LNCrawler

Dashka dan Arkyaza

Soulmate From The Sky — gooddreamer.id · All chapters

Dashka dan Arkyaza

Dashka mengetuk-ngetukkan jarinya di atas permukaan dingin meja pualam putih bercorak marble. Satu tangannya menopang dagu dengan tubuh condong ke depan. Bola mata hitamnya terarah ke langit biru yang bersih dan mulus tanpa awan. Ujung rambut hitam ikalnya yang nyaris menyentuh bahu melambai-lambai tertiup angin sepoi-sepoi.

Sepi sekali hari ini , pikirnya. Tak seperti biasa. Mungkinkah terjadi keterlambatan karena cuaca buruk? Ah, tapi tak mungkin. Terakhir kalinya terjadi badai proton super dahsyat mendera Bumi saja, mereka hanya terhambat sedikit dan sampai di sini tepat waktu.

“Kau kenapa, Dashka?” tanya Arkyaza sembari melirik Dashka yang terlihat resah. Laki-laki bertubuh tegap dengan rambut hitam lurus sebatas punggung itu mengamati wajah adik laki-laki satu-satunya dengan cermat. Satu tangannya berada di pinggang, dan satunya lagi bertumpu pada kursi tinggi yang saat ini sedang diduduki oleh Dashka. Ujung jubah emas yang dia kenakan berkibar-kibar di belakang tubuhnya.

“Oh!” Dashka tersentak, sedikit terkejut mendengar pertanyaan kakaknya. Buru-buru dia menegakkan tubuhnya dan memasang sikap siaga yang seharusnya dia tampilkan sejak tadi.

“Tidak apa-apa Kak.” Dashka merapikan jubah peraknya yang sedikit kusut karena terlalu lama bersandar pada tepi meja. “Aku hanya sedang merasa heran saja, mengapa belum ada satu pun Cupidix yang datang. Apakah sedang ada hal tidak biasa yang terjadi di bawah sana? Badai proton seperti waktu itu, mungkin?” tanya Dashka sambil mendongak menatap Arkyaza.

Sebagai penjaga yang masih dalam tahap belajar, kemampuan dan pengetahuan Dashka belum sebesar Arkyaza yang sudah puluhan tahun menjalani pekerjaan seperti ini. Dashka masih mengandalkan penjaga-Arkyaza untuk mendeteksi kejadian yang terjadi jauh di bawah sana.

“Hmm,” Arkyaza mengerutkan dahi mendengar pertanyaan Dashka. Dia kemudian menarik napas panjang dan berkonsentrasi sesaat untuk merasakan energi yang terasa di sekelilingnya dalam jangkauan radius ribuan kilometer.

“Tak ada yang istimewa, kurasa,” jawab Arkyaza kemudian. “Memang terkadang kita menemukan kondisi seperti ini. Ini hal biasa.”

“Oh-- begitu ya, Kak,” ucap Dashka sembari mengangguk mengerti. Dia kembali menatap ke kejauhan, ke arah langit kosong di hadapannya.

“Tapi aku bosan kalau diam saja seperti ini, Kak,” keluh Dashka, ”kalau saja para Cupidix itu bisa datang terus menerus, rasanya lebih baik. Aku jadi punya banyak kegiatan.”

“Hei Dashka, bicara apa kau ini!” bentak Arkyaza. Dia menatap Dashka dengan tatapan garang.

Dashka yang sadar kalau dia telah salah bicara, buru-buru menunduk menghindari tatapan tajam kakaknya.

”Jaga ucapanmu, Dashka! Apa kau tidak tahu bagaimana kondisi di sini saat terakhir kali para Cupidix datang terus-menerus selama berhari-hari? Kami semua sampai kerepotan berlari keluar masuk perpustakaan untuk mengurus lempengan-lempengan yang mereka bawa agar jangan sampai ada yang tertukar! Apa kau tahu apa yang terjadi saat itu?” tanya Arkyaza dengan nada marah.

“Ma--maaf, Kak,” sahut Dashka tergagap. “Aku-- aku ingat saat hal itu terjadi. Meskipun aku belum bertugas di sini, tapi-- tapi aku tahu apa yang terjadi di bawah sana.”

“Oh ya? Memangnya apa yang terjadi di bawah sana?” tanya Arkyaza tajam.

“Bencana-- bencana besar, Kak. Banyak-- banyak manusia yang—“ jawab Dashka lirih, merasa sangat menyesal telah mengucap tanpa memikirkannya dulu.

“Nah. Bagus kalau kau masih ingat akan hal itu. Kau tak mau hal itu terjadi, kan?” tanya Arkyaza dengan nada suara yang sudah mulai melembut kembali.

“Maaf Kak. Tentu saja aku tak mau itu terjadi. Aku-- tadi hanya merasa bosan saja, makanya aku bicara begitu. Maafkan aku, Kak,” ucap Dashka menyesal.

Arkyaza yang sebenarnya sangat menyayangi adiknya itu kemudian mengulurkan tangan untuk membelai kepala Dashka. Sikapnya yang tegas dan galak dia maksudkan agar Dashka tidak manja dan dapat berpikir cepat serta cerdas dalam menghadapi sebuah situasi.

“Kita ini adalah bangsa Langit, Dashka,” ucap Arkyaza kepada adiknya. “Kita harus bisa menjaga pikiran kita sepositif mungkin agar tidak memengaruhi alam sekitar kita. Kalau kau nanti sudah menjadi penjaga resmi di Perpustakaan Jiwa Satu ini, kau harus lebih hati-hati lagi dengan kekuatanmu. Ingat, kekuatan energi sangat besar yang kita miliki ini tidak boleh kita gunakan sembarangan. Sebagai Penjaga, yang boleh kita lakukan dengan kekuatan ini hanya ‘menahan’ dan ‘bertahan’. Menahan diri dari segala emosi dan keinginan yang tidak semestinya, dan bertahan jika ada kekuatan jahat yang ingin menguasai Bumi dan Langit. Kau masih ingat kan, prinsip dasar yang diajarkan oleh ayah dan ibu dulu?”

“Iya Kak, aku ingat,” ucap Dashka sambil mengangguk.

“Nah. Aku yakin kau akan menjadi penjaga Perpustakaan Jiwa yang sangat baik, Dashka. Aku sangat yakin, karena keluarga kita sudah turun temurun melakukan hal ini,” kata Arkyaza sambil melipat kedua lengannya di depan dada. Ia menarik napas dalam-dalam dan memandang ke kejauhan.

Keduanya terdiam selama beberapa saat, sibuk dengan pikirannya masing-masing.

“Masa pelatihanmu sebentar lagi akan berakhir, Dashka,” ucap Arkyaza kemudian, menoleh dengan ekspresi serius pada Dashka. “Beberapa hari lagi, para Tetua akan melantik kau dan teman-temanmu sebagai penjaga Perpustakaan Jiwa secara resmi. Apakah kau sudah siap?”

“Iya, Kak,” sahut Dashka dengan jantung berdebar-debar. “Eng—tapi-- apakah proses pelantikannya akan sulit?”

Arkyaza tertawa kecil mendengar pertanyaan Dashka yang sangat polos itu.

“Proses pelantikan itu kan, hanya upacara resmi yang menyatakan bahwa kalian dinobatkan sebagai Penjaga,” jawab Arkyaza. “Kesulitan yang sebenarnya akan kau temui di lapangan, pada saat kita sudah benar-benar bertugas. Kau tak usah khawatirkan prosesi pelantikan itu. Santai saja, Dashka.”

“Baik, Kak,” sahut Dashka lega mendengar pernyataan kakaknya.

“Dan satu lagi yang perlu aku ingatkan padamu,” ucap Arkyaza.

“Apa itu, Kak?” tanya Dashka.

“Jangan pernah merasa kalau tugas kita sebagai Penjaga adalah sebuah tugas remeh. Dan jangan pernah merasa kalau kita kalah hebat dari pada para Pejuang, Penyembuh, atau para Alkemis, karena kita semua harus saling mendukung dan bekerjasama untuk menjaga Bumi serta alam semesta yang kita tinggali ini. Dan tugas para Penjaga, adalah tugas yang sangat penting.”

“Baik Kak, aku mengerti. Aku berjanji akan menjadi Penjaga yang baik, seperti Kakak, dan juga seperti ayah dan ibu dulu,” janji Dashka.

“Bagus,” Arkyaza tersenyum.

Tiba-tiba saja di kejauhan, sebuah gumpalan awan muncul di langit biru. Dashka sontak berdiri hingga kursi yang didudukinya nyaris terlempar ke belakang.

Dadanya berdebar-debar tak karuan.

Ke mana awan itu akan mengarah?

Semoga ke Pintu Utara, batin Dashka penuh harap.

Karena aku sudah sangat ingin bertemu dengan gadis itu!