LNCrawler

Ragil Dipaksa Percaya Adanya Makhluk Halus

Roh Ani — gooddreamer.id · All chapters

Ragil Dipaksa Percaya Adanya Makhluk Halus

Wanita itu hanya tersenyum kemudian berkata.

“Suatu saat Pak Agil akan tahu, tapi saya gak yakin jika Pak Agil tahu siapa saya, masih mau kenal saya,” jawab Wanita tersebut.

Ragil seperti terhipnotis oleh wanita tersebut. Selain memiliki wajah yang manis dengan lesung pipi saat tersenyum dan tertawa. Tutur katanya juga lembut, tapi mengandung ketegasan. Menunjukkan dia seorang yang teguh dalam memegang prinsip. Sampai tidak terasa Ragil sudah cukup lama ngobrol dengan wanita tersebut. Bahkan sampai lupa menanyakan siapa nama wanita tersebut, setelah lama ngobrol barulah Ragil bertanya nama wanita tersebut.

“Aduh sampai lupa tanya nama, keasikan ngobrol. Nama Mbak siapa ya?” tanya Ragil.

Saya kira memang Pak Agil tidak mau tahu nama saya. Baiklah saya biasa dipanggil Hani, bisakah saya minta tolong sesuatu Pak Agil?” tanya wanita yang mengaku bernama Hani tersebut.

“Tentu boleh Mbak, selama saya bisa pasti saya bantu,” jawab Agil.

“Seharusnya bisa Pak Agil, karena ini sesuai profesi Pak Agil sebagai penulis!” ucap Hani.

“Maksudnya, Mbak?” tanya Ragil.

“Masih seputar dunia kepenulisan kok, Pak Agil!” seru Hani.

“Apa Mbak Hani bermaksud meminjam Novel saya yang sudah terbit di media cetak?” tanya Ragil.

“Bukan Pak, kalau karya Pak Agil saya sudah baca semua. Saya justru mau ditulis kisah saya sendiri, Pak!” jawab Hani.

“Saya hanya penulis cerita fiktif, Mbak. Belum pernah menulis kisah Nyata atau kehidupan seseorang!” jawab Agil. Dia merasa tidak enak menolak, meski sebenarnya memang tidak tertarik. Karena menulis kisah seseorang itu memang harus ada sesuatu yang istimewa untuk diangkat jadi buku.

“Kan sama-sama menulis Pak, bahkan tidak perlu banyak imajinasi. Tinggal menuangkan dalam bentuk cerita dari data-data yang sudah ada!” ucap Hani.

“Saya ini spesialis penulis cerita horor, Mbak. Ada yang memang bidangnya menulis kisah seseorang. Mungkin saya bisa kenalkan dengan orang itu, kalau Mbak Hani mau,” jawab Ragil.

“Saya pengennya yang nulis Pak Agil, karena cocok dengan gaya bahasa dan retorika Pak Agil,” kata Hani.

“Masa sih, Mbak? Padahal cerita saya itu hanya imajinasi tentang kepercayaan masyarakat tentang dunia gaib. Apa bagusnya, Mbak Hani?” tanya Ragil.

“Saya suka kok, tenang saja soal bayaran gak usah khawatir. Sebutkan saja, nanti saya bayar cash di depan,” ucap Hani.

“Bukan masalah bayaran Mbak, tapi kehidupan Mbak Hani yang seperti apa yang harus saya tulis?” tanya Ragil.

“Owh banyak Pak Agil, tenang saja ada yang istimewa dalam kisah saya. Yang mungkin juga orang lain harus tahu!” jawab Hani.

“Sepertinya menarik sih, Mbak. Boleh saya minta sekilas cerita yang menarik dari Mbak Hani?” tanya Ragil.

“Sebaiknya Pak Agil memulai cari informasi dari para tetangga saya. Berhubung waktu sudah malam, tidak enak jika dilihat orang. Besok saja Pak Agil bisa tanyakan ke saya, apa yang akan diketahui dari informasi para tetangga!” jawab Hani.

‘Wanita yang aneh, tapi gapapa. Kalau kisah dia menarik pasti akan banyak yang suka,’ batin Ragil.

“Baiklah Mbak Hani, saya ijin jalan ke Pos Ronda dulu!” ucap Ragil.

Hani pun hanya tersenyum dan mengangguk penuh keramahan. Kemudian masuk ke dalam rumah tua tersebut. Sedangkan Ragil kembali melanjutkan langkah ke Pos Ronda.

Sesampainya di Pos Ronda Ragil sudah ditunggu beberapa orang termasuk Pak RT Mahmud.

“Mari Pak Agil, saya kira tidak bisa hadir. Sudah satu jam lebih kami menunggu!” seru Pak RT Mahmud.

Ragil terkejut, mendengar ucapan Pak RT Mahmud. Tidak menduga jika dia terlalu lama ngobrol dengan Hani.

“Maaf pak, kalau harus menunggu lama, kebetulan tadi harus berbicara dulu dengan—“

Belum selesai Ragil bicara sudah dipotong Pak RT Mahmud.

“Tidak masalah, Pak Ragil. Mungkin istrinya takut ditinggal sendiri, karena cerita yang kemarin itu ya?” tanya Pak RT Mahmud.

Ragil semakin tak bisa menjelaskan, karena dikira masalah Icha istrinya yang ketakutan. Dia lebih memilih diam membiarkan Pak RT Mahmud berpikir begitu. Sungkan untuk membantah Pak RT Mahmud yang dituakan di dusun.

“Oh iya Pak RT, terima kasih atas pengertiannya,” jawab Ragil.

“Jadi nama bapak Agil? Katanya seorang penulis ya, Pak? Perkenalkan nama saya Suryaman,” ucap seorang warga yang ikut meronda.

“Makasih Pak Suryaman, Nama lengkap saya sebenarnya Ragil Putra Azam. Nama Agil saya gunakan sebagai nama pena atau nama di pengarang buku yang saya buat,” jawab Ragil.

“Biar enak panggil saya Maman saja, Pak. Tidak kepanjangan menyebut!” sahut Suryaman atau Maman.

Ragil kemudian memperkenalkan diri kepada semua yang hadir satu persatu. Untuk bisa saling menyapa, suasana keakraban masih kental di dusun tersebut. Ragil merasa senang sebagai warga baru disambut baik oleh warga lain.

“Jadi begini Pak Agil, kemarin saya bilang ada sebuah kisah misteri di dusun ini. Kejadian kurang lebih adalah lima tahun yang lalu,” ucap Pak RT Mahmud.

“Kejadiannya seperti apa, Pak RT? Apakah melibatkan makhluk gaib?” tanya Ragil, ada rasa khawatir jika dirinya dianggap tahu soal gaib karena dia seorang penulis cerita horor.

“Mungkin iya , tapi mungkin juga tidak Pak Agil!” jawab Pak RT Mahmud.

“Maksudnya bagaimana, Pak? Mungkin iya atau mungkin tidak?” tanya lanjut Ragil.

“Saya belum berani memastikan, makanya saya sebut masih misterius!” jawab Pak RT Mahmud.

“Kalau boleh tahu, seperti apa itu, Pak RT?” Ragil makin penasaran dengan kejadian yang dianggap misterius. Jiwa penulis dan jiwa detektifnya keluar, ingin menguak hal yang dianggap misterius tersebut.

“Iya Pak, tentu boleh. Jadi dulu ada seorang warga yang rajin ibadah, dan baik hati. Namun sayangnya di akhir hidupnya ditemukan gantung diri,” kata Pak RT Mahmud terjeda.

Pak RT Mahmud seakan merasa berat untuk bercerita. Karena termasuk orang yang tidak percaya kematiannya dikarenakan bunuh diri. Sayangnya hampir semua warga sudah menganggap jika warga yang dimaksud bunuh diri. Alasan mereka juga cukup kuat karena korban ditemukan menggantung di pohon dengan tali yang menjerat lehernya.

“Apakah sejak itu dusun ini jadi sering kena gangguan, Pak RT?” tanya Ragil.

“Tidak Pak Agil, itu terjadi sekitar Lima tahun yang lalu. Kejadian di dusun ini baru sekitar enam bulan terakhir ini,” jawab Pak RT Mahmud.

“Ada hubungannya tidak ya, dengan kejadian lima tahun lalu, Pak?” tanya Ragil.

“Itu juga yang sedang saya pikirkan, Pak Agil. Barangkali Pak Agil, punya cerita yang mungkin bisa jadi petunjuk, Pak?” tanya balik Pak RT Mahmud.

Ketakutan Ragil terjadi, dia dianggap tahu atau paham hal gaib. Membuat Ragil jadi salah tingkah, sudah terlanjur cerita kepada Pak RT Mahmud. Jika dia penulis cerita horor, malu jika sama sekali tidak tahu tentang hal gaib.

“Memang yang meninggal gantung diri itu lelaki atau perempuan, Pak RT?” tanya Ragil.

“Perempuan Pak Agil, orangnya rajin Ibadah, baik hati dan dermawan padahal. Saya sendiri sampai sekarang sulit percaya, jika dia gantung diri, Pak!” ucap Pak RT Mahmud.

“Apa ada keanehan saat memandikan jenazah tersebut, Pak RT?” tanya Ragil mencoba menggali informasi lebih dalam, untuk mencari petunjuk.

“Kenehan yang bagaimana? Sepertinya biasa saja, gak ada yang aneh. Karena saya yang memimpin doa sebelum dimandikan,” jawab Pak RT Mahmud.

Ragil agak kesulitan untuk menjelaskan maksudnya.

“Maksud saya begini, Pak RT. Kan kabarnya dia gantung diri, tentu beda dong dengan yang meninggal bukan karena gantung diri!” ucap Ragil.

Pak RT Mahmud dan warga yang mendengarkan justru kebingungan. Mereka tidak berpikir seperti apa yang dipikirkan Ragil.

“Iya Pak RT, banar kata Pak Agil. Pasti ada perbedaan, perbedaannya apa, Pak Agil?” ucap seorang warga.

Ragil hampir saja tak kuat menahan tawa, karena mengira orang itu tahu. Ternyata malah kembali bertanya pada dirinya.

“Maksud saya begini, Pak. Kalau orang gantung diri pasti lidahnya menjulur, nah warga yang meninggal itu lidahnya menjulur keluar dari mulut atau tidak? Itu salah satunya saja, Pak!” jawab Ragil.

“Astaghfirullah... saya melihat lidahnya biasa saja waktu itu, Pak Agil!” sahut Pak RT.

“Yakin Pak? Gak mungkin lah, Pak. Kalau orang gantung diri lidahnya tidak menjulur keluar?” ucap Ragil.

“Saya yakin, Pak Agil, karena saya lama mengamati jenazah itu, bahkan tampak damai meninggalnya. Makanya saya tidak percaya dia bunuh diri, Pak!” seru Pak RT Mahmud.

Ragil, semakin penasaran dan berniat mencari tahu kebenarannya.

“Siapa nama orang yang meninggal itu, Pak RT?” tanya Ragil.

“Namanya Ibu Rohani, Pak?” jawab Pak RT Mahmud.

Ragil jadi merinding mendengar Nama orang tersebut.

“Nama panggilannya siapa, Pak?” tanya Ragil.

“Nama Panggilannya Hani!”

Bagai disambar petir, Ragil sangat terkejut. Karena dia baru saja ngobrol dengan orang yang juga bernama Hani sebelum sampai ke Pos Ronda.

“Rohani, nama panggilannya Hani? Apakah dulu tinggalnya di rumah tua dekat rumah Kos saya itu, Pak RT?” tanya Ragil.

“Kok Pak Agil tahu, apa Pak Agil juga kenal Bu Hani?” tanya Pak RT.

Ragil bukan menjawab, namun justru terkulai lemas hampir pingsan. Dia dipaksa harus percaya jika makhluk gaib itu ada. Dengan kejadian yang dialami tersebut. Itu membuatnya syok dan terkulai lemas di pos ronda.