LNCrawler

Cetak Biru

Salam Untuk Sang Malam – End Of The Hail — gooddreamer.id · All chapters

Cetak Biru

Dalam tidurku malam ini aku mengalami bunga tidur. Tapi, bunga tidur kali ini tidak seperti beberapa bunga tidur yang biasa terjadi. Biasanya setelah bermimpi akan segera aku lupakan setelah kembali ke kenyataan. Namun, bunga tidur yang kali ini ini entah bagaimana tetap aku ingat sampai sekarang. Saat aku terbangun di suatu ruangan yang tak pernah aku ketahui sebelumnya.

Seluruh Presiden D Clan merupakan keturunan garis lurus Raoul Danadyaksa, pendiri D Clan. Nama-nama yang diberikan pada mereka tentunya bukan sembarang nama. Illustrious adalah para nama mulia yang hanya dimiliki oleh mereka orang-orang yang berasal dari kalangan atas.

Untuk memberi nama keturunan kita sendiri saat ini dibutuhkan yang namanya persetujuan dari suatu lembaga. Tujuannya sederhana, hanya untuk menunjukkan dari kelas masyarakat mana si anak lahir. Karena Raoul Danadyaksa lahir abad dua puluh, sistem penamaan apalagi Illustrious tentu belum ada, jadi ia masih bebas menggunakan nama apa pun. Namun, sejak sistem penamaan diberlakukan untuk seluruh warga negara ini, semua nama keturunan Raoul Danadyaksa merupakan nama-nama mulia. Illustrious.

Dan entah kesambet apa tiba-tiba aku mengetahui semua nama mereka beserta maknanya dalam bunga tidur itu. Mulai dari presiden yang baru saja berpulang, Harietta Kaihan, memiliki makna penguasa alam semesta. Lalu calon presiden alias anak laki-laki kandung presiden sebelumnya, Hail Izazi, miliki makna kemuliaan yang disegani.

Bagaimana bisa aku sampai memimpikan sesuatu yang bahkan tak ada hubungannya sama sekali denganku? Seperti, apa pentingnya juga untuk anak kecil seperti aku memahami makna Illustrious mereka? Kalau boleh jujur, sikap Ayah yang tidak menyukai D Clan sedikit menulari aku. Buat aku tak peduli bahkan pada hal paling mendasar soal semua orang kaya itu.

Ketidakpedulian total.

Sebenarnya seorang manusia tidak mungkin lahir sebagaimana tabula rasa atau putih kosong, tak ada isinya, tak miliki apa pun. Manusia sendiri adalah makhluk organik yang tidak sama dengan mesin hasil produksi pabrik. Bahkan mesin yang diciptakan oleh manusia dan sesama mesin pun pasti mewarisi sesuatu dari generasi pendahulunya. Mulai dari cetak biru atau tim yang membuat. Begitu juga dengan manusia. Dalam jenis ketidaksadaran kolektif, terdapat simpanan akan beberapa ingatan dan warisan leluhur yang dibawa sejak lahir. Manusia menyebutnya sebagai mimpi arketip. Arketip sendiri memiliki makna suatu cetak biru dari kepribadian. Blueprint.

Nah, melihat benang merah dari pengalaman yang baru aku alami?

Entah bagaimana, tapi sedikit banyak, entahlah, ini hanya feeling yang bisa jadi salah, tapi aku rasa itu seperti mimpi yang dibawakan oleh leluhurku lewat ketidaksadaran kolektif.

Hah? Bagaimana bisa? Itu tidak mungkin. Apa aku sudah mulai hilang kewarasan atau bagaimana? Sampai berani memikirkan hal semacam itu saat diriku hanya seorang rakyat jelata yang berada di posisi paling bawah piramida kehidupan karena kondisi otak dan kemampuan tubuh yang tidak normal.

Aku hanya anak sederhana yang sangat biasa. Bagaimana bisa berhubungan dengan para presiden yang mulia dan akan dikenang sepanjang masa karena jasa mereka yang harum mewangi itu? Sama sekali tidak masuk akal.

Saat sedang asyik memikirkan berbagai macam kemungkinan yang bisa sampai buat hal itu terjadi, pintu kamar tempat aku berada tiba-tiba terbuka dari luar. Aku pikir yang datang Ayah. Karena ada banyak sekali hal yang ingin segera aku konfirmasi. Ingin segera aku tanyakan. Aku pikir Ayah datang karena ingin segera bawa aku pergi dari tempat asing dengan aura tidak enak ini. Tapi, yang muncul bukan dia.

Seseorang yang tidak begitu aku harap akan muncul di hadapanku dalam waktu dekat. Karena satu dan lain alasan yang tak kuasa aku jelaskan dalam ucapan. Kedua pandangan mataku yang tadi biasa saja sekarang mulai memicing. Menatap tajam ke arah orang yang sedang berdiri di ambang pintu dengan tatapan ramah serta senyum mencurigakan.

”Bagaimana keadaan kamu?” tanya orang itu dengan lengkungan senyum yang entah punya makna apa.

Aku menjawab, “Biasa saja. Kak Nara sendiri sedang apa? Kenapa Kak Nara bisa ada di sini? Dan yang paling penting….”

Pria yang memiliki wajah sangat lembut serta kalem itu tersenyum padaku. Aku sadari air mata menetes dari pelupuk mata yang tiba-tiba terasa sangat hampa. Aku tidak mengerti apa yang jadi penyebabnya. Karena memang tak terasa ada hal yang bisa menyebabkan hal itu. Aku yakin aku tak sedang lakukan apa pun yang bisa buat dia merasa sedih atau tertekan.

Belum sempat aku bertanya lagi soal penyebab tangisannya. Ia tetap tak mengatakan apa pun dan malah mendekatiku. Setelah itu memelukku dengan lembut serta hangat.

“Apa bayi Kak Nara sudah lahir?” aku bertanya saat lihat ternyata pakaiannya yang berwarna merah itu terdapat warna lebih gelap. Tampak seperti noda darah. Bukankah itu biasa untuk seorang ayah yang baru menyambut kelahiran anak mereka? Hal ini hanya aku ketahui dari film, sih. Jadi, tidak tau bagaimana kalau di kenyataan. Tapi, sepertinya sih memang begitu.

Akhirnya Kak Nara beri jawaban dengan menganggukkan kepala. Pelukan yang ia berikan terasa makin kuat. Sebenarnya aku ingin protes karena mulai terasa kurang nyaman. Tapi, entah kenapa aku jadi merasa tidak tega karena dengar tangisannya yang terasa sangat menyayat jiwa. Seolah itu adalah air mata yang benar-benar keluar dari kedalaman jiwa. Aku tak ingin mengganggu seseorang yang sedang berusaha menentramkan hati mereka dengan mengeluarkan air mata.

”…”

“Kak Nara kenapa?” aku bertanya lagi ketika tangisan pria itu mulai mereda.

Ia menjawab, “Kak Nara tidak kenapa-kenapa. Hanya sedikit over feel (istilah kebawa perasaan/baper di zaman ini) karena sesuatu.”

Oh, hanya begitu saja. Sampai buat aku ikut-ikutan merasa over feel. “Ayah ada di mana?” tanyaku. “Aku mau pulang.”

“Apa kamu tau saat ini kita sedang berada di mana?” tanya Kak Nara tiba-tiba. Setelah kedatangannya yang emosional dan banyak hal yang sudah aku pikirkan sejak dapatkan kembali kesadaran. Benar juga. Ada di mana aku? Aku berusaha keras memutar ingatan karena kurasa ada informasi menyangkut hal itu di suatu tempat dalam semesta ingatan yang luas. Aku tidak ingin melewatkan informasi apa pun dan kembali jadi anak bodoh hanya karena kecerobohan sederhana.

Aku tidak mau seperti itu.

Berpikir… berpikir… berpikir!

Aku pun menjawab, “Lancelot Alberion.”

”Apa itu Lancelot Alberion?” tanya Kak Nara dengan tatapan mengetes saja. Aku kurang suka dengan sikap seperti itu. Aku tidak begitu suka diuji karena jarang bisa. Tapi, situasi yang sedang kami lewati kali ini tidak terasa seperti tipikal pengujian yang aku benci. Ia tampak hanya sedang ingin memastikan sesuatu saja.

Pertanyaannya, apa itu? Apa yang perlu dipastikan dari seorang anak biasa yang nyaris sama sekali tak memiliki keistimewaan seperti aku? Apa yang dia inginkan dariku? Apakah Ayah juga berhubungan dengan ini semua? Bukankah ia sangat membenci D Clan? Jangan-jangan….

Apa yang sebenarnya kalian inginkan?