Guncangan Emosi
Seisi kepalaku tiba-tiba terasa sangat pusing karena banyak pertanyaan muncul, berputar, dan tak bisa aku temukan jawabannya.
Aku sangat ingin segera pergi dari sini. Segera angkat kaki. Kembali ke dunia di mana seharusnya aku berada. Agar eksistensiku tak lagi terasa sia-sia.
Aku sampai kesulitan bernapas.
Berusaha aku tahan air mata yang sudah di pelupuk. Aku tak mau sampai terlihat lemah di hadapan seseorang yang belum bisa aku pastikan. Baik niatnya, identitasnya, maupun perannya dalam semua kejadian yang sedang menimpaku dan Ayah.
Setelah terdiam beberapa lama aku menjawab, ”Lancelot Alberion adalah tempat tinggal bagi para anggota keluarga D Clan.”
“Tepat sekali. Anak pintar,” puji Kak Nara sambil beberapa kali mengusap batok kepalaku lembut. Usapan yang terasa seperti Ayah.
”Aku tidak mau ada di sini terlalu lama,” ucapku lagi. Dengan raut mendukung ketidaksukaan. Aku hanya tak ingin hidupku yang normal dirusak oleh orang yang lahir ke dunia hanya untuk bahagia seperti mereka. Cih.
”Memang kenapa? Apa ada sesuatu dari tempat ini yang membuat kamu merasa kurang nyaman, Nolan Gallagher?” tanya Kak Nara lembut. Tapi, bukan tipikal kelembutan yang aku suka. Ini adalah kelembutan yang akan seekor ular gunakan untuk menjerat mangsa mereka dalam perangkap.
Otakku yang kecil ini tiba-tiba terasa penuh dengan paranoid yang sebelumnya tak ada. Kenapa? Apa penyebabnya? Tolong… jangan… aku bisa m…. ”Ini bukan tempat untuk orang seperti aku,” jawabku pada akhirnya. Tak ingin semakin memperdalam ketakutan tak berwujud. Aku hanya ingin segera pergi dari tempat ini!
Aku bisa ma….
“Memang kamu tidak mau tinggal di sini, Nolan?” tanya Kak Nara tiba-tiba. Aku sedikit tersentak kala mendengar pertanyaan itu. Hal yang tak pernah aku bayangkan akan terlontar dari mulut seseorang dan ditujukan pada manusia seperti aku. Ia melanjutkan, ”Tempat ini memiliki sangat banyak mainan yang menyenangkan dan bisa kamu gunakan berapa kali pun, lho. Bangunan serta tiap ruangan di dalamnya sangat mewah juga luas. Semua makanan yang kamu inginkan pun ada dan tinggal minta saja pada koki Lancelot Alberion yang punya jam terbang tinggi dalam meramu cita rasa bermacam makanan terbaik di kelasnya.”
”…”
”Akan sangat menyenangkan sekali, lho,” promosi Kak Nara lagi. Aku benar-benar tak mengerti apa yang orang mencurigakan ini harapkan dengan beritahu aku semua sampah dan omong kosong itu. Seperti, lalu memang apa hubungannya dengan hidupku? Aku tidak peduli dengan semua keindahan yang dimiliki oleh D Clan atau Lancelot Alberion.
Mereka memang cocok dengan semua keindahan dan pantas untuk itu semua. Tapi, aku kan tidak sama. Aku hanya seorang rakyat jelata. Keberadaannya saja terdiskreditkan oleh nasib dan takdir karena kemampuan tak seberapa.
Aku tidak akan pernah bisa berdiri di tempat yang sama dengan mereka.
”Bagaimana, Nolan?” tanya Kak Nara lagi, lebih semangat. Rautnya kali ini berbanding terbalik dengan semua wajah menyedihkan yang sudah aku khawatirkan barusan.
Ada apa sih ini sebenarnya? Mataku mulai tak bisa lagi tetap tenang. Mulai sibuk melirik ke kiri dan kanan. Mencari celah di mana bisa larikan diri. Mencari celah di mana aku bisa sembunyi.
Tapi, tak ada kesempatan seperti itu di ruangan tertutup ini.
Aku menjawab, “Mungkin memang terdengar sangat menyenangkan. Bisa jadi juga impian dari banyak orang. Tapi, apa yang aku pikirkan sama sekali belum berubah. Karena aku tidak butuhkan semua itu.”
”…”
Sial, sial, sial, aku hanya ingin hidup tenang bersama dengan ayahku di kediaman sederhana kami. Seperti itu sampai aku mati juga tidak mengapa. Kenapa jadi seperti ini?
Wajah pria itu yang tadi semangat menunjukkan penurunan watt. Jadi sedikit kusam serta kecut, tapi tampak berusaha ia tutupi.
“Oh iya, Ayah bilang Kak Nara ingin mengajari aku. Terlepas dari apa pun alasan yang buat kita sampai harus berada di tempat ini, sebaiknya kita mulai sekarang. Karena waktu tidak akan pernah bisa diulang,” ajakku lebih tenang. Berusaha alihkan Kak Nara dari kesedihan atau perasaan apa pun yang sedang ia rasakan sekarang. Termasuk juga buat ia tidak bicarakan apa pun lagi soal hal yang ia bahas sebelumnya.
Sudah aku duga, firasatku sama sekali tidak salah. Memang ada yang harus diwaspadai dari pria ini.
Ia kembali tersenyum. Menjawab, ”Baiklah. Nolan ingin mulai dari pelajaran apa? Membaca? Menulis? Atau yang lain?” tanyanya.
Ikut aku kembangkan senyum palsu di wajahku, ”Yang mana saja. Aku tidak pandai dalam itu semua.”
Ia mengeluarkan papan tulis elektronik dari dalam tas dan memulai pelajaran dengan suasana biasa seolah tak ada yang habis terjadi. Yah, memang tidak ”ada” yang terjadi, sih. Semua yang dia katakan barusana bisa jadi hanya intermezzo tidak penting. Aku juga tidak mengharapkan apa pun dari sana.
Tinggal di Lancelot Alberion? Memimpikan hal itu saja aku tidak tertarik.
Kak Nara memulai pelajaran dengan ajari aku menghafal huruf dengan metode gambar dan nada musik yang bagus. Pemahaman yang berusaha ia berikan padaku sungguh menyenangkan. Sampai tanpa terasa aku sudah hafal urutan tiga abjad pertama.
A, setelah itu B, lalu C. Untuk kelanjutannya aku masih butuh banyak waktu. Tapi, tidak masalah karena semua ini terasa akan berjalan menyenangkan. Kewaspadaan dan paranoid yang di awal kental aku rasakan dari orang ini juga sudah tidak begitu terasa lagi.
Gara-gara perasaanku yang berubah drastis dalam waktu cepat aku jadi curiga. Tapi, bukan wujud kecurigaan negatif seperti sebelumnya. Apa mungkin Kak Nara itu semacam tenaga pendidik yang dipekerjakan D Clan untuk mengajar para anak keturunan mereka, ya? Itu kenapa aku harus dibawa ke Lancelot Alberion. Masuk akal sekali, ’kan?
Tak lama kemudian tepatnya saat tengah hari, seseorang dengan penampilan… ala pelayan orang kaya memasuki ruangan ini tanpa permisi dan meminta aku serta Kak Nara pergi menuju suatu tempat. Aku yang sebenarnya memang sudah cukup lelah belajar tidak banyak bertanya dan ikuti saja apa yang pria bertampang orang baik itu perintahkan.
Sampailah kami di bagian Lancelot Alberion yang lain. Tempat itu sendiri merupakan suatu ruangan besar yang sangat mewah. Ada lampu gantung besar di tengah langit-langitnya yang menggantung dengan puluhan atau bahkan mungkin ratusan kristal berkilauan. Lantainya ditutupi karpet yang tampak lembut berkelas. Dinding dilapisi wallpaper berkualitas yang warnanya sangat cocok dengan semua ornamen yang ada di sini.
Benar-benar tempat yang seperti surga untuk orang dari latar belakang menengah ke bawah seperti aku. Tapi, walau begitu aku sama sekali tidak bisa rasakan kebahagiaan. Perasaan waswas dan curiga, juga paranoid kembali penuhi seluruh isi hatiku. Bahkan wajah ramah yang tampak berusaha menenangkan Kak Nara pun tak bisa bantu benahi perasaan itu. Juga genggaman tangan lembut yang beri isyarat untuk merasa lebih baik. Tetap tidak ada ketenangan bisa aku rasakan. Ruangan itu dipenuhi para orang dewasa dengan tampang menyeramkan dan pakaian rapi mengintimidasi.
”Hah?!”
Yang paling gila dari semua ini… Ayah berdiri di tengah-tengah mereka. Seolah ingin berkata bahwa ia merupakan salah satu dari mereka. Atau apa pun yang terjadi sebenarnya. Bagaimana bisa? Tidak mungkin seperti itu, ‘kan?