Peringatan Keras
Dashka membeku di tempat mendengar suara Arkyaza yang bergema di seluruh ruangan.
Gawat, aku pasti dimarahi , batin Dashka.
Suara langkah kaki Arkyaza berdetak-detak keras di lantai pualam, membuat Dashka sedikit gemetar ketakutan.
“Kenapa kau lama sekali? Dan sedang apa kau berdiri diam di situ?” tanya Arkyaza. “Apa yang kau tunggu?”
Dashka menoleh dengan gugup menatap Arkyaza. “Ng--maaf Kak, aku hanya-- aku hanya menunggu—“ Dashka memutar otaknya dengan cepat mencari alasan yang tepat untuk diberikan kepada kakaknya.
“Sedang menunggu Cupido yang muncul—“ jawab Dashka lemah.
Ini satu-satunya jawaban yang dapat Dashka temukan dalam kondisi terjepit seperti ini. Dia masih beruntung Arkyaza tidak memergokinya berada di sektor 7 nomor 7. Karena jika Arkyaza tadi masuk di saat dia sedang berada di tempat yang tidak seharusnya, kakaknya itu pasti akan jauh lebih marah lagi daripada ini. Mungkin akan langsung mengamuk dan membentak-bentaknya. Dashka yakin Arkyaza menyusulnya masuk hanya karena dia terlalu lama berada di dalam.
Dashka menunduk dalam-dalam, menunggu bentakan kakaknya yang dia duga akan didengarnya lagi. Tapi ternyata tidak. Dashka hanya mendengar Arkyaza menghela napas dalam-dalam.
“Apa kau sudah melakukan penutupan jiwa nomor 617?” tanya Arkyaza.
“Sudah, Kak,” jawab Dashka.
“Dan apa kau sudah memberikan harapan baik kepada jiwa nomor 617 tadi setelah menutupnya?” tanya Arkyaza lagi.
“Sudah, Kak,” jawab Dashka lagi masih dengan tetap menunduk.
“Kalau begitu, itu sudah cukup. Tugas kita hanya sampai di situ saja,” ucap Arkyaza tegas. “Kau sudah tahu soal ini, kan, Dashka?”
“Sudah Kak. Maafkan aku,” ucap Dashka lagi. “Aku-- aku hanya penasaran-- penasaran soal—“
“Kapan Cupido jiwa baru akan muncul, dan akan pergi ke buku kehidupan baru yang mana dia?” tebak Arkyaza cepat.
“Iya, Kak,” jawab Dashka berbohong.
“Hmmh.” Arkyaza mendesah perlahan. “Ayo kita keluar.”
“Baik, Kak,” sahut Dashka yang langsung mengikuti langkah kakaknya keluar dari ruang perpustakaan itu.
Saat pintu perpustakaan jiwa sudah ditutup dan dikunci kembali, keduanya kembali ke meja pualam putih itu dan duduk bersama. Dashka yang sudah siap akan dimarahi lagi, duduk dengan menundukkan kepala di kursinya.
“Dashka,” kata Arkyaza dengan nada lembut. “Aku sangat mengerti bagaimana perasaanmu. Karena aku juga pernah merasakannya saat aku masih baru belajar seperti kau saat ini.”
Dashka seketika menengadahkan kepalanya, menatap wajah kakaknya. “Benarkah, Kak?” tanya Dashka.
Arkyaza mengangguk. “Aku juga selalu merasa penasaran dengan banyak hal. Dengan semua sistem yang ada di sekeliling kita, dan bagaimana cara kerja secara keseluruhannya. Tetapi ayah dan ibu saat itu mengajariku untuk menahan diri dan tidak perlu mengurusi hal-hal yang bukan urusanku. Aku diajari oleh ayah dan ibu untuk fokus pada pekerjaanku saja. Nah, karena ayah dan ibu sudah tiada, maka aku yang harus mengajarkan semua itu padamu. Aku berharap kau melakukan hal yang sama denganku, Dashka.”
Dashka kembali menunduk dan terdiam.
“Aku tahu, kau merasa sangat penasaran dengan jiwa-jiwa manusia yang telah mati itu,” ucap Arkyaza. “Kau memikirkan apakah mereka akan bereinkarnasi kembali ke Bumi atau tidak, dan kau ingin tahu ke dalam buku kehidupan yang mana mereka akan masuk untuk menjalani tugas selanjutnya di Bumi. Benar, kan?”
Dashka mengangguk, meskipun sebenarnya tebakan Arkyaza salah. Dashka tidak merasa penasaran dengan jiwa semua manusia yang kembali ke perpustakaan. Dia hanya merasa penasaran dengan satu buku kehidupan saja. Tetapi demi melindungi apa yang dia rasakan terhadap buku kehidupan nomor 7 di sektor 7 itu, Dashka pasrah saja dengan tuduhan kakaknya. Untung saja tadi Arkyaza memergokinya sedang terdiam di tempat yang memang seharusnya dia berada.
“Yah, aku bisa mengerti itu.” Arkyaza mengangguk-angguk dengan sikap bijaksana. “Tetapi itu adalah hal yang sia-sia untuk dilakukan, Dashka,” ucap Arkyaza sambil menatap ke kejauhan, ke arah langit biru tanpa awan yang membentang di hadapan mereka.
“Setelah jiwa seorang manusia kembali ke Perpustakaan Jiwa, tugas kita sebagai Penjaga hanya membantu menutup buku kehidupan mereka yang telah selesai dijalani, dan memberikan mereka harapan baik. Setelah buku kehidupannya kosong kembali, jiwa mereka akan dipertimbangkan apakah akan dikirimkan kembali ke Bumi atau tidak. Jika mereka sudah berhasil menyelesaikan semua tugas jiwa mereka di Bumi, maka mereka akan melebur kembali kepada Sang Sumber. Tetapi jika belum, jiwa itu akan mewujud sebagai Cupido yang akan langsung mencari buku kehidupan baru yang masih kosong, yang sesuai dengan tugas berikutnya di Bumi. Tetapi untuk melewati masa pertimbangan itu, waktunya berbeda-beda bagi setiap manusia. Ada yang Cupidonya langsung muncul, dan ada yang memakan waktu lama. Dan itu bukan urusan kita.”
Arkyaza menoleh dan menatap adiknya lekat-lekat.
“Kalau kau melakukan hal seperti tadi, menunggu Cupido dari jiwa yang buku kehidupannya sudah kau kosongkan, kau akan membuang-buang waktu saja, Dashka,” ucap Arkyaza penuh arti. “Kau akan menjadi terikat dengan jalan kehidupan jiwa tersebut dan menjadi memiliki keinginan untuk terus mengikuti cerita hidup jiwa tersebut. Lalu kalau sudah begitu, untuk apa? Tak ada gunanya bagi kita. Lagipula, kalau kau sibuk mengamati jalan cerita jiwa-jiwa itu, tugasmu sebagai Penjaga akan terbengkalai. Kau akan lengah jika ada Cupidix datang membawa lempengan penutup buku jiwa, dan kau akan terlambat menutup buku tersebut sehingga jiwa yang telah mati yang ada di dalamnya bisa saja tersesat dan tidak kembali ke tempat yang semestinya. Apa kau mengerti itu?”
“Ya, Kak. Aku mengerti.” Dashka mengangguk.
“Kau harus ingat,” lanjut Arkyaza lagi. “Tugas utamamu, Dashka, adalah menjaga jiwa-jiwa manusia di dalam salah satu Perpustakaan Jiwa yang ada di Langit, dari gangguan yang mungkin bisa saja terjadi dalam waktu dekat.”
Dashka mengangkat kepalanya menatap Arkyaza.
“Gangguan yang bisa terjadi dalam waktu dekat ini? Gangguan apa itu, Kak?” Dashka menatap Arkyaza dengan penuh rasa penasaran.
Arkyaza menggelengkan kepala perlahan, sepertinya menyesal telah menyebutkan soal itu kepada Dashka.
“Sebenarnya belum waktunya bagimu untuk mengetahui hal ini, Dashka, karena ini masih dalam pembicaraan para Tetua dan Dewan Penasihat,” jawab Arkyaza.
“Yaah, Kakak,” tukas Dashka sedikit kesal. “Aku ingin tau apa itu!”
“Jangan keras kepala seperti itu, Dashka,” tegur Arkyaza. “Kau ini kan, sudah dewasa. Jaga sikapmu.”
Dashka terdiam dan kemudian mengangguk, meskipun merasa tak puas dengan jawaban yang didapatkannya dari Arkyaza. “Aku mengungkapkan hal ini hanya supaya kau sadar betapa pentingnya tugas kita ini. Ingat pesanku, jagalah jiwa-jiwa manusia yang ada di dalam perpustakaan ini dengan baik. Jika tidak, jika sampai terjadi kesalahan, kau bisa membuat jiwa mereka semua terjebak dalam sebuah mimpi buruk tak berakhir,” kata Arkyaza.