Manusia Sempurna
Kecerdasan yang dimiliki dan mampu ditampung oleh akal pikiran seorang manusia merupakan sesuatu yang terbatas. Dan baiknya memang seperti itu saja. Seorang manusia sendiri tidak akan pantas lagi disebut sebagai manusia ketika ia mampu mencapai suatu titik yang berada di antara taraf kata sempurna. Karena itu tak heran jika Siddharta Gautama, sekitar 2500 tahun sebelum Masehi, ketika mencapai kesempurnaan hakiki akan pemahaman hidup alias pencerahan tak terbatas, kemudian menjelma menjadi Buddha Gautama atau yang sama arti dengan
ia yang tercerahkan .
Dan itulah sekali lagi mengapa kesempurnaan hanya milik Tuhan. Akan menjadi suatu kutukan ketika dimiliki oleh manusia. Dan manusia yang telah mencapai kesempurnaan… maka ia adalah tuhan.
Di abad ke-20 dan ke-21, jagat ilmuwan planet ini sangat gembira dan antusias berkat ditemukannya
partikel tuhan atau
Higgs boson . Walau miliki panggilan akrab sebagai partikel tuhan pun, sebenarnya artikel ini sama sekali tak ada hubungan dengan Tuhan pencipta alam semesta yang sebenarnya. Tuhan yang banyak disembah oleh umat manusia sepanjang sejarah mereka.
Higgs boson disebut partikel tuhan karena ia miliki kemampuan untuk menyatukan banyak partikel hingga jadi kohesif dan berakhir memiliki
massa . Tanpa keberadaan sang Higgs boson, seluruh partikel fundamental akan tercerai berai hingga materi tak akan miliki bentuk. Jika itu yang terjadi niscaya yang namanya semesta raya ini tak akan pernah ada.
Menurut teori model standard fisika partikel, jika massa Higgs boson lebih dari 129 Gigaelektronvolt (GeV) itu berarti jagat raya berada dalam kondisi yang stabil, normal, serta mampu berjalan sebagaimana mestinya. Namun, akan jadi lain cerita apabila sang Higgs boson yang dikonfirmasi pada Juli 2012 itu ternyata memiliki massa 126 GeV. Cukup ringan hingga cukup untuk buat seluruh jagat raya ini tak memiliki keseimbangan lagi.
Berdasar penemuan tersebut jagat ilmuwan kembali dibuat penasaran akan nasib alam semesta yang manusia tinggali di masa depan nanti. Teori jagat raya stabil membuat kita harus palingkan wajah ke teori
supersimetri . Menurut teori supersimetri sendiri tiap partikel memiliki partikel mitra yang punya massa lebih besar yang disebut sebagai
superpartner . Setelah penemuan Higgs boson, yang harus dikonfirmasi oleh manusia selanjutnya adalah berapa besar massa
top quark atau superpartner Higgs boson yang sebenarnya untuk menentukan apakah… jagat raya ini stabil… atau tidak?
Setelah penelitian yang dimulai awal tahun 2015 itu usai, jagat ilmuwan, bahkan jagat manusia secara garis besar, akhirnya menemukan kenyataan akan alam semesta yang tengah mereka tinggali. Dunia penuh misteri yang sudah jadi tanah tempat seluruh makhluk hidup dan berdiri dengan segala daya sejak pertama lahir ke dunia. Hasilnya sesuatu yang buat mereka makin yakin ilmu pengetahuan merupakan
the one and only, satu-satunya dan segala-galanya, panutan, junjungan, serta kiblat ke arah mana harus menatap.
Dan berbanding terbalik dari kepercayaan mayoritas manusia zaman sebelumnya, kesempurnaan yang ilah itu tidak pernah nyata. Semua hanya karangan alias cerita lama yang sengaja dibuat-buat saja oleh para pendahulu umat manusia untuk menjaga kalangan mereka agar tetap tertib dan bisa diatur. Bukankah ketakutan pada sesuatu yang sebenarnya tak ada itu paling ampuh untuk beri kendali pada alam bawah sadar siapa pun? Terlebih pada mereka yang sedang hidup dalam tekanan serta depresi. Akan jadi sasaran paling empuk untuk dimanipulasi.
“Neraka adalah dongeng bagi orang-orang yang takut gelap,” ucap salah satu manusia paling pintar dalam sejarah kemanusiaan yang telah beri banyak kontribusi untuk perkembangan ilmu pengetahuan, Stephen Hawking.
Jadi, apa menurutmu Tuhan dan agama itu benar-benar ada?
***
Namaku Nolan Bayanaka T. Gallagher. Lahir tanggal 3 April 82 Digitalian Era. Aku terlahir dalam keluarga Gallagher yang sangat sederhana dan bahagia. Sayang, ibuku harus meninggal ketika usiaku baru saja menginjak satu tahun. Itu buat tak ada banyak kenangan yang bisa aku jadikan bahan bernostalgia kala dipancing topik mengenai ”ibu”. Yah, bukan berarti aku peduli juga pada hal sederhana macam itu.
Di suatu masa di dunia ini di mana kecerdasan intelektual adalah segala-galanya yang dijadikan panutan nyaris untuk dapatkan segala hal. Mungkin aku pantas dicap sebagai manusia yang dikutuk. Aku sangat bodoh. Orang bilang tidak punya otak. Bahkan ketika kecerdasan buatan berbagai macam merek dan brand berusaha diaplikasikan ke dalam otakku … aku tetap tak mampu memanfaatkan mereka seperti manusia lain.
Seorang anak yang bodoh merupakan aib paling besar bagi tiap orang tua di masa ini. Aib yang tak akan ragu mereka perlakukan dengan kejam, tak berkeperimanusiaan, dikirim ke panti asuhan, atau paling buruk ya disuruh mencari kehidupan sendiri di jalanan. Hal semacam itu sudah jadi tabiat lumrah bagi mereka yang mendambakan kesempurnaan. Sesuatu yang terus dipaksa untuk semua manusia miliki. Walau kekurangan sendiri harusnya merupakan sesuatu yang buat seorang manusia jadi manusia.
Walau seperti itu, untung saja ayahku, meski hanya membesarkanku seorang diri, tak pernah satu kali pun menyerah atau marah karena keadaan yang harus aku miliki. Ia tetap merawat dan membesarkanku dengan sabar bahkan ketika di usiaku yang ke-2 tahun pun aku belum bisa membaca maupun memahami hitungan seperti anak pada umumnya.
Sampai kapan pun aku akan menganggap hal itu sebagai suatu berkah.
Ayah adalah manusia terpilih. Jika manusia biasa, anak seperti aku paling tidak pasti sudah ditenggelamkan ke teluk Jakarta atau perairan Masalembo.
Waktu masih berusia satu tahun oleh Ayah aku dimasukkan ke sekolah seperti anak normal pada umumnya. Tentu dengan harapan besar aku bisa tumbuh dan berkembang memiliki intelektualistas seperti anak lain. Namun, fakta yang harus Ayah dapat adalah kenyataan bahwa aku memang sangat berbeda dari anak lain di mana harusnya mereka sudah bisa lakukan banyak hal pada usia tersebut.
Aku tak bisa memahami apa pun yang diucapkan oleh guru. Segala jenis pelajaran tak ubahnya seperti seledri yang masuk ke mesin penghancur. Tercerai berai tidak berbentuk lagi. Bahkan ketika Ayah sendiri yang sampai rela luangkan waktu untuk mengajariku secara privat, aku tetap tidak bisa. Aku tetap tidak bisa lakukan apa pun hal yang orang lain anggap sebagai kemudahan.
Aku tertekan. Aku sangat pusing. Aku tidak bisa melihat dunia dengan jelas. Jalan yang lurus pun jadi tampak berkelok. Dan semua hal yang telah susah payah aku usahakan… tidak terlihat hasilnya.
Aku seperti sedang berjalan di atas air.
Mungkin aku memang bodoh. Tapi, di saat sama juga aku rasa tidak sebodoh itu. Paling tidak aku masih punya kesadaran bahwa aku bodoh dan tidak punya bakat cemerlang seperti anak lain. Itu kenapa aku jadi seorang siswa yang belajar dengan rajin. Memperhatikan ucapan guru dengan serius. Jarang bermain atau mengobrol dengan teman. Mengerjakan tugas rumah dengan disiplin. Tapi, tetap saja. Semakin banyak aku belajar yang ada malah makin banyak kegagalan aku dapat. Semakin aku menyadari kecerdasan belum bersedia singgah dalam diriku. Belum bersedia menetap dalam waktu lama sebagai balasan akan seluruh perjuangan.
Manusia jika hanya miliki mental lemah yang tak ada daya juangnya pasti sudah gila kalau harus mempertahankan anak seperti aku dalam tanggung jawab mereka di dunia dengan tuntutan yang semakin berat dan gila. Itu kenapa aku katakan lagi bahwa Ayah merupakan seorang manusia pilihan. Walau situasi tak pernah jadi mudah untuk kami, ia tetap bisa mengembangkan senyuman. Mungkin ia melihat suatu potensi tersembunyi dari bola mataku yang redup tak pantulkan kilau cahaya apa pun ini.
Entahlah, sebenarnya aku hanya sedang berusaha menghibur diri.
Penyebab keteguhan Ayah sebenarnya masih ada satu lagi. Seorang kawan karib yang ia perkenalkan memiliki nama Nararya. Aku sendiri akan memanggil lelaki itu dengan honorifiks Kak Nara karena ia tampak masih terlalu muda untuk aku gelari honorifiks
pak . Baru menginjak rentang usia belasan tahun mungkin.
Kak Nara sering mengunjungi Ayah di kediaman sederhana kami. Kadang akan menjemput di sekolah. Kadang bermalam tanpa terganggu di rumah yang tak ada apapun nya ini. Membacakan aku berbagai macam cerita mulai yang jelas-jelas dongeng sampai yang cukup realistis. Bahkan bernyanyi bersama walau suara kami sangat sumbang.
Dari pengamatanku selama mengenal Kak Nara, ia sangat dekat dengan Ayah. Aku tidak mengerti bagaimana bisa Ayah menjalin hubungan dekat dengan anak remaja seperti dia. Tapi, Kak Nara sendiri satu-satunya orang yang aku tahu Ayah pernah menceritakan sangat banyak hal padanya.
Ayahku sendiri merupakan seseorang yang cukup tertutup dan sangat pemalu. Ia tak punya banyak teman dalam kehidupan sosial yang ia jalani. Ketika satu atau dua orang teman kerja datang pun ia hanya akan berbicara seadanya. Sangat irit dan hemat kata. Tidak seperti saat Kak Nara yang datang. Mereka bisa mengobrol sampai lupa waktu.
Aku seperti melihat diri Ayah yang tidak aku kenal setiap waktu saat ia sedang bersama dengan Kak Nara.
Siapa sebenarnya Kak Nara itu? Mengapa perasaanku tak bisa tenang kala memikirkannya? Apakah benar ia orang baik? Atau jangan-jangan… hanya rubah berbulu domba yang entah miliki niatan apa?
Walau aku hanya orang bodoh, aku selalu khawatir tiap kali memikirkan itu semua. Firasatku… sangat jelek.