Rumah Kos
“Jadi, Giving Instructions bisa digunakan ketika kita ingin meminta seseorang melakukan sesuatu. Bisa dalam bentuk perintah, maupun anjuran. Contohnya, come in please, atau please open the door. Atau apa lagi? Siapa yang bisa memberi contoh?”
Pintu kelas terbuka, aku mengalihkan pandangan. Devan melangkah dengan gayanya yang seperti biasa ; rambut sedikit gondrong, kemeja yang tidak dikancingkan seluruhnya, dan sepatu warna putih. Astaga!
“Kamu bisa memberikan contohnya, Devan?” tanyaku segera.
Lelaki itu berhenti, menengok ke arah papan tulis. Dia terdiam sejenak, lalu menganggukkan kepala. “I told you not to wear red lipstick, you look older.”
Aku merapatkan bibirku hingga gigi ini bergemeletuk menahan rasa kesal.
“Ah, ya. Next time wear a black shirt, it will make you look thinner.” Devan menunjukku dengan jemarinya.
“Sit down, please!” perintahku dengan mata melebar.
Devan tersenyum, lalu berjalan ke arah kursinya. Argh, damn! Dia memang pintar.
Akhirnya aku melanjutkan menerangkan materi.
“Sekarang, saya ingin kalian menuliskan lima contoh kalimat Giving Instructions. Ingat, tidak boleh sama dengan teman. Saya tidak suka ada yang menyontek di depan saya.”
“Yes, Miss,” jawab murid-murid serentak.
Aku pun duduk di kursi untuk menunggu, seraya membuka layar ponsel. Memeriksa barangkali ada pesan masuk.
“Pulang nanti aku jemput.” Aku mengernyitkan kening. Pesan dari siapa? Nomor tanpa nama.
“Miss.”
Aku mengangkat wajah dari layar ponsel. “Ya, ada apa?”
“Kira-kira, apa kalimat ini termasuk Giving Instructions,” ujar Sakti.
Aku pun berdiri dan melangkahkan kaki menuju mejanya. “Yang mana?” tanyaku sembari melihat ke arah bukunya.
“Ini,” tunjuk Sakti.
“Love me, please.” Aku membaca kalimat yang tertulis di bukunya.
“Yes, I will.”
Sontak suara tawa menggema di seluruh penjuru kelas.
“Kamu ini. Kerjakan saja dulu sampai selesai, nanti baru tanya saya,” pungkasku kesal, lalu kembali ke mejaku. Ketika akan duduk lagi, tanpa sengaja aku melihat ke arah Devan. Dia tampak fokus menulis di atas bukunya. Kemudian entah kenapa, tiba-tiba dia menengok ke arahku, dan kami beradu pandang selama beberapa detik.
“Miss cantik, dan jantung saya berdebar cepat saat ini.”
What?! Kenapa bisa gombalannya itu terbayang kembali begitu saja, hanya karena aku baru digoda oleh Sakti?
Akhirnya aku duduk dan meraih kembali ponsel di atas meja.
“Ini Dimas.” Pesan itu masuk lagi.
Dimas? Jadi nomor baru itu ... Dimas? Kenapa dia harus memakai nomor baru untuk menghubungiku?
“Aku ada acara,” balasku.
“Acara apa?”
“Jangan sok kepo,” tulisku lagi, lalu keluar dari media pesan singkat. Detik kemudian ponselku bergetar kembali, tapi aku abaikan saja.
“Sudah selesai, Miss.” Seorang murid mengangkat tangannya.
“Baik, sebentar.” Aku berdiri lalu berjalan ke arahnya. Untuk beberapa waktu aku fokus memeriksa pekerjaan para muridku satu persatu. Hingga sampailah di meja si Raja Bualan itu.
“Sudah?” tanyaku dengan nada tak ramah.
“Sudah dari tadi,” jawabnya seraya memasang tutup bolpoinnya.
Aku mengangkat bukunya, lalu membaca tulisannya satu persatu dalam hati.
“For tomorrow, try wearing pink lipstick again. It fits more with your face.”
“Tie your hair back, it looks more simple and elegant.”
“Don’t listen to Sakti’s bullshit, he’s a playboy in this school.”
“Don’t smile at boys too often, it's very dangerous.”
“And stop telling me to answer all your questions, it makes my heart beat faster when I have to look at you.”
Aku melebarkan kedua mata, lalu menoleh ke arahnya. “Perbaiki, semua salah,” tandasku. Kemudian menyimpan buku itu dengan agak mengentak.
“Miss,” panggil Devan ketika aku hendak melangkah.
“Apa?” Aku berpaling ke arahnya dengan tatapan kesal.
“Come home with me again, please.”
“No!” teriakku. Dasar, Raja Bualan!
***
“Kamu mau Kakak masakin sesuatu, Dira?” tanya Kak Nada ketika kami berjalan di tengah keramaian supermarket. Kebetulan ini hari libur, jadi kami bisa meluangkan waktu untuk berbelanja bersama.
“Udahlah, enggak usah. Nanti Kakak kecapean,” tolakku.
“Ya, mumpung hari libur, ‘kan?” ucapnya lagi.
“Justru karena hari libur, jadi Kakak harus manfaatin waktu buat istirahat.” Aku berhenti di salah satu rak makanan. “Mending, aku aja yang masakin Kakak hari ini.”
“Emang kamu bisa masak?” ejek Kak Nada.
“Mie rebus campur telur dan sawi. Kayak dulu. Kalau Kakak pulang kerja, aku siapin makan buat Kakak.” Aku mengambil beberapa bungkus mie rebus dan memasukkannya ke dalam troli.
“Yang judulnya Mie Rebus Everyday itu.”
Kami pun tertawa mengingat masa lalu kami. Bagiku, Kak Nada sudah seperti ayah, ibu sekaligus kakakku. Hanya dia duniaku, pusat suka dan dukaku selama ini. Dia yang mengajariku banyak hal, terutama tentang mencintai diri sendiri.
“Cintai hidupmu, dan semua hal yang Allah berikan untukmu. Termasuk kejutan-kejutan yang Dia berikan padamu. Itu semua skenario yang sudah tertulis untukmu, Dira. Jika bukan kamu yang memerankannya, siapa lagi yang bisa?” ucapnya, ketika Ibu pergi meninggalkan kami.
Sejak saat itu, aku selalu berusaha mencintai hidupku sendiri. Meski pada akhirnya, aku harus mengorbankan perasaanku. Tak apa. Karena bagiku, Kak Nada adalah hidupku.
Sesampainya di rumah, kami berdua membawa kantong belanja berisi kebutuhan sehari-hari ke dalam dapur.
“Mas Dimas, kamu di mana?” sapa Kak Nada. Memang sejak kedatangan kami, lelaki itu belum terlihat. “Mobilnya ada, lagi pula dia enggak bilang ada acara keluar,” sambungnya dengan nada terheran.
“Mungkin ke minimarket depan,” jawabku asal. Aku pun berjalan ke arah kamar untuk menyimpan tas dan jaket. Hampir aku mendorong daun pintu, tapi ternyata ada seseorang yang menariknya dari dalam. “Kak Dimas?” ucapku terheran. “Habis ngapain di kamarku?”
“Mas Dimas ada di situ?” tanya Kak Nada.
“Apa ini?” Lelaki itu malah mengangkat sebuah kotak bekas makanan dengan kedua tangannya.
“Kamu ngapain buka-buka kotak itu?” Kali ini aku bertanya dengan nada lebih tinggi.
“Aku udah yakin, ada hal yang enggak beres sama kamu. Pasti ada sesuatu yang membuat kamu mau jadi guru honorer di SMA itu,” ujar Dimas.
“Mas, apa maksud kamu?” Kak Nada sudah berdiri di sampingku. “Memang kotak itu isinya apa, Dira?” Terasa sentuhan di pundak kiriku.
“Cuma kado dari murid-murid aku, Kak,” jawabku.
“Cuma kado. Kado kamu bilang? Lalu surat cintanya bagaimana?!” teriak Kak Dimas.
“Jadi kamu geledah barang-barang aku selama aku pergi, tanpa sepengetahuan dan tanpa seizinku?” tukasku.
“Ini rumahku, aku berhak masuk ke ruangan mana pun,” jawab Dimas tanpa rasa bersalah.
“Tapi ‘kan ini kamar pribadi Nadira, Mas,” tegur Kak Nada. “Kita enggak boleh seenaknya.”
“Jadi kamu mau biarin adik kamu seperti itu terus? Susah-susah kuliah, cuma buat jadi guru honorer, terus melayani rayuan para muridnya. Dia adik kamu, dia juga adik aku. Dia tinggal sama kita, jadi kita berhak –“
“Aku keluar dari rumah ini.” Aku memotong ucapan Dimas.
“Apa maksud kamu, Dira?” tanya Kak Nada dengan nada terkejut.
“Aku keluar dari rumah ini, biar Kak Dimas tidak harus sibuk-sibuk mengurusku,” dalihku.
“Buat apa? Kakak mau kamu tinggal di sini, justru karena Kakak enggak mau kamu tinggal sendirian seperti dulu. Kamu enggak boleh pergi dari sini, Dira,” cegah Kak Nada.
“Tapi ini sudah berlebihan, Kak. Sejak Kakak nikah sama dia, dia selalu mengomentari semua hal yang aku lakukan. Aku abaikan itu dan aku anggap kalau dia emang enggak suka sama aku. Tapi sekarang, lama-kelamaan, sikapnya ini mulai berlebihan sama aku, Kak. Suami Kakak ini emang benci banget sama aku. Dia selalu mencari alasan, biar aku bisa keluar dari rumah ini. Aku yakin itu,” tukasku berapi-api.
Dimas melebarkan kedua matanya. Bibirnya hendak bergerak, entah berkata apa. Namun aku segera mendorong tubuhnya untuk menyingkir dari ambang pintu.
***
Aku berhenti di depan sebuah rumah dengan pagar besi tinggi berwarna hitam. Apa benar ini alamatnya? Kutatap kembali kertas di tangan lalu nomor rumah yang tertera di bagian sisi pagar.
“Mbak, cari alamat?”
Aku menoleh ke arah sumber suara. “Permisi, Pak. Apa benar ini kosan Ibu Yeni?” tanyaku pada lelaki berseragam khas keamanan itu.
“Iya, Mbak. Mbak mau kos?” tanyanya, mungkin dia bisa melihat dari koper dan tas yang aku bawa.
“Iya. Kira-kira ada kamar kosong enggak, ya?” sahutku.
“Sepertinya ada. Mari, saya ajak ketemu Bu Yeni, biar Mbak bisa ngomong langsung,” ajaknya.
Aku menganggukkan kepala lalu mengikuti langkah laki-laki itu untuk memasuki halaman rumah. Bergumam takjub ketika melihat bangunan yang menurutku sangatlah besar.
“Silakan duduk, Mbak. Saya panggil Ibu dulu,” ucap Bapak Satpam setelah kami sampai di dalam rumah.
“Iya, Pak.” Aku pun melepas koper di tangan, duduk di sofa berwarna coklat tua. Mengelilingkan pandangan kembali ke setiap sudut rumah. Tampak di lantai atas sana pintu-pintu yang berjajar. Sepertinya rumah ini memang didesain untuk menjadi rumah kos dengan banyak kamar.
“Good afternoon, selamat sore dan wilujeung sonten,” sapa seorang perempuan paruh baya yang tiba-tiba saja muncul entah dari mana.
“Selamat sore, Bu.” Kuanggukkan kepala disertai senyum ramah. “Perkenalkan, saya Nadira.” Kemudian kuulurkan tangan ini padanya setelah berdiri.
“Sore, Nadira. Cantik sekali kamu. Berapa usiamu dan apa pekerjaanmu, lalu apakah kamu sudah menikah?” tanyanya tanpa henti setelah membalas jabatan tanganku.
“Usia saya dua puluh lima tahun, saya bekerja sebagai guru di sekolah SMA. Dan saya belum menikah,” jawabku.
“Baiklah kalau begitu. Nanti kamu tinggal pilih saja mau kamar yang mana. Di sini ada tiga lokasi kamar.” Ibu Yeni menunjuk bagian atas rumahnya. “Kamar di lantai atas, kamar di lantai bawah.” Lalu menunjuk ke arah sampingnya. “Dan kamar di halaman belakang,” ujarnya lagi seraya menunjuk ke arah belakangnya.
“Halaman belakang?” tanyaku memastikan.
“Iya, di belakang sana ada sepuluh kamar, dan dua di antaranya kosong. Hanya saja, delapan kamar itu diisi oleh para pasutri.”
“Oh. Kalau lantai atas?” tanyaku lagi.
“Lantai atas, dari dua puluh kamar ada tiga kamar kosong. Kebanyakan penghuni di sana itu para karyawan dan karyawati. Tapi tenang saja, meskipun di sini kosan perempuan dan laki-laki disatukan, tapi saya jamin tidak pernah ada kejadian di luar batas. Lihat, di setiap sudut rumah ini ada CCTV.” Ibu Yeni menunjuk ke bagian atas.
Aku pun mengikuti arah telunjuknya. “Oh, ya,” gumamku seraya menganggukkan kepala.
“Dan di lantai bawah ini ada sepuluh kamar, hanya lima saja yang terisi.”
Kuanggukkan kepala lagi beberapa kali.
“Ya, meskipun berpenghuni banyak, tapi karena kebanyakan karyawan dan karyawati, makanya jam segini masih sepi. Belum pada pulang kerja.”
“Oh, ya. Saya paham, Bu,” timpalku.
“Jadi, mau kamar yang mana?” Ibu Yeni pun tersenyum lebar ke arahku.
“Spada, halo, selamat sore, Madam Yeni!”
Aku yang hendak menjawab, mengatupkan bibir seketika. Menoleh ke arah pintu. Suara itu ....
“Halo, Devan! Sudah pulang kamu, Nak?” Ibu Yeni mengulurkan tangannya, dan lelaki berkemeja hitam itu pun mencium punggung tangan sang pemilik kos.
“Sudah, Madam. Wah, sore ini Madam terlihat cantik sekali. Agar lebih cantik dan bersinar, ini ... Devan bawakan buah alpukat. Buah alpukat baik untuk kesehatan badan dan kulit.” Devan mengangkat kantong di tangannya.
“Oh, terima kasih. Kamu memang anak kos kesayanganku.” Ibu Yeni menerima kantong itu dipenuhi raut wajah bahagia.
“Jadi, Devan kos di sini juga?” ujarku tiba-tiba. Haish!
*****