Rajutan Kenyataan
Ayah merupakan sosok orang tua tunggal yang baik dan sempurna. Aku berusaha memaklumi serta mentoleransi apa pun kekurangan yang ia miliki karena ia sudah berjuang keras untuk tetap merawatku walau mungkin itu hal yang berat. Namun, seorang ayah yang sudah demikian sempurna seperti itu sekalipun aku rasa akan tetap miliki sisi gelap. Suatu bagian dari diri terdalam yang hanya ia tunjukkan padaku putra semata wayangnya. Tidak pada para teman di tempat ia bekerja. Tidak juga pada setiap orang yang ia temui di dunia. Bahkan pada hewan, serangga, dan tumbuhan juga tidak. Hanya padaku seorang.
Kebencian mendalam pada sosok D Clan.
Untuk siapa pun yang belum tau apa itu D Clan, akan aku beri gambaran sedikit. D Clan merupakan personifikasi Tuhan untuk umat manusia lama di negeri yang sempat dapat julukan sebagai tanah surga ini. Di dunia modern yang menganggap bahwa kedudukan ilmu pengetahuan berada di atas segala hal, jika tak mau disebut tuhan pun sama sekali tak berlebihan untuk menganggap mereka sebagai kumpulan para nabi, rasul, orang suci atau yang semacam itu, lah.
D Clan telah memimpin negara ini sejak dua abad silam. Dan yang paling mengerikan dari semua itu, kedudukan mereka sama sekali belum, bahkan mungkin tak akan pernah bisa digoyahkan sampai kapan pun. Paling tidak sampai saat di mana aku mengatakan hal ini.
D Clan hanya diisi oleh para manusia cerdas, pintar, jenius yang menyandang gelar mulia sebagai seorang
hetharion . Untuk keturunan darah murni pendiri D Clan sendiri mereka akan disebut sebagai
Aristo Gener . Aku tak begitu tau maupun peduli pada apa itu arti hetharion maupun Aristo Gener. Yang aku tahu dengan baik dan pasti hanyalah fakta bahwa aku bukan dan tidak akan pernah jadi bagian dari keagungan mereka yang terasa memenuhi tiap inchi bagian dari negeri ini.
Ayah sangat benci pada D Clan. Sejak dulu aku sendiri sama sekali tidak tau apa yang jadi penyebabnya karena memang Ayah tidak pernah bicarakan hal itu secara khusus denganku. Ia hanya akan menunjukkan betapa terganggunya ia pada hal apa pun yang menunjukkan atribut D Clan. Padahal ini juga kan, bahasanya, negara “milik” mereka. Sampai di sana aku sama sekali tak bisa memahami apa yang jadi alasan pria itu.
Dari yang aku dengar sendiri, D Clan adalah kumpulan orang yang telah membawa negara ini menuju peradaban paling tinggi. Paling mutakhir. Atlantis yang terlahir kembali. Salam serta keagungan yang luar biasa yang didapatkan entah bagaimana oleh tangan-tangan dingin mereka. Dan semua itu berada pada level yang jauh lampaui para negara adidaya pada zamannya seperti Amerikanapolish? Lewat, bablas otewe. Japanapolish? Lewat, bablas
go away . Jermanapolish? Bablas
rudale !
Negara ini bisa sampai ada pada titik yang semaju sekarang karena D Clan SEORANG (walau mereka bukan satu orang juga, sih). Itu kenapa sejak kepemimpinan Presiden D Clan yang pertama sekitar dua abad silam, saking bucinnya warga negara ini pada mereka, rakyat sampai tak menghendaki adanya suksesi. Itu kenapa sejak saat itu sampai sekarang semua presiden yang memimpin negara ini sudah pasti bin kudu musti berasal dari kekerabatan D Clan dan pemilik nama belakang D Clan.
Keluarga Gallagher, sekalipun memiliki nama keluarga yang terdaftar dalam status catatan sipil istimewa kependudukan, sama sekali bukan keluarga yang miliki pengaruh seperti nama keluarga terdaftar lain. Sama sekali tidak. Ayah saja hanya bekerja sebagai seorang ahli mekanik sekaligus teknisi kendaraan umum cepat R Link. Latar belakang Ayah maupun keluarga kami bisa dibilang sangat biasa dan tak harusnya bisa mengatakan hal semacam, tidak suka, pada D Clan yang telah lakukan banyak hal untuk semua orang termasuk diri kami sendiri.
Oksigen yang tiap waktu semua orang hirup ini pun rasanya mereka yang ”ciptakan”. Namanya juga ”tuhan”.
Sama sekali tidak habis pikir. Bagaimana bisa penduduk
rakyat jelata seperti Ayah bisa sampai punya masalah dengan orang-orang seperti mereka yang…
separuh dewa ?
â
Suatu hari Ayah mendatangi aku. Usiaku sudah menginjak angka tiga tahun. Sebentar lagi aku akan, wajib, dan harus masuk SD kalau mau melanjutkan hidup sebagai warga negara yang punya hak sipil. Tapi, apalah dayaku yang saat ini walau hanya untuk menulis kalimat dalam bahasa Indonesia, “nama saya Nolan Bayanaka T. Gallagher”, saja belum begitu fasih. Mungkin Ayah datang karena ingin berkata kalau akhirnya ia merasa sudah harus menyerah dan ingin melemparku ke Teluk Jakarta saja agar jadi jauh lebih berguna karena bisa dimakan oleh biota laut.
Hmm, itu memang terdengar kejam. Tapi, hal yang sangat masuk akal dan lumrah untuk seseorang lakukan di masa seperti ini.
“Ayah ingin mulai saat ini kamu belajar dengan baik bersama dengan Kak Nara,” ucap pria itu tanpa diiringi pembuka atau intermezzo yang bisa buat suasana jadi jauh lebih ringan. Anda sedang berada di hadapan anak berusia tiga tahu lho, Pak. Eh, iya, lupa. Tiga tahun itu kan hanya angka. Bagaimanapun juga aku harus bisa bersikap dan mengambil keputusan layaknya orang dewasa yang telah miliki tanggung jawab akan hidup mereka sedini dan secepat mungkin.
Bagaimanapun juga aku berdiri di masa di mana semua memang harus seperti itu. Tidak peduli apa yang terjadi. Aku hidup di dunia yang hanya menuntut kesempurnaan jika tetap ingin bertahan.
“Apa aku tidak hanya akan merepotkan Kak Nara saja?” tanyaku dengan tatapan datar. Kalau boleh jujur aku sama sekali tidak mengharapkan apa pun dari ayahku. Ia sudah terlalu baik dan pengertian selama ini. Hanya saja, aku merasa perlu beri sedikit respon yang menunjukkan apa yang sebenarnya sedang aku rasakan. Perasaan gundah yang belum bisa secara gamblang aku utarakan.
Tidak mungkin kan aku bilang pada Ayah kalau aku mencurigai sesuatu soal lelaki muda itu?
“Kalau kamu khawatir soal itu… hal ini Kak Nara sendiri kok yang menawarkan. Dia memang orang yang sangat baik,” balas Ayah seraya tersenyum lembut. Wajahnya sama sekali tak mengisyaratkan hal mencurigakan yang sejak tadi berkecamuk dalam perasaanku. Apa aku hanya sedang merasa parno saja? Parno karena terlalu banyak hal berjalan tidak sesuai dengan ekspektasi.
Akhirnya aku bertanya lagi, “Memang apa yang sudah terjadi? Kenapa tiba-tiba Ayah putuskan hal semacam ini?” Merasa sedikit belum puas dengan jawaban yang ia beri. Seperti, ayolah, mungkin aku memang tak sepintar anak lain, tapi aku juga tidak sebo… eh, ya kan aku memang bodoh, sih.
“Sebentar lagi Kak Nara akan punya bayi laki-laki!” beritahu pria di hadapanku dengan dua mata yang tampak nanar serta dipenuhi semangat antusiasme. Ia seperti ingin menunjukkan betapa bahagia ia akan kabar yang baru meluncur dari mulutnya. Namun…
Ternyata dugaanku salah. Kak Nara bukan seorang anak remaja walau ia terlihat seperti itu. Ia tidak lebih dari seorang bapak-bapak yang sudah menikah dan sebentar lagi akan menimang momongan. Sedikit mengecewakan. Haruskah aku ubah panggilannya?
“Jadi, Kak Nara ingin belajar mengasuh anak dengan dimulai dari kamu. Lucu banget deh tuh anak,” beritahu Ayah lagi. Sesuatu yang sebenarnya tak begitu ingin aku ketahui. Tapi, dia akan jadi tak terhentikan jika sudah seperti ini.
Aku bertanya, “Anak yang keberapa, Yah? Aku pengen temenan sama semua anak Kak Nara.”
Ayah menyahut, “Anak pertama. Iya, kamu boleh berteman sama semua anak Kak Nara. Tapi, ada syaratnya.”
“Syaratnya apa?” tanyaku.
Ayah menjawab, “Kamu harus jadi lebih pintar dari sekarang. Setelah itu kamu harus lebih pintar lagi. Jadilah lebih pintar lagi sampai kamu tidak bisa lebih pintar lagi.”
”…”
”Mengerti?” ia berusaha mengonfirmasi.
Syaratnya berat amat. Lebih pintar, lebih pintar. Mending Ayah doain aku bisa baca dulu. Aslinya aku ingin jawab begitu. Tapi….
â
Setelah itu Kak Nara tidak pernah datang selama beberapa waktu. Banyak orang di luar sana juga sepertinya sedang gonjang-ganjing karena suatu hal. Begitu aku caritahu apa yang sedang terjadi di saluran media massa, oh, rupanya Presiden D Clan yang sedang memimpin, Harietta Kaihan, tutup usia. Itu membuat pewarisnya harus segera naik takhta.
Tapi, ada sedikit masalah di sini. Siapa sih pewarisnya? Ah, bodo amat. Tidak ada hubungannya denganku. Selama aku masih bisa hidup, makan, dan bersama Ayah, peduli setan dengan apa yang terjadi di dunia.
â
Keesokan harinya, pagi-pagi buta, aku dapati rumahku disatroni sekelompok orang mencurigakan yang mengenakan pakaian berwarna hitam. Aku langsung berteriak berusaha membangunkan Ayah yang masih terlelap. Namun, yang selanjutnya ia lakukan bukannya menghubungi pihak berwajib. Ia malah menemui orang-orang dengan hawa tidak enak itu dan terlibat dalam suatu perbincangan. Entah apa yang mereka bicarakan. Tapi, kecurigaan makin dalam kuasai perasaan.
Tiba-tiba ia menoleh ke arahku. Berkata, “Nolan, cepat kemasi barang-barangmu!” perintahnya.
”…” Separuh tubuhku masih membeku. Aku tak bisa merespon perintah itu.
Ia melanjutkan, ”Kita akan berlibur ke suatu tempat.”
“Aku takut. Mereka menyeramkan sekali. Apa yang mereka inginkan dari kita? Mereka siapa?” Aku merengek hanya bisa memohon penjelasan.
“Tenang saja. Kamu akan baik-baik saja selama ada Ayah,” janji Ayah seraya mengembangkan senyum ramah. Seolah memang tak sedang ada masalah.
Aku turuti saja dia dan segera aku kemasi barang-barangku yang sederhana ini seadanya. Tak ada banyak benda berharga juga.
Di atas mobil mewah yang pertama kali aku lihat dan naiki itu, kuberanikan diri bertanya, “Sebenarnya kita mau ke mana?”
Tanpa menoleh Ayah menjawab, “Lancelot Alberion.”
Malam sudah larut dan aku terlelap begitu saja. Tenggelam dalam hitam kelam kenyataan yang akan segera tersulam.