LNCrawler

Buku Kehidupan

Soulmate From The Sky — gooddreamer.id · All chapters

Buku Kehidupan

Dan harapan Dashka terkabul, karena awan putih itu melayang dengan cepat tepat ke arah Perpustakaan Jiwa Satu bagian Utara, tempat dirinya dan Arkyaza sedang berjaga.

“Nah, itu dia. Satu Cupidix datang,” ucap Arkyaza sambil menunjuk. “Bersiaplah, Dashka.”

“Baik, Kak!” sahut Dashka yang sudah berdiri dengan sigap di belakang meja pualamnya, menunggu awan tersebut datang mendekat.

Awan putih yang bergulung-gulung membentuk gumpalan tak beraturan itu melaju semakin dekat. Dan setelah berada sangat dekat, gumpalan awan itu membentuk celah di bagian depannya dan membuka. Dari dalamnya muncul sesosok makhluk mungil bertubuh emas dengan sayap di punggung dan rambut keriting di atas kepala, membawa lempengan emas tebal dan besar di tangannya yang kecil.

Sang Cupidix mengepakkan sayapnya dengan gerakan halus dan terbang berputar di atas kepala Dashka sebelum kemudian menjatuhkan lempengan emas itu ke tangan Dashka.

Dashka menyambar lempengan itu dengan gerakan cepat. “Terima kasih, Cupidix!” ucap Dashka sambil melambai riang. Sang Cupidix tersenyum dan balas melambai, kemudian terbang pergi.

Arkyaza terkekeh melihat tingkah adiknya yang terkadang masih terlihat seperti anak kecil itu. Dashka hanya tertawa malu karena sadar telah ditertawakan oleh kakaknya.

Dashka menunduk untuk membaca tulisan yang tertera pada sampul lempengan tersebut.

Sektor 2 – nomor 617.

Ah, ini cukup dekat , batin Dashka senang.

“Nah, cepatlah masuk,” perintah Arkyaza sembari mengangsurkan sebentuk kunci besar berwarna emas kepada Dashka yang dia ambil dari kait di  pinggangnya, “Kutunggu kau di sini.”

“Baik, Kak!” sahut Dashka sigap.

Dashka memeluk lempengan emas besar dengan lengan kirinya dan menggenggam anak kunci pintu perpustakaan  yang diberikan Arkyaza kepadanya dengan tangan kanan. Kemudian dia berbalik dan melangkah dengan tegap meninggalkan meja pualam  untuk menuju ke pintu besar di belakangnya. Arkyaza mengikuti langkah Dashka yang bergerak menjauh dengan tatapan bangga, mengira Dashka sedang merasa sangat bersemangat dengan pekerjaannya menjelang pelantikan resminya.

Dashka memasukkan anak kunci tersebut ke dalam lubang setinggi dada pada daun pintu berwarna putih bersih yang menjulang tinggi hingga ke atas kepalanya. Pintu ini tidak dapat dibuka jika tidak ada lempengan emas yang harus dibawa masuk.

Saat Dashka memutar anak kuncinya, terdengar suara denting indah yang bergema dari dalam bangunan megah berukuran sangat besar itu, menandakan kuncinya telah terbuka.

Dashka mendorong kuat dengan satu tangan.

Di balik pintu itu, terdapat sebuah ruangan luar biasa besar yang terang benderang. Tetapi ruangan ini kosong, karena hanya merupakan ruang tengah terbuka yang merupakan pelataran dari ruangan-ruangan lain yang terletak lebih dalam lagi.

Mata Dashka yang tajam segera mencari letak sektor 2. Jauh di sudut sebelah kiri.

Hmm-- bagaimana kalau aku pura-pura salah jalan dulu? Dashka berpikir cerdik. Melewati sektor 7 dulu, lalu baru ke arah kiri menuju sektor 2. Pasti tidak apa-apa asalkan aku bergegas.

Dashka melirik sekilas ke belakang untuk memeriksa apakah kakaknya sedang mengamati dari jauh seperti yang selalu dia lakukan saat awal mulai mengajari Dashka melakukan tugasnya. Tetapi selama beberapa waktu belakangan, Arkyaza memang tidak berniat untuk selalu mengawasinya lagi, apalagi menyusulnya ke dalam. Sepertinya Dashka memang sudah mendapatkan kepercayaan penuh dari kakaknya.

Dashka pun melangkah cepat memasuki area sektor 7. Sembari berjalan dia melirik mencermati nomor-nomor kepala lempengan emas yang berbaris berurutan pada deretan rak pualam putih di sampingnya.

Di mana dia? Di mana bukunya?

Nomor 2, nomor 3, nomor 5, sebentar lagi-- nomor 6 dan--

Nah ini dia! Buku nomor 7.

Setelah sekali lagi melirik ke belakang, dengan dada berdebar dan tangan sedikit gemetar, Dashka mendekat. Dia mengulurkan tangannya untuk meraih buku tebal berbahan kaca itu, lalu membuka sampul depan bernomor 7 yang terbuat dari lempengan tebal berwarna emas. Dengan gerakan cepat, Dashka segera menyusuri satu persatu lembaran-lembaran transparan sangat tipis yang terjilid rapi di dalamnya dengan teliti supaya tidak ada yang terlewat.

Di mana dia?

Dan senyum senang terukir di bibir Dashka saat menemukan sosok yang dicarinya.

Sesungguhnya, antusiasme Dashka untuk dilantik secara resmi untuk menjadi Penjaga Perpustakaan Jiwa bukanlah didorong oleh motivasi yang sama seperti Arkyaza, kakaknya, dan seperti para Penjaga lainnya. Dashka memang sadar akan tugas yang wajib untuk dijalaninya, dan ia tetap bersemangat untuk dapat segera menjalankannya. Tetapi belakangan ini, motivasinya sedikit berubah. Semangatnya dalam menantikan Cupidix datang membawa lempengan penutup buku kehidupan berisi jiwa manusia yang sudah mati bukanlah semata-mata merupakan kesadaran akan tanggung jawab pekerjaannya.

Tetapi karena gadis ini.

Gadis yang wajah cantiknya selalu menghiasi mimpi-mimpi Dashka di waktu istirahat malamnya.

Gadis yang membuatnya selalu bersemangat setiap pagi untuk berangkat ke Perpustakaan Jiwa dan bersiaga di belakang meja pualam menantikan kedatangan Cupidix, sehingga dia bisa mencuri waktu untuk melihat buku kehidupan sang gadis yang seharusnya tak boleh dilihatnya sama sekali.

Dashka tahu yang dilakukannya ini salah. Tetapi dia tidak bisa menahan diri untuk tidak memandangi wajah sang gadis setiap kali dia memiliki kesempatan untuk masuk ke dalam ruang perpustakaan ini. Menatap wajah yang membuatnya selalu berangan-angan seandainya suatu hari nanti mereka dapat bertemu, entah bagaimana caranya.

Dashka memandangi wajah sang gadis di hadapannya.

Gadis itu sedang tertawa lepas, seperti sedang menertawakan sesuatu. Mungkin asyik bercanda dengan teman-temannya. Tiba-tiba Dashka mengerutkan dahi.

Gadis itu tidak mengenakan pakaian berwarna putih dan kelabu yang biasa dia pakai. Kali ini dia memakai sepotong gaun dengan warna biru cerah yang bahannya tampak berkilauan. Wajahnya juga terlihat berbeda. Kulitnya tampak berwarna-warni di bagian mata, bibir, dan kedua pipinya.

Apakah seperti itu cara mereka di bawah sana berhias diri? Apakah di sana sedang ada sebuah acara penting? Dashka bertanya-tanya ingin tahu dalam hati.

Meskipun merasa enggan dan masih ingin memandangi wajah gadis itu, Dashka menutup kembali lempengan sampul buku nomor 7 itu dengan berat hati. Kemudian, mengingat tugas yang harus segera dia selesaikan, Dashka berbalik dan melangkah cepat untuk menuju ke tempat yang seharusnya dia datangi, yaitu sektor 2.

Setibanya di sektor 2, Dashka segera mencari buku bernomor 617. Dia mengeluarkan buku tebal dengan sampul depan namun tanpa sampul belakang tersebut dari dalam rak. Dashka kemudian memasangkan lempengan emas yang dia dapatkan dari Cupidix tadi, yang merupakan sampul penutup pada bagian belakang buku.

Setelah itu Dashka memejamkan mata sembari memeluk buku jiwa bernomor 617 tersebut di dadanya. “Semoga kau terlahir kembali ke kehidupan yang lebih baik,” ucap Dashka.

Dan setelah Dashka mengucapkan kalimat harapan tersebut, dari dalam halaman-halaman buku tebal bersampul emas itu perlahan muncul titik-titik sehalus debu yang terbang ke atas. Menyebar dan menyatu dengan udara di sekeliling Dashka.

Dashka memandang ke atas, memerhatikan titik-titik itu selama beberapa saat.

“Dashka! Sedang apa, kau!”