LNCrawler

Gaun Lama Ibu

Soulmate From The Sky — gooddreamer.id · All chapters

Gaun Lama Ibu

“Mim!”

Mima menoleh cepat sampai ikatan ekor kuda di belakang kepalanya memukul pipinya sendiri. Mima tersenyum ketika mendapat Kei sahabatnya berlari dari dalam gedung sekolah.

“Kenapa, Kei?” tanya Mima sambil menghentikan langkahnya.

“Buru-buru amat sih, lo? Tungguin dong! Main tinggalin orang aja, ih!” gerutu Kei sambil cemberut.

Kedua sudut bibir Kei tertarik ke bawah membentuk siluet perahu terbalik, membuat Mima tertawa geli melihatnya.

“Sori deh, sorii!” ucap Mima sembari terkikik. “Gue pikir lo tadi masih asyik pedekate sama si Abdul.”

“Yeee! Siapa juga sih yang suka sama dia?” kilah Kei kesal. “Si Abdul tuh yang ngedeketin gue terus! Bete gue!”

Mima tertawa sembari melanjutkan langkahnya diikuti oleh Kei yang berjalan dengan mengentak-entakkan kaki karena kesal.

“Yaa namanya juga si Abdul lagi usaha,” kata Mima, “kan, kalian berdua sama-sama belum ada partner buat ke acara pesta kelulusan SMU kita.”

“Usaha sih usaha, tapi emangnya nggak ada yang kerenan dikit apa?” omel Kei. “Kenapa yang mau sama gue yang cupu-cupu semua, sih? Giliran ada cowok yang oke, maunya sama lo.”

“Hah?” Mima menoleh menatap Kei. “Emangnya siapa cowok oke yang mau sama gue?”

Kei mendelik menatap Mima. “Jangan pura-pura nggak tau deh Mim, please ,” ucap Kei sebal. “Si Evan tuh, dari tadi nyariin lo. Mau ngajak ke acara pesta lulusan bareng katanya. Lo ngumpet mulu sih dari tadi.”

Mima tertawa kecil mendengar omelan Kei. “Gue bukannya pura-pura nggak tau. Gue cuma nggak mau Evan terlalu berharap aja. Toh, sebentar lagi kita akan lulus, dan nggak akan ketemu lagi karena sibuk dengan urusan masing-masing.”

“Kecuali Evan adalah jodoh lo,” sambar suara seseorang yang tiba-tiba saja sudah berada di sebelah mereka.

Mima dan Kei menoleh ke arah asal suara dan melihat Vio sedang tertawa lebar.

“Nyamber aja lo Vio, kayak copet,” gerutu Kei. “Udah gitu dateng-dateng langsung ngomongin Evan pula,” kilah Mima.

“Ya kan gue nggak sengaja dengar kalian ngomongin Evan.” Vio mengangkat bahu cuek.

“Bohong lo kebangetan Vi, udah jelas lo sengaja nguping!” serang Kei.

“Hei udah udah, kenapa kalian berdua jadi pada ribut sih? Jadi pada mau pulang nggak nih?” tanya Mima. “Gue mau jalan ke halte. Kalian pada mau bareng atau mau nerusin ribut di sini?”

“Mau nerusin ribut sambil jalan ke halte,” ucap Kei dan Vio kompak.

Mima geleng-geleng kepala sembari tertawa. Dan ketiga sahabat itu berjalan bersama menuju ke halte bus yang berada tak jauh dari gedung sekolah.

***

“Mima? Udah pulang ya?”

Terdengar suara ibu dari arah kamar. Mima yang baru saja memasuki ruang depan segera melanjutkan langkah ke arah kamar ibu yang terletak di bagian belakang rumah.

“Iya, Bu,” sahut Mima sambil menjulurkan kepala melalui pintu kamar yang setengah terbuka untuk mencari ibunya.

Dan Mima tercengang melihat kondisi kamar ibu yang berantakan. Pakaian ibu berserakan di atas kasur, dan beberapa barang-barang kecil lainnya bergeletakan di lantai kamar. Pintu lemari terbuka setengah dan beberapa gaun panjang menjuntai keluar.

“Loh!  Ibu mau minggat ke mana, Bu? Mima ikuuut!” ucap Mima dramatis sambil menghambur masuk ke dalam kamar.

Kepala ibu muncul  dari balik pintu kamar dan mendelik pada Mima.

“Ngapain Ibu minggat, ini kan rumah Ibu? Kamu aja yang minggat sana!” kata ibu.

“Idihh! Ibu jahat!”  Mima menghentakkan kaki ke lantai.

Dan ibu tertawa terpingkal-pingkal melihat ekspresi Mima yang kesal karena candaannya dibalas olehnya dengan telak.

“Lagian kamu sih,” ucap ibu setelah berhenti tertawa. “Bukannya bantuin beresin kamar malah ngatain Ibu mau minggat.”

Mima berjongkok di sebelah ibunya.  “Emang Ibu lagi ngapain, sih? Kok baju-baju dan barangnya dikeluarin semua? Ibu lagi cari apa?” tanya Mima yang ikut memasukkan kepalanya ke dalam lemari.

“Ibu lagi cari ini. Nih, udah ketemu,” jawab ibu sambil menyodorkan sesuatu berwarna biru yang terlipat ke tangan Mima.

“Ini apa, Bu?” tanya Mima tak mengerti. Dia membuka lipatan di tangannya kemudian melebarkannya.

“Waaah! Gaun siapa ini Bu? Bagus banget!” seru Mima dengan mata membelalak menatap gaun berwarna biru cerah dengan model yang simpel dan kekinian.

“Gaun Ibu waktu muda. Keren, kan?” sahut ibu menyombongkan diri.

“Keren Bu! Kok modelnya kayak yang sekarang lagi trend, sih? Apa jangan-jangan trend yang sekarang ini pengulangan dari zaman Ibu muda ya?” ucap Mima sambil mengamati gaun itu.

“Kayaknya sih gitu,” ucap ibu. “Ibu juga jadi ingat sama gaun ini karena habis liat trend outfit kekinian di media sosial. Modelnya persis banget kayak gini.”

“Uwaaah pas banget sama Mima, Bu!” seru Mima kegirangan sambil memegangi gaun itu di depan cermin.

“Syukurlah kalau pas, berarti kamu jadi punya gaun untuk pergi ke acara pesta kelulusan SMU kamu, kan?” ucap ibu sambil tersenyum.

Mendadak Mima terdiam dan menoleh menatap ibu.

“Ya ampun Bu-- jadi Ibu sibuk bongkar-bongkar lemari karena mau cari gaun ini-- untuk dipakai Mima ke pesta?” tanya Mima dengan suara tercekat. “Padahal kan Mima udah bilang, Mima nggak usah pergi ke pesta juga nggak apa-apa, Bu.”

Ibu tersenyum sambil menggeleng. “Ibu tuh dari kemarin sedih dan kepikiran karena nggak punya uang untuk  beliin kamu gaun untuk ke acara pesta sekolah itu.  Nah, sekarang kebetulan ada gaun itu. Kalau kamu nggak malu pakai gaun lama Ibu buat ke pesta, lebih baik kamu pergi aja. Ini kan momen sekali seumur hidup, Mima. Buat kenang-kenangan bersama dengan teman-teman kamu.”

Mata Mima tampak berkaca-kaca karena terharu. Hidupnya yang serba pas-pasan dengan penghasilan ibunya yang hanya seorang pekerja honorer membuat Mima tak pernah menginginkan hal yang berlebihan dalam hidupnya. Pesta kelulusan SMU bukan hal yang terlalu wajib didatangi menurut Mima. Tapi saat melihat betapa ibu sudah berusaha untuk mencarikan gaun yang pantas untuk dipakainya, rasanya Mima tak bisa menolaknya.

Mima langsung memeluk ibunya dengan erat.

“Nggak Bu, Mima nggak malu pakai baju bekas Ibu,” jawab Mima sambil tersenyum. “Mima akan pakai gaun ini ke pesta sekolah.”

Ibu mengangguk dan tersenyum.

“Sekarang Mima bantuin Ibu beresin pakaian yang berantakan ini, ya,” kata Mima.

“Udah, nggak usah,” sahut ibu. “Kamu langsung aja ke belakang, cuci bajunya. Supaya besok udah kering dan bisa langsung disetrika. Kamu juga belum mandi, kan.”

“Oh gitu, ya udah deh Bu, Mima mandi dulu sekalian cuci baju ini,” pamit Mima.

Setelah Mima pergi ibu berdiri untuk mulai merapikan baju-bajunya.

“Aduh—“ Ibu merintih pelan sembari memegangi dadanya.