beneran Mas. Icha masih takut!” ucap Icha.

Ragil melihat wajah takut pada istrinya, akhirnya menuruti kemauan Icha. Melanjutkan menulis di kamar, sambil menemani Icha yang ketakutan. Ragil sendiri menulis sampai hampir menjelang subuh, dia seperti mendapat Mood Booster mendengar cerita dari Pak RT Mahmud. Tidak peduli benar tidaknya cerita tersebut. Bagi Ragil, cerita seperti itu adalah komoditi yang bisa jadi pundi-pundi uang.

...

Siang hari setelah Ragil bangun tidur, dia tidak mendapati Icha di rumah. Kemudian mencoba mencari Icha keluar rumah. Ada rasa cemas jika Icha istrinya nekat meninggalkan rumah karena ketakutan. Namun, saat membuka pintu Ragil menjadi lega. Karena Icha sedang ngobrol dengan ibu-ibu yang tinggal tak jauh dari rumahnya.

“Sejak kapan Icha jadi suka bergaul begitu?” kata Ragil pada diri sendiri.

Tak mau ambil pusing, Ragil kemudian pergi ke kamar Mandi untuk membersihkan diri. Hari itu dia berjanji ke rumah Pak RT Mahmud untuk minta tolong memimpin doa di rumahnya. Dia membiarkan Icha istrinya ngobrol dengan Ibu-Ibu tetangga yang tak jauh dari rumah yang ditempati tersebut.

Ketika Ragil keluar dari kamar mandi dia sangat kaget, banyak Ibu-Ibu yang sibuk memasak di dapurnya.

“Eh maaf, tidak tahu ada tamu. Maafkan saya tidak sopan, gak pakai baju baru selesai Mandi,” ucap Ragil malu, hanya berbalut handuk masuk ke kamarnya.

Ibu-ibu yang melihat hanya tersenyum, melihat Ragil hanya menggunakan handuk untuk menutupi tubuh bagian bawahnya saja. Sehingga dada berbulunya disaksikan ibu-ibu tetangga. Sampai ada yang iseng menyeletuk.

“Bu Icha itu suaminya, habis mandi keramas. Kok Bu Icha gak keramas?”

“Aah Bu Usnah, bisa saja!” jawab Icha malu-malu.

Beberapa menit kemudian Ragil keluar kamar, dan menyapa Icha istrinya.

“Kok gak bilang-bilang mengundang tamu, Cha?” tanya Ragil.

“Kan semalam sudah dibahas bersama Pak RT Mahmud juga, Mas Agil! Masa lupa sih?” jawab Icha.

“Oh iya lupa, kalau begitu aku ke rumah Pak RT sekarang saja. Maaf Ibu-Ibu saya .tinggal keluar sebentar,” ucap Ragil.

Para tetangga yang membantu memasak itu menjawab serempak. Beberapa di antaranya hanya tersenyum, teringat pemandangan saat Ragil lewat hanya berbalut handuk dari kamar mandi menuju ke kamarnya.

Icha istri Ragil hanya menahan senyum melihat reaksi tetangganya. Ada rasa bangga suaminya dikagumi wanita lain, meski bercampur sedikit cemburu. Icha dan ibu-ibu tetangga barunya menyiapkan masakan untuk acara nanti malamnya. Dengan sesekali diselingi candaan khas para wanita yang sudah berumah tangga. Icha pun tak luput jadi bahan bullyan ringan, tapi Icha hanya menanggapi dengan senyum saja. Dia merasa keakraban dengan para tetangga menjadi hiburan tersendiri. Daripada sendirian di rumah ketakutan, masih lebih baik jadi bahan candaan tetangga barunya.

...

Malam harinya, usai Pak RT Mahmud memimpin doa dan tasyakuran Pak RT sekaligus mengumumkan Ragil dan Icha sudah resmi menjadi warga RT tersebut. Serta memberitahukan hak dan kewajiban sebagai warga RT di wilayah itu.

Salah satunya adalah kewajiban ronda, atau menjaga keamanan dusun. Ragil pun dengan senang hati menyatakan sanggup untuk mengikuti tata tertib dan aturan setempat. Kemudian bapak-bapak yang menghadiri acara berpamitan setelah acara dianggap selesai. Serta sudah selesai juga menyantap hidangan yang disediakan. Sesuai tradisi yang ada, para tetangga dibawakan bingkisan untuk dibawa pulang.

“Pak Agil, kalau malam ini longgar boleh main ke ‘Pos Ronda’. Ada yang akan saya sampaikan, kebetulan jadwal ronda saya malam ini!” seru Pak RT Mahmud.

“Iya Pak, nanti saya bicara dengan istri saya dulu!” jawab Ragil.

Setelah tamu bapak-bapak semua pulang, Ragil menemui istrinya di belakang. Dia mau minta ijin datang ke Pos Ronda untuk berkenalan lebih dekat dengan warga.

“Cha, aku diminta Pak RT Mahmud ke Pos Ronda, bagaimana?” tanya Ragil.

“Terus, Icha sendirian di rumah nanti?” jawab Icha.

“Saya temani Bu Icha, paling juga sebentar kok di Pos Ronda kalau gak pas jadwal ronda!” ucap seorang Ibu tetangga yang masih berada di rumah Ragil dan Icha.

“Serius Bu Usnah, mau temani Icha?” tanya Icha.

“Iya Bu, yang paling dekat rumah ini kan hanya saya!” seru Bu Usnah.

“Ya gapapa Mas, tapi jangan lama-lama kasihan Bu Usnah nanti!” ucap Icha kepada Ragil.

“Bukan kasihan saya Pak Agil, kasihan Bu Icha kalau kelamaan ditinggal,” goda Bu Usnah.

Ragil dan Icha hanya tersenyum mendengar ucapan Bu Usnah. Meskipun mereka bukan lagi pengantin baru. Namun karena belum memiliki anak maka dianggap seperti pengantin baru.

“Terima kasih Bu Usnah, kalau begitu temani istri saya sebentar ya, Bu!” seru Ragil.

Ragil bersemangat datang ke Pos Ronda, selain memperkenalkan diri dia ada misi lain. Mendengarkan cerita warga terkait cerita mistis yang beredar di dusun tersebut.

Ragil yang sudah dikasih tahu letak Pos Ronda berjalan menyusuri jalan setapak menuju ke ‘Pos Ronda RT’. Di tengah perjalan pandangan mata Ragil, tertuju ke sebuah rumah tua yang penerangannya redup.

Sampai di depan rumah tersebut, Ragil dikejutkan oleh sebuah sapaan lembut.

“Terima kasih ya, Pak Agil atas kiriman berkatnya!” suara seorang wanita mengejutkan Ragil.

Jantung Ragil hampir saja copot, tiba-tiba sosok wanita cantik berbaju putih sudah berada di depannya.

“Kiriman apa ya, Bu eeh Mbak?” tanya Ragil kaget.

“Tadi Pak Agil kan mengadakan doa dan tasyakuran. Nah Paketnya juga sampai ke saya, terima kasih banyak ya, Pak Agil!”

“Oh iya sama-sama Mbak, apakah suami Mbak tadi juga ikut hadir ke rumah saya. Mas atau Pak siapa ya namanya?” tanya Ragil.

“Tidak Pak Agil, suami saya sudah meninggal beberapa tahun yang lalu!” seru wanita tersebut.

Ragil jadi merinding tiba-tiba, sekaligus dia heran wanita itu sudah tahu namanya. ‘Kalau suaminya sudah meninggal siapa yang mengirimkan berkat atau bingkisan? Terus kenapa dia tahu nama panggilanku juga?’ batin Ragil

“Maaf Mbak kok tahu nama saya?” tanya Ragil.

“Sebenarnya kita pernah bertemu, tapi Pak Agil pasti lupa. Saya juga suka baca Novel Pak Agil,” jawab wanita misterius tersebut.

“Pernah bertemu? Bertemu di mana ya Mbak? Mbak ini namanya siapa?” tanya Ragil makin penasaran.

Tiba-tiba tercium aroma melati, Ragil jadi teringat kejadian di rumahnya bersama Icha istrinya. Beberapa kali mencium aroma Kembang Melati, tapi tidak ada satupun pohon melati. Ragil mulai gelisah, karena merasakan seluruh bulu roma merinding. Tiba-tiba dia merasa ada rasa ketakutan, ‘siapa wanita ini sebenarnya. Apakah dia yang kemarin melantunkan tembang saat hujan?’ batin Ragil.