LNCrawler

Raja Bualan

Skenario Hidup Miss Nadira — gooddreamer.id · All chapters

Raja Bualan

“Pagi, Kak.” Aku menyapa Kak Nadafa, atau yang biasa dipanggil Nada. Dialah satu-satunya yang aku punya setelah kepergian orang tuaku.

“Pagi, Miss Nadira,” sahut Kak Nada yang sedang menuangkan air ke dalam gelas. “Gimana rasanya jadi guru? Seru?” sambungnya.

“Mm, seru, sih. Bisa dikelilingi anak-anak muda yang penuh semangat,” jawabku setelah duduk di kursi.

“Semoga nular semangatnya, ya?”

“Semoga, Kak.” Aku tertawa menanggapi candaan Kak Nada.

“Berapa gajinya?”

Kami pun menoleh bersamaan ke arah itu.

“Mas, enggak boleh nanya gitu, ah,” ujar Kak Nada yang kemudian ikut duduk di samping suaminya. Laki-laki itu, dialah Dimas. Makhluk yang sesungguhnya harus aku hindari, tapi naasnya untuk saat ini terpaksa harus aku buang jauh-jauh keinginan itu.

“Cuma honorer, ‘kan?” ejek Dimas lagi.

“Tapi aku nyaman kok, sama pekerjaan itu,” belaku.

Dimas tertawa—yang jelas terlihat dipaksakan-- seraya meraih gelas berisi kopi di depannya. “Nyaman? Mungkin itu karena baru satu hari, kita tidak tahu gimana ke depannya.”

Aku melirik Kak Nada, dia hanya tersenyum kecil. “Ayo, sarapan dulu,” titahnya.

Aku pun memberi sebuah anggukan, kemudian mengambil dua helai roti tawar di atas piring.

“Berhenti saja. Terima tawaranku untuk bekerja di perusahaan tempatku bekerja.”

Aku menarik tangan yang hendak meraih selai coklat. “Aku udah bilang, aku enggak mau,” tolakku seraya menoleh ke arahnya.

“Jadi kamu lebih memilih bekerja sebagai guru honorer yang tidak bisa memberikan apa-apa untuk masa depanmu, dari pada kerja di perusahaan yang jelas-jelas bisa menjamin kehidupanmu,” ujar Dimas, kemudian mengambil roti yang sudah disiapkan Kak Nada.

“Tapi aku menikmati pekerjaanku,” ucapku lagi.

“Yakin?”

“Tentu saja.”

“Aku tidak yakin itu,” sindirnya lagi.

“Memang apa peduli Kak—“

“Aku peduli padamu, karena kamu adik iparku. Aku peduli padamu, karena kamu satu-satunya keluarga yang dimiliki istriku. Paham?”

Aku menyimpan roti di tangan ke atas piring. Rasanya nafsu makanku sudah hilang.

“Mas, udah. Enggak usah diperpanjang. Lagi pula Nadira ‘kan udah dewasa, kita tidak boleh mencampuri urusan pribadinya,” bujuk Kak Nada.

“Lalu jika bukan kita, siapa lagi yang akan memperhatikan kehidupannya?” ujar Dimas, kemudian menoleh ke arahku. Menatap dengan sorot dingin dan tajam. “Kamu mau dia kembali ke Jakarta lalu terjerumus kembali ke dalam pergaulan bebas—“

“Aku tidak seperti itu,” selaku, lalu membuang wajah dari tatapannya dengan cepat.

“Mas, mau ke mana? Sarapanmu belum habis. Mas!” Kak Nada menyusul Dimas keluar rumah.

Aku memejamkan mata sejenak. Ah, pagi macam apa ini? Kenapa aku harus mengawali hariku dengan kekacauan seperti ini?

“Sepertinya dia sangat berharap kamu bisa mengisi posisi itu, Dira.” Perempuan berhijab itu sudah duduk kembali di kursinya.

“Maaf, Kak. Tapi aku beneran enggak mau.“

“Memangnya kenapa, Dira? Kakak pikir posisi itu memang lebih menjanjikan dibandingkan dengan ... guru honorer di SMA.”

Aku menatap wajah perempuan itu. Sorot menunggu dipenuhi tanda tanya besar.

Kamu tahu, Kak. Kenapa aku menolak tawaran pekerjaan itu?

Karena aku tidak ingin semakin sering bertemu dengan suamimu.

“Dira,” panggil Kak Nada.

“Aku enggak mau kejadian yang sama terulang lagi,” jawabku.

“Maksud kamu ... pertengkaran kamu dengan atasan?” tebak Kak Nada.

Aku memalingkan wajah. Kenapa aku tidak pernah punya keberanian untuk mengatakan kebenaran ini?

“Ya, aku enggak mau bekerja di bawah tekanan seperti dulu. Kakak tau, ‘kan, aku seperti apa?”

“Hm, Kakak pernah mengatakan itu pada Mas Dimas. Kamu bukan pribadi yang suka bekerja di bawah banyak tekanan. Perusahaan tempat Mas Dimas bekerja, itu ‘kan enggak jauh beda dengan tempat kerja kamu dulu. Pasti kamu enggak mau pengalaman buruk itu terulang lagi.” Satu tangan Kak Nada mengusap punggung tanganku.

Aku pun menoleh, seraya tersenyum. “Terima kasih, karena udah mengerti aku, Kak.”

“Itu ‘kan kewajiban Kakak sebagai kakak kamu,” ujarnya.

“Dan ... tetap mempercayai aku. Aku enggak pernah terjerumus ke dalam pergaulan –“

“Kakak percaya sama kamu. Kakak tau kamu tidak seperti itu,” ucapnya lagi diakhiri senyum.

Senyum itu, senyum tulus dan penuh kasih sayang yang sangat menenangkan bagiku.

***

“Kenapa mobilnya, Pak?” tanya salah seorang penumpang ketika Pak Sopir menghentikan kendaraan.

“Enggak tau ya, Bu. Sebentar, saya lihat dulu,” ujar lelaki paruh baya itu.

Aku melirik jam tangan. Masih dua puluh menit lagi menuju pukul tujuh pagi.

“Aduh, maaf ya, Pak, Bu. Sepertinya mobil saya mogok. Bapak sama Ibu semua naik kendaraan lain saja,” ujar Pak Sopir setelah beberapa waktu membuka bagian mesin mobil.

Terdengar keluhan dari beberapa penumpang. Pasti mereka kesal, dan aku pun sama. Mau tak mau aku pun ikut turun, lalu berdiri di tepian jalan untuk menunggu angkutan umum lain lewat.

Astaga, ada apa dengan hari ini?

Tidak cukupkah drama di rumah tadi?

Kenapa harus ditambah dengan tragedi seperti ini?

Kulihat kembali jam tangan di lengan. Sepuluh menit lagi, dan belum juga ada angkutan umum. Bagaimana ini?

Kuedarkan pandangan, merasa lega karena ada satu mobil yang mendekat. Kuberi isyarat untuk menghentikannya, tapi Pak Sopir tetap melaju, dan ternyata angkot itu memang sudah penuh. Aish!

Ini hari keduaku mengajar, mana mungkin aku sudah terlambat masuk?

“Naik, Miss.”

Hampir aku melompat karena kaget. “Siapa?!” seruku segera. Benar-benar merasa terkejut karena tiba-tiba ada skuter matik di depanku.

“Devan.” Lelaki itu menoleh.

Aku merundukkan kepala demi melihat dengan pasti. Topi hitam di kepalanya itu membuat wajahnya tidak terlihat dengan jelas.

“I think you should go up soon, if you don’t want to be late for school,” ujarnya lagi.

Astaga, apa maksudnya?

Tanpa banyak kata lagi, aku pun segera naik ke atas motor.

...

“Miss, Miss!”

Aku yang hendak masuk ke dalam kelas, menoleh ke arah suara. Tiga siswi berlari kecil menghampiri. “Ada apa?” tanyaku segera.

“Miss, apa benar tadi Miss berangkat sekolah bareng Devan?”

Aku menatap saksama gadis di depanku. Ah, aku ingat. Dia memang teman sekelas Devan. “Iya, kebetulan tadi angkot yang saya tumpangi mogok, jadi saya ikut dia.”

“Tuh, ‘kan, bener.” Siswi berambut sebahu itu menoleh ke arah temannya.

“Kok mau sih, Miss?” Kali ini siswi berambut di atas pundak menatapku dengan sorot tidak percayanya.

“Memang kenapa? Ada yang salah?” tukasku tidak mengerti.

“Miss ‘kan tau, dia itu cowok bengal. Dia enggak pernah berbuat baik sama orang lain,” tutur gadis berambut sebahu lagi.

“Miss harus hati-hati. Lain kali jangan mau, ya?” Kali ini gadis yang kutahu bernama Nenden berkata cemas.

“Memang kenapa?” Aku masih belum mengerti, lalu aku terdiam. Ya ampun, sepertinya karena pagi tadi aku mengawali hariku dengan percekcokan bersama Dimas, aku pun melupakan kejadian menyebalkan kemarin pagi.

Ah, pantas saja tadi dia menggunakan kalimat Making Suggestion untuk memintaku naik ke atas motornya. Apa itu artinya dia menyindirku?

***

“Seperti ini contohnya. Bisa dipahami?” Aku menyapukan pandangan ke setiap sudut kelas.

“Miss.”

“Ya, ada yang ingin ditanyakan?” ucapku pada murid laki-laki itu.

“Miss, apa benar tadi pagi Miss berangkat bareng-bareng sama Devan?”

Aku melebarkan kedua mata mendengar pertanyaan itu. “Saya hanya akan menerima pertanyaan yang bersangkutan dengan pelajaran hari ini,” tegasku.

“Maaf, Miss. Aku cuma penasaran,” pungkasnya.

“Baiklah, silakan dicatat untuk dipelajari di rumah nanti.” Aku pun duduk di kursi demi menunggu para murid mencatat materi yang kuberikan.

Untuk mengisi kekosongan waktu, aku merogoh ponsel di dalam tas. Akan tetapi, entah kenapa pikiranku malah tertuju pada kilasan kejadian tadi pagi. Saat aku turun dari motor Devan, memang banyak mata memandang ke arah kami. Seperti tatapan terheran karena aku dibonceng olehnya.

Apanya yang aneh?

Atau ada yang istimewa dari kejadian tadi pagi?

Ish, hanya dibonceng biasa pun.

Aku pun mengingat kembali, apa-apa saja yang terjadi tadi pagi secara detail. Pertama, aku naik ke atas skuter matik, lalu Devan mengemudikannya dengan sedikit agak cepat. Selama perjalanan tidak ada perbincangan apapun di antara kami, karena Devan fokus pada jalanan di depannya dan aku pun fokus pada jam tanganku. Satu menit lagi menuju jam tujuh, Devan menghentikan kendaraannya tepat di depan gerbang sekolah. Aku turun segera, tapi belum sempat kuucapkan terima kasih, dia sudah melajukan lagi motornya.

Ah, iya. Aku ingat. Dia mengendarai kembali skuter matik hitam itu bukan ke dalam parkiran sekolah, tapi menuju jalanan. Astaga!

Parahnya, aku tidak terlalu memikirkan itu karena terburu-buru ingin segera masuk ke dalam sekolah.

Bagaimana bisa aku seceroboh ini? Membiarkan anak didikku bolos di depan mata kepalaku sendiri.

Selepas jam pelajaran selesai, aku bergegas keluar dari kelas dan berjalan cepat menuju kelas XII IPA 1. Aku ingin melihat, apa Devan ada di kelasnya atau tidak. Sayangnya, ketika sampai di depan ruangan yang kutuju, pintunya tertutup rapat. Ah, pasti ada guru lain yang sedang mengajar di sana. Akhirnya aku pun berputar arah untuk menuju ruang guru.

“Miss, mau ke mana?”

“Nenden, habis dari mana?” Agak terkejut karena tidak tahu jika ada dia di belakangku.

“Habis dari WC, Miss. Kalau pelajaran Fisika, saya mah bawaannya ngantuk. Hehehe.” Gadis berlesung pipi itu meringis.

“Eh, sebentar. Saya mau tanya. Apa Devan sekolah?” bisikku di kalimat akhir.

“Sekolah. Tapi ya, seperti biasa, datang kesiangan,” terang Nenden.

“Padahal ‘kan tadi pagi saya barengan sama dia, mm ... maksud saya, kami enggak sengaja ketemu di jalan, soalnya tadi angkot yang saya tumpangi mogok.”

Nenden mengedipkan kedua matanya. “Saya udah tau, tadi pagi Miss udah cerita,” sahutnya polos.

Astaga, kenapa aku harus menerangkannya lagi?

“Jadi dia ke kelas tetap saja terlambat?” tanyaku cepat.

“Iya.” Nenden menganggukkan kepala.

“Kok, bisa?” gumamku.

“Udahlah, Miss. Jangan terlalu urusin dia, percuma. Palingan kayak guru yang lain, nantinya kesal sendiri karena terlalu banyak dibohongi. Miss tau apa julukan dia di sekolah ini?”

“Apa?”

Nenden menengokkan kepalanya ke kanan dan ke kiri. “Raja Bualan, yang artinya dia itu Raja dari segala kebohongan.”

Aku menautkan kedua alis.

“Maaf, Miss. Saya masuk ke kelas dulu, ya. Takut nanti Pak Trisna marah kalau lama-lama,” pamit Nenden.

“Silakan,” jawabku. Gadis itu pun berlari kecil menuju kelasnya. Sedang aku melanjutkan langkah ke arah ruang guru. Sesampainya di mejaku, aku menghempaskan tubuh di atas kursi. Menyimpan tas dan buku, masih dengan pikiran yang bercampur aduk.

Raja Bualan? Kalau begitu ....

Segera aku mengambil cermin kecil di dalam tas, lalu memandang wajahku sendiri. Kusentuh rambut yang tadi pagi sengaja diikat, juga bibir yang kupoles dengan lipstik warna merah muda.

Ah, kenapa aku harus mempercayai semua perkataannya kemarin?!

“Bu Nadira, Anda sakit?”

Aku tersentak seketika. Hampir saja cermin di tangan ini jatuh.

“Maaf, apa saya mengagetkan Anda?” tanya lelaki berbaju batik itu.

“Ti ... tidak, Pak. Maaf, saya belum tau nama-nama rekan di sini. Ini dengan Bapak siapa, ya?” tanyaku sedikit malu.

“Saya Aji.” Lelaki itu tersenyum. “Jadwal Anda sedang kosong?” sambungnya.

“Iya, jadwal mengajar selanjutnya sehabis jam istirahat siang nanti,” jawabku.

Pak Aji menganggukkan kepalanya. “Oh, ya. Boleh saya tanya sesuatu, Bu Nadira?”

“Boleh. Tentang apa?” tanyaku was-was.

“Apa benar tadi pagi Anda datang bersama Devan?” tanyanya tanpa ekspresi sungkan sedikit pun.

Apa?!

Kenapa kabar sekecil itu bisa tersebar sampai sejauh ini?

“Ah, iya. Tadi pagi angkot yang saya tumpangi mogok, kebetulan dia lewat. Jadi ... saya numpang naik motor dia.”

“Oh.” Pak Aji menganggukkan kepalanya beberapa kali. “Baiklah, kalau begitu saya kembali ke ruangan saya. Mari.”

Apa-apaan ini? Hanya bertanya untuk hal semacam itu.

“Tunggu sebentar, Pak Aji.” Aku berdiri lalu keluar dari meja. “Saya juga ada sedikit pertanyaan.”

“Apa itu?” Pak Aji mengurungkan langkah kakinya.

“Apa benar Devan setiap hari datang terlambat?”

“Iya.”

“Apa sudah pernah ditegur?”

“Tentu.”

“Lalu kenapa dia masih sering datang terlambat?”

“Itu karena dia terlalu pintar,” jawab Pak Aji.

Karuan saja aku mengernyitkan kening. “Terlalu pintar?”

“Iya, terlalu pintar dalam memberi jawaban pada kami para gurunya.”

“Hah? Aduh, maaf. Saya sangat terkejut dengan jawaban Bapak.” Aku meringis.

“Tidak apa. Semua guru baru di sini juga pasti terkejut melihat tingkahnya.” Pak Aji tertawa sekejap. “Tapi saya tidak bohong, Bu Nadira. Devan itu pintar, semua guru selalu takjub dengan nilai ujiannya. Di setiap ujian semester, nilainya selalu paling tinggi. Hanya saja ... bagaimana saya mengatakannya? Bisa disebut nilai-nilainya itu hancur karena sikap dan perilaku dia pada guru-gurunya. Ya, seperti yang Ibu tau, setiap hari dia datang terlambat, bersikap tidak sopan, juga penampilannya yang semrawut. Itu alasannya kenapa dia tidak naik kelas sebanyak dua kali.”

“Apa?!” pekikku. “Ya, ampun. Maaf.” Aku menepuk bibirku.

“Tidak apa, saya mengerti.” Pak Aji tertawa lagi.

“Bapak pasti sangat mengenal Devan karena dia sudah hampir lima tahun di sini,” kelakarku.

“Ya, terlebih lagi dia sudah sering masuk ruangan BK. Saya sudah banyak mengobrol dengannya, jadi ... saya sangat mengenalnya.”

“Jadi Bapak Guru BK?”

“Iya, saya Guru BK di sekolah ini. Kalau begitu saya pamit ke ruangan saya.”

“Iya, Pak. Maaf sudah mengganggu waktunya.”

“Tidak apa. Saya sangat senang bisa sedikit mengobrol dengan Ibu. Saya permisi.” Pak Aji tersenyum dan berlalu dari hadapanku.

Aku pun mengembuskan napas, duduk kembali ke kursiku.

Guru BK? Astaga. Kenapa bisa aku tidak tahu? Aku sudah menghancurkan hari keduaku mengajar. Maksudku, menghancurkan image-ku. Aih!

Kusandarkan punggung, menatap langit-langit ruangan kantor. Teringat pada ucapan Pak Aji tadi.

Devan, sudah dua kali tidak naik kelas? Pantas saja dia terlihat lebih dewasa dibandingkan teman-temannya yang lain.

Oh, God!

*****