Gara-gara Devan (2)
“Permisi, Bu Rina.” Aku menyapa seorang perempuan paruh baya yang sedang fokus pada buku di depannya.
“Ya, ada apa, ya?” Dia menyimpan buku dan melepas kaca matanya.
“Saya Nadira, Bu. Guru Bahasa Inggris,” ujarku.
“Bu Nadira? Oh, Miss Nadira itu. Yang selalu diceritakan anak-anak. Ya ampun, maaf. Saya belum tau, lho, Miss.” Bu Rina menepuk pelan lenganku.
“Tidak apa, Bu. Saya juga belum genap satu bulan di sini. Malah saya yang harusnya meminta maaf, saya jarang bergaul bersama guru-guru di sini,” tuturku sungkan.
“Tidak apa. Toh, kami tau seperti apa Ibu. Anak-anak bilang Ibu sering memberikan pelajaran tambahan jika mereka tidak mengerti. Saya kagum pada kinerja Miss Nadira.”
Aku tersenyum malu mendengar pujian dari guru senior itu.
“Jadi ada apa Miss Nadira menemui saya? Apa ada sesuatu yang penting?” tanyanya kemudian.
Aku pun duduk di kursi kosong di depan mejanya. “Begini, Bu. Untuk keperluan laporan saya, saya ingin meminta rekap nilai Bahasa Inggris anak-anak XII IPA 1 dari kelas sepuluh.”
“Oh, itu. Sebentar.” Bu Rina membuka salah satu laci di mejanya. “Ini nilai daftar nilai mereka, tetapi disatukan dengan mata pelajaran lain.” Wali kelas XII IPA 1 pun memberikan selembar kertas padaku.
“Oh, iya. Tidak apa.” Aku menerimanya segera. “Nanti saya kembalikan setelah selesai.”
“Tidak apa, itu hanya fotocopy. Miss simpan saja, siapa tau nanti membutuhkan lagi,” ujarnya diakhiri senyum.
“Baiklah, terima kasih kalau begitu.” Aku menerima kertas itu, kemudian membaca beberapa nama. “Devan Raja Mahendra, apa itu ... Devan?” tanyaku ragu.
Bu Rina tersenyum seraya menganggukkan kepala. “Pasti dia sudah membuat Miss Nadira kesal, ‘kan? Saya mohon maaf, saya tidak bisa berbuat apa-apa. Empat wali kelas sebelumnya pun tidak bisa bertindak lebih keras. Apalagi saya, yang belum genap sebulan menjadi wali kelasnya.”
“Saya mengerti.” Aku tersenyum kecil, lalu menatap kembali nama itu. “Nilai-nilainya bagus, tidak ada yang di bawah delapan,” ucapku terheran. “Bahkan Bahasa Inggris-nya pun ... sepuluh?” Kali ini aku benar-benar takjub melihat angka sempurna itu.
“Itulah yang sangat kami sayangkan. Sebenarnya Devan itu pintar, hanya saja perilakunya yang menghalangi semua prestasinya itu,” terang Bu Rina dengan ekspresi prihatin.
Aku membenarkan posisi dudukku, menatap wajah perempuan itu dengan serius. “Apa ada masalah dengan keluarganya? Misal ... dia berasal dari keluarga broken home, atau dia tinggal bersama orang tua tunggal?”
“Bisa disebut seperti itu. Tetapi, rasanya melihat kondisi keluarganya, ini tidak akan memberinya dampak seperti itu. Mengingat ayahnya yang seorang dokter juga pemilik rumah sakit swasta yang cukup besar di kota ini.”
“Dokter?” Tanpa sadar aku menyela ucapan Bu Rina.
“Iya, seorang ahli bedah ternama. Namun entah kenapa, dia malah lebih memilih tinggal sendiri dibandingkan tinggal bersama ayahnya,” ujar Bu Rina.
“Ibunya?” tanyaku tak sabar.
“Ah, iya. Maaf, saya belum mengatakan jika ibunya sudah meninggal dunia.”
Aku melebarkan kedua mataku.
“Setiap mendapat surat panggilan orang tua, Devan tidak pernah datang bersama ayahnya. Dia bilang ayahnya sibuk, tidak punya waktu. Semua wali kelas kesulitan untuk memberi hukuman, pasalnya meski pun dia sering terlambat, tapi seluruh nilai pelajarannya selalu di atas rata-rata. Suatu hari kepala sekolah memanggilnya, dan menanyakan hukuman apa yang pantas untuk siswa yang selalu bersikap kurang ajar pada gurunya, Devan menjawab, jangan biarkan dia lulus dari sekolah ini. Itulah alasannya, kenapa dia belum juga lulus sampai sekarang.”
Astaga. Entah harus terkejut, takjub, atau mungkin bersedih mendengar kisah hidup Devan. Yang jelas aku tidak bisa berkata apa-apa untuk saat ini.
“Maaf sebelumnya, ini hanya kami para guru tertentu yang tau alasan Devan belum juga lulus. Saya minta Miss Nadira untuk tidak menyebarluaskannya pada para murid,” bisik Bu Rina, kemudian menengokkan kepala ke sekeliling. Padahal ruang guru memang sedang sepi.
“Iya, Bu.” Aku memberi sebuah anggukan kepala.
Jadi, seperti itu alasannya. Kenapa sampai saat ini dia belum juga lulus dari sekolah ini.
***
Aku melangkah keluar dari ruang guru, membalas sapaan beberapa murid yang menyapa di sepanjang koridor.
“Miss, mau langsung pulang?” tanya Nenden yang tiba-tiba saja sudah berdiri di sampingku.
“Iya, mau langsung pulang. Ada apa memang?” tanyaku.
“Ikut kita dulu, Miss. Mau jalan-jalan dulu ke mal,” jawab siswi di sebelah Nenden.
“Mm, jadi kalian suka kelayapan sepulang sekolah, bukan langsung ke rumah?” tukasku.
“Jarang kok, Miss. Cuma kalau ada keperluan aja. Kebetulan Riska mau beli sesuatu, jadi saya ikut,” papar Nenden.
“Oh.” Aku menganggukkan kepala. Tanpa terasa kami sudah sampai di halaman sekolah.
“Itu angkotnya, buruan!” Nenden berseru pada Riska. “Kita duluan ya, Miss,” pamitnya kemudian, yang diikuti oleh Riska.
“Iya, hati-hati,” jawabku. Aku pun mengikuti langkah kaki mereka dengan tatapan kedua mata, kemudian tercengang ketika menyadari ada mobil hitam di belakang angkutan umum yang Nenden naiki bersama Riska. Dimas? Aku yakin itu mobil Dimas. Mau apa dia ke sini?
“Stop!” Aku menahan sebuah motor yang hendak lewat di depanku. Tanpa ba-bi-bu, aku pun naik ke atas jok belakangnya. “Cepat jalan,” pintaku segera, menundukkan kepala demi menghindari tatapan mata Dimas.
Motor pun melaju, keluar dari halaman sekolah. Aku bisa melihat mobil itu masih terparkir di pinggiran jalan depan sekolah. Sepertinya dia tidak melihatku. Syukurlah.
“Mau ke mana, Miss?”
Aku menengokkan kepala ke arah spion. Dari bayangan cermin, aku bisa melihat wajah siapa di balik helm itu.
“Devan?!” Aku berseru kaget.
“Pelan-pelan aja Miss, teriaknya. Nanti jatuh.”
“Memang hampir jatuh,” omelku, lalu membenarkan posisi duduk yang menyamping.
“Lagian Miss kenapa buru-buru banget, kayak dikejar hantu,” ejeknya. “Jangan-jangan Miss dikejar Debt Kolektor,” sambungnya.
“Enak aja, selama hidupku, aku tidak punya hutang pada siapa pun,” sungutku. “Udah, cukup. Saya turun di sini!” pintaku.
Devan menghentikan motornya secara mendadak, dan aku terjatuh karena itu. Kedua lututku menekuk dan tertumpu pada paving trotoar, lalu tangan kanan yang menahan beban tubuh ini. Beruntung dia menjalankan motornya di tepian, jika saja di tengah-tengah jalan, matilah aku.
“Kamu ini, bilang-bilang dong, kalau mau berhenti!” teriakku penuh emosi setelah berdiri kembali.
“Miss ‘kan minta turun di sini, nanti kalau saya berhenti secara perlahan tempatnya pindah,” jawab Devan tanpa rasa bersalah sedikit pun.
“Ih, kamu ini!” Aku menggeram kesal dengan tangan kanan mengepal, karena tangan kiri memegang buku tebal. “Kalau tau itu kamu, saya enggak bakalan mau naik,” cetusku, kemudian berbalik dan melangkah pergi meninggalkannya.
***
“Perih, Kak.” Aku meringis ketika Kak Nada mengusapkan kapas basah di telapak tanganku.
“Lagian kenapa bisa jatuh, sih?” Kak Nada terus mengoleskan cairan pembersih luka itu tanpa memedulikan rasa sakitku.
“Ya, namanya jatuh,” dalihku.
“Assalamualaikum.” Terdengar langkah kaki memasuki ruang tengah.
“Waalaikumsalam,” jawab Kak Nada. Aku diam saja, malas mengetahui dia pulang pun.
“Kenapa?”
“Jatuh katanya.”
“Jatuh di mana?”
“Di sekolah.”
“Memang kenapa bisa jatuh?”
“Enggak tau. Dari tadi ditanya juga enggak jawab.”
Aku tetap memalingkan wajah ke arah dinding, tanpa ingin melihat wajah itu.
“Apa perlu ke dokter? Takutnya infeksi,” ucap lelaki itu lagi.
“Mau ke dokter, Dira?” tanya Kak Nada.
Aku menoleh, memberi seulas senyum pada perempuan itu. “Enggak usah, besok juga baikan. Aku mau ke kamar aja, mau istirahat. Selamat malam,” pamitku padanya.
“Ya, selamat malam,” sahut Kak Nada.
“Kok, kamu biarin dia masuk kamar gitu aja? Lukanya enggak diperban?”
“Dira udah minum obat antibiotik kok tadi, enggak usah cemas. Mas mau makan sekarang?”
Kututup pintu segera, hingga tak terdengar lagi obrolan pasangan suami istri itu. Dasar, kalau bukan karena kamu, aku juga enggak bakalan terluka gini!
Aku melangkah ke arah kasur, duduk di tepiannya. Meraih buku besar yang harus segera aku selesaikan. “Ah, sakit.” Bolpoin itu jatuh, karena tangan kananku tidak bisa memegangnya.
Seketika ingatanku melayang pada Devan, lelaki bengal itu!
Lagi pula kenapa aku tidak menyadarinya, jika si pengemudi motor itu adalah dia. “Kenapa bisa dia ganti motor? Apa motornya banyak? Terus, kenapa harus memakai helm tertutup seperti itu, biasanya juga pakai topi,” rutukku kesal.
Awas saja, Devan. Tunggu pembalasanku. Aku tidak pernah membiarkan ada orang lain yang terus-menerus mempermainkanku!
*****