LNCrawler

Tubuh Asing

The Everlasting Lullaby — gooddreamer.id · All chapters

Tubuh Asing

“Apa yang baru saja terjadi?”

Seorang gadis bersurai legam terduduk dengan raut wajah kebingungan. Manik violetnya memandang ke sekeliling ruangan yang berisikan perabot berwarna keemasan. Masih dilanda kebingungan gadis bermanik violet tersebut mencoba berdiri dan berjalan tertatih menuju sebuah cermin, karena kakinya yang terasa mati rasa. Kali ini, ia tidak memekik keras seperti tadi. Gadis bersurai kelam tersebut terperangah sembari menatap pantulan bayangan sosok elok di sana.

“Apa ini? A-apa yang terjadi padaku? Ini … siapa? Apakah ini aku?” tanya gadis itu entah kepada siapa. Ia menyisir helaian surai legam yang menjuntai menyentuh pinggang. Ia bergerak mengusap wajah jelitanya dan kembali bergerak pada sepasang telinga yang meruncing dibagian ujungnya⸺aneh dan mengagumkan.

“Nona muda, apakah terjadi sesuatu?” Gadis bersurai kelam terlonjak kecil, ketika tiba-tiba saja wanita bersetelan gaun berwarna putih muncul dan membuatnya semakin terkejut. Pasalnya, wanita yang baru saja memanggil dengan sebutan nona muda itu memiliki wajah mungil nan ayu, jangan lupakan sepasang telinga berujung runcing.

“Nona muda Titania, apakah Anda baik-baik saja?” tanya wanita berwajah menggemaskan itu sekali lagi.

“Siapa … itu Titania?” Si gadis bermanik violet justru balik bertanya. Pertanyaan yang berhasil membuat wanita di hadapannya jatuh terduduk.

“Apa maksud Anda, Nona? Tentu saja, Titania itu adalah nama Anda,” jawabnya sembari masih terjebak dalam keterkejutannya.

“Tapi aku bukan Titania, aku itu … Iva,” gumam gadis bersurai legam tersebut dengan suara yang rendah. Ia merasa sesuatu yang aneh terjadi. Tanpa pikir panjang, Iva berlari meninggalkan wanita bersetelan putih di belakangnya.

Gadis itu berlari bertelanjang kaki melewati lorong dengan pilar-pilar kokoh. Di sepanjang jalan, ia dapat mendengar setiap orang memanggilnya dengan sebutan ‘Nona muda.’ Paru-parunya mulai kehabisan pasokan oksigen, sehingga saat ia menemukan sebuah pintu yang terbuka gadis bersurai legam itu memutuskan untuk berhenti. Setelah mengatur nafas, Iva hanya dapat terperangah dan kembali takjub untuk kesekian kalinya.

“Ya Tuhan … apa yang sebenarnya sudah terjadi? Tempat apa ini?” gumamnya lagi.

Iris berwarna kecubung itu hampir melompat keluar, saat mendapati pemandangan asing di hadapannya. Hamparan permadani hijau yang ditumbuhi bunga-bunga camelia dan mawar  tampak di sepanjang mata memandang. Sebuah jalan setapak berlapis batu bula, berhias patung-patung pria dan wanita tengah menari berjajar rapi. Iva merasa seakan ia baru saja terlempar ke negeri dongeng, belum lagi ia menemukan makhluk-makhluk aneh yang beberapa kali berlarian melewatinya.

“Nona muda Titania, tolong … jelaskan kepada saya. Ada apa dengan Anda? Mengapa setelah siuman Anda menjadi aneh?”

Wanita bersetelan putih baru saja tiba dan mencoba mengisi paru-parunya dengan pasokan oksigen, setelah sempat tertinggal di belakang. Alih-alih menjawab, gadis bermanik violet itu justru memandang lurus dan mulai mengamati wanita di hadapannya dari ujung kepala sampai kaki. Bahkan, wanita itu sampai mengambil beberapa langkah ke belakang, karena jarak sang nona yang terlalu dekat.

“Kau tahu … kita ada dimana?” tanya Iva dengan kedua tangan yang telah mencengkram kedua bahu wanita itu.

“H-Heimr, tentu saja! Kita berada di tanah para Elf, rumah dan asal dari setiap Elf.”

“Kau bilang Elf? Pantas saja, aku memiliki telinga aneh ini … kalau begitu aku siapa?”

Pertanyaan aneh Iva terus berlanjut, meski dalam keadaan bingung wanita berwajah ayu di hadapannya masih tetap menjawab, “Anda adalah Putri bungsu keluarga Calebron, Titania Deeron Calebron. Apakah … Anda tidak mengingatnya?”

Iva tidak menjawab, ia justru duduk bersimpuh di salah satu anak tangga dan menutup wajahnya dengan kedua tangan. Gadis bersurai legam itu tampak tertekan dan cukup frustasi. Manik violetnya kembali memandang hamparan rumput kehijauan, kemudian beralih pada langit bercorak kemerahan yang membentang di atasnya.

“Astaga … ini gila. Maaf, bisakah kau membawaku kembali ke kamar? Aku … ingin kembali beristirahat,” kata Iva kepada sosok yang masih setia duduk menemaninya, meski ia sendiri sama bingungnya. Tetapi wanita itu tidak memprotes apapun.

Sekali lagi, kaki telanjang Iva menyentuh dinginnya lantai batu pualam. Ia mengamati lorong panjang nan lengang. Pilar-pilar kokoh berdiri di sana-sini, kristal-kristal bercahaya tergantung menghiasi langit-langit berkubah. Dalam sekali lihat, Iva tahu saat ini dirinya tengah berada di istana yang megah. Dan wanita yang sejak ia terbangun telah berada di sisinya adalah seseorang yang melayani nona muda Titania ini. Beberapa hal aneh yang dikumpulkan oleh Iva sejak ia membuka mata, membuatnya berhasil menciptakan sebuah hipotesa. Tubuh yang saat ini ia gunakan adalah milik seseorang bernama Titania.

Dari penjelasan Esther⸺pelayan pribadi Titania, ia adalah putri bungsu dari keluarga bangsawan Elf cahaya⸺Calebron. Ia berusia 200 tahun, ketika mengetahui usia pemilik tubuh yang ia tempati Iva sampai hampir terjungkal akibat rasa terkejutnya. Bagaimana tidak? Dua ratus tahun bukan usia yang lazim.

Titania memiliki wajah cantik yang menawan. Bahkan tidak terdapat kerutan di pipi atau bagian matanya, dan Iva menyimpulkan alasan dibalik wajah Titania yang tidak menua dikarenakan ia merupakan bangsa Elf. Makhluk yang Iva kira selama ini sekedar sebuah mitologi itu nyata. Mereka benar-benar ada, bahkan saat ini ia bernafas dan hidup di dalam tubuh salah satu dari mereka. Satu hal yang ia tidak mengerti adalah mengapa dan bagaimana bisa dirinya berada di dalam tubuh Titania. Iva mencoba mengingat hal terakhir yang terjadi padanya, kilasan balik dimana dirinya menaiki pagar teralis besi dari kapal kemudian melompat dari sana. Satu-satunya yang diingat Iva hanya dinginnya air laut, rasa sesak, dan kegelapan.

Iva menghela nafas kasar. Semua deretan kejadian aneh ini berhasil membuatnya sakit kepala. Ia merasa seperti sedang menjadi tokoh utama di cerita fantasi. Pemikiran gila tiba-tiba menghampiri gadis bermanik violet itu. Tiba-tiba, ia bangkit dari duduknya dan mengedarkan pandangan⸺mencoba mencari sesuatu dan itu adalah sebuah benda mengkilap yang terletak di atas meja nakas.

Pisau buah yang berada di samping piring berisikan potongan buah langsung disambar oleh tangan Iva cepat. Selama beberapa saat gadis itu terdiam dan memandangi benda mengkilap tersebut. Hal selanjutnya yang dilakukan Iva berhasil membuat Esther memekik dan berlari secepat kilat ke arah sang nona.

“Nona muda! Apa yang baru saja Anda lakukan? Astaga … d-darahnya banyak sekali,” ucap Esther gugup. Tangan sang pelayan sibuk membelit pergelangan tangan Iva yang saat ini berlumur cairan kental kemerahan. Tapi Iva tidak berhenti disana, ia bahkan menyayat bagian lain tubuhnya dan menciptakan noda di gaun tidur satinnya.

“Nona, hentikan! Saya tahu, kita mungkin memang memiliki kemampuan regenerasi. Tapi Anda tidak seharusnya menyiksa diri Anda sendiri seperti ini,” sergah Esther cepat, sebelum tangan Iva kembali mengayunkan pisau untuk ketiga kalinya. Iva tertawa kecil. Ini bukanlah mimpi, ia dapat merasakan sensasi perih dan sakit dari luka yang kini telah terukir di kedua tangannya. Cairan kental kemerahan menjadi bukti bahwa saat ini ia memang benar-benar masih hidup, hanya saja bukan di tubuhnya dan bukan sebagai dirinya. Tetapi sebagai seseorang bernama Titania.

“Ah … ini benar-benar gila. Tuhan benar-benar sedang mempermainkanku. Sebenarnya, apa yang sedang dia lakukan padaku sih,” geram Iva dengan nada setengah memekik. Ia memandangi pantulan yang ada di cermin. Sosok jelita yang saat ini sedang duduk bersimpuh adalah dirinya. Tubuh asing yang tampak aneh dengan kedua telinga berujung runcing dan mata berwarna permata, “Yang benar saja!”