LNCrawler

Sesuatu yang Menarik

The Everlasting Lullaby — gooddreamer.id · All chapters

Sesuatu yang Menarik

Angin hangat berhembus menyapu wajah elok seorang gadis bersurai legam, yang saat ini tengah duduk di salah satu bangku taman. Kaki mungilnya dibiarkan telanjang menyentuh rerumputan yang menggelitik. Sementara, manik violetnya memandang bangunan-bangunan bertumpuk. Heimr tampak seperti negeri dongeng yang memiliki bangunan megah dan elok. Meskipun hanya melihat dari jauh Iva sudah terkagum-kagum dengan tempat yang disebut sebagai tanah para elf.

Sudah hampir satu minggu Iva berada di dalam tubuh Titania. Perasaan aneh masih belum menghilang mengingat tubuh yang ia tempati berbeda dari tubuh aslinya. Banyak hal yang Iva ketahui sejak membuka mata, pertama Titania sebelumnya ditemukan pingsan oleh Rouvin⸺putra sulung keluarga Calebron yang saat itu tengah melewati paviliun tempat sang adik tinggal, sehari-hari Titania memang sering menghabiskan waktu di taman bagian paviliun mansion mereka. Dan hari itu Rouvin menemukan Titania tidak sadarkan diri di atas rerumputan. Tidak ada yang tahu, apa yang terjadi pada Titania, sehingga Iva menduga mungkin jiwa pemilik tubuh ini telah tewas atau semacamnya.

Kedua, ternyata Titania adalah gadis Elf yang dipuja oleh banyak pemuda Elf. Iva melihat secara langsung, ketika Rouvin memintanya datang kemarin lusa ke menara sihir⸺tempat Rouvin bekerja dengan segala macam ‘keajaiban.’ Titania dan Rouvin hendak pergi menuju sebuah pusat pengobatan di ibu kota untuk memeriksa tubuh Titania. Iva sendiri merasa tidak keberatan, karena mungkin ia akan menemukan sesuatu yang berguna sebagai petunjuk. Banyak rekan-rekan Rouvin yang memandang wajahnya⸺Iva cukup memahami mengapa mereka tidak dapat melepaskan pandangan dari wajah Titania, gadis itu memang sangat menawan.

Ketiga, seorang tabib yang mereka temui tidak menemukan keanehan pada tubuh Titania. Namun, karena tidak ada seorang pun mengetahui kenyataan yang terjadi kepada putri bungsu keluarga Calebron, membuat sang tabib beranggapan Titania mengalami amnesia. Iva tidak dapat berkomentar, tidak mungkin bukan ia akan berkata jika jiwa Titania menghilang dan digantikan jiwa seorang manusia. Orang-orang tidak mempercayai hal-hal gila.

“Mengapa hidupku menjadi sangat sulit sih? Padahal aku hanya ingin bebas dari semua ini, aku itu sudah muak,” ucap Iva sembari menghentakkan kaki ke rerumputan.

“Aku melakukan kesalahan apa sebenarnya di masa lalu sampai harus memiliki kehidupan sulit seperti ini? Aish!” Iva menggeram dan mulai berdiri. Ia berjalan lalu menendang udara, gaun hijau pastelnya sampai tersingkap karena tingkahnya itu. Tidak cukup disana, Iva melompat kecil dan terus menggeram. Ia mungkin lupa saat ini, dirinya sedang hidup di dalam tubuh orang lain, sampai gadis itu mengacuhkan para pelayan yang berdiri tidak jauh darinya dengan mulut ternganga, karena melihat keanehan pada sang nona muda.

“Apa yang kau kesalkan, Titania?”

Sebuah suara berhasil menginterupsi Iva dari kegiatannya menendang udara. Seorang wanita bersurai putih dengan manik berwarna emas berlari kecil ke arahnya. Iva mengerjap beberapa saat ketika melihat sosok Parthenia⸺ibu dari Titania datang dengan raut wajah cemas.

“Ibu … ada apa? Mengapa kemari?” Iva bertanya dengan senyuman canggung. Ia masih belum terbiasa memanggil orang yang asing untuknya menggunakan sebutan ibu. Padahal ibunya sendiri juga seperti orang asing, menggelikan.

Bibir tipis Parthenia semakin melengkung ke bawah. Istri dari kepala keluarga Calebron itu terlihat sedih mendengar jawaban dari putri bungsunya. “Apa maksudmu? Tentu saja, Ibu ingin melihat keadaan Putri Ibu yang cantik ini. Apakah semua baik-baik saja?”

Iva meringis kecil. Ia merasa bersalah membuat wanita secantik Parthenia bersedih, karena itu Iva mencoba melebarkan senyumannya dan tertawa kecil. “Aku baik-baik saja, Ibu.”

Parthenia ikut mengulum senyum, meski tidak terlalu lebar dan masih terlihat jejak kesedihan disana. Tetapi ia mencoba memahami keadaan sang putri yang melihatnya sebagai sosok asing. Seandainya nyonya keluarga Calebron itu tahu, jika jiwa di tubuh putrinya itu memang tidak mengenalnya.

“Titania, apakah kau bosan? Bagaimana jika kita minum teh bersama? Ibu sudah meminta Esther untuk menyiapkan kudapan kesukaanmu juga,” kata Parthenia sembari melihat ke arah balkon, dimana ruangan musik berada.

“Pasti akan sangat menyenangkan,” jawab Iva seadanya. Ia tidak dapat menolak tawaran ibu Titania. Jika ia terus bersikap sesuka hatinya, mungkin mereka akan membunuh Iva karena kesal. Meski sebenarnya itu bukan hal yang buruk.

Pasangan ibu dan anak tersebut berjalan beriringan. Tidak ada percakapan diantara mereka, sesekali  Parthenia akan menjelaskan tentang tempat-tempat yang dulu sering dikunjungi Titania. Ia berharap mungkin dengan menceritakan memori masa lalu Titania akan mengingat sesuatu. Tapi sekali lagi, sayangnya Titania yang ada di hadapannya tidak pernah memiliki kenangan itu.

“Itu … tempat apa?” tanya Iva ketika mereka tengah berjalan menyusuri tangga. Dari sebuah jendela yang cukup besar, ia dapat melihat pemandangan sekitar mansion termasuk sebuah menara jam. Parthenia mengikuti arah pandangan sang putri, kemudian tersenyum kecil.

“Menara jam bukan? Berbeda dari waktu bagian dunia yang lain, waktu di Heimr berjalan jauh lebih lambat. Leluhur para Elf membangunnya agar kita dapat memperkirakan pukul berapa di bagian dunia lainnya,” tutur Parthenia panjang lebar.

Sementara, Iva hanya mengangguk seperti sebuah boneka per menanggapi penjelasan wanita bersurai putih itu. Ketika keduanya masih sibuk seorang pria mengenakan setelan hitam tiba, kalau tidak salah Esther memperkenalkan pria bermanik safir itu sebagai kepala pelayan keluarga Calebron⸺Regis.

Setelah berbisik di telinga Parthenia, Regis mengambil langkah mundur dan berdiri di sisi yang sama dengan Esther dan pelayan pribadi Parthenia. Iva hanya mengulum senyum ketika riak wajah Parthenia tiba-tiba tampak kesal, sepertinya kepala pelayan membawa kabar kurang menyenangkan.

“Sayang, sesuatu sedang terjadi. Ibu harus menuju mansion utama dan mengurusnya.”

“Tenang saja, Ibu. Aku tidak apa-apa, Ibu bisa menyelesaikannya,” hibur Iva.

“Tapi, kita seharusnya minum teh bersama … kau tampak bosan,” sergah Parthenia cepat.

Iva menggeleng dan meraih kedua tangan Parthenia. “Tidak lagi, sepertinya aku juga akan melakukan sesuatu yang menyenangkan.”

Parthenia akhirnya mengangguk dan melepaskan keinginannya untuk minum teh bersama sang putri. Setelah mengecup dahi Iva, ia beranjak pergi bersama Regis dan pelayan pribadinya. Sehingga, kini hanya tinggal Iva dan Esther saja.

“Esther, aku ingin berjalan-jalan keluar. Apakah boleh?” Pertanyaan sang nona muda berhasil menciptakan seulas senyuman manis di bibir Esther, wanita itu langsung mengangguk untuk mengiyakan permintaan Iva.

“Kalau begitu … mari kita turun,” kata Iva yang telah menuruni tangga terlebih dahulu. Tidak lama kemudian, keduanya telah keluar dari mansion. Esther berjalan di belakang Iva tanpa tahu tujuan mereka. Iva sendiri hanya terus berjalan sampai tiba-tiba, ia meletakkan tangannya di depan dada⸺memeluk tubuhnya sendiri. Esther yang melihat sang nona kedinginan bergegas mendekat.

“Apakah Anda kedinginan, Nona? Haruskah kita kembali saja?” tawar Esther.

“Tidak apa-apa … aku masih ingin berjalan-jalan, atau bagaimana jika kau pergi mengambil mantel atau sesuatu untuk menghangatkanku? Aku akan menunggu disini,” jawab Iva yang telah duduk di salah satu balok kayu. Esther semula tampak enggan meninggalkan sang nona, tetapi melihat gadis bermanik violet itu tersenyum dan duduk manis membuatnya mengangguk setuju. Esther yang lugu pergi meninggalkan sang nona sendiri.

Tanpa ia tahu skenario yang telah disusun Iva. Gadis bersurai kelam itu tiba-tiba kembali melanjutkan langkahnya, sampai akhirnya ia berhenti ketika menemukan sebuah bangunan yang menjulang tinggi.

“Jika aku tidak bisa mati karena aku tiba-tiba berada disini, aku hanya cukup mengulanginya lagi saja bukan?” ujar Iva sembari mengulas sebuah senyuman manis.