Akhir dari Sebuah Awal
“Kacangnya … silahkan! Air mineral … minuman dingin yang segar semua ada!.”
Nyaringnya suara para pedagang asongan menjadi musik pertama yang menyapa langkah seorang gadis berambut cepak. Ia baru saja memasuki dek kapal feri dengan tujuan Surabaya ke Jakarta, setelah bergulat dengan lalu lintas kota pahlawan. Pandangannya langsung mengarah pada gerombolan manusia yang tengah berkumpul untuk menikmati pemandangan dari dek kapal secara langsung. Poni panjangnya menari-nari dimainkan hembusan asin angin laut, namun tidak membuat gadis bermanik obsidian itu mengalihkan pandangan dari hamparan permadani biru.
“
Halah, emang sekarang tuh gak ada orang kaya yang bener. Si Jody Hermawan yang tajir punya banyak perusahaan ternyata kebelit kasus penggelapan dana.”
“Uang yang dimakan anak-istrinya
rak barokah, itu kan duit orang lain. Kok, nggak takut sama Tuhan. Itu aja baru satu yang ketahuan belum lainnya. Emang bener, jaman
wis edan. ”
Perbincangan antara dua orang wanita berpakaian mencolok berhasil membuat Iva⸺si gadis berambut cepak menggigit bibir di balik masker hitamnya. Tangan Iva mencengkram teralis, namun tidak lama kemudian ia memilih melangkah pergi meninggalkan kedua wanita yang masih sibuk bergosip.
Iva merogoh sesuatu dari kantong saku celana jeans denimnya. Sebuah benda berbentuk persegi panjang berwarna biru, Obelia Iva Lavanya begitu nama yang tertulis di kartu tanda penduduk miliknya. Ia hanya memandangi benda tipis tersebut sebeleum akhirnya tanpa ada keraguan, Iva mulai merobeknya menjadi serpihan kecil yang tidak berbentuk. Setelah itu, Iva mengamati dompet berwarna hitam di tangannya. Dompet yang terbuat dari kulit buaya berkualitas tinggi menjadi korban selanjutnya. Lagi-lagi tanpa ragu Iva melempar dompet seharga jutaan rupiah ke laut. Tidak ada penyesalan maupun kesedihan yang tergurat di wajah gadis berusia 20 tahun itu.
Benda terakhir yang dikeluarkan gadis berambut cepak itu adalah sebuah ponsel dengan tiga buah kamera dibagian belakang. Kali ini, Iva memandangi sebuah foto yang menjadi latar belakang ponsel tersebut. Senyuman pahit terukir di bibir pucatnya. Setelah merasak muak memandangi foto tersebut, tangannya kembali terulur dan melepas ponsel di genggamannya yang bergabung bersama samudra.
Iva memejamkan mata. Sederet potongan gambaran melintas di benaknya berhasil membuat butiran bening menumpuk di pelupuk mata. Hembusan nafas Iva menjadi berat, jantungnya seolah tengah dipacu lebih cepat dari sebuah jet.
“Tidak … tidak! Ibu mau ke mana? Apa Ibu tega meninggalkanku sendirian?” Kedua tangan Iva berhasil mencekal tangan Melissa yang tengah berjalan keluar rumah dengan sebuah koper besar.
“Kenapa tidak? Aku harus menyelamatkan diriku. Apakah kau ingin Ibumu menderita karena tindakan bodoh ayahmu? Aku tidak ingin lagi ikut campur dengan keluarga terkutuk ini, asal kau tahu. Jika kau memang anak yang baik, kau pasti tidak akan tega melihat orang yang melahirkanmu menderita?!”
“Dan seharusnya jika kau memang Ibu yang baik, kau tidak menelantarkan anakmu begitu saja! Aku bahkan tidak meminta untuk dilahirkan. Apakah kau kira seorang anak pernah meminta dilahirkan ke dunia?” Melissa terdiam, tubuhnya masih membelakangi putri semata wayangnya yang terengah akibat menaikkan nada bicaranya. Iva yang gemas sedari tadi melihat punggung Melissa akhirnya memutar badan sang ibu secara paksa.
“Ibu tahu mengapa Tuhan meminta para orang tua bertanggung jawab atas anak-anak mereka? Itu karena kalian lah yang membuat kami terlahir tanpa kami minta!” Iva menatap lurus tepat di kedua manik hazel Melissa yang tampak tidak tergetar, ketika melihat putrinya di tengah keputusasaan. Sayangnya, wanita itu tidak peduli. Ia justru menghempaskan tangan Iva begitu saja dan melanjutkan langkahnya yang sempat tertunda.
“Kalau begitu menghilang saja dari sini,” ucap Melissa sebelum menghilang di balik pintu mobil Suv merah meninggalkan sosok Iva yang masih membeku ditempat.
Iva mendesis dan menengadahkan wajahnya⸺mencoba menahan bendungan yang telah dibangunnya agar tetap menampung cairan-cairan bening. Sayangnya, rasa sakit dari ingatan percakapan semalam terlalu menyakitkan. Ucapan Melissa sebelum pergi bersama pria asing itu terngiang bak lantunan lagu pengantar tidur. Wanita yang melahirkannya meminta Iva untuk menghilang dari dunia, tidak ada rasa sakit melebihi kalimat singkat sang ibu.
Dadanya semakin sesak ketika mengingat kejadian penuh luka dalam hidupnya yang dipenuhi ironi. Sebelum ditinggalkan Melissa, Iva dikejutkan dengan kabar ayahnya ditangkap atas tuduhan penggelapan dana. Teman-teman di kampus juga semakin mengucilkannya, bahkan kali ini mereka mencibir. Iva terlalu lelah dengan sederet rasa sakit yang melilit takdir membuatnya menjadi sinting.
Gadis berambut cepak dengan potongan tidak rapi itu memandang hamparan laut tempat, dimana kapal yang ditumpanginya melaju. Seutas senyum getir penuh makna tiba-tiba tersungging di kedua sudut bibirnya. “Benar, mereka memintaku menghilang bukan? Kalau begitu aku akan melakukannya.”
Satu persatu kaki Iva menaiki teralis besi, sehingga kini tubuhnya tidak lagi menyentuh lantai dek. Ia memandang langit biru yang dihiasi gumpalan kapas putih⸺mengucapkan salam perpisahan kepada dunia atas luka dan ironi dalam hidupnya. Rasa sakit itu semakin mendera tubuh dan jiwa Iva. Buliran bening yang berusaha ditahannya meluncur dan membasahi pipi pucat si gadis berambut cepak. Masker hitam yang semula menyembunyikan wajah manisnya telah terbang bersama angin entah sejak kapan. Kedua tangan Iva tidak lagi berpegangan pada teralis besi, kemudian ia kembali memejamkan mata sebelum akhirnya tubuh gadis berambut cepak itu melepaskan pegangannya.
ByuurrrrDinginnya air laut langsung menyambut Iva. Memeluk dengan mesra tubuh Iva yang mulai terasa kaku, perlahan rasa sesak dan panas menjalar di dada. Tetapi pening dan gemetar yang semula mendera tubuhnya menghilang. Iva tidak lagi mendengar deburan ombak menggulung, maupun cuitan burung camar yang terbang di atas langit. Kesunyian menjadi musik yang menemani gadis berambut cepak tersebut. Ia tidak lagi tahu apakah air matanya masih mengalir atau tidak. Bahkan, rasa sakit di tubuhnya telah mengambil alih seluruh indera perasanya.
Apakah aku akan berakhir di neraka? Tentu saja, aku mati dan melakukan dosa besar. Tidak apa, aku juga tidak memiliki seseorang untuk ditemui di surga.Perlahan Iva kembali memejamkan mata. Kegelapan perlahan menyelimuti. Tubuhnya terasa berat seakan sebuah rantai tengah menjeratnya. Jauh di dalam lubuk hatinya, Iva mengharapkan gambaran indah dari foto di masa lalu yang sempat ia gunakan sebagai latar belakang ponselnya menjadi nyata. Iva masih menginginkan Tuhan mengasihaninya, ia tidak mengharapkan banyak hal, kecuali kehangatan dan kebebasan atas rasa sakit dari jeratan ironi dalam takdirnya.
Dengan begini, aku bisa mencapai akhir. Maafkan aku … aku hanya merasa lelah dan muak. Lagipula, aku tidak memiliki alasan di dunia ini. Tidak ada yang mengharapkan keberadaanku.Dialog kecil Iva dengan hati kecilnya mencapai akhir. Tiba-tiba tidak ada lagi percakapan, gadis itu sepenuhnya terjatuh dalam dekapan kegelapan dan dinginnya selimut air laut yang asin. Melupakan setiap luka yang terukir dalam hati dan jiwa, Obelia Iva Lavanya menemui kedamaian dari kebebasan hidup.
…
Begitulah dugaannya, sampai suatu ketika kala secercah cahaya dan hembusan angin menyapu wajah Iva. Ia membuka mata dan mengerjap selama beberapa saat, sebelum akhirnya memekik keras, “Apa-apaan ini?!”