LNCrawler

Gara-gara Devan

Skenario Hidup Miss Nadira — gooddreamer.id · All chapters

Gara-gara Devan

“Halo, Kak,” sapaku setelah menjawab telepon.

“Halo, Dira. Kamu udah pulang?” tanya Kak Nada.

“Udah beres ngajar, sih. Ini baru mau pulang,” jawabku.

“Kakak ada acara sama temen kantor, mungkin pulangnya Magrib nanti. Kamu kalau mau makan duluan, delivery aja, ya.”

“Oh, iya. Enggak apa, Kak. Enggak usah cemas. Nanti aku bisa beli sendiri.”

“Ya udah, gimana kamu aja. Sampai ketemu di rumah nanti, ya. Assalamualaikum.”

“Waalaikumsalam.” Kutatap layar ponsel setelah sambungan terputus.

Pulang ke rumah tanpa ada Kak Nada? Cih, tak sudi jika harus berdua bersama Dimas.

Akhirnya, demi tidak segera pulang ke rumah, aku pun memilih mampir ke sebuah kafe untuk sekedar minum kopi. Kebetulan sejak kedatangan di Kota Bogor ini sebulan lalu, aku belum sempat mengunjungi tempat-tempat yang dulu pernah aku datangi.

Sebenarnya aku juga Kak Nada lahir dan besar di Jakarta. Ayah meninggal ketika aku berusia enam tahun, kemudian Ibu pergi menyusulnya saat aku berumur tiga belas tahun. Sejak saat itu Kak Nada kuliah sambil bekerja demi mencukupi kebutuhan hidup kami. Hingga ketika aku duduk di bangku kuliah, Kak Nada dipindahkan tugaskan di Kota Bogor. Namun, aku tidak ikut serta dengannya. Aku memilih tetap di Jakarta dan melanjutkan kuliah hingga akhirnya lulus sarjana. Beruntungnya, lewat salah satu kenalan aku pun diterima bekerja di sebuah perusahaan besar tak lama setelah wisuda. Sayang, aku hanya sanggup bertahan selama dua tahun. Karena terlibat pertengkaran dengan seorang atasan, aku memilih resign. Setelah itu, aku membantu salah satu teman mengelola bisnis franchies demi mencukupi kebutuhan hidup. Sampai di suatu malam ada salah satu konsumen yang meminta pesanannya untuk diantarkan ke sebuah tempat, yaitu klub malam. Di situlah Dimas melihatku keluar dari tempat itu. Anehnya sampai sekarang aku tidak pernah tahu, alasan apa yang membuatnya datang ke Jakarta pada malam hari.

Itulah sebabnya, kenapa aku bisa tinggal di Kota Bogor ini. Kak Nada yang memaksaku, karena dia terlalu mencemaskanku yang hidup sendirian di kota metropolitan. Atau mungkin memang Dimas yang memaksanya untuk menyuruhku tinggal bersamanya.

Sudahlah, jangan bahas Dimas. Menyebut namanya saja, bisa membuatku kehilangan selera makan. Lebih baik menikmati segelas Ice Americano di depan mata. Kuteguk sedikit minuman itu dari tepian gelas. Hm, segarnya.

Tunggu! Mana sedotannya? Aku mengangkat tas dan buku di atas meja, siapa tahu benda itu terselip di bawahnya. Tetapi ternyata tidak ada. Aku juga menatap saksama ke dalam gelas, bisa saja sedotan itu tenggelam ... ah, tidak mungkin. Aish, bagaimana ini? Menikmati Ice Americano tanpa sedotan, sama saja dengan memakan steak tanpa pisau.

Aku pun melonggokkan kepala ke bawah. Nah, ‘kan. Dia ada di sana. Di atas lantai dan masih terbungkus. Apa kubilang, mengingat Dimas itu bisa membawa kesialan dalam hidupku.

Akhirnya aku berdiri, keluar dari kursi lalu membungkukkan tubuh untuk mengambilnya.

“Ya ampun,” ujarku kaget ketika berdiri kembali. “Maaf, saya tidak sengaja. Saya tidak tau jika ada orang lewat.”

“Tidak apa-apa, Mbak. Saya yang salah. Saya juga tidak tau jika ada Mbak di situ,” sahut perempuan di depanku. “Maaf, ya,” tandasnya diakhiri seulas senyum.

Aku membalas senyum, dan dia pun bergeser ke samping lalu berjalan melewatiku. Oh, God! Siapa dia? Cantik sekali. Penampilannya pun sangat modis, seperti style orang luar negeri. Aku berputar demi bisa melihat dia lagi. Perempuan itu berjalan melewati meja-meja kafe, dan ternyata bukan aku saja yang terkagum melihatnya, beberapa pengunjung pun menatapnya tanda berkedip.

Sampai akhirnya dia berhenti di depan sebuah meja, lalu menyapa seseorang yang sepertinya memang sedang menunggunya. Kemudian ... mereka berpelukan selama beberapa detik.

“Devan?” gumamku kaget. Lalu ... sedotan di tanganku pun jatuh lagi. Haish.

Ternyata benar, dia memang bukan siswa baik-baik.

***

Sepuluh menit lagi menuju jam enam petang, ketika aku menginjakkan kaki di depan teras rumah. Kuluruhkan tubuh di atas kursi sebelum masuk ke dalam, sekedar melepas lelah sejenak.

“Baru pulang?”

Aku menengokkan kepala ke belakang. Dimas berdiri di muka pintu dengan pakaian kerjanya. “Iya,” sahutku, lalu kembali memutar kepala ke arah depan.

“Kenapa?” Terdengar dia bertanya lagi.

“Kenapa apanya?” tanyaku tak paham.

“Kenapa baru pulang? Bukannya jam sekolah anak SMA itu cuma sampai jam setengah tiga,” tukasnya dengan nada tanpa keramahan sedikit pun.

“Memang kenapa? Apa aku harus laporan tentang apa saja yang aku lakukan setelah pulang dari sekolah?” sindirku.

“Tentu saja.”

“Ck, jangan terlalu repot mengurusi hidupku.” Aku pun berdiri, melangkah untuk melewatinya. Namun ternyata, Dimas malah mencekal satu tanganku.

“Aku berhak mengurusi kehidupanmu, karena aku tidak ingin kamu kenapa-kenapa,” desis Dimas.

“Tapi itu hanya akan menyusahkanmu,” ejekku. Tersenyum dengan satu sudut bibir ke atas, lalu menarik tanganku dengan cepat.

“Tapi aku tidak merasa kesusahan.” Kali ini dia menghalangiku dengan tubuh tinggi tegapnya.

Aku mendongak, menatap sorot dingin itu. “Aku cuma adik iparmu, jangan berlebihan.” Lalu kudorong tubuhnya agar bergeser ke samping.

“Aku akan menceraikan Nada, agar bisa menikahimu.”

Langkahku terhenti, lalu berbalik kembali ke arahnya. “Jangan melakukan sesuatu yang sia-sia, jika kamu tidak ingin merasa hidupmu gagal.”

“Justru menikahi Nada adalah kegagalan dalam hidupku,” ucapnya.

Aku menautkan kedua alis. “Dia kakakku, jangan pernah menyakitinya.”

“Tapi dia rela melakukan apa saja demi kebahagiaanmu. Aku yakin itu.”

Amarah yang sejak tadi kupendam dalam-dalam, kini mulai memuncak.

“Mari kita jujur padanya, kalau kita adalah sepasang kekasih—“

“Cukup!” potongku. Lalu kuangkat tangan kananku untuk menamparnya. Sayang, kedatangan sebuah mobil ke dalam halaman rumah menghentikan gerakanku.

“Kenapa berhenti? Tampar saja. Biarkan bekas telapak tanganmu itu tertinggal di wajahku, agar aku bisa jelaskan pada Nada, tentang apa yang terjadi sebenarnya,” tantang Dimas.

Aku menurunkan tangan, tersenyum miring. “Cih, sayangnya aku tidak ingin Kakakku bersedih karena melihat pipimu terluka,” pungkasku. Kemudian meninggalkannya di ruang tamu, bergegas masuk ke dalam kamar dan mengunci pintunya.

Kulemparkan tas ke atas ranjang, juga menjatuhkan buku-buku di sampingnya. Menarik napas dalam, lalu mengembuskannya cepat. Mengacak rambut dengan kedua tangan seraya menggeram kesal. Kemudian, kilasan masa lalu pun melintas kembali dalam ingatan.

“Nadira.”

“Ya.”

“Hal apa yang paling kamu sukai dalam hidup ini?”

“Skenario Tuhan untukku.”

“Kenapa?”

“Karena aku mencintai hidupku, dan aku selalu menunggu, kejutan apa yang sudah Tuhan siapkan untukku.”

“Jika aku menjadi bagian dari kejutan itu, apa kamu akan senang?”

“Tergantung.” Aku tersenyum menatap lelaki di sampingku. “Peran apa yang akan Tuhan berikan untukmu dalam hidupku.”

“Aku ingin menjadi pendamping hidupmu, dan semoga Tuhan mengabulkan permintaanku itu.” Dia pun membalas senyum seraya menggenggam tanganku. Kami melangkah bersama, menikmati indahnya sore di tengah hamparan kebun teh.

Itulah skenario yang diberikan-Nya untukku, dan memang Tuhan telah memberikan kejutan itu. Kini aku menjadi adik ipar dari cinta pertamaku. Dimas.

***

“Gue denger anak-anak di situ pada seneng punya guru baru kayak lo?” tukas Andini.

“Tau dari mana lo?”

“Tante Alya, dong. Dia bilang, anak-anak sekarang emang sukanya guru muda yang cantik dan pintar.”

“Mudah-mudahan aja deh, ya,” sahutku.

“Hebat, baru juga seminggu udah jadi idola aja. Awas lo, entar malah dikejar brondong. Hahaha.”

“Ck, belum kepikiran gue. Ya udah, gue mau masuk kelas dulu.”

“Oke. Selamat beraktivitas, Miss Nadira.”

“Ya.” Kututup sambungan telepon, lalu memasukkan ponsel ke dalam tas. “Good morning, everybody,” sapaku ketika memasuki kelas.

“Good morning, Miss,” jawab murid-murid serentak.

“Senang sekali pagi ini bisa melihat wajah-wajah yang dipenuhi semangat,” pujiku.

“Kami juga senang Miss, karena bisa belajar Bahasa Inggris sama Miss,” ujar siswa laki-laki yang kutahu bernama Sakti.

Kusimpan buku dan tas di atas meja, lalu mengambil spidol dan melangkah lagi menuju papan tulis. “Itu artinya kalian sudah siap menerima pelajaran baru dari saya.”

“Siap, Miss.”

Kulayangkan pandangan ke salah satu sudut ruang. Fyuh, lagi-lagi dia belum ada. Di pertemuan sebelumnya saja, dia hanya mengikuti satu jam pelajaranku. Entah hari ini.

“Baiklah, untuk sekarang kita akan mempelajari tentang ‘Making Request’. Ada yang tau artinya?”

“Belum, Miss.”

Aku pun menuliskan beberapa contoh kalimat.

Selama beberapa waktu, aku fokus menerangkan materi pada anak-anak. Sampai akhirnya pintu terbuka, dan seperti biasa, Devan memasuki kelas dengan tampang tak acuhnya.

“Ehem.” Aku mencoba menegurnya.

Devan berhenti, lalu menoleh ke arahku. “Morning, Miss,” sapanya. Kemudian kembali melangkah ke arah tempat duduknya.

“Devan,” panggilku setelah dia duduk.

“Yes, Miss,” sahutnya.

“Sebelum pulang nanti, saya ingin bicara denganmu.”

“Yes, Miss.” Devan menganggukkan kepalanya. Raut wajahnya itu terlihat tenang sekali, tanpa ada rasa cemas atau takut sedikit pun.

Astaga!

Akhirnya aku pun melanjutkan menulis di papan untuk menerangkan materi kembali. Meski sebenarnya aku harus menahan amarah dalam dada. Bahkan hingga aku keluar dari kelas itu lalu melanjutkan mengajar di kelas lain, rasa kesal yang aku pendam belum juga hilang. Otak dan hatiku terus berseteru. Mulai sekarang aku harus bisa bersikap tegas. Aku tidak boleh membiarkannya. Tidak mungkin jika aku harus terus-menerus menahan emosi setiap mengajar di kelas XII IPA 1 hanya karena siswa bernama Devan.

Sampai akhirnya jam pelajaran terakhir selesai, dan aku bisa bernapas lega.

“Miss, ada yang ingin saya tanyakan,” ujar seorang siswi ketika aku hendak keluar dari kelas XI IPS 2.

“Maaf, saya sedang terburu-buru. Di pertemuan selanjutnya saja, ya,” tolakku diakhiri senyum ramah. Kemudian aku bergegas keluar dan berjalan cepat menuju kelas XII IPA 1.

“Miss, kok ... oh, mau ketemu Devan, ya?” Seorang siswi menegurku.

“Apa dia sudah pulang?” tanyaku cepat.

“Masih ada di kelas, Miss.”

“OK, terima kasih,” tandasku. Dengan cepat masuk ke dalam kelas. Ya, dan memang benar. Devan masih duduk di kursinya. Aku berhenti melangkah di samping meja guru dan segera memintanya ke depan dengan isyarat tangan. Beruntung semua temannya sudah keluar dari ruangan.

Anak itu pun melangkah, tunggu ..., apa dia masih layak dipanggil anak? Usianya dua puluh tahun, paling tua di antara temannya. Ini seperti dia adalah orang dewasa yang sedang memakai seragam anak SMA. Astaga.

Devan duduk di kursi, begitu juga denganku.

“Di tiga pertemuan pelajaran saya, kamu selalu datang terlambat,” ucapku membuka obrolan.

“Saya tau.”

“Kenapa? Apa alasanmu kali ini?”

“Tadi pagi bensin motor saya habis, jadi saya harus mencari pom bensin.”

“Devan,” ujarku kesal. “Saya tau seperti apa kamu. Kamu selalu berbohong pada semua guru. Iya, ‘kan?”

“Miss sudah tau? Jadi Miss diam-diam bertanya tentang saya pada—“

“Bagaimana bisa?” selaku segera.

“Apanya?” tanyanya tak acuh.

“Menjadi anak SMA di usia dua puluh tahun,” tukasku.  Menelisik wajahnya yang sudah ditumbuhi bulu-bulu halus di bagian pelipis dan dagu. Benar-benar tidak pantas menjadi siswa SMA.

Devan menyandarkan punggungnya, lalu melipat kedua tangan di dada. “Mungkin ... itu karena orang-orang di sekolah ini terlalu menyayangi saya, jadi mereka tidak membiarkan saya pergi dari sini,” jawabnya.

Aku menaikkan satu sudut bibirku seraya berdecak. “Sudah cukup membualnya?”

“Belum.” Devan tersenyum kecil. “Miss mau tau bualan saya selanjutnya?”

“Apa itu?” tantangku.

Lelaki itu menarik tubuhnya hingga lebih miring ke arah meja dan kepalanya mendekat ke arahku. “Miss cantik, dan jantung saya berdebar cepat saat ini.”

Aku mengedipkan mata, merasa tidak mengerti dengan ucapannya. Detik berikutnya dia berdiri, lalu mengaitkan satu tali tas punggungnya ke bahu kanan. Pergi dari ruangan kelas tanpa sepatah kata pun.

“Miss cantik, dan jantung saya berdebar cepat saat ini.”

Aku menggelengkan kepala mengingat ucapannya itu. Merasa sebal dengan bualannya yang entah ke berapa puluh kali. Aku pun segera meraih tas juga buku materi di atas meja, lalu keluar dari kelas.

Sepanjang perjalanan pulang, aku berusaha melupakannya. Mencoba berkonsentrasi membaca buku di tangan atau kadang menatap sejenak keramaian kota di sore hari. Sialnya, aku tidak bisa mengenyahkan ucapan anak itu. Oh, God. Ada apa dengan diriku?!

***