PESTA KELULUSAN
Mima mematut dirinya di depan cermin. Gaun lama ibu ini ternyata sangat indah setelah dia kenakan. Warnanya masih cerah, sama sekali tidak terlihat pudar atau kusam. Mima hanya sedikit memperbaiki bagian tali pinggangnya saja yang kurang pas, dan selebihnya gaun ini tampak seperti gaun baru.
Sejujurnya bagi Mima acara pesta seperti ini tidaklah terlalu penting baginya. Bisa sekolah SMU sampai lulus saja Mima sudah merasa bersyukur sekali. Kepergian ayahnya yang terlalu cepat karena sakit dan tanpa meninggalkan tabungan sepeser pun telah membuat ibunya harus bekerja keras banting tulang untuk membiayai sekolah Mima.
Setelah ayahnya meninggal, yang ada di pikiran Mima hanya satu, yaitu lulus dengan nilai baik dan segera mendapatkan pekerjaan agar bisa membiayai kehidupan mereka berdua. Mima tak tega melihat ibunya bekerja di toko dengan mengambil
full shift hanya untuk bisa menghidupi dirinya.
Mima merasa sangat lega dia sudah lulus sekarang, dan bisa menggantikan ibu bekerja. Dalam hati Mima sudah berkhayal akan melarang ibunya bekerja setelah dia sudah memiliki penghasilan tetap dan akan membiarkan ibu menikmati hari tuanya dengan tenang tanpa harus kelelahan setiap hari.
Mima pun tak terlalu peduli dengan Evan yang sejak beberapa hari lalu sibuk mengajaknya pergi bersama ke acara pesta kelulusan sekolah.
“Nggak usah jemput kan juga bisa, Van, nanti juga di
venue kita ketemu,” jawab Mima saat Evan menawarkan diri untuk menjemputnya.
“Tapi kan lebih enak kalau aku jemput kamu ke rumah lalu kita perginya bareng, Mim,” kata Evan yang bersikeras ingin menjemput Mima ke rumah sebelum berangkat ke acara pesta.
Ini adalah salah satu hal yang tidak disukai Mima dari Evan yaitu suka memaksa. Semakin ditolak, Evan akan semakin memaksa. Sementara Mima, semakin dipaksa akan semakin menolak.
Mima tak mengerti mengapa Kei dan Vio begitu mengidolakan Evan yang jelas-jelas sikapnya arogan dan angkuh seperti ini. Bahkan keduanya juga ikut sibuk menjodohkan dirinya dengan Evan. Bukannya Mima gadis yang sombong sehingga menolak cowok yang diidolakan banyak cewek di sekolah. Tetapi dia memang tidak memiliki perasaan apa-apa pada Evan. Dan Mima juga bukan tipe gadis yang harus memiliki pacar dan merasa sedih atau mengenaskan jika tak punya pacar. Bagi Mima, punya pacar itu kalau memang kebetulan bertemu dengan cowok yang disukai saja. Tak perlu ditargetkan dan tak perlu dicari-cari.
“Bu, Mima pergi dulu ya,” pamit Mima setelah dia siap dengan gaunnya.
“Waah, cantik banget anak Ibu,” puji ibu Mima yang merasa senang melihat Mima tampak menawan mengenakan gaun lamanya. “Kamu berangkat sama siapa?”
“Naik ojek online aja, Bu,” jawab Mima, “biar praktis.”
“Oh, ya udah, hati-hati ya di jalan,” ucap ibu.
“Iya Bu, daah Ibu!” Mima melambai dengan ceria pada ibunya.
Dan Mima pun berangkat ke lokasi pesta.
***
Pesta kelulusan SMU Mima berlangsung dengan sangat meriah. Acara tahunan yang selalu digelar oleh pihak sekolah untuk merayakan kelulusan murid-muridnya yang duduk di kelas tiga ini selalu disambut dengan gembira oleh para siswa.
Selain pidato dari para guru dan kepala sekolah, acara ini juga diisi dengan pertunjukan musik dan seni dari adik-adik kelas, dan games berhadiah. Makan malam pun dihidangkan dengan mewah dan berlimpah membuat semua orang bertambah senang dalam menikmati pesta.
Tetapi selama di dalam pesta, Mima merasa terganggu dengan tingkah Evan yang selalu saja berada di dekatnya.
Saat masuk ke acara bebas, dan ruangan aula berubah menjadi semacam
club dengan lampu berwarna warni dan DJ yang entah diundang dari mana, cowok itu berkali-kali berusaha memaksanya untuk turun ke lantai dansa ruang aula besar yang digunakan untuk momen ini. Mima sudah berusaha menolaknya tapi Evan masih saja terus memaksa. Dan entah kenapa semua teman-teman dan bahkan guru-guru malah seolah ikut menjodohkan Mima dengan Evan.
Menurut mereka Mima dan Evan tampak sangat serasi malam ini. Dilihat dari pakaian dan kepantasannya dalam berdandan, bahkan panitia acara menobatkan Mima dan Evan sebagai Ratu dan Raja pesta.
Karena tidak ingin merusak suasana pesta atau dikatakan sombong dan berlebihan, akhirnya Mima mau menerima ajakan Evan dan teman-teman yang lain untuk turun ke lantai dansa. Dengan diiringi musik-musik EDM dari DJ-DJ terkenal di seluruh dunia, Vio dan Kei yang tampak heboh sekali sejak awal acara, tampak sangat bersemangat mempraktekkan gaya
dance mereka yang entah aliran apa Mima tak tahu.
“Ayoo Mim! Semangaat! Anggap aja lagi
clubbing kita!” ucap Vio yang menarik-narik tangan Mima agar mengikuti gerakan yang sedang dilakukannya.
“Iya Mim, nih kayak gue gini, niih!” Kei mencontohkan gerakan tarinya yang sudah dipelajarinya dari
youtube .
Mima hanya tertawa kecil saja melihat kegembiraan kedua sahabatnya itu. Meskipun sebetulnya merasa malas karena Evan menempelinya terus, namun demi kedua sahabatnya yang terlihat sangat bersemangat, akhirnya Mima berusaha ikut larut dalam kegembiraan malam ini.
Acara baru selesai sekitar pukul sebelas malam. Karena sudah terlalu malam, para pengurus sekolah dan panitia menganjurkan agar murid yang membawa kendaraan untuk mengantarkan teman-temannya yang tidak dijemput dan tidak memiliki kendaraan. Otomatis, hal ini membuat Evan jadi memiliki kesempatan untuk bisa mengantarkan Mima pulang.
“Vio, Kei, bareng aja sama gue dan Evan,” ucap Mima mengajak Vio dan Kei agar dia tidak berduaan saja dengan Evan. Tetapi kedua sahabatnya itu dengan usilnya malah menolak dan membiarkan Mima pulang berdua saja dengan Evan. Dan akhirnya daripada tidak kunjung pulang hanya gara-gara berdebat masalah siapa pulang dengan siapa, akhirnya Mima pasrah saja pulang berdua dengan Evan. Sementara Evan merasa sangat senang sekali karena akhirnya berhasil mengajak Mima pergi bersama dia meskipun hanya dalam jarak yang tidak jauh, hanya dari gedung aula pesta ke rumah saja.
Dan setelah tiba di rumah, Mima tanpa menawarkan sama sekali kepada Evan untuk mampir ke rumahnya, segera turun dari mobil dan mengucapkan terima kasih kepada Evan karena telah mengantarkannya pulang.
“Nanti kapan-kapan kita jalan bareng lagi ya, Mim!” ucap Evan sebelum Mima menghilang di balik pagar.
Mima yang selalu membawa kunci rumah, langsung masuk ke dalam rumah dengan sangat lega karena akhirnya berhasil lepas dari Evan. Mima melangkah menuju ke kamar ibunya dan mengetuk pintu yang sedikit terbuka.
“Bu? Udah tidur, ya?” panggil Mima.
Tak ada suara di dalam kamar.
Mima mendorong pintu kamar ibu perlahan hingga terbuka.
Ibu tampak berbaring di atas tempat tidur dengan posisi yang aneh.
Mima mengerutkan dahi dan melangkah mendekat.
“Bu--?” panggil Mima sekali lagi.
Mima menyentuh lengan ibu sambil menunduk mengamati kondisi ibu.
Dan Mima menjerit keras.