Akhir atau Awal?
Aku pasti… telah salah sangka.
“Nolan Bayanaka T. Gallagher, mulai saat ini kamu akan tinggal di sini,” beritahu Ayah. Menjadi ucapan pertama yang aku dengar dalam ruangan itu. Dari seseorang yang menyerupai ayahku. Tapi, apa benar ia memang ayah yang selama ini aku kenal? Atau jangan-jangan aku hanya sedang berkhayal? Apa dia hanya bentuk ilusi sebuah teknologi? Aku tidak mengerti.
Mendengar keputusan… atau lebih tepatnya, perintah itu, sekujur tubuhku sama sekali tidak bisa bergerak. Aku juga tak bisa rasakan kebahagiaan. Aku sangat tertekan oleh tatapan semua orang yang seperti punya niat menusukku dari belakang. Aku sama sekali tak punya minat atau impian untuk tinggal di suatu bangunan seluas puluhan ribu meter persegi yang berdiri di atas suatu pulau reklamasi pribadi. Aku sama sekali tak pernah ingin jadi bagian dari kekerabatan mulia para pemilik darah Raoul Danadyaksa yang suci. Semua hal semacam itu tak pernah aku kehendaki.
Dgub dgub dgub. Jantungku berdetak dengan kencang. Pikiranku seperti akan hilang. Namun, Kak Nara segera menggenggam lebih erat telapak tanganku. Seolah ingin alirkan energi agar tetap kuat berdiri.
Aku tak bisa hilang kesadaran di sini dalam situasi ini. Kalau aku sampai jatuh maka aku kalah. Aku tidak mau kalah dengan orang-orang bertampang jahat yang tidak aku kenali seperti mereka!
”Mana jawabannya?” tanya ayahku lagi. Seisi ruangan itu, walau terdapat cukup banyak orang dengan pakaian dan beragam aksesoris mewah menempel di tubuh mereka, terasa sangat sepi. Tak ada seorang pun yang bicara sampai rasanya buat suara ayahku jadi bergema dipantulkan oleh dinding dan langit-langit untuk menusukku tepat di jantung.
Apa yang harus aku katakan? Memang jawaban macam apa yang mereka inginkan? Apa aku masih bisa keluar dari sini dalam keadaan hidup jika menjawab aku tak sudi tinggal di sana atau bahkan menginjakkan kakiku lagi di tempat ini?
“Lalu, memangnya Ayah sendiri akan ke mana? Kenapa tiba-tiba jadi seperti ini? Apa Ayah juga akan meninggalkan aku seorang diri… seperti Ibu?” tanyaku dengan wajah berusaha tampak tegar. Aku tak boleh terlihat lemah atau kalah. Cerita hidupku masih panjang, sangat panjang. Tidak boleh selesai hanya sampai di sini.
Masih di tempatnya berdiri, Ayah menjawab, “Ayah akan menjalankan suatu tugas penting. Ayah harus pergi untuk beberapa saat.”
Mustahil! Tidak mungkin! Tugas penting macam apa yang bisa dimiliki oleh seorang teknisi kereta api cepat? Oleh seorang duda anak satu biasa yang berasal dari kalangan rakyat jelata? Dan lagi apa yang buat dirimu harus berhubungan dengan mereka semua, Ayah?
To, Tolong beri aku kejelasan yang bisa longgarkan rasa sesak dalam perasaan!
Kenapa? Kenapa tidak kau katakan apa pun padaku? Dari mana aku harus mengharap jawaban yang kumau?
Ayah berkata lagi, tapi bukan padaku melainkan pria di ampingku, “Nara, aku percayakan Nolan padamu.”
Eh? Kenapa nada bicara Ayah pada Kak Nara jadi berubah? Dulu kalian saling mengobrol seperti dua orang sahabat yang sangat akrab. Kenapa sekarang Ayah jadi seperti atasan Kak Nara? Heh? Bercandaan macam apa ini?
“Aku janji akan menjaga Nolan sebaik mungkin, Mas Vido,” balas Kak Nara seraya menundukkan pandangan dan menaruh tangan kanan di atas pundak kiri. Tindakan macam apa itu? Bukankah kalian berdua hanya sepasang sahabat yang sangat dekat?
Apa hubungan kalian sebenarnya? Apa hanya aku yang dibohongi di sini? Apa hanya aku yang tak mengetahui apa pun di sini? Apa hanya aku yang harus miliki kebesaran hati untuk menerima semua yang terjadi tanpa pengertian apa pun?
Apa kalian semua sedang bercanda? Memperlakukan anak di bawah umur seperti ini… heh, aku lupa. Ini kan negara milik kalian. Suka-suka kalian mau lakukan apa juga.
Aku tak begitu ingat apa yang terjadi setelahnya. Ayah pergi bersama orang-orang yang tak aku kenal itu. Tidak pernah satu kali pun menengok ke belakang. Walau hanya sekadar untuk lambaikan tangan. Atau ucapkan salam perpisahan.
“Sebenernya Ayah mau ke mana, Kak Nara?” tanyaku pada Kak Nara, ”Apa yang mau dia lakukan sampai meninggalkan aku seperti ini? Mengingkari semua janji. Ayah belum pernah bersikap begini sebelumnya. Sepanjang kami hidup bersama.”
”…”
Ah, pria ini terlihat sedang menutupi sesuatu. Bayinya juga. Aku tak pernah melihat ia bersama bayi atau istri. Apa dia bahkan benar-benar sudah menikah? Atau jangan-jangan ternyata aku hanya… dibohongi lagi?
HWA KHA KA KHA HA HA HA!!! Tolong, tolong beri aku tempat dan waktu untuk tertawa sekencang dan selama mungkin sampai aku mati tercekik oleh air liurku sendiri.
Semua ini benar-benar tidak waras.
“Ayahmu akan pergi untuk mengisi sebuah posisi yang sangat penting dan tidak tergantikan, Nolan,” beritahu Kak Nara sendu, ”Hanya ia yang bisa lakukannya.”
“Apa maksud Kak Nara?” aku bertanya diiringi intonasi serta tatapan skeptis. Aku percaya tak ada yang tak mungkin di dunia. Dan kalimat semacam, tak ada orang lain yang bisa lakukan itu selain ayahku, merupakan hal yang sulit diterima akal sehat.
Disuruh membenarkan kereta api langit menuju planet Jupiter di dimensi lain atau bagaimana, hah?
“Ialah yang akan memimpin negara ini di balik bayangan untuk beberapa periode selanjutnya. Dia akan menjadi presiden atas nama D Clan sampai batas waktu yang tidak kita ketahui,” jawab Kak Nara tanpa raut bercanda.
Hah? Apa? Ini aku sudah tuna rungu atau bagaimana sampai orang bicara sedekat ini pun masih salah tangkap?
Kak Nara melanjutkan, ”Seperti itulah bagaimana sistem birokrasi D Clan selama ini berjalan. Absolut. Mutlak. Tak terbantah. Tak bisa diubah.”
Ucapan Kak Nara seperti petir ribuan megawatt menyambar kepalaku. Selama ini Ayah hanya seorang teknisi kereta cepat yang kurang pergaulan dan sangat pemalu. Saat berjalan di keramaian saja ia pasti akan menggunakan syal tak peduli sepanas apa pun cuacanya. Juga selalu menundukkan wajah. Sekarang entah bagaimana cerita ia bisa jadi presiden mewakili kelompok yang… katanya paling ia benci.
Apa semua itu masuk akal? Aku memang kurang cerdas jika dibanding anak-anak lain seumuranku. Tapi, aku juga yakin tak harus jadi bodoh dulu untuk menyadari bahwa ada yang tidak beres di sini.
Siapa saja tolong katakan padaku bahwa aku sedang bermimpi! Aku ingin bermimpi saja! Tolooong!
“Tenang saja, Nolan. Kak Nara akan jadi ayah baru untukmu. Tidak akan terjadi hal buruk dan kamu akan baik-baik saja selama ada Kak Nara di sampingmu,” ucap pria itu seraya mendekapku.
Ayah kandungku saja setega ini bohongi aku. Bagaimana bisa aku percaya pada orang asing sepertimu, Nararya? Dan lagi… di belantara buas bernama Lancelot Alberion. Suatu tempat di mana kejahatan, kematian, pembunuhan, penipuan sampai hal buruk yang belum pernah dibayangkan… adalah normal. Bahkan jadi keseharian dari hidup tiap orang.
Bagaimana hari esok akan bergulir? Sanggupkah aku bertahan bagai berjalan di atas air? Hidup di tengah para hewan buas dengan akal bernama manusia dan hasrat akan kerakusan mereka yang tak miliki tepi. Mengatasi…
“Sialan sekali.”