Hari Pertama
“Gimana?” tanya Andini ketika aku menjawab teleponnya. Tanpa ucapan salam atau selamat pagi.
“Gimana apanya?” Aku bertanya kesal sekaligus tak mengerti.
“Kerjaan lo?” Kini nada suaranya terdengar sedikit tinggi.
“Lah, mau gue jawab apa? Ini ‘kan baru hari pertama gue masuk,” jawabku diakhiri decak sebal. “Tadi waktu baru datang gue langsung masuk ke ruang guru, buat lihat meja kerja gue. Terus gue ambil jadwal pelajaran di ruang bagian kurikulum sekolah. Dan sekarang, gue lagi jalan menuju kelas yang akan menjadi tempat pertama gue ngajar. Can you understand me, Miss Andini?” ucapku panjang lebar.
“Wah, gaya lo udah kayak guru Bahasa Inggris beneran!”
“Ya ‘kan gue emang guru Bahasa Inggris, Nini! Udah, ah. Kelasnya udah ketemu, gue mau masuk. Bye!”
“Semangat, Dira!!!” Masih bisa kudengar teriakan teman semasa kuliahku itu ketika menjauhkan ponsel dari telinga.
Segera aku tutup sambungan telepon. Memasukkan benda persegi di tangan ke dalam tas, lalu menatap seksama tulisan di atas pintu yang sedang terbuka itu.
“Dua belas IPA Satu,” gumamku. Lalu kucocokan lagi dengan kertas di tangan. Benar, tidak salah. Ini memang kelasnya.
Baik, aku sudah yakin. Meskipun ini memang terlihat sedikit berlebihan. Bukan apa-apa, aku hanya tidak ingin ada kesalahan di hari pertamaku mengajar. Ya, meski pun ini aku lakukan dengan agak ... atau sedikit, atau mungkin sangat terpaksa.
Terpaksa? Tentu. Aku terpaksa menerima tawaran Andini untuk menjadi tenaga pengajar honorer di salah satu SMA di Kota Bogor. Kebetulan ada salah satu saudaranya yang juga menjadi guru di sini. Ini aku lakukan, karena aku tidak mau jika harus bekerja di perusahaan yang sama dengan kakak iparku itu. Dimas namanya, lelaki yang paling aku benci di dunia ini.
Demi apa pun, aku bersumpah untuk tidak menerima tawarannya itu sampai kapanpun. Meski pekerjaan yang Dimas tawarkan memang sangat menggiurkan, namun tekadku sudah bulat. Aku akan tetap menolaknya. Pokoknya tidak. Titik!
Kembali ke pekerjaanku saat ini sebagai guru. Kutatap pintu itu disertai dengan perasaan yang ... ah, entahlah. Fyuh. Sejujurnya agak grogi memang, tapi kuyakin ini hanya sementara. Baiklah, kamu pasti bisa, Nadira!
“Good morning, Class!” sapaku ketika memasuki kelas.
Suasana yang semula ricuh, hening seketika. Aku pun menutup pintu dan berjalan ke arah meja di sudut ruang untuk menyimpan buku.
“Attention, please,” sambungku, berdiri di depan kelas menatap seisi ruang. “Give me sometimes to introduce my self. My name is Nadira Kartika, I’m twenty five years old. From today I will be your English teacher.”
Semua mata menatapku, hanya saja aku merasa ada yang tidak beres.
“Any question?” tanyaku ragu.
“Bu.” Salah satu murid laki-laki mengangkat tangan.
“Yes, please stand up,” pintaku segera. Anak itu berdiri dan tersenyum dengan sedikit anggukan kepala.
“What do you want to ask?”
“Mm, bisa agak pelan bicaranya, Bu. Saya enggak ngerti,” ujarnya diakhiri ringisan.
Sontak seluruh isi kelas menyorakinya.
“Calm down, everyone,” perintahku dengan isyarat tangan.
“Bu.” Kali ini seorang murid perempuan berdiri dengan tangan kanan ke atas.
“Yes, you. What—“
“Bu, kalau untuk perkenalan lebih baik pakai Bahasa Indonesia aja deh, Bu. Supaya lebih cepat dipahami,” tuturnya. “Terima kasih.” Kemudian duduk kembali di tempatnya.
Aku menatap heran pada sekeliling kelas. “Oh, baiklah kalau begitu. Ibu pakai Bahasa Indonesia untuk perkenalan.” Lalu tersenyum kecil.
Astaga, kenapa harus seperti ini di hari pertama mengajar?
“Selamat pagi, semua. Perkenalkan, nama saya Nadira Kartika. Usia saya dua puluh lima tahun. Dan mulai hari ini, saya akan menjadi guru Bahasa Inggris kalian. Bisa ... dipahami?” Aku berseloroh agar suasana tidak terlalu kaku.
“Bisa, Bu. Tapi, Bu. Ibu masih terlalu muda untuk dipanggil Ibu,” ujar murid laki-laki yang sempat berdiri tadi.
“Oh, ya. Kalau begitu, baiknya dipanggil apa, ya?” tanyaku.
“Nona saja,” celetuk salah satu murid laki-laki lagi.
“Miss saja, Miss saja.” Salah satu murid perempuan menimpali.
“Ah, iya. Miss saja, lebih simpel.” Aku menunjuk siswi berjilbab itu.
“Baik, Miss,” ujar beberapa murid bersamaan.
“Baiklah kalau begitu kita akan memulai—“
“Miss, katanya tadi kita boleh bertanya?”
Aku yang sedang mengambil buku di atas meja menengok ke arah sumber suara. “Apa yang mau kamu tanyakan?”
“Miss, are you merriet or singel?”
Seketika terdengar ricuh kembali di seisi kelas.
“Suit, suit. Sakti mah modus, Bu. Eh, Miss!” tukas teman sebangkunya.
“Jangan mau digodain, Miss. Sakti itu play group, Miss. Eh, play boy!” kelakar siswi berambut panjang.
Sontak saja anak-anak sekelas kembali bersorak.
“Emang ada yang salah sama pertanyaan gue? Sirik lo pada!” sungut Sakti.
“Ada yang salah,” selaku sembari membuka buku di tangan. Kelas pun menjadi hening secara perlahan. “Pengucapanmu yang salah. Lain kali, hafalkan pelafalan katanya. Okay?”
Gelak tawa pun memecah keheningan, dan siswa yang bernama Sakti itu menelungkupkan wajahnya di atas meja.
“Okay, take a look here.” Aku pun mengambil spidol dan mulai menulis di papan tulis. “Untuk pertemuan pertama ini, kita akan mempelajari tentang Making Suggestion. Ada yang tau artinya?”
“No, Miss!” jawab seisi kelas.
Aku pun tersenyum lebar. “OK, let’s study together!” seruku.
***
Aku melirik jam tangan di lengan, tersisa sepuluh menit lagi waktu untuk mata pelajaran Bahasa Inggris.
“Sudah selesai mencatatnya?” tanyaku.
“Sudah, Miss.”
“Aku sedikit lagi, Miss.”
“Baiklah, lanjutkan saja nanti. Jam pelajaran saya hampir habis.” Aku pun berdiri untuk menghapus papan tulis. “Yang belum selesai, bisa melihat pada buku catatan temannya yang sudah selesai. Oke? Lalu untuk pertemuan selanjutnya, saya mau kalian membuat sepuluh contoh kalimat Making Suggestion. Tapi ingat, yang ini dilarang untuk melihat pada temannya. Saya akan meneliti satu persatu tugas kalian.” Aku pun menulis di papan tulis, ‘Sepuluh Contoh Kalimat Making Suggestion’.
“Tapi kerja sama boleh ya, Miss?” celetuk seorang siswi.
“Kerja sama dengan hasil berbeda boleh,” sahutku santai.
“Iya, itu maksud saya, Miss. Hehehe.” Dia pun menggaruk bagian atas kepalanya.
“Jadwal saya selanjutnya itu hari ....” Aku menengok ke arah pintu, merasa ada seseorang yang masuk. Benar saja, seorang lelaki berjalan dengan tak acuh ke dalam kelas. Aku menengokkan kepala ke arah lengan kanan. Waktu menunjukkan pukul 08.25 WIB, yang artinya lima menit lagi menuju pelajaran selanjutnya.
Akan tetapi dia, anak lelaki itu, terus melangkah menuju jajaran bangku tanpa melihat ke arahku sedikit pun. Apa-apaan ini?!
“Tunggu!” cegahku, ketika dia hendak duduk.
Wajah itu berpaling ke arahku.
“Kamu, sini,” panggilku.
Tampak dia mengembuskan napas, lalu melangkah ke arahku.
“Kenapa baru datang?” Aku bertanya dengan nada yang bisa dibilang masih dalam tahap normal.
“Waktu di jalan tadi motor saya rusak,” jawabnya datar.
“Rusak kenapa?”
“Bannya kempes.”
“Lalu kenapa tidak naik angkutan umum saja?”
“Saya tidak bawa uang receh.”
“Maksud kamu?”
“Maksud saya, membayar dengan uang seratus ribu, biasanya tidak ada kembalian.”
Aku menautkan kedua alis. “Jawaban macam apa itu?” sindirku.
Dia hanya membuang wajah dari tatapanku.
“Siapa namamu?” tanyaku lagi.
“Devan.”
“Devan?”
“Iya, Devan. Apa saya harus mengatakan nama lengkap saya?”
Astaga, murid macam apa ini? Kenapa bisa ada siswa se ... setidak sopan ini pada guru. Ah, bagaimana aku mengungkapkannya?
“Boleh saya duduk?” tanya Devan.
“Tentu, tapi setelah kamu mengerjakan tugas di papan tulis itu,” tunjukku. Lalu kuberikan spidol di tangan.
Devan menggeser pandangannya. “Saya sedang malas menulis.”
Aku tersenyum miring. Pasti dia tidak bisa.
“I think you look good today, but it’s even better if you just tie your hair. Because if you put it in a bun you look older.”
Sontak aku menyentuh bagian belakang kepala. Apa benar sanggul rambutku ini mirip ibu-ibu?
“Maybe you want to a glass of strawberry juice to refresh, you look thirsty.”
Kali ini aku mengernyitkan kening mendengar dia dengan fasihnya berkata seperti itu.
“How about –“
“Cukup, silakan duduk,” pintaku segera.
Devan tersenyum. “Thanks, Mom.”
“You’re welcome.”
“Ah, one more. What if tomorrow you wear lipstick with a lighter color. So that your face looks brighter and more, not gloomy like this morning.” Devan menggelengkan sedikit kepalanya ke kanan dan ke kiri beberapa kali. Jelas sekali jika dia sedang mengejekku.
“Back to your seat,” pintaku lagi. Berusaha menahan amarah ini. Aku tidak mau memberi kesan buruk pada anak-anak didikku di hari pertama aku masuk.
Devan pun berlalu dari hadapanku. Oh, tidak. Kuatkan aku, Ya Tuhan!
Aku mengangkat lengan kanan. Astaga, waktu mengajarku bahkan hanya tinggal dua menit lagi. Kenapa bisa pagiku mendadak terasa kacau karena kedatangan Devan?
“Baiklah, anak-anak. Waktu mengajar saya hampir habis. Saya akhiri saja pertemuan kita sampai di sini.” Aku pun memberi seulas senyum, lalu berjalan ke arah meja dan membereskan buku. “Good morning. See you the next time,” tandasku. Kemudian melangkah ke arah pintu.
“Miss, sebentar, Miss.”
“Ya, ada apa?” Aku berhenti melangkah di muka pintu.
“Miss, saya masih belum mengerti tentang pelajaran tadi. Apa Miss buka kelas les?” tanya seorang siswi yang sempat bertanya tadi.
“Kelas les?” Aku mengulang kata itu.
“Iya, Miss. Atau semacam kelas tambahan. Saya dan teman-teman belum mengerti,” keluhnya lagi, yang disambut kata-kata ungkapan setuju dari temannya yang mengekor di belakangnya.
“Tidak bisa. Untuk saat ini saya tidak bisa memberikan les, karena saya masih tinggal bersama kakak perempuan saya dan suaminya,” jawabku seramah mungkin. “Mudah-mudahan nanti ....” Perkataanku mengambang, ketika melihat Devan melintas di depanku dengan gaya tak acuhnya.
“Udah, Miss. Jangan dipedulikan. Dia mah emang gitu orangnya. Istilahnya mah ... bangor,” ucap seorang siswi berkerudung.
“Bangor?” Aku berkata tak mengerti.
“Nakal maksudnya, Miss,” timpal siswi di sebelahku.
“Oh.” Aku menganggukkan kepala.
“Iya, tiap hari juga emang gitu. Datang kesiangan, terus watados juga.”
“Watados?” Aku menatap gadis berkerudung itu lagi. Kenapa dari tadi perkataannya terdengar sedikit aneh.
“Ih, kamu mah, Nenden. Ngomong yang benar, dong. Miss ‘kan enggak ngerti,” tegur siswi lain.
Aku hanya tersenyum kecil.
“Iya, maaf. Maksud saya teh si Devan mah wajah tanpa dosa, Miss. Makanya enggak heran, banyak guru yang kesal sama kelakuan dia,” tegas siswi berkerudung itu lagi.
Aku pun hanya bisa mengembuskan napas mendengarnya.
***
“Bagaimana hari pertama mengajarnya, Bu Nadira?” tanya Bu Alya, tantenya Andini.
“Alhamdulillah. Lancar, Bu.” Aku pun berdiri dari dudukku setelah membereskan meja. “Ibu pulang sekarang?” tanyaku.
“Sebentar lagi, saya masih ada pekerjaan,” jawab Bu Alya.
“Kalau begitu saya pamit pulang lebih dulu. Permisi,” tandasku. Melangkah setelah melihat anggukan dari perempuan paruh baya itu.
Sesampainya di depan gerbang sekolah, aku berdiri untuk menunggu angkutan umum. Beruntung tak memerlukan waktu lama, kurang dari satu menit kendaraan yang aku tunggu pun datang.
Selepas duduk, aku sedikit menyandarkan punggung ini. Merasa lega karena hari pertama bisa kulewati dengan lancar dan hampir sempurna tentunya. Akan tetapi entah kenapa tiba-tiba aku teringat anak itu. Devan. Ish, dasar!
Mobil berhenti. Aku menengokkan kepala ke depan, ternyata lampu merah menyala. Demi mengisi kekosongan waktu, aku mengedarkan pandangan ke sekitar. Melebarkan mata ketika melihat seseorang sedang berjalan sendirian. Dia, yang dikatakan Nenden bangor dan watados itu.
Aku memperhatikan Devan. Anak itu berhenti di salah satu kios penjual minuman pinggiran trotoar, lalu tampak membeli dua botol air mineral dan kembali mengayunkan kedua kakinya.
“Hah?” Kini aku bergumam keheranan, saat melihatnya memberikan satu botol air di tangannya pada seorang pemulung yang sedang beristirahat di bawah pohon besar.
Kenapa bisa? Bukannya dia ... nakal?
Tanpa terasa, mobil yang aku tumpangi mulai bergerak. Meski begitu aku masih bisa melihat sosoknya yang semakin mengecil.
Menurutku ini aneh. Sangat aneh. Bagaimana bisa, anak sesombong itu berbuat baik pada orang lain?
Oke, anggap saja ini wajar. Bisa jadi hari ini adalah jadwalnya bersedekah. Iya, ‘kan?
Ah, tidak. Bagiku tetap saja aneh. Kebaikannya itu tidak sebanding dengan penampilannya yang benar-benar tidak mencerminkan jika dia adalah seorang anak SMA. Rambutnya yang agak gondrong dan acak-acakan. Kemeja putihnya sudah keluar dari himpitan celana, bahkan dia membuka semua kancingnya, memperlihatkan kaos hitam di dalamnya. Tas yang dia gendong pun terlihat asal saja menggantung di pundaknya.
Aish! Segera aku mengerjapkan kedua mata. Untuk apa aku memikirkan dia. Sadarlah hei, Nadira!
****